Menjadi Istri Bayaran

Menjadi Istri Bayaran
Kenapa bahas Mantan


__ADS_3

"Kenapa semuanya selalu Cia lagi. Ada apa dengannya. Aku istrinya. Jadi jangan bahas tentang dia sini." Yeri menekankan suaranya.


"Oke," wanita itu memalingkan wajahnya. Dan, melangkahkan kakinya pergi.


"Kenapa Cia lagi?" kesal Yeri.


Angel menghela napasnya sebelum dia bercerita yang dia tahu tentang bos padanya.


"Aku belum tahu pasti. Tapi desas-desus ini sudah menyebar pada karyawan lainya. Dan, semua juga sudah tahu." jelas Angel. "Kalau mereka dulu adalah teman masa kecil. Oma dulu juga sangat akrab dengannya. Bahkan dia jadi anak kesayangan oma. Tapi gak tahu kenapa, dia sekarang mulai jauh dari keluarga oma."


"Apa dia pernah melakukan kesalahan?" tanya Yeri semakin penasaran. Dia semakin mendekat ke arah Angel.


"Entahlah, aku juga tidak tahu. Dulu dia pergi ke America kuliah di sana. Dia dapat peringkat paling top di kampus. Gak hanya berprestasi. Dia juga suka acting, model, dan jadi top di kalangan wanita kampus."


"Pantas dia sangat cantik," ucap Yeri kembali melipat kedua tangannya di atas meja. Dengan wajah tertunduk lesu.


"Udah jangan minder lagi. Lagian kamu juga cantik tak kalah cantik dari artis itu," ucap Angel menepuk pundak Yeri. Mencoba untuk memberikan semangat padanya.


"Ya, tapi sama saja. Kau kalah pintar darinya. Dan masih tetap cantikan dia jauh." ucap Yeri merendah.


"Ya, sudah. Sekarang kerja saja. Keburu boss datang kita malah di marahin. Tapi enak kamu gak di marahin. Kalau aku, ah.. Pasti bisa jadi bubur." ucap Angel membuat Yeri seketika tersenyum tipis.


"Bubur apa? Bubur cinta?" goda Yeri.


"Enggaklah! Dia milik kamu Yeri. Aku satu orang saja." ucap Angel mengingat kembali wajah laki-laki tampan yang baru saja di temuinya tadi.


"Siapa memangnya?" tanya Angel.


"Dia yang membuat jantungku berdegup lebih cepat dari biasanya." ucap Angel.


"Siapa dia?" tanya Yeri mengerutkan wajahnya.


"Aku juga gak tahu." Angel menatap ke arah Yeri. memasang wajah memelasnya. "Makannya aku tanya sama kamu. Karena aku juga belum kenapa dengannya." jawab Angel.


"Memangnya dia gimana?" tanya Yeri, sembari menghela napasnya.


"Dia itu. tampan. Dan bentar! Bentar!. Sepertinya dia itu pernah bersama dengan oma. Dia selalu mengantarkan oma, ke sini." ucap Angel. Ia mulai teringat sedikit tentang dia.


"Tapi aku dulu gak melihat jelas wajahnya. Saat di lihat dari dekat. Hatiku seketika meleleh," ucap Angel.


"Lucas maksud kamu?" tanya Yeri dengan santainya.


"Kamu kenal dengannya?" tanya Angel. memegang lengan Yeri dengan ke dua tangannya. Wajahnya terlihat begitu bahagia saat menyebut namanya.


"Gimana bisa kamu suka dengan laki-laki jutek seperti dia." gumam Yeri.

__ADS_1


"Tapi dia tampan."


"Kalau kamu sama dia. Kamu bisa makan hati." gumam Yeri.


"Tapi aku suka dengan laki-laki cuek seperti itu." gumam Angel.


"Kenapa bisa?"


"Laki-laki cuek itu type laki-laki.setia. Kalau dia cuek dengan wanita. Berarti dia tidak pernah bermain wanita. Melihat wanita saja seakan jijik. Dan jika dia suka pada satu wanita. Dia pasti buta cinta pada satu wanita." gumam Angel menjelaskan


"Nanti kita bicara lagi. Aku akan selesaikan pekerjaanku dulu." lanjut Angel.


 


Mereka yang sibuk berbincang tanpa sadar jika Arga belum juga datang ke kantor. Dia baru saja sampai di rumah Cia. Dengan segera Arga turun dari mobilnya. Dan berjalan dengan langkah cepat masuk ke dalam rumah Cia. Wajahnya terlihat sangat cemas, khawatir, apalagi jika semua berhubungan dengan Cia. Seakan dia masih belum bisa lepas darinya.


"Bi, di mana Cia?" tanya Arga panik.


"Dia di dalam kamar. Dari kemarin dia belum makan tuan. Dan tubuhnya juga pasti sekarang sangat lemah." ucap bibi yang merawat Cia selama ini. Dia selalu ikut kemanapun Cia pergi. Seakan sudah seperti anaknya sendiri.


"Makanannya biar aku yang, bawa dia. Nanti biar aku yang akan suapi dia nanti." ucap Arga.


