
Sabar semoga bisa aku hidup di sini. Apalagi bersama singa menyebalkan seperti dia. Yeri menarik bibirnya sini. Ia terdiam beberapa detik.
Yeri mengangkat kepalanya memutar pandangan matanya melihat sekelilingnya. Rumah yang begitu luas dengan nuans serba warna keemasan. Dan tangga lantai dua berwarna coklat pekat, dan lampu yang menjulang dari atas sampai ke bawah.
Ini rumah apa istana, Benar-benar luas. Kalau aku tinggal di sini, apa aku bisa betah. Apalagi aku merasa sangat minder tinggal di rumah mewah ini.
“Apa yang kau pikirkan?” tanya Arga, melirik tajam kebarahnya.
Yeri mengangkat kepalanya, “Memangnya penting buat kamu,” ejek Yeri. “Yang penting aku tidak sama sekali memikirkan kamu,”
“Aku yakin suara saat kamu akan memikirkan aku. Dan suka denganku,” jawab datar Arga.
“Enak saja! Gak akan pernah!!” sambung Yeri tegas.
“Yakin?”
“Sangat yakin!”
“Tapi aku gak yakin,”
“Terserah kamu kalau kamu gak yakin, dan aku gak akan pernah suka denganmu.” tegas Yeri sembari bergidik geli.
Arga dia menarik bibirnya sinis, “Kalau gitu cepat jalan, dan duduklah di ruang tamu,”
“Aku hanya ingin sebentar di sini. Bertemu dnegan pemilik rumah ini sebenarnya terus pergi,”
“Aku pemilik rumah ini!”
“Gak mungkin, aku yakin kamu kaya karena orang tua kamu,” sindir Yeri.
Mendengar kata orang tua, Arga memalingkan pandangannya.
“Duduklah!!” pintanya.
“Gak mau!!”
“Kenapa kamu gak mau duduk, apa sofa ini kurang bagus?” tanyanya.
“Wajah kamu yang kurang bersahabat denganku,” jawab Yeri.
“Mau kamu apa?” tanya Arga tanpa memandang je arahnya.
“Kamu tatap aku, aku ingin melihat apa kamu menangis?”
__ADS_1
Arga mengerutkan keningnya semakin masuk ke dalam, dia bingung gimana bisa Yeri tahu kalau dia sedih.
“Gak perlu tahu!!”
“Aku ingin tahu,” Yeri mencoba melihat wajah Arga, tetapi Arga terus memutar tubuhnya saat Yeri mendekatinya dan berdiri di depannya.
Yeri menarik lengan kiri Arga. “Ih… Kamu kenapa, aku hanya ingin lihat sebentar;”
“Jangan sentuh aku!!” Arga menepis tangan Yeri.
“Oke… Kalau begitu. Aku akan pergi. Batalkan perjanjian kita,” ancam Yeri, melipat ke dua tangannya di dada, sembari melemparkan pandangan matanya berlawanan arah.
Arga menatap wajah Yeri, ke dua matanya saling tertaut. Mereka saling menatap sengit. Seperti aroma pertengkaran akan terjadi. Arga melangkahkan kakinya semakin mendekat, dia meraih pergelangan tangan Yeri, menariknya masuk ke dalam dekapannya, dengan tangan kiri memegang pinggang rampingnya.
Deg!
Deg!
Jantung Yeri berdetak tak karuan, hembusan anapsnta smekain sesak, pandangan mata Arga semakin tajam ke arahnya, wajah cantiknya mulai memucat.
Apa yang akan dia lakukan? Kenapa aku merasa nyaman seperti ini dengannya?
“Bukanya kamu ingin menatap ke dua kataku?” tanya Arga, memegang tangan kanan Yeri, mencengkeramnya erat, dengan wajah mendekat hanya berjarak 4 jari tangan dari wajah Yeri.
Vina menekuk ke dua tanga nya untuk menyeka dada Arga yang tiba-tiba menempel padanya nanti.
“Jangan bergerak!!” bisik Arga, semakin kendekap erat tubuh wanita itu, membait tangan Yeri memegang punggung Arga.
“A-apa yang… kamu lakukan?” tanyanya gugup, mengangkat kepalanya menatap wajah Arga yang jauh lebih tinggi darinya.
Arga merekatkan tubuhnya semakin masuk dalam dekapan hangatnya, jemari tangan kanannya mengusap lembut wajah Yeri, jangan terlalu bergerak. Aku tahu jika kamu gugup," bisik Arga, suara serak khas lembutnya membuat tubuhnya bergetar. Hasratnya sebagai wanita tiba-tiba tertarik seakan seperti magnet yang ingin sekali terus menempel pada lawan jenisnya itu.
Hatinya bergetar, merasakan setiap sentuhan lembut jemari tangan laki-aki di depannya.
“Kenapa kamu membuat aku tertarik?”
