Menjadi Istri Bayaran

Menjadi Istri Bayaran
Malam pertama tertunda


__ADS_3

Selesai berendam tubuhnya. Yeri beranjak menuju ranjangnya. Ia segera berbaring lebih dulu di ranjang. Sebelum laki-laki nyebelin itu terus saja mengganggunya. Lagian dia sudah seharian membuat otaknya terasa panas.


Hari ini gara-gara dia juga dia aku kehujanan? Tapi tadi… Entah kenapa aku merasa dia so sweet banget.. Apa itu perasaanku saja." gumam Yeri. Meraih bantal di sampingnya. Lalu mendekapnya sangat erat. Ia memutar kembali memory kejadian saat Arga menggunakan jasnya sebagai payung.


"Ah…. Tatapan dia.. Kenapa membuat aku gila hari ini." gumam Yeri, membolak-balikkan tubuhnya di ranjang.


"Oh… Tuhan… apakah aku mulai simpati dengan dia? Atau jangan.. Jangan aku.. punya perasaan terhadapnya? Kalau iya.. Ah.. aku gak bisa bayangkan itu semuanya."


Yeri membuyarkan lamunannya. Ia terdiam sejenak. Mendengar tidak ada suara shower dari kamar mandi. "Lebih baik sekarang aku tidur saja." gumam Yeri.


"Akhirnya aku bisa tidur di sini. Dan sekarang giliran dia tidur di bawah. Salah sendiri cari gara-gara denganku." gumam Yeri. Ia membaringkan tubuhnya, menarik selimutnya menutupi sekujur tubuhnya.


Hingga beberapa menit kemudian, Yeri belum bisa tidur lelap. Suara pintu terbuka membuat wanita itu seketika mengerutkan wajahnya. Mencengkeram erat selimut menutupi wajahnya. Dan bibirnya seperti komat kamit seakan baca mantra. Tapi itu bukan mantra.. Yeri terus berharap jika Arga tidak membangunkannya. Atau setidaknya dia tidak cari kesempatan untuk mendekatinya lagi.


Suara pintu kamar mandi terdengar di telinga Yeri. Wanita itu mengerutkan wajahnya. Mencoba untuk segera tidur.


"Yeri… jadi minta sesuatu gak?" tanya Arga. Ia berjalan keluar dari kamar mandi. Mengusap rambutnya yang masih basah dengan handuk kecil.


Kedua kata Arga memutar, menatap sekelilingnya. Yeri tak ada di sana. "Di mana dia?" gumam Arga, sekilas pandangan matanya di balik selimut yang tebal menutupinya. Arga tersenyum, dia berjalan memelankan langkah kakinya.


Terbesit dalam pikirannya untuk berbaring di samping Yeri. meskipun dia sendiri yang harus melanggar perjanjiannya. Tapi setidaknya kesempatan sekali saja gak masalah.


sekujur Arga berbaring di sampingnya. Menarik selimut menutupi tubuhnya.


Sialan… Apa.yang di lakukan bedebah ini. Apa dia sengaja untuk mendekatiku? Pekik Yeri menggerakkan dalam hatinya.


"Hai.…" Sapa Arga, mencoba tersenyum manis mendekati Yeri. Ia semakin mendekatkan wajahnya. Semakin dekat.


Yeri mengedip-ngedipkan matanya. Ia mencoba memastikan siapa orang di depannya. Setelah sadar tangan Arga, mencoba menggodanya, mengusap kakinya berkali-kali. Perlahan tangan itu mulai menjelajah. Yeri sontak membuat selimutnya. Wajahnya seketika memerah, kepalanya meluap-luap penuh emosi.


"Argaa…" teriak Yeri kesal.


Dasar laki-laki mesum. Dia pikir, bisa menggodaku dengan mudah. Jangan harap! Lihat saja nanti. Aku akan kasih balasan padamu. Yeri mengepalkan tangannya, mencengkeram sprei ranjangnya. Membentuk gumpalan kekesalan di sana.


Arga hanya tersenyum tipis. Ia mencoba menggodanya dengan senyuman. Dan tangan kanan memegang dagunya, menariknya sedikit ke atas. "Jangan marah, kalau kamu marah aku semakin tertarik." ucap Arga. Tangan kirinya mulai menjelajah di balik helaian kain yang menutupi tubuh Yeri. Sentuhan tangan Arga berhenti di dua buah milik Yeri.