"Baiklah! Tuan," ucap bibie memberikan nampan yang berisikan susu dan makanan untuk Cia. Wanita itu setiap pagi memamg selalu minum susu. Baginya itu yang paling menyehatkan tubuhnya dari pada dirinya sendiri.


Cia... Cia.. Apa yang kamu lakukan di dalam?" tanya Arga.


"Siapa?" tanya Cia.


"Aku Arga.. Tolong buka pintunya. Aku ingin bertemu dengan kamu."


"Gak mau! Kamu Pasti sekarang marah denganku. Apalagi saat skandal itu beredar. kamu pasti sangat marah." ucap Cia. Ia duduk di ranjangnya. Dengan ke dua kaki ia tarik.dan mendekapnya sangat erat, menyembunyikan wajahnya di pahanya.


"Cia.. Aku ke sini ingin bertemu dengan kamu. Aku gak marah dengan kamu." ucap Arga.


"Kamu yakin?" tanya Cia. Ia mengangkat kepalanya menatap ke arah pintu.


"Iya.. aku yakin, aku gak marah dengan kamu. Aku ingin melihat keadaan kamu. Dan kamu berhasil membuat aku khawatir denganmu." Ucap Arga yang masih setia berdiri di depan pintu kamar Cia.


"Tapi aku belum mandi? Aku gak mau bertemu denganmu malu. Lebih baik kamu pergilah." ucap Cia. Dia beranjak berdiri. Mengusap ke air mata yang membasahi pipinya. Dan melangkahkan kakinya menuju ke pintu. Cia tidak membukanya. Dia menyandarkan punggungnya di pintu. Sembari menatap.ke arah ke depan.


"Cia.. Buka pintunya. Aku gak akan pergi jika kamu belum keluar dari kamar. Dan makan."


"Aku gak.mau makan!" tegas Cia.


"Makanlah. jangan buat aku khawatir lagi." pekik Arga. Ia mencoba mengatur napasnya. Dan mencoba untuk bersabar jika menghadapi Cia sekarang.

__ADS_1


"Tapi… aku mau makan. Jika kamu ada di sini. Dan suapin aku." ucap Cia. Ia masih menangis tersedu-sedu. Memeluk semakin erat ke dua kakinya.


"Iya aku akan suapi kamu." tegas Arga.


"Jangan pergi dariku. Dan tetaplah di sini bersamaku. Aku ingin kamu selalu ada di sini." ucap Cia.


"Tapi…" Arga terdiam. Ia bingung harus jawab apa lagi. Dia tidak mungkin juga tinggal di sana. Jika tahu kalau dia tinggal dengan Cia. Bukan hanya oma, dan Yeri. Para wartawan juga pasti akan sedih nantinya.


Sekarang apa yang harus aku katakan? Apa aku menjauhi oma. Atau aku akan meninggalkan Yeri. Entah kenapa hatiku merasa sangat berat jika pergi dari Yeri. Sama jika aku kehilangan Cia dulu. Aku gak sanggup.


Cia perlahan membuka pintu kamarnya. Ia menatap wajah Arga yang hanya diam tertunduk.


"Aku tahu jawabannya. Kamu gak akan bisa meninggalkan oma dan istri kamu. Dan aku juga gak mau jika kamu merasa terpuruk gara-gara aku." ucap Cia.


"Suapi aku." lanjutnya. Seketika Arga menayap ke arahnya Cia menuntunya masuk ke dalam kamarnya. Dan menutup rapat kamarnya.


"Tapii kamu harus habiskan makanan ini." ucap Arga.


"Iya.." gumam Cia. Memeluk tubuh Arga.


"Maafkan aku! aku yang memulai masalah duluan. Dan aku gak tahu akan jadi hal seperti ini. Maafkan aku," ucap Cia. Semakin memeluk tubuh Arga sangat erat.


"Cia, lepaskan dulu pelukan kamu. Nanti kakaknya tumpah." ucap Arga. Dan Cia langsung melepaskan pelukannya.


"Maaf!" ucap Cia.


Merasa sudah bebas. Arga meletakkan satu nampan makanan dan minuman itu di atas ranjangnya. Dan Arga mulai menyuapi Cia.


"Banyak!" ucap Cia beranjak dari ranjangnya. Menarik tangan Arga untuk pergi.


"Kemana?" tanya Arga.


"Aku mau ke kamar mandi." ucap Cia.


"Ya, sudah kamu mandi saja dulu. Kau tunggu kamu di sini." Arga menghentikan langkahnya. Melepaskan tangannya dari cengkeraman Cia.


"Kenapa kamu gak mau mandi bersamaku?" tanya Cia.


"Cia… Kamu sekarang sudah berpakaian rapi. Kamu mau aku terlihat basah lagi." gerutu Arga. Cia mengerutkan keningnya. Mengamati setiap wajah Arga. Dari atas kepalanya sampai bawah.


"Baiklah! tunggu sebentar!" ucap Cia. Melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Arga. Dan dia segera masuk ke dalam kamar mandi.


"Jangan pergi!" ucap Cia. Sebelum mulai menutup pintunya rapat-rapat.


"Iya… iya.." gumam Arga. Dia kembali lagi menuju ke ranjangnya. duduk menunggu setia Cia gang masih membersihkan wajahnya. Dia terlihat senang saat bertemu dengannya.

__ADS_1


__ADS_2