
"Tuh, laki benar-benar gak bisa menghargai wanita. Atau gimana, ya. bersikap lembut sedikit pada wanita." gerutu Yeri, berjalan melewati Arga, tepat di belakang dia duduk. Ia mengepalkan tangannya tepat di atas kepala Arga.
"Jangan usil." sindir Arga.
Yeri memutar matanya bingung. Gimana bisa Arga tahu, padahal dia gak menoleh sama sekali ke belakang.
"Eh… Kamu yang, jelek, jutek, nyebelin, dan gak bisa menghargai wanita." ejek Yeri tanpa beban.
"Memangnya kamu mau dihargai berapa lagi?" tanya Arga tanpa menatap ke arah Yeri. Menarik ke dua alisnya bersamaan.
Yeri mengedipkan matanya, "Apa katamu?" tanya Yeri.
"Apa? apa? Bukanya kamu sudah tahu? Kamu di sini itu sudah di hargai. Jadi jangan minta harga lebih lagi. Apa kamu paham?" gumam Arga, menoleh ke arah Yeri yang tepat di belakangnya. Dengan tangan mengepal, hampir saja memukul kepalanya, untuk yang ke dua kalinya. Arga melotot menatap tangan kepalan Yeri berada tepat di atasnya.
"Bukanya aku sudah bilang padamu. Jangan usil. Atau kamu yang akan terima akibatnya."
Yeri melebarkan kelopak matanya. Tanpa rasa takut terbesik dalam pikirannya. Tatapannya sedikit menantang Arga.
"Kamu mau apa?" tanya Arga, meraih pergelangan tangan Yeri. Dia bangkit dari duduknya. Menajamkan matanya menatap ke dua mata Yeri.
"Mau pukul kamu? Memangnya kenapa?" jawab Yeri tanpa rasa takut.
"Kamu berani?" tanya Arga memastikan. Ia tersenyum tipis, menggerakan kepalanya.
"Memangnya kenapa gak berani?" tanya Yeri.
Arga mendekatkan wajahnya. Dengan tangan kiri bersandar di atas sofa.
"Silahkan kalau berani." tegas Arga.
Yeri mendekatkan wajahnya. Tanpa rasa takut, ia mencoba melepaskan cengkeraman tangan Arga yang begitu erat di pergelangan tangannya.
Arga menarik tubuhnya sedikit ke belakang. Menjauh dari Yeri.
"Jangan mendekat? Kamu bukanya belum mandi? Dan bau napas kamu, bikin aku mau muntah." Arga mengerutkan wajahnya, menutup hidungnya, sembari mengibaskan tangannya tepat di depannya.
Yeri tersenyum tipis. "Kamu yakin, aku bau?" tanya Yeri, semakin mendekatkan wajahnya.
Arga tersenyum tipis. Ia menarik tangan Yeri, membuat dia harus jungkir balik dari atas sofa, sampai terjatuh tepat di atas sofa. Yeri yang reflek menarik kerah baju Arga hingga laki-laki itu, terjatuh tepat di atas tubuhnya. Tangannya mendarat sempurna menyentuh dada Yeri.
__ADS_1
Kenapa setiap aku menatap ke dia, apalagi saat menatap matanya. Aku gak bisa berkata apa-apa lagi. Dia sangat tampan. Dan dia juga sangat manis, jika di lihat dari dekat. Ingin sekali aku berada di sisinya. Tapi aku sadar, aku siapa? Dan dia siapa? Kita berbeda, sangat berbeda.
"Bisa lepaskan tangan kamu?" tanya Arga, menarik tangan Yeri yang masih mencengkeram erat kerah kaos Arga. Dengan mata menatap ke arah Arga sangat dalam.
Yeri tertegun seketika, ia merasakan ada tangan yang bertindak kurang ajar padanya. Yeri menatap ke bawah melihat tangan Arga memegang ke dua miliknya.
"Jangan kebiasaan menatap seorang laki-laki seperti itu. Jika kamu gak ingin jatuh cinta padanya." sindir Arga.
"Aaaa…. apa yang kamu lakukan." teriak keras Yeri. Suaranya menggema ke seluruh penjuru ruangan. Yeri spontan mendorong tubuh Arga menjauh darinya.
"Dasar mesum! Otak mesum kamu masih saja sama. Dan kamu itu…"
Arga menutup mulut Yeri dengan telunjuk tangannya. "Jangan banyak bicara, suara kamu sangat jelek. Bisa-bisa gendang telingaku bermasalah gara-gara dengar suara kamu." ejek Arga, dia beranjak berdiri menjauh dari Yeri, dan berjalan pergi menuju ke kamarnya.