Kenapa aku tak bisa bergerak. Apa aku tak bisa menolaknya. Kenapa sentuhannya membuat tubuhku terasa lebih hangat dari sebelumnya. Jujur hati kecilku merasa sangat menikmati sentuhannya. Tapi aku sadar siapa aku sebenarnya.


"Kenapa kamu hanya diam? Apa kamu suka? Atau kamu menikmatinya?" gumam Arga tersenyum tipis. Mengusap bibir Yeri penuh hasrat.


Yeri yang terlalu fokus menatap wajah Arga di depannya. Ia tak perhatikan tangan Arga yang mulai merayap menyentuh miliknya.


"Emmm…." Suara ******* keluar dari bibir Yeri.


"Bagaimana kalau sekarang aku kasih lolipop yang kamu minta?" ucap Arga.


"Mana?" tanya Yeri membuka matanya. Semula dia menikmatinya perlahan matanya terbuka, saat mendengar kata lolipop yang di kira hanyalah sebuah permen biasa.


"Tapi aku pastikan dulu jika kamu yakin memintanya?" ucap Arga, tersenyum tipis.


Apa dia belum tahu? Apa yang aku maksud?


"Iya.. Pasti aku mau… mana? Mana?"


Arga meraih tangan Yeri. Ia membiarkan dia menyentuhnya. "Ihss….. Arga… Apa yang kamu lakukan?"


Arga hanya diam menarik tangannya lagi.


"Arga…" teriak Yeri. Mencengkeram erat tangannya, lalu menancapkan kuku panjangnya di pundak Arga.


"Aw- Kenapa kamu kasar pada suami kamu sendiri?" tanya Arga kesal.


"Apa yang kamu lakukan. Menjijikkan." pekik Yeri, mengusap tangannya berkali-kali dengan selimut tebalnya.


"Bukanya kamu yang minta?" tanya Arga.


"Ihh… Ogah! Kenapa juga aku minta. Jijik…"


"Kalau kamu gak pakai itu, gimana bisa kamu punya anak?" tanya Arga, menarik turunkan alisnya.


"Dan itu tadi namanya lolipop. Apa kamu gak tau cara mainnya? Atau aku kasih tahu kamu?" Arga semakin menarik tubuhnya ke depan mendekatkan tubuhnya.

__ADS_1


"Ih…. Ogah! Aku gak mau tahu." umpat Yeri.


Yeri terdiam kikuk seketika. Ada benarnya juga yang di katakan Arga. Tapi itu teruntuk suami istri yang sebenarnya. Tetapi ini… Bukan suami istri sesungguhnya.


"Ayolah… Yeri sekali saja." rengek Arga, tak hentinya tersenyum menggoda.


"Bukan kamu sudah tahu perjanjian. Dan aku gak mau melanggar janji yang pernah aku tanda tangani. Dan aku juga tidak akan pernah menyentuh kamu."


"Kamu jadi mau gak?" tanya Arga.


"Mau apa?"


"Sesuatu?"


"Apaan, sih, gak jelas banget."


"Kamu mau gak, lolipop, ku?" tanya Arga, membuat Yeri mengerutkan keningnya. Ia membuka selimutnya. Dan beranjak berdiri. Yeri mending kaki Arga menjauh dari kakinya.


"Udah aku bilang puluhan kali. Aku gak mau, dan gak akan pernah mau." ucap Yeri.


"Jangan bilang kalau nanti kamu tahu rasanya ketagihan." kata Arga. Terkekeh kecil.


Yeri menguntupkan bibirnya. Dia segera beranjak dari ranjangnya.


"Minggir!" pekik Yeri.


"Kamu mau kemana?" tanya Arga.


"Pakai baju sana, jangan dekat-dekat aku kalau kamu belum pakai baju." ucap Yeri, ia memalingkan wajahnya. Yeri duduk di sofa. Sekali saja dia tak mau memandang laki-laki telanjang dada di depannya.


"Kenapa juga kamu menutup matamu." ucap Arga. Berjalan mendekati Yeri. "Kamu istriku. dan gak ada yang larang, kamu boleh ngapain saja denganku."


