
Selesai melakukan meeting. Semua berjalan dengan lancar. Dan Arga masih tetap saja diam Ia terdiam menatap ke arah kaca mobil. Menatap pemandangan luar yang begitu membuat dia merasa sangat stres lama-lama. gimana tidak, pikirannya sekarang melayang jauh memikirkan orang yang tidak ada di sampingnya.
Perasaannya mulai gundah, hatinya kacau. ia bingung harus memilih apa? Antara cinta dan sebuah pernikahan palsu. Sekarang tak ada yang bisa mengerti perasaannya. Entah dia harus memutuskan gimana nantinya. Sesekali Arga melirik sekilas ke arah Yeri. yang sekarang masih diam, dengan ke dua kaki tak berhenti bergerak. Terlihat wanita itu sedang gugup dan cemas. Bahkan jemari tangannya terus bergerak, seakan sedang memikirkan sesuatu juga.
"Wanita ini... Dia terlihat menarik. Tapi hatiku masih tetap sama. Apa aku bisa memberikan hatiku padanya? Emm… Tapi itu tak mungkin. gimana bisa aku memberikan hati pada wanita yang baru beberapa hari aku kenal. Sedangkan Cia. Ku kenal sejak lama. Dia teman kecil sekaligus cinta pertama bagiku." gumam Arga dalam hatinya. Tanpa melirik lagi ke arah Yeri.
Cinta yang selama ini dia cari sudah di depan mata. Tetapi dia tak bisa menggapainya dengan sempurna. Cinta itu seakan hanya sebatas lewat saja. Meski dia sudah membangun dinding cinta itu puluhan tahun. Tapi.. Apalah daya dia yang mulai membantu racun cinta. Dan membuat dia terluka selama beberapa tahun, terus menderita sendiri. Sedangkan dia bahagia dengan kehidupan barunya.
Suasana mobil masih sangat hening. Sudah 15 menit perjalanan. Semuanya seakan sia-sia. Tak ada satu katapun keluar dari bibir Arga. dan Yeri hanya menatap ke arahnya. Dia bingung harus bilang apa lagi. Dia bingung harus mencoba bicara apalagi padanya. Melihat suasana hati Arga sedang tidak enak. Dia merasa lebih baik diam. Dia menatap sekilas ke arahnya. Mencoba memastikan jika laki-laki itu baik-baik saja.
Yeri menghela nafasnya, ia melirik lagi ke arah Arga. "Semoga saja dia tidak marah." gumam lirih Yeri. Ia memberikan semangat untuk dirinya sendiri. Ia mencoba untuk memulai pembicaraan lebih dulu. Tetapi sekujur tubuhnya seketika gugup, gemetar, ia ingin membuka mulutnya, seketika tertutup lagi. Saat Arga terus mengacuhkan dirinya.. Ia memegang tangannya, mencengkeram jari-jarinya. Mencoba untuk menghilangkan rasa gugup dalam dirinya.
Kenapa dia diam saja? Padahal dia yang paling bawel. Sekarang semenjak bertemu dengan wanita itu. Dia lebih banyak diam. Dan tanpa berbicara sedikitpun kepada siapapun. Bahkan pada Jun juga. dia tetap diam.
Yeri menarik sudut bibirnya memutarnya, bersamaan dengan ke dua matanya.
Yeri menatap sekilas ke arah Arga. Wajahnya masih terlihat sangat dingin. Pikirannya seakan sedang terombang-ambing dalam sebuah perasaan yang membingungkan. Tapi Yeri tak tahu tentang apa.yang dipikirkannya.
Yeri menarik napasnya dalam-dalam, dalam.satu tarikan napasnya. Yeri memegang lengan Arga. "Apa kamu ada masalah?" tanya Yeri memecahkan keheningan di antara mereka.
Arga melirik sekilas ke arahnya.
"Apa?" jawab jutek Arga.
__ADS_1
"Kamu ada masalah?" tanya Yeri. Ia semakin gugup saat Arga menjawab pertanyaannya hanya datar.
"Enggak!"
Kenapa sekarang dia cuek. Bahkan sekali saja tidak menatap lama ke arahnya. Dia terlihat sangat cuek.
Dasar nyebelin. Bicaranya gitu saja. Apa dia perlu mengeluarkan suaranya. Dan memang mengeluarkan suara kena pajak negara. Kenapa dia pelit sekali." gerutu Yeri lirih.
