Menjadi Istri Bayaran

Menjadi Istri Bayaran
Lolipop


__ADS_3

Setelah pekerjaan menumpuk selesai. Dalam beberapa jam. Angel mengajak Yeri untuk pergi ke kantin kantor. Ya, tapi melihat Yeri masih sibuk dengan tugasnya ia harus mengurungkan niatnya sekarang.


Ke dua mata Yeri masih melotot melihat laptop di depannya.


"Ah… Aku capek." gumam Yeri menarik ke dua tangannya ke atas. Mencoba merenggangkan otot tubuhnya.


"Yeri…." rengek Angel.


"Ada apa?" tanya Yeri, menatap wajah Angel memelas.


"Ayo ke kantin." gumam Angel, menarik dua sudut bibirnya tipis.


"Pekerjaan ku masih banyak. Kamu tahu sendiri kalau singa itu marah. Dia bisa menerkam semuanya." gumam Yeri. Ya, singa yang di maksud adalah Arga. Dia menganggapnya sebagai singa jantan yang menyebalkan.


"Memangnya dia siapa?" tanya Angel.


"Boss, kamu itu." pekik Yeri.


"Kamu ke kantin saja dulu. Nanti aku nyusul." ucap Yeri, tersenyum, menepuk bahu Angel berkali-kali.


"Tapi.."


"Udahlah cepat, aku juga bisa makan nanti."


Angel menghela napasnya. "Baiklah! Aku makan dulu. Bye.." Angel bangkit dari duduknya dan segera pergi.


-----


Sementara Arga sudah mengamati Yeri dari jauh. Dia tak berhenti terus menatapnya. Memperhatikan setiap gerak gerik yang di lakukannya.


Yeri sibuk lagi dengan perkerjaan yang tak ada habisnya dari tadi, membuat otaknya sudah sangat lelah. Kepalanya Terasa penat, dan semakin lama semakin berat. Ingin rasanya dia meletakkan kepalanya di atas meja memejamkan matanya sejenak.


"Aku lelah!" rengek Yeri, menjatuhkan ke dua tangannya di bawah meja. Sembari meletakkan kepalanya di meja.


Arga perlahan berjalan menghampiri ruang kerja Yeri. Ia memelankan langkahnya. Agar wanita itu tak mendengar hentakan langkah kakinya.


"Hai…" sapa Arga, yang tiba-tiba sudah duduk di atas meja kerjanya.


"Ada apa?" tanya Yeri, mengangkat kepala dan tubuh lemas itu untuk duduk tegap. Ia membenarkan kaca mata yang di mejanya. Lalu menatap tajam ke arahnya.


"Kamu?" Ke dua mata Yeri terkejut saat Arga entah turun dari mana tiba-tiba bisa duduk di mejanya. Yeri menajamkan matanya, menunjuk ke arah wajah Arga.


"Aku datang ke sini baik-baik." ucap Arga.


"Mana ada seorang Arga. Boss besar datang padaku secara baik-baik. Dari pertama kali bertemu kamu selalu buat masalah padaku." ucap Yeri, ia kembali fokus dengan pekerjaannya. Seolah sengaja ingin mengacuhkan laki-laki sok tampan di depannya itu.


"Iya, seorang Arga. Boss tampan yang akan membuat kamu tergila-gila padaku."


Yeri terjingkat dari duduknya. Jantungnya seketika mau copot saat mendengar kata itu. "Apa yang kamu katakan? Memangnya di dunia ini gak ada laki-kaki yang jauh lebih tampan dari pada kamu."


"Banyak! Tapi gak ada yang bisa membuat kisah sama sepertiku." Arga mendekatkan wajahnya. Seketika Yeri menarik kursinya sedikit ke belakang.


"Kenapa kamu terus bekerja?" tanya Arga.


Yeri memincingkan matanya, menatap ke arah Arga. "Apa katamu? Kenapa aku bekerja?" gumam Yeri. "Bukanya kamu sengaja memberiku perkerjaan yang menumpuk."


Yeri menghela napasnya, dan. Braakkk…


Ia menggebrak meja sangat keras. Dan beranjak berdiri. "Ada apa?" tanya Arga, menarik salah satu alisnya. "Apa kamu mau marah?"