"Sejak kapan suami istri? Apa kamu hilang ingatan sekarang." Arga duduk tepat di atas paha Yeri. Di sengaja ingin menggodanya kali ini.


Yeri kikuk seketika, saat ke dua pahanya merasakan sentuhan keras di atasnya. Ia menelan ludahnya susah payah. Mencoba menghindar. Tapi sentuhan itu semakin keras.


"Apa ini? Apa itu? Aah…. mengerikan… Kalau memang itu milik Arga.. Aku gak mau…" teriak Yeri bersembunyi di balik tubuhnya.


"Tolong menjauh dariku." ucap Yeri, ia mencoba mendorong tubuh Arga menjauh darinya. Yeri sudah mengeluarkan semua tenaganya. Dan sama sekali tak membuat Arga berkutik dari atas pahanya.


Sementara Yeri mematung ke dua kalinya, tak terasa dia tiba-tiba mendesah begitu kerasnya.


Apa ini… Kenapa aku gak bisa bergerak. Dan kenapa aku terima setiap kecupannya. Tapi.. Sentuhannya membuat tubuhku terbius seketika. Seakan aku pasrah dengan nya.


"Yeri… Nikmatilah!" bisik Arga, mengecup dengan ganasnya, leher Yeri, perlahan turun ke bawah dagunya. Yeri yang semula menolaknya, dia kini hanya diam memejamkan matanya, menikmati setiap sentuhan bibir Arga. Hingga bibir itu mendarat di bibirnya. Mereka saling beradu penuh gairah.


Arga membaringkan tubuh Yeri. Tangannya mulai merayap menjelajahi setiap lekuk tubuh Yeri. Yeri mulai melingkarkan tangannya di leher Arga. Menikmati setiap sentuhan tangan Arga yang membuat tubuhnya menggeliat geli.


"Apa ini akhir dari perjanjian?" tanya Yeri memastikan.


"Kalau kamu hamil." bisik Arga.


Kali ini aku gak bisa menolaknya. Tubuhku seakan tertarik dengan gairah ini. Aku gak bisa munafik. Aku sangat menginginkannya saat ini. Meski aku merasa jijik miliknya saat aku menyentuhnya.


"Kamu mau gak?" tanya Arga basa basi.


"Kalau aku gak mau gimana?"


"Aku tetap memaksanya." ucap Arga. Tersenyum tipis. Ia mengecup dada Yeri. Membuat suara ******* keluar dari bibirnya.


"Kamu suka?" tanya Arga.


Yeri hanya diam, menganggukan kepalanya. Hanya hitungan detik helaian tipis perlahan mulai lepas dari tempatnya.


Mereka saling memandang tubuh mereka yang terlihat bersih tanpa tutup apapun. Yeri terlihat kikuk. Batu kali ini dia melihatnya. Dan begitu juga Arga. Meski sempat memegangnya, tapi itu tak sengaja.


"Kamu siap?" tanya Arga.


"Siap, apa?" tanya Yeri penasaran.


"Melakukan malam pertama kita." ucap Arga. "Sebenarnya aku di sebuah pantai tapi. Setidaknya sudah ingin melakukannya di sana." gumam Yeri. Menatap ke arah Arga.

__ADS_1


"Di pantai? Kapan? Aku ingin ke sana? Apalagi di rumah kecil di tengah laut. Seperti di luar negeri. Aku pernah melihatnya. Pemandangan lautnya bagus banget." ucap Yeri menceritakan semuanya. Ia beranjak duduk kembali, seketika menutupinya dua miliknya saat Arga memelotot melihatnya dengan jelas.


"Apa yang kamu lihat?" tanya Yeri, membalikkan tubuhnya dari pandangan kotor Yeri.


"Apa kamu…."


"Tuan…." Jun tiba-tiba membuka pintunya. Seketika dia kikuk saat melihat tuanya ingin bercinta. Dengan terpaksa ia harus memalingkan wajahnya. Dan Sontak Arga memutupi tubuh Yeri.


Dalam hati Arga ingin sekali mengumpat kasar padanya. Ini kesempatan baik bercinta dengan Yeri. Dan selalu saja ada orang yang mengganggunya. Gak di kantor. Gak di apartemen sama saja.


