Menjadi Istri Bayaran

Menjadi Istri Bayaran
Skandal yank itu menyiksaku


__ADS_3

Yeri merasa sangat kesal. Baru kali ini Arga membuat dia merasa ingin sekali marah terus dengannya, di setiap dia melihatnya. Mungkin karena itu Arga menjauh darinya. Dan itu juga lebih baik, dari pada terus menatap wajah juteknya. Tanpa senyum sama sekali. Membuatnya merasa sangat bosan.


Dia juga masih kesal dengannya hanya karena hubungannya itu. Skandal pacaran yang heboh. Tidak hanya saat dia bersama dengan Cia. Apalagi skandalnya dengan Cia itu terlalu vulgar. Meski sekarang semua bisa di tepis. Tapi banyak orang yang sudah tahu tentang skandal itu. Dan pastinya Cia juga tahu.


Sudah dua hari Yeri di rumah oma, dan belum kembali sama sekali ke apartemennya. Setiap makan dan kemanapun. Arga selalu menghindar darinya. Dan dirinya hanya bisa diam menatap ayahnya. Dia hanya bicara dengan ayahnya. Seakan ayahnya sekarang jadi tempat curhatnya. Sementara Arga selalu pulang pergi entah kemana. Dan Oma juga masih di luar kota menyelesaikan pekerjaan.


Di saat semua tidak ada di rumah. Yeri merasa sendiri dalam kesepian. Tak ada lagi yang ajak dia bicara. Biasanya juga oma yang selalu ajak dia bicara. dan selalu melindungi dia. Dan karena Oma pergi juga beberapa hari Arga tidur di kamar lainnya.


Dua hari kerja juga Yeri selalu berangkat sendiri. Di kantor mereka terlihat seperti karyawan biasanya pada boss. Dan Arga tanpa melirik sama sekali ke arah Yeri. Baginya Yeri membuat dia merasa kesal. Di setiap dia ingin baik dengannya. Sama sekali tak di hargai oleh Yeri.


 


Hari ini. Matahari sudah menampakkan sinarnya begitu terangnya. Yang menembus langsung dari cela-cela kecil kelambu putih yang menutup jendela kaca kamarnya. Cahaya itu menembus langsung tepat di wajah cantiknya. Membuat Yeri mengerutkan wajahnya . Mengusap ke dua matanya berkali-kali.


"Ahhh…. Apa ini sudah pagi."


"Kenapa aku merasa malas sekali untuk bangun." gumam Yeri. Menarik ke dua tangannya ke atas. Merenggangkan otot-otot nya yang masih terasa kaku saat tidur semalaman.


"Hari ini aku harus ngapain lagi. Apa aku harus keluar jalan-jalan sendiri. Atau mulai masuk ke dalam kantornya. Setidaknya aku benar-benar bisa lepas dari Arga. Dan Arga nanti juga pasti akan kerja.


Yeri segera beranjak dari ranjangnya.


"Aku kerja saja. Dari pada tidak kerja membuat pikiran tambah pusing. Lagian dari kemarin kerja juga Arga tak menggangguku sama sekali." Yeri Melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar mandi. Membasuh tubuhnya secepat kilat. Selesai mandi. Dia segera bersiap lagi untuk kerja lagi dan lagi. Kini hari-harinya juga terlewati sendiri.


Selesai bersiap ke kantor lagi. Yeri masuk ke dalam kamar ayahnya. Dia duduk memegang tanganya. Menempelkan di pipinya.


Yeri menghela napasnya. Melihat ayahnya yang masih terus berbaring di ranjangnya. Tak henti dia juga terus berharap ayahnya bisa melewati masa koma yang panjang.


"Ayah.. Cepat sadar.. Lihatlah, Yeri sudah bekerja di kantor. Bukanya ini yang ayah mau. Ayah mau Yeri bisa bekerja di kantor. Sekarang Yeri di sini. Dan memakai baju ini, ayah.." ucap Yeri. Mencoba tersenyum bangga di depan ayahnya. Meski ayahnya belum bisa melihatnya.


"Lihatlah, yah. Baju ini. Bagus, kan. Ini baju khusus saat Yeri sedang kerja." gumam Yeri tak kuasa menahan air matanya.