Yeri berdengus kesal, berkacak pinggang, dengan tatapan menantang pada Arga. "Iya.. Aku marah padamu."


Arga terkekeh kecil. Ia berdiri, memasukan ke dua tangannya di dalam sakunya.


"Kenapa kamu tertawa?" tanya Yeri.


"Lucu aja!"


"Memangnya apa yang lucu."


"Kamulah, memangnya siapa lagi?"

__ADS_1


Yeri menelan ludahnya. Ia menahan marah yang ingin meluap padanya. "Emm… Oke. Sekarang aku hanya bilang, pergi!" ucap Yeri dengan nada naik turun.


"Enggak!" Arga mengeluarkan tangan kanannya dari saku. Menatap map di depannya. berbagai berkas yang akan di kerjakan Yeri.


"Perkerjaan kamu kurang banyak, ya?"


Yeri menguntupkan bibirnya.


Dasar nyebelin! Dia yang sengaja memberiku perkerjaan yang banyak. Apa sengaja agar aku tak bisa makan?.


"Puas kamu sekarang, puas!" pekik Yeri menarik berkas itu, lalu melemparnya lagi di atas mejanya hingga menimbulkan bunyi keras.


Arga tak hentinya terus tersenyum. Melihat Yeri marah. Semakin membuat dirinya sangat gemas padanya. ingin sekali rasanya mencubit ke dua pipinya.


"Kenapa senyam-senyum?" tanya Yeri.


"Apa kamu baru pasang gigi baru? Atau memang kamu sengaja mau memamerkan gigi putih kamu itu?" decak kesal Yeri.


Arga melangkah satu langkah ke depan. Menepuk pundak Yeri. Dan berbisik pelan. "Apa kamu sedang datang bulan?"


Yeri mengejapkan matanya, ia menggertakkan rahangnya. "ENGGAK!"


"kalau enggak, jangan terlalu sering marah-marah. Nanti kamu cepat tua, dan pastinya gak ada laki-laki yang mau denganmu. Karena wajah kamu sudah keriput duluan di usia muda." bisik Arga, ia tersenyum, memasukan kembali


tangannya dalam saku. Lalu melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Yeri yang memegang pipinya.


"Eh.. tunggu!" panggil Yeri, menghentikan langkah Arga. Arga berpikir wanita itu akan memeluknya dari belakang. Tapi pikiran itu hanya sebatas angan. Dan baginya hal bodoh juga harus berpikiran seperti itu pada Yeri.


"Aku hanya ingin bilang, jangan tinggalkan bolpoin kamu sembarang. Kalau aku nanti bawa, kamu kira aku mencurinya." gumam Yeri menerbitkan bolpoin itu, memasukkan ke dalam saku jas hitam yang menutupi dada bidangnya.


"Dasar aneh! Wanita yang menarik," Arga menarik sudut bibirnya tipis. Sepertinya enak juga kalau menikmati permainan ini." gumam Arga. Tersenyum tipis dan kembali melangkahkan kakinya, badan tegap dengan kedua tangan masuk ke dalan saku. Ia berjalan dengan santainya melewati para karyawan yang ada di sana.


"Eh… Pak.. Eh.. maksud aku tuan Arga." ucap Yeri kembali menghampirinya.


Arga menghentikan langkahnya. Ia terdiam sejenak, mengerutkan keningnya. "Dia memanggilku, pak? Emangnya aku setua itu." gumam Arga.


"Aku ingin bicara sebentar denganmu sekarang." Yeri menarik tangan Arga.


"Sudah diam! Ikut aku dulu"


Arga menghentikan langkahnya. Ia giliran menarik tangan Yeri, membuat wanita itu memutar tubuhnya mendarat tepat di dalam tubuh Arga. ke dua tangannya menyentuh dada Arga. Yeri menelan ludahnya, merasakan dada Arga begitu kekar. Kepalanya seakan terbang dalam angan memalukan dengan Arg.


"Astaga.. Ini apa? Tubuhnya ternyata sangat seksi jika. Tapi kