Menjadi Istri Bayaran

Menjadi Istri Bayaran
Selalu menggoda suamiku


__ADS_3

Sekarang apa yang harus aku lakukan. Sepertinya aku harus memutuskan antar mereka. Tapi aku gak bisa jauh dari Cia. Meski Cia menghianatiku. Dan aku juga sangat membencinya. Tapi benci sekuat apapun perasaan khawatir jika terluka masih ada.


"Entahlah. Aku gak bisa memilih. Tetapi aku juga gak mungkin membuat oma kecewa juga." ucap Arga.


"Arga… Kamu masih di sini?" tanya Cia basa basi. Dia berjalan dengan langkah ringan menuju ke arah balkon. Bahkan tubuhnya masih tertutup helaian handuk yang menutupi atas dadanya sampai paha. Arga memalingkan wajahnya seakan dia merasa bosan melihat tubuh molek Cia di hadapannya.


Langkah Cia terhenti. Ia memutar matanya melihat sekelilingnya Mencari di mana Arga. Pandangan matanya terhenti saat melihat sosok laki-laki tampan itu ada di depan matanya. Berdiri di atas balkon.


Melihat Arga ada di atas balkon kamarnya. Membuatnya merasa senang. Ternyata laki-laki itu masih perduli dengannya. Dan masih berada di kamarnya.


"Ternyata kamu masih di sini, Arga. Kau yakin kamu masih mencintaiku. dan kamu masih perduli denganku." gumam Cia. Dia tersenyum tipis. Ia menarik napasnya dalam-dalam. Ia melangkahkan kakinya dan berjalan mendekati Arga. Berdiri di belakangnya.


"Arga…" panggil Cia.


Ia memeluk tubuh Arga dari belakang. Mendekapnya sangat erat Menyandarkan kepalanya di punggung Arga yang membuatnya merasa sangat nyaman ada di dalam hangatnya pelukan Arga.


"Cia.. apa yang kamu lakukan?" tanya Arga. Mencoba melepaskan pelukan Cia. Ia membalikan badannya, memegang ke dua bahu Cia. Mengusap rambutnya lembut.


"Jangan… Seperti ini." ucap Arga. Sentuhan lembut tangannya membuat Cia tersipu. Ia tersenyum, mengecup pipi Arga. Menyandarkan lagi kepalanya di dada Arga.


"Makasih!" ucap Cia.


"Untuk apa?" tanya Arga.


"Karena kamu masih mau menemui aku sekarang. Kemarin kamu seakan tak sudi dengan melihat mataku." ucap Cia. Mengusap dada Arga. Tak kuasa dia merasakan kebahagiaan yang sangat dalam padanya. Ingin sekali dirinya merasakan sebuah kecupan lembut di setiap malam saat dia tidur seperti dulu yang pernah dia rasakan dulu.


"Arga…" ucap Cia menggoda.


"Apa yang kamu inginkan?" tanya Arga. Memegang ke dua bahu Cia. Menjauhkan tubuhnya.


"Apa kamu masih suka denganku?" tanya Cia memastikan.


"Apa kamu mau jawaban jujur atau tidak?" tanya Arga. Cia membuka Handuk yang menutupi tubuhnya. Membantunya di tubuh Arga. Seakan dia sengaja ingin menggodanya. Arga mencoba menghindar. Tapi Cia tak mau lepas dari pelukannya.


"Temani, aku, lagi!" ucap Cia.


"Maafkan aku! Tapi aku gak bisa."

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Cia. "Bukannya dulu kamu sering making love denganku. Sekarang aku ingin kamu melakukannya lgi." ucap Arga.


Tubuh Cia menempel di tubuh Arga. Membuat Arga merasakan moleknya tubuh Cia di dekapannya. Namun kali ini Saya sama sekali tidak tergoda olehnya.


Cia mencoba melepaskan jas milik Arga. Membuat Dan jemari tangannya melepaskan kancing kemeja Arga. Dengan sigap Arga memegang tangan Cia.


"Jangan lakukan itu." ucap Arga.


