Menjadi Istri Bayaran

Menjadi Istri Bayaran
Gosip


__ADS_3

Suara desas desus para pegawai Gio terdengar sampai di telinga Arga. Dan bukanya marah. Laki-laki itu terlihat sangat santai. Dan tersenyum ke arahnya. Arga segera berjalan mencari ruangan Gio. Meski semua mata masih tertuju padanya. Membuat dia risih. Dari sekian banyak wanita cantik di sana. Tak membuat Gio merasa tertarik sama sekali.


Tak seperti Yeri. Wanita yang berbeda dari yang lainya. Dia begitu imut, lucu, dan bisa di jadikan tempat ejekan, atau bahkan tempat dia bisa jahil.


Sampai di depan ruangan Gio. Bukanya membuka perlahan.


Braakkk…


Suara pintu terbuka dengan begitu kerasnya. Membuat semua orang di sana menatap ke arahnya bingung. Dan lagi Gio yang semula duduk tenang. Ia melihat kakaknya datang langsung bangkit dari duduknya. Mengerjakan menghampiri kakaknya. Melayangkan sebuah senyuman tipis.


Gimana jika anak di sini Terus Yeri pasti akan semakin dekat dengannya. Dan aku hanya ingin bisa dekat, kalau di rumah milik kakakku. Tapi kalau di sini milikku.


"Kak tumben banget ke sini?" tanya Gio.


Arga tersenyum menepuk pundaknya. "Ada satu hal yang membuat aku bisa ke sini." gumam Arga.


"Apa, kak? Apa aku bikin masalah?"


"Iya, soal istriku."


"Tenang saja, istrimu aman disini."


Arga beranjak duduk di tempat kerja Gio. Membuat adiknya itu menatap ke arahnya bingung. "Ada apa sebenarnya."


"Nyaman juga," Arga merasakan sejenak tempat duduk Gio. Merasa puas, dia beranjak berdiri.


"Tunggu, oma? Maksudnya?"


"Apa dia akan ke sini?"


Arga berjalan mendekati Gio. Menepuk pundaknya. "Kamu nanti juga tahu," bisiknya. Beranjak pergi meninggalkan Gio sendiri.


"Dan ingat, kamu masih jauh di bawah. jangan sampai kamu menggoda istriku." gumam Arga, sebelum dia beranjak keluar dari ruangan Gio.


"Kamu mau kemana?"


"Menemui istriku," gumam Arga dari kejauhan.


-------


"Hari ini.. Aku adalah orang yang paling beruntung. Bisa bekerja di sini. Dan bisa merasakan indahnya kantor Mix Group."


Yeri bergumam, dengan ke dua tangannya di atas meja kerjanya. Dan ia meletakkan kepalanya di atas tangannya. Ya, Yeri tertidur di saat jam kerja. Dan dia bahkan tak merasa bersalah sama sekali , meski banyak orang yang lewat mendekatinya. Hanya karena ingin melihat dia tidur beneran atau tidak.


Perkerjaan yang menumpuk hanya sebatas kertas baginya. Ia tertidur begitu pulasnya tanpa dia sadari komputer masih menyala di depannya.


"Yeri… Bangun!" Angel mencoba membangunkan Yeri. Menggoyangkan tangannya berkali-kali.


"Kalau boss tahu, dia pasti sangat marah." gumam Angel, mencoba menatap wajah Yeri yang tersembunyi di balik lipatan tangannya.


"Yeri, Yeri, bangun.. Ada boss, tuh." gumam Angel.

__ADS_1


"Hmm.. Apaan, sih." desah Yeri.


"Ada bos, jangan tidur.." gumam Angel mengingatkan.


Yeri memalingkan wajahnya. Mengganti posisi tidur. "Anak ini, gimana, ya. Cara aku buat bangunin dia?"


"Yeri… bangun… Ada boss,"


Angel terdiam. Ia merasakan ada seseorang yang menepuk pundaknya. Membuat dia menoleh seketika. Ke dua matanya terkagum kagum melihat seorang laki-laki tampan di depannya.


"Apa kamu malaikat?" tanya Angel, tak mau berkedip menatap keindahan wajah Arga.


"Bisa minggir sebentar, gak?" tanya Arga.


"Emm.. Iya.. Iya, pasti." ucap Angel mengangguk anggukan kepalanya.


Dia beranjak berdiri dari tempat duduknya. Dan segera pergi berjalan ke belakang. Dan Arga menarik kursi Angel, mendekat tepat duduk di samping Yeri. Dia meletakan kepalanya di atas meja, sembari menunggu Yeri berbalik ke arahnya.


"Ngel… sudah jam istirahat belum?" tanya Yeri, membalikkan wajahnya tepat berhadapan dengan Arga. Arga menarik kursinya semakin mendekat, hembusan napas berat Arga sontak membuat Yeri membuka matanya. Menatap wajah suaminya itu dari dekat sontak ia bangkit dari duduknya. Mengedip-ngedipkan matanya, lalu mengusapnya berkali-kali.


"Emm… Kamu… Kamu.. Ke..napa di sini?" tanya Yeri, menunjuk ke arah Arga tak percaya.


"Di mana Angel?" tanya Yeri.


"Oo.. Wanita yang duduk di samping kamu tadi?"


"Iya, di mana dia?"


"Di mana?"


"Pergi,"


Yeri memutar matanya berkeliling ruangan yang nampak luas. Dan meja kerja Angel memang sebelahan dengannya.