Jun menatap kikuk, ia merapatkan matanya. Meski tubuhnya sudah mencoba berbalik. Namun dalam hatinya dengannya penasaran.


"Maaf! Tuan, aku gak sengaja tadi.. Sepertinya aku harus ketuk pintu dulu." ucap Jun menutup pintunya kembali.


"Iya.. Lebih baik gak usah datang kalau masuk tidak ketuk pintu dulu." pekik Arga kesal.


"Maaf, tuan! Tadi ada gak yang ingin aku sampaikan. Dan ini sangat penting." gumam Jun. Berbicara dari balik pintu.


"Bentar! Aku akan keluar." ucap Arga. Ia menghela napasnya kesal. Di setiap ingin bermanja berdua. Selalu ada hal yang tak di inginkan menunggu hubungan mereka.


Arga mengambilkan kain Yeri. Melemparnya tepat mengenai wajahnya. "Pakailah! Aku akan pergi dulu sebentar." ucap Arga. Ia berjalan menuju ke lemari. Mengambil bajunya. Setelah memilih baju. Arga segera memakainya. Dan segera pergi meninggalkan Yeri.


"Mau kemana?"


"Bentar!" ucap Arga, wajahnya terlihat terlalu datar dan serius. Kali ini dia lebih memilih bersama dengan Jun.


"Apa nanti kamu kembali." tanya Yeri. Yeri yang sudah di buat geli dari tadi oleh Arga. Sekarang di tinggal begitu saja. Dia gak bertanggung jawab.


Arga berjalan keluar, tak menghiraukan Yeri lagi. Dan sedangkan wanita itu hanya diam. Bukanya segera memakai bajunya dia hanya terdiam duduk di sofa, memegang jaket menutupi tubuh Yeri.


Yeri terasa sangat gelisah. Tubuhnya terasa panas ingin mendapatkan sentuhan lagi darinya. Tapi Arga tak kunjung masuk ke dalam kamarnya. Seakan ada sesuatu penting yang di sampaikan Jun dan atau meninggalkannya di saat dia ingin merasakan lebih.


"Dia ninggalin aku begitu saja. Dan sekarang. Aku gak tahu harus ngapain. Di saat sampai puncaknya. Dia pergi. Dan Jun juga begitu. Kenapa juga dia nyelonong masuk gak pamitan sekarang aku menunggu sendiri." gumam Yeri.


Entah kenapa dirinya sekarang lebih nyaman berada dalam dekapan? dan sentuhan tangan Arya. Hatinya terasa tertarik dengan semuanya. Dan semula uang dia bilang mengelak, ternyata itu salah.


 


"Ada apa?" tanya Arga, berjalan menghampiri Jun.


"Tuan… Ada Feliona. Dia baru pulang dari Amerika. Dan sekarang dia minta Tuan jemput dia." ucap Jun menjelaskan.


"Kamu saja yang jemput dia."


"Tapi tuan. Apa anda yakin tidak ingin bertemu denganya."


"Enggak! Apa kamu mau cari masalah dengan oma?" tanya Arga.


"Enggak juga. Lagian dia itu terlalu baik. Dan kelak juga akan mendapatkan laki-lakinya baik juga." Arga melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Jun sendiri.


"Tuan… Dia sekarang ingin pergi ke rumah oma. Jika tuan gak mau menjemputnya." ucap Jun.


Apa sebenarnya yang di inginkan wanita gila itu? Menyebalkan? Apa dia mau cari gara-gara.


"Udahlah pakai kalau gitu kamu yang jemput." pekik Arga.


"Aku sedang melakukan malam pertama dan kamu ganggu aku " membentak David.


"Maaf, Tuan!"


"lupakan!"


Drrrttt… Drrrtt…


Suara getar ponsel membuat langkah Arga terhenti. Dia yang semula malas untuk mengangkatnya. seketika langsung di angkatnya dengan terpaksa.


"Jemput aku sekarang atau aku akan datang di tempat di mana kamu berada sekarang."


"Dasar menyebalkan." pekik Arga. Ia menutup sepihak telponnya. Dan berjalan mendekati Jun.


"Bawa ponselku." ucap Arga, berjalan pergi meninggalkan jun sendiri.

__ADS_1


"Tapi, tuan!"


"Dimlah!" Langkah Arga semakin menjauh.


__ADS_2