
Keesokan harinya.
Yeri yang sudah bangun lebih dulu, dia beranjak menuju kamar mandi. Merendam tubuhnya di dalam bathup dengan air hangat. Ini pertama kalu dalam dirinya mandi dengan air hangat sembari duduk santi menikmati air hangat itu.
“Apa ini akan bertahan lama?” gumam Yeri, tersenyum tipis.
Sepertinya aku harus menikmati enaknya tinggal di sini. Sebelum perjanjian selesai. Dan aku bisa bebas nantinya. Gumam Yeri.
Ckleekkkk…
Suara pintu terbuka seketika membuat Yeri terbangun. Dia beranjak berdiri dengan wajah terkejut mencoba mencari handuknya
“Siapa itu?” tanya Yeri.
Belum sempat bisa meraih handuknya. Seorang sudah masuk dan berdiri tepat di depannya.
“Kamu?” Arga yang tiba-tiba masuk begitu saja. Seketika menelan ludahnya saat meliaht tubuh mulus Yeri.
“Dasar mesum, pa yabg kamy lakukan di dalam, cepat pergi!” teriak Yeri, meraih handuk menutupi tubuhnya.
“Sunggung menggoda,” gumam Arga. Berjalan mendekati Yeri.
“Jangan mendekat, tau aku akan siram kamu;”
“Siram saja,” Arga semakin berjalan kendekat.
“Aku bilang jangan mendekat,”
“Kenapa?”
Yeri mengambil Air menyiramnya ke arah Arga.
Arga hanya tersenyum sinis, meraih tangan Yeri, menariknya kasar keluar dari jamar mandi.
“Jangan kasar, dong!” sindir Yeri, mengusap tangannya yang terasa sakit akibat cengkraman erat tangan Arga.
“Jangan kira aku tergoda dengan tubuh kamu. Ingat jangan dekati aku sedikitpun,” tegas Arga.
Yeri menggeram kesal, mengepalkan ke dua tangannya. “Ih… Dasar nyebelin. Otak mesum!” umpat Yeri kesal.
Dengan wajah masih kesal, Yeri mengambil pakaiannya dan muali bersiap untuk segera pergi. Hari ini dia ingin pergi untuk menemui seseorang dan mengajaknya untuk bertemu dengan ayahnya. Dia sudah ada janji dari awal dengan kekasihnya itu.
Selesai berdandan diri. Yeri beranjak keluar lebih dulu. Dia berusaha mencari jalan keluar dari rumah ini yang aman tanpa di ketahui orang lain.
Dan Arga yang sudah selesai Mandi juga segera bersiap pergi ke kantor. Selesai memakai jas hitam lengap dengan sepatu hitam dan velana hitam miliknya, pakaian lengkapnya ke kantor. Dia berjalan keluar dari kamarnya tanpa terpikir di mana Yeri sekarang.
-------
“Arga, oma mau bicara sama kamu,” panggil oma yang duduk di sofa menatap ke arah Arga.
Arga yang baru saja keluar dari kamarnya. Menghampiri oma yang duduk sendiri.
__ADS_1
“Ada apa, oma?” tanya Arga.
“Oma mau kasih kamu sesuatu,” Oma beranjak berdiri, dia meraih tangan Arga memberikan sebuah obat untuknya.
“Ini apa, oma?” tanya Arga bingung.
"Obat, aku mau kamu segera melakukan hubungan dengan Yeri. Oma ingin punya cucu.
“Uhuk… Uhuk…” seketika Arga tersedak ludahnya sendiri. Mendengar ucapan omanya.
“Oma, tapi Arga masih banyak pekerjaan,” ucap Arga mengelak.
“Pekerjaan tidak masalah. Oma mau kamu besok ke Bali. Oma sudah siapkan semua penginapan di sana,”
“Apa?”
“Pokoknya oma hanya ingin pulang dari sana dapat gembira. Jika Yeri hamil,”
Arga menelan ludahnya kasar, dia memutar matanya mencoba mencari di mana Yeri. Dari tadi belum melihat dia sama sekali.
“Tapi, oma…”
“Udah simpan obat itu baik-baik. Oma yakin obat itu pasti, top cer…” ucap omanya mengacungkan dua ibu jarinya, sembari tersenyum menggoda.
“Oya, oma. Maaf Arga harus pergi ada kerjaan,” ucap Arga buru-buru pergi. Sebenarnya dia hanya pura-pura agar oma tidak terlalu bicara berlebihan padanya.
“Dasar anak muda jaman sekarang di suruh cepat bulan madu. Suka sekali menunda-nunda.” kata oma Arga, menggelengkan kepalanya menatap punggung Arga yang sudah berjalan menjauh.