"Kenapa?" tanya Cia. Ia menjijitkan ke dua kakinya. Tubuh Arga yang lebih tinggi beberapa centi saja darinya. Membuat dia harus menyeimbangkan tinggi badannya. Agar bisa melayangkan sebuah kecupan di bibir Arga. Ke dua tangannya masih memegang handuknya di belakang punggung Arga. Sembari tetap memeluk erat tubuhnya.


Arga menutup bibir Cia.


"Jangan lakukan itu lagi di depan umum." ucap Arga. Mengusap lembut wajah Cia. Membuat wanita itu terdiam. Menatap wajah Arga yang begitu dekat dengannya.


"Kalau di dalam gimana?" tanya Cia, semakin memeluk erat tubuh Arga. Dada Cia yang terlalu menempel pada dadanya. Membuat Arga merasa sangat risih dengan pelukannya. Ia mencoba untuk menarik tubuh Cia darinya. Tetapi Cia semakin terus mempererat pelukannya.


"Kamu tidak biasanya seperti ini. Apa gara-gara skandal itu?" tanya Cia. Wajahnya terlihat sangat kecewa dengan Arga. Bukanya marah Arga melihat wajah Cia yang berbeda dari biasanya.


Wajahnya yang pucat menyandar di bahu Arga. Tubuhnya perlahan mulai lamas. Cia yang belum makan dua hari, membuat ke dua kakinya lemas seketika. Dan hampir saja terjatuh. Dengan sigap Arga memegang ke dua bahunya. Ia yang tak bisa melihat tubuh Cia terbuka. Ia mengangkat tubuh ala bridal style berjalan masuk ke kamarnya, dan meletakkan tubuhnya di atas ranjangnya.


"Cia tubuh kamu sangat lemas." ucap Arga. Ia mencoba menutup tubuh Cia yang terbuka. Dengan pandangan mata mengarah ke kiri. Ia menutupi dengan selimut. Cia menariknya kembali. Lalu menarik tangan Arga terjatuh tepat dalam dekapannya.


Tangan Arga tak sengaja menyentuh dadanya. Cia semakin membuatnya tergila. Ia mengalihkan tangannya. Menariknya dalam delapan tubuhnya. "Temani aku dulu." ucap Cia. Arga hanya diam saja. Ia melepaskan tangannya dari dada Cia. Dan menyangga tubuhnya, dengan tangan di atas ranjang.


"Kenapa tangan kamu pergi?" tanya Cia.


"Jangan bertindak bodoh." ucap Arga.


"Kamu makan dulu." pinta Arga. Dia sembari meninggikan bantalnya. Membantu Cia untuk bersandar. Meski tubuh Cia terus mendekapnya. Seakan dia tak perduli. Asalkan dia mau makan sekarang.


"Cium aku!" pinta Cia.


"Gak bisa."


"Kalau gitu aku gak mau makan." pekik Cia kesal.


Arga menarik napasnya dalam-dalam, lalu mengeluarkan secara perlahan. Dia mengecup bibir Cia begitu lembut. Di balas dengan Cia begitu ganasnya. Kecupan biasa berubah menjadi sebuah kecupan panas. Membuat tubuh Arga bergairah seketika. Dia menjamah tubuh Cia begitu cepat. Menyentuhnya, hingga tertuju pada miliknya yang berharga. Seperti biasa yang di lakukannya. Arga hanya melakukan making love bersamanya. Saling mendesah pelan membuat tubuhnya merasakan kehangatan sendiri.

__ADS_1


Meski Arga sangat menginginkannya lebih dari itu. Dia selalu menghilangkan pikiran itu. Dan lebih memilih melakukan hal biasa. Hanya satu yang ingin dia lakukan yaitu bersama dengan istrinya tidak dengan wanita lain. Tapi istri yang paling dia suka nantinya.


******* mereka semakin keras. Pertanda mereka sama-sama mencapai puncaknya. Dan Cia seakan sangat mahir memainkan lolipop Arga. Merasa sangat lelah. Arga berbaring di ranjang Cia. Dan Cia masih belum puas. Dia sebenarnya ingin lebih dari itu.