"Ayah.… Aku mohon cepatlah sadar. Aku gak ada teman lagi di sini. Semuanya meninggalkanku. Aku ingin bersama dengan ayah lagi. Hidup bersama. Dan ketika Yeri menikah nanti ayah yang akan menemani aku." ucap Yeri. Ke dua matanya semakin meneteskan air mata begitu derasnya.


Membasahi pipi dan telapak tangan ayahnya. Selesai berbicara dengan ayahnya. Yeri meletakkan kembali tangan ayahnya di ranjang.


Di sisi lain Arga yang tak sengaja lewat di depan kamar ayah Yeri. Ia mendengar semua yang di katakannya. Hatinya merasa tersentuh melihat wanita itu. Di saat dia menangis. Membuatnya tak tega lagi. Harus berkata apa. Apa dia harus marah atau gimana.


"Yeri..sebenarnya aku kasihan denganmu. Semoga saja ayah kamu cepat sembuh." gumam Arga dalam hatinya

__ADS_1


Yeri melangkahkan kakinya keluar. Langkahnya terhenti saat dia melihat sepasang kaki di bawah saat dia tertunduk. Merasa curiga Yeri mengusap ke dua matanya dengan jari tangannya. mengangkat kepalanya melihat sosok Arga di depannya.


"Jangan cengeng!" ucap Arga jutek.


"Siapa yang cengeng. Memangnya kamu pikir aku nangis." umpat Yeri kesal


"Bukanya memang kamu nangis?" tanya Arga sedikit mengejek.


"Enggak!" tegas Yeri sedikit kesal. Ia mencoba melangkahkan kakinya. Mendorong bahu Arga agar tak menghalangi jalannya. Bukanya bisa pergi. Langkah Yeri terhenti. Arga memegang tangannya, menariknya kasar membuat tubuhnya memutar kembali. Hampir jatuh, tepat di tangan kiri Arga yang menyangganya. Arga mendekatkan wajahnya semakin ke bawah. Menatap wajah Yeri. Ke dua mata mereka saling tertuju.


Yeri yang gugup melihat mata tajam Arga. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Ke dua matanya tak berhenti berkedip mengaguminya dalam hati kecilnya. Bibirnya terdiam tanpa suaranya. Ia hanya bisa menelan ludahnya berkali-kali hingga melegakan tenggorokannya.


Arga menarik punggung Yeri ke dalam dekapan tubuhnya. "Kamu mau kemana?" tanya Arga.


"Pergi!" jawab Jutek Yeri. Dia mulai menyandarkan dirinya dari lamunannya. Memalingkan wajahnya. Dan tak henti tubuh Yeri terus membenrontak.


"lepaskan aku!" pinta Yeri.


"Enggak!" Arga menarik semakin dalam pinggang Yeri masuk dalam pelukannya. Yeri mencoba menghindari tatapan mata Arga yang membuat hatinya selalu merasa sakit. Arga menyentuh dagu Arga. Menariknya membuat ke dua mata mereka saling tertuju kesekian kalinya.


"Kamu jangan pernah menghindar lagi dariku. Bagimu kamu hanyalah seorang wanita biasa yang membuat aku tertarik." ucap Arga. Mendaratkan sebuah kecupan lembut di bibirnya. Mengulum bibir Yeri tanpa ada penolakan darinya.


Arga menghentikan kecupannya. memegang ke dua bahu Yeri. Mendorongnya menjauh darinya. Dan Yeri masih saja diam seperti patung menatap ke arahnya, yang mulai membalikkan punggungnya. Sembari memegang bibirnya bekas kecupan Arga.


"Kenapa kamu hanya diam. Cepat pergi ke kantor." ucap Arga. Memegang tangan Yeri. Menariknya pergi dari depan kamar ayahnya.


Apa dia sekarang sudah baik lagi? Atau hanya karena oma akan pulang nanti? Ah.. Tapi setidaknya dia bisa bersikap manis padaku meski hanya satu hari saja.


"Permisi tuan," ucap Jun menyapa Arga. Menghentikan langkah Arga dan Yeri.


"Ada apa?" tanya Arga.


"Apa boleh, kita bicara sendiri?" tanya Jun.