Yeri menggaruk kepalanya, yang sebenarnya tak terasa gatal. Dia menatap ke samping. Melihat temannya Angel menatap kagum suaminya. Rasanya ingin sekali kesal. Tapi dia juga sadar. Hanya istri bayaran. Jadi gak berhak kesal atau cemburu pada siapapun. Karena itu sudah jadi konsekuensiku nanti jika sampai aku patah hati, terluka, atau suka dengannya.


"Huffftt… Bisa jaga jarak gak?" gumam Yeri, menarik dua sudut bibirnya mengukirkan sebuah senyuman manis.


Wanita berwajah cantik bersih itu memalingkan wajahnya, matanya berkeliling manatap sekitarnya. semua pegawai melihat ke arahnya. Mungkin di pikiran mereka, kenapa anak baru bisa dekat dengan seorang boss. Atau mereka berpikir aneh-aneh lagi. Ah.. Gak tahu.. Dia juga gak begitu perduli dengan pikiran mereka atau ejekan mereka. Dia sudah kenyang menerima cacian dan makian orang berhari hari.


Apalagi si pria dingin itu. Dia juga rasanya benar-benar menyebalkan. Dan ingin sekali marah setiap hari jika menatap wajahnya.


Yeri mengerutkan bibirnya, lalu mendekatkan wajahnya. "Heh.. Kenapa kamu di sini?" tanya Yeri lirih. Sembari melirik temannya yang masih berdiri di belakang Arga. Apalagi temannya itu tidak berhenti mengagumi suaminya.


"Memangnya kenapa?" tanya Arga.


"Aku sedang kerja. Jadi jangan ganggu aku." decak kesal Yeri.


Arga terkekeh kecil. "Apa kamu bilang? Kerja apa? Memangnya ada kerja dalam.mimpi." ejek Arga, meraih dokumen di bawah tangan Yeri.


"Bukan urusan kamu." pekik Yeri, ia sengaja berbicara memelankan suaranya. Sembari menatap tajam Arga. Meraih dokumen di tangannya.

__ADS_1


"Lebih baik, anda sekarang pergi. Aku gak mau tahu lagi. Cepat pergi."


"Kamu berani mengusir suami kamu?" tanya Arga, meraih dagu Yeri, menariknya sedikit ke atas.


"Aku ingin lihat seberapa beraninya kamu mengusirku. Atau kamu sendiri saja yang gak mau pergi dari sini." gumam Arga.


"Kenapa aku harus pergi." tanya Yeri mengerutkan keningnya bingung.


"Karena kamu seharusnya kerja di perusahaanku. dan aku sudah siapkan semuanya. Sementara kamu, kenapa kamu pindah haluan dan bekerja di sini. Apa kamu sengaja buat cemburu suami kamu?"


"Memangnya kamu cemburu?" tanya Yeri dengan nada sedikit mengejek.


"Menurut istriku gimana? Apa kamu gak kangen denganku, jika kerjamu saja jauh dariku. Kalau aku dekat dengan wanita lain, berduaan di kantor."


Yeri menarik dua sudut bibirnya. Mengukirkan sebuah senyuman tipis di wajahnya. "Oo.. Oke, oke, silahkan." ejek Yeri, menarik kompak ke dua alisnya ke atas.


Arga semakin mendekatkan wajahnya, bahkan kini jarak mereka hanya satu telunjuk tangan dari wajahnya. Hembusan napas mereka saling berpacu. Mereka saling kenatap, dengan pandangan mata terkunci.


"Apa kamu.."


"Sssttt…" Arga menutup bibir Yeri dengan telunjuk tangannya.


Hampir saja bibir Arga menempel tepat di bibirnya. Dengan cepat Yeri mengumpulkan semua kemampuannya mendorong tubuh Arga menjauh darinya. Hingga punggungnya terbentur kursi.


"Gimana? Enak gak?" tanya Yeri.


Arga menatap tajam ke arah Yeri yang terus menertawakannya.


"Ikut aku!" ucap Arga. Meraih tangan Yeri, bangkit dari duduknya. Menariknya pergi, entah dia akan membawa Yeri kemana. Tanpa banyak bicara, Arga semakin mempercepat jalannya.


"Apa kamu gak bisa jalan lebih pelan."


"Kenapa?" tanya jutek Arga, melirik sekilas.


"Gak apa-apa, sih." jawab Yeri sedikit kesal, menarik sudut bibirnya tipis.


Dasar nyebelin! Emangnya aku barang main seret gitu aja. Lagian barang aja gak boleh di seret harus di gendong. Apalagi wanita? kalau di gendong bisa lebih romantis dikit.


Arga memelankan langkahnya. Seketika langkahnya terhenti. Ia menoleh ke arah Yeri yang dari tadi hanya diam.


"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Arga.


"Atau kamu lagi mengumpat padaku dalam hati."


"Jangan sok ganteng. Lagian siapa juga yang mengumpat. Aku hanya bilang , jika kamu laki-laki resek sekaligus nyebelin." ejeknya, membuat semua pegawai yang melintas di sampingnya menatap ke arahnya bingung. Berbagai pertanyaan muncul di otak mereka tentang siapa sebenarnya Yeri. Pegawai baru yang bisa membuat seorang Ceo jatuh cinta.


Arga berdengus kesal, tanpa banyak tanya, ia mengangkat tubuh Yeri. Dalam hitungan detik saja tubuhnya melayang.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Yeri kesal. Memukul berkali-kali dada Arga.


"Bisa diam gak? Kamu bikin ribut di kantor orang." gumam Arga melangkahkan kakinya pergi menuju ke ruangan Gio.

__ADS_1


__ADS_2