Yeri mengerjapkan matanya, tak paham dengan apa yang di aktakan laki-laki di depannya. Wanita itu mendorong tubuh Arga menjauh darinya. “Sesuai perjanjain, di larang menyentuhku,” ucapnya, sembari mengusap sekujur tubuhnya bekas pelukan Arga.
Dalam perjanjain tidak ada larang aku menyentuhmu. Tapi kamu tidak boleh nenyentuhku,"
Yeri mengangkat kepalanya, ke dua natanya mengernyit tak paham, “Apa majsud kamu?” desah Yeri.
Arga menarik sudut bibirnya tipis, “Kamu wanitaku sekarang. Jadi kamu turuti apa katamu. Jika kamu ingin ayah kamu cepat sembuh. Jika tidak, pergilah. Dan aku akan pastikan jika ayah kamu tidak akan sembuh,”
__ADS_1
Yeri mengangkat tangannya, seakan ingin sekali menampar wajah Arga, dan hanya di balas dengan ke dua mata tertarik ke atas oleh Arga.
“Ih… Kamu… Arghh…” Yeri berdecak kesal, dia membanting tanganya kasar ke bawah. “Awas saja jika kamu berani mendekatinya, atau menyentuh ayah aku, bahkan menyakitinya. Aku tidak akan segan-segan juga menyakitimu,”
Yeri menggertakkan giginya, sembari berdengus kesal, menahan amarah yang ingin sekali keluar.
“Lakukan sesukamu,” ucap Arga memasukan kedua tangannya di saku celananya, dan berjalan pergi dengan langkah khas miliknya yang terlihat sangat cool jika di lihat dari belakang.
Tuh… Orang ngeselin banget. Kenapa aku merasa dia itu harus di periksa ke dokter kejiwaannya. Gumam Yeri menarik bibirnya sinis.
“Eh… Bentar! Kenapa dia ninggalin aku sendiri. Sekarang aku harus kemana?” tanyanya panik.
“Kamu istri Arga,” suara khas seorang wanita paruh baya terdengar jelas di belakangnya, sontak Yeri membalikkan tubuhnya ke belakang.
“Maaf! Anda siapa?” tanya Yeri lirih.
“Saya oma Arga, maafkan cucu aku yang paling bandel itu. Dia kemang seperti itu, jarang sekali dekat dengan wanita,” ucap Oma berjalan mendekati Yeri, meraih ke dua tangannya.
Emmm… Jadi Arga itu hanya tinggal dengan omanya, tapj adiknya di mana? Laki-laki itu pasti di sini juga. Gumamnya dalam hati.
“Udah ayo masuk, oma sudah siapkan kamar buat kamu dan Arga. Da semua baju kamu juga sudah oma siapkan.” ucap Oma menuntun Yeri berjalan menuju ke kamarnya, tepat di lantai dua.
“Apa aku satu kamar dengan… Arga?” tanyanya ragu.
“Iya, jelas. Bukanya kalian suami istri. Meski belum ada acara pesta pernikahan secara resmi tidak masalah. Asalkan kalian sudah sah suami istri,” Oma tersenyum bahagia, mendengar jika anaknya sudah menikah. Meski dia tidak busa melihat pernikahannya.
Oma sangat baik, tapi kenapa laki-aki itu membohongi Oma. Gimana jika oma tahu kalau aku tidak pernah menikah dengan cucunya.
“Aku gak bisa seperti ini, gak bisa!!” ucap Yeri sedikit keras.
“Maksud kamu?” tanya oma.
Yeri mengernyitkan wajahnya malu, haduh!!! apa yang aku katakan!!
“Emm… Maksud aku tadi, aku mungkin gak bisa tinggal di kamar mewah ini Oma,” ucap Yeti beralasan.
“Sudah jangan sungkan-sungkan. Ini kamar baru kamu. Arga sudah cerita banyak tentang kamu. Jari oma tidak permasalahkan status kamu. Asal oma mendengar cucu oma menikah oma sudah bahagia,” ucapnya mengusap punggung Yeri.
“Iya, oma tapi apa kamar ini tidak terlalu besar baut aku,” tanyanya, berjalan dengan langkah ringan ke dua bola matanya berbinar seketika melihat kamar yang begitu luas, bahkan 4 kali lipat kamarnya sendiri di rumah.
“Ini kamar yang di desain khusus Arga buat istrinya nanti. Dan karena kamu sudah jadi istrinya. Oma minta kamu tidur di sini,” Oma berjalan mendekati Yeri, dan berbisik padanya.
“Oma juga minta jika kalian segera punya cucu,”
__ADS_1
“APA? ANAK?” Ke dua matanya seketika terbuka lebar, seakan bola matanya mau melompat keluar dari kerangkanya Yeri menelan ludahnya kasar. Memasukan ke dua bibirnya ke dalam, sembari berdesis lirih.