"Boleh." jawab Arga. melepaskan tangannya dari genggaman tangan Yeri.


"Yeri.. masuklah dulu ke dalam mobil. Aku ada urusan dengan Jun." pekik Arga.


"Baiklah!" Yeri dengan tepaksa berjalan sendiri. Rasanya ingin sekali masuk ke dalam mobil Arga. tapi dia sadar. Dirinya siapa? Kalau sampai semua kantor tahu mereka keluar dari mobil yang sama. Semua pasti akan heboh. Dan menjadi perbincangan hangat nantinya.

__ADS_1


Dan Yeri memutuskan untuk pergi ke kantor naik taksi. Dia berlari ke depan mencoba mencari taksi yang melintas.


Sedangkan Arga. berjalan menuju ke ruang tamu bersama dengan Jun.


"Ada apa, tidak biasanya kamu mengajakku bicara sepagi ini? Apa ada masalah?" tanya Arga mulai curiga.


"Iya. Tuan.!"


"Ini masalah tentang Cia. Dia sekarang terpuruk di rumahnya. Sudah dua hari dia tidak keluar dari rumah. Bahkan dirinya sama sekali tidak kerja. Atau melakukan aktifitas apapun." jelas Jun.


Ke dua mata Arga mebulat seketika. Saat kejadian kemarin Arga memang sedang menghindari dari ke dua wanita yang dekat dengannya. Dia tak mau menimbulkan masalah baru. Sebelum semua skandal itu terselesaikan.


"Apa yang di lakukan di rumah?" tanya Arga.


"Tidak ada yang tahu, tuan. Dan saya juga tidak tahu. Dia di rumah hanya sendiri dan para pelayannya. Pelayannya juga bilang jika Cia tak mau makan sama sekali. Dan terkadang dia marah-marah gak jelas tuan."


Arga menarik napasnya dalam-dalam, menahannya, lalu mengeluarkan secara perlahan "Baiklah! Makasih, kamu boleh pergi." ucap Arga.


"Baiklah, tuan!" ucap Jun. Segera melangkahkan kakinya pergi lebih dulu. Ia melangkahkan kakinya keluar dari rumah Arga. Langkahnya terhenti saat teringat tentang Yeri. Ke dia matanya berkeliling menatap sekitarnya.


"Bukanya tadi.. Non, Yeri ke mobil lebih dulu." gumam Jun.


"Di mana Non, Yeri. Apakah dia sekarang sudah pergi?" tanya Jun dalam hatinya. Ke dua matanya tak berhenti berkeliling menatap sekitarnya.


"Dia tak terlihat di mobil. Sepertinya dia pergi lebih dulu. Atau jangan-jangan. Non Yeri tahu jika aku dan tuan Arga membicarakan tentang Cia. Ah... entahlah. Aku gak mau ikut campur urusan mereka." gumam Jun. Yang langsung beranjak pergi meninggalkan mobil Arga.


Hari ini sepertinya Arga akan pergi naik mobil sendiri. Dia tahu tuannya pasti panik saat mendengar kabar dari mantan kekasihnya itu. Dan bisa di bayangkan dia bisa melesat mengendarai mobilnya melaju dengan kecepatan tinggi saat dia khawatir dan panik.


 


Arga segera keluar dari rumahnya. Dia yang memang ingin bawa mobil sendiri. Seketika membulatkan matanya. Di saat dia masuk ke mobilnya tanpa ada Yeri di sana.


"Di mana dia?" gumam Arga.


"Seperti dia pergi sekarang." ucap Arga dalam hatinya Ia mencoba mengambil ponsel di saku kemejanya. Dan segera menghubungi Yeri. merasa tak ada jawaban juga. Arga mengirimkan pesan pada Yeri. jemari tangannya dengan lihainya menekan beberapa huruf.


"Kamu di mana?" tanya Arga singkat.


Ia menatap ponselnya Sudah hampir lima menit belum ada jawaban dari Yeri. Arga menghela napasnya. Dan memutuskan untuk segera pergi menemui Cia. Mobilnya perlahan keluar dari halaman rumahnya. Dia menambah kecepatannya, saat melaju di jalan raya.

__ADS_1


__ADS_2