"Eh… Berhenti.." panggil Yeri. Dia beranjak berdiri. melihat Arga sudah berhenti tepat di depan kamarnya. Ia berjalan mendekatinya.
"Ada apa?"
"Otak mesum, kamu harus tanggung jawab." ucap Yeri membuat Arga semakin bingung. Ia menaikkan ke dua alisnya. Dengan mata mengernyit mengamati setiap lekuk wajah Yeri.
"Kamu sadar?" tanya Arga. Memegang kening Yeri.
"Aku kira kamu sakit? Atau kamu lagi gangguan otak?"
"Eh… Aku sadar seratus persen. Lagian memangnya kenapa, aku minta tanggung jawab padamu."
"Memangnya kamu hamil?" tanya Arga.
"Hamil?" Yeri memutar matanya, dengan telunjuk tangannya mengetuk-ngetuk dagunya, mencoba berpikir sejenak. Apa yang di katakan Arga.
"Memangnya aku hamil anak siapa?" tanya Yeri.
Arga sangat kesal, ia menggertakkan giginya menahan emosinya.
Sebenarnya dia waras gak? Atau memang dia sedang gangguan jiwa. Dia yang tanya sekarang malah balik tanya ke aku. Gerutu Arga. Mencoba untuk mengatur napasnya. Agar tetap sabar menghadapi wanita bodoh di depannya.
"Kenapa diam? Apa kamu tahu kalau aku hamil? Tapi kenapa aku gak tahu. Dan aku hamil dengan siapa? Padahal aku belum melakukan hubungan dengan siapapun." cerca Yeri.
Arga tak hentinya terus menghela napasnya. Dan beranjak pergi masuk ke dalam kamarnya. Tanpa memperdulikan ocehan Yeri yang dari tadi tak dia paham sama sekali. Mungkin otaknya lagi gangguan? Atau memang dia lagi kurang sehat?
__ADS_1
"Eh… Kamu mau kemana?" tanya Yeri, mencoba meraih tangan Arga. Tetapi, dia sudah berjalan jauh darinya.
"Mandi."
"Tunggu! Aku mau buang air kecil dulu." ucap Yeri? mencoba menerobos tubuh Arga. Mendorongnya menjauh dari pintu kamar mandi.
"Gak bisa." Arga mengangkat ke dua tanganya Menghalangi jalan Yeri, berdiri tepat di depannya.
"Kenapa gak bisa"
"Karena aku yang berkuasa." pekik Arga. menarik ke dua alisnya tertaut ke atas.
Yeri yang tak tahan, dia terus menggerakan kakinya ke ka kanan ke kiri.
"Arga…. bentar! Bentar! Aku masih.. Aku masih…"
Yeri mencengkeram tangannya. Ia menggetarkan bibirnya menahan diri agar tidak buang air kecil sembarangan.
Kenapa laki-laki ini? Aku sudah gak bisa
menahannya. Aku ingin. buang air kecil. Sekarang!
Arga mengerutkan keningnya. Bibirnya tersenyum, seakan ingin menertawakannya.
"Udah minggir. Aku mau masuk duluan, Arga. Nanti aku akan beri kamu apa yang kamu minta. Sebentar saja!" rengek Yeri. "Nanti kita ke rumah oma ya, atau pergi jalan-jalan gimana?"
"Gak mau…" tegas Arga. "Gak ada angin gak ada hujan. Kamu tiba-tiba mengajakku?" tanya Yeri dalam hatinya.
"Udah nanti saja sekarang cepat, pergi. Aku mau ke kamar mandi duluan."
"Aku yang sampai lebih dulu. Jadi aku yang masuk duluan."
"Eh… Kamu itu mandi. Dan aku hanya ke kamar mandi lima menit. Kalau kamu bisa nanti belakangan." decak kesal Yeri tak mau kalah, pandangan matanya tajam, menantang Arga di depannya. Laki-laki itu bukanya mengalah pada wanita. Dia juga tak mau kalah dari Yeri. Membuat wanita itu semakin geram.
Dan tiada hati tanpa dia
ingkar bagi mereka. Itu sudah kebiasaan bagi mereka. Membuat mereka sedikit jengkel sendiri dengan apa yang sudah di lakukannya.
"Merasa sangat lama menunggu Yeri. Arga memutuskan untuk segera masuk ke dalam kamar mandi. Dan ternyata kamar mandi itu tak di kunci olehnya.
__ADS_1