"Makasih!" ucap Cia. Mencium bibir Arga. Naik di atas tubuh Arga dengan tubuh terbukanya.


Arga hanya diam tersenyum tipis menyentuh dada benda miliknya. "Kamu tidak ingin lebih?" tanya Cia.


"Jika kamu menikah denganku. Aku akan melakukannya setiap hari." ucap Arga. Dia beranjak duduk. Dengan tangan mendekap tubuh Cia. Yang kini duduk di jangkauannya.


"Kamu, nakal!" ucap Cia. Membenarkan kancing Arga.


"Kenapa? Gak hanya di rumah, Di kantor kalau ada kesempatan aku ingin melakukannya seperti ini. Dan aku kita bisa melakukannya di mobil. Pakailah baju seksi saat bertemu denganku." ucap Arga. Tangannya masih ingin sekali melakukan permainan lagi.


"Sekarang kamu makan, dulu." ucap Arga.


"Iya, suapin." ucap Cia. Memegang kerah Arga menariknya. Mendekat tepat di matanya. Meski ke dua tangannya menyangga tubuhnya diatas ranjang. Ke dua mata mereka saling menatap satu sama lain. Membuat Arga tak bisa jika tubuhnya jauh dari tubuh Cia. Tatapan itu membuat hatinya merasa terpikat.


"Apa kamu aku menghabiskan malam ini bersama denganku." ucap Cia. Sontak membuat Arga terkejut.


Gimana? Aku ingin sekali menghabiskan malamku ini dengannya. Tubuhnya membuat aku merasa ingin sekali memilikinya. Dan dia masih virgin. Belum pernah di bobol laki-laki lain. Dan itu tidak sesuai dengan dugaannya dulu. Di pikir wanita murahan yang tubuhnya sudah di jamah berkali-kali oleh laki-laki.


"Apa yang kamu katakan? Kesucian kamu itu hanya berhak di miliki satu pria. Yaitu suami kamu kelak nantinya." ucap Arga. Mencoba untuk membuat Cia merasakan ketenangan. Arga berusaha untuk berbicara lebih lembut lagi dengannya.


"Tapi aku ingin kamu jadi suamiku." ucap Cia. Memeluk tubuh Arga. Seakan rasa laparnya perlahan mulai hilang dari perutnya. Rasa lapar itu di gantikan dengan kenikmatan sentuhan Arga.


"Sekrang lebih baik kamu makan. Jangan berbicara bodoh lagi. Kalau kamu ingin berbicara bodoh lagi. Aku akan pergi dari sini." tegas Arga. "Aku memang inginkan kamu jadi istriku. Tapi tidak sekarang dan tidak dalam beberapa hari ini. Kita untuk waktu lama untuk bersama." jelas Arga. Membuat Cia merasa terdiam. Wajahnya tertunduk seketika.


Arga mulai teringat tentang apa yang di katakan oma di telfon. Jika sampai oma tahu dirinya bersama dengan Cia. Semua pasti akan hancur. Gak hanya dirinya juga. Tapi ini menyangkut karir Cia yang akan terancam.


Arga mendorong tubuh Cia duduk di atas ranjang. Dia menatap ke arahnya.


Cia mengangkat kepalanya menatap ke arah Arga. "Kenapa kamu berbicara seperti itu?"


"Kenapa? Aku gak mau buat masalah lagi. Kalau sampai oma tahu. Kamu sendiri yang akan mendapatkan akibat buruk." pekik Arga. Yang tiba-iba dia merasa emosi pada Cia.


"Bukannya kamu yang akan selalu melindungiku." ucap Cia. Memegang tangan Arga. Memasang wajah memelasnya. Cia sendiri merasa sangat bingung jika Arga yang semula mesra dengannya tiba-tiba mulai menghindar lagi darinya.

__ADS_1


Arga mencoba untuk tersenyum. Ia menarik tangannya dari cengkeraman Cia. "Maaf! Kalau masalah oma, aku gak bisa apa-apa. Tetap saja. Aku juga tidak bisa berbuat apa-apa." ucap Arga. "Sekarang lebih baik kamu makan dulu." Arga mulai mengambil makannya.


__ADS_2