Arga menoleh, menatap tajam ke arahnya. "Apa yang kamu katakan tadi?" tejam Arga.
Yeri salah tingkah di buatnya. Ia mengerutkan wajahnya. Bingung apa yang harus di katakan? Apa dia harus jujur atau.. Ah… aku gak punya alasan lagi.. apa ya?
"Kenapa dia?" tanya Arga. ke dua matanya melotot tajam ke arahnya. Seketika Yeri menelan ludahnya susah payah.
Dia sangat menakutkan. Tatapannya seperti seekor elang ingin memangsaku.
"Oh, ya.. aku berbicara tentang pekerjaanku tadi." gumam Yeri.
"Dasar aneh!" pekik Arga.
"Duduk saja dan diam di situ." ucap Arga, tanpa menoleh ke arah Yeri sama sekali.
"Iya…" Yeri terdiam. Ia semula yang ingin menatapnya. Sekarang mulai tak menginginkannya dan lebih memilih membungkam mulutnya. Dengan pandangan mata ke arah kaca mobil.
Dasar nyebelin. Lagian hanya ajak bicara dia. Tapi dia sendiri yang nyebelin. Kalau gitu aku gak mau ngomong sama dia. Decak kesal Yeri dalam hatinya. Ia memalingkan wajahnya membelakangi Arga.
__ADS_1
Dia apa sama sekali gak mau bicara sama aku. Lagian hatinya yang terluka bukan mulutnya. Kenapa masih saja terus membungkam mulutnya.
Hampir setengah jam perjalanan. Mobil mewah Arga sampai di rumah. Semua nampak sangat hening. Dia berjalan masuk ke dalam apartemennya. Dengan langkah semakin cepat. Tak lama ia melihat sosok wanita tua yang sedang berdiri menunggunya. Tepat di depan pintu apartemennya.
"Oma?" gumam Arga. Melebarkan ke dua matanya.
"Oma, kenapa anda sedang ada di sini" tanya Yeri menatap ke arah oma. Seketika dia berlari menyambutnya dengan ramah. Mencium pipi kanan dan pipi omanya. Terlihat mereka begitu sangat akrab.
"Yeri… Kalian sudah makan?" tanya Oma memegang ke dua lengan Yeri. Sembari melirik ke arah Arga yang hanya diam duduk di belakang Yeri. Oma Menyambut mereka dengan sebuah senyuman tipis.
"Arga kamu ada masalah?" tanya Oma.
"Enggak!" jawab Arga santainya. Ke dua matanya sepertinya nggak menatap wajah oma-nya. Bukannya dia marah. Dia gak mau jika dirinya sedang galau memikirkan perasaannya.
Yeri menatap ke arah Arga. Dari tadi dia bahkan belum makan. Dan Arga juga diam saja. Tidak menawari makanan saat berada di jalan. Dan laki-laki itu lebih perduli dengan pikirannya sendiri. Tanpa memikirkan perasaan orang lain yang sedang kelaparan di dalam mobil.
Yeri mengusap perutnya yang terasa sangat lapar. Tapi dia hanya diam tanpa sepatah katapun keluar dari bibirnya. Dia malu, sekaligus takut mau bilang pada laki-laki dingin dan nyebelin itu.
"Hee… Kenapa kalian hanya diam. Udah ayo masuk. Oma, udah siapkan makanan untuk kalian." ucap Oma, membalikkan tubuh Yeri. Dan mendorong punggungnya untuk segera masuk ke dalam. Mereka berjalan langsung menuju ke ruang makan.
"Oma, beneran bawa makanan?" tanya Yeri antusias.
"Iya, sayang!" Oma mengusap lembut rambut Yeri dari ujung kepala hingga ujung rambutnya.
__ADS_1
"Kalian makan saja. Aku gak berminat untuk makan." ucap Arga yang baru saja berjalan masuk. Dengan langkah cepat melewatinya, Arga masuk ke dalam kamarnya. Wajahnya masih saja tetap sama. Tanpa tersenyum sama sekali. Dia terlihat sangat datar tanpa ekspresi sedikitpun dari wajahnya.
"Yeri.. Apa Arga ada masalah dengan pekerjaannya?" tanya Oma menatap aneh pada Arga yang sudah masuk ke dalam kamarnya.