Bruukkk…
Tubuh kekar Arga menabrak seorang wanita di depannya dengan pakaian seksi berjalan terburu-buru keluar dari rumahnya. Dengan sigap tangannya menangkap pinggang wanita itu, mendekatkan tubuhnya masuk dalam pelukan hangatnya.
“Yeri?”
Yeri meringis, “Hehe… Arga, maaf!” ucapnya mencoba melepaskan tangan Arga. Bukanya melepaskan Yeri, Arga semakin menarik pinggang rampingnya masuk ke dalam tubuhnya.
“Kamu mau pergi kemana?” bisik Arga tepat di telinga kanannya.
Yeri menelan ludahnya. Sia-sia sudah dia dari tadi mencoba melangkahkan kakinya pelan lewat pintu belakang. Tetapi tetap ketahuan juga.
“Apa kamu mau kabur?” tanya Arga, menarik ke dua alisnya ke atas
“Eh… Aku… Sstt… Em…”
“Oya… aku mau ke rumah temanku,” kata Yeri beralasan.
“Siapa?”
“Maksudnya?”
“Siapa nama teman kamu? Dan apa dia tidak bekerja?”
__ADS_1
“Eh… Temanku namanya…” Yeri mencoba memutar otaknya. Mencari alasan siapa nama temannya. Dia teringat seseorang yang pernah dekat dengannya.
“Oya… Liando!” tegasnya.
“Liando Subastian, pemilik perusahaan Ando group. Dak dia anak yang masih berlindung di belakang punggung orang tuanya,” jelas Arga seketika membuat Yeri melebarkan matanya tidak percaya.
Gimana dia bisa tahu? Apa dia teman Ando? Atau dia punya mata-mata untuk selalu mengawasiku… Ih… Sungguh mengerikan.
Yeri bergidik geli, membayangkan Arga yang begitu over padanya.
“Kenapa kamu diam? Apa kamu ada hubungan dengannya?”
“Dia pacarku?” tegas Yeri menarik ke dua alisnya ke atas menantang
Arga terkekeh kecil. “Kamu pacaran dengannya? Apa aku tidak salah dengar? Bukanya dia adalah maniak wanita?” ucap Arga dengan anda naik turun, mendekatkan wajahnya, hembusan napas kasar Arga seakan mengalir tepat di pipinya masuk ke dalam pembuluh darahnya. Membuat harusnya seketika terasa aliran listrik menusuk hatinya saat mendengar kata-katanya.
“Kalau kamu tidak percaya, ikut aku!!” Arga melepaskan dekapannya, menarik tangan Yeri untuk beranjak keluar dari rumahnya menuju ke mobil yang sudah terparkir di depan rumahnya.
Arga membuka pintu mobilnya, mendorong tubuh Yeri masuk ke dalam.
“Duduk diam! Jangan banyak tanya?” tegas Arga, menutup keras pintu mobilnya. Berlari memutar masuk ke dalam. Dan duduk di samping Yeri yang terlibat bingung dengan sifatnya yang tiba-tiba marah gak jelas.
“Apa kamu lagi palang merah?” tanya Yeri.
Arga menoleh, mengerutkan alisnya bingung. “Apa itu palang merah?” tanya Arga.
“Itu yang merah-merah,”
“Apa merah-merah, warna maksud kamu?”
Yeri menghela napasnya frustasi. “Haduh… tuan Arga yang terhormat, apakah anda, tidak tahu palang merah?”
“Jangan bercanda padaku. Apa maksud palang merah,” ucap Arga semakin kesal. Wajahnya masih saja datar tanpa senyum di bibirnya.
Yeri mendekatkan wajahnya. Membuat Arga menarik tubuhnya ke belakang.
“Apa yang akan kamu lakukan?” tanya Arga was-was.
“Siapa juga yang mau menggodamu. Tenang saja. Kamu bukan seleraku, tuan Arga.” Yeri menarik tangan Arga agar tubuhnya mendekat ke arahnya.
“Mau tahu palang merah apa?”
“Iya, apa?”
“Datang bulan bagi wanita. Biasanya kalau wanita datang bulan marah-marah. Sama kayak kamu,” jelas Yeri, seketika membuat Arga mengerutkan wajahnya.
“Emang kamu pikir aku wanita,” jawab Arga kentus.
“Dasar gak bisa di ajak bercanda,” umpat kesal Yeri, melipat ke dua tangannya di atas dadanya dengan bibir manyun kesal menatap ke depan.
Arga mulai menjalankan mobilnya. Dia melirik sekilas ke arah Yeri. Sembari menggelengkan kepalanya pelan.
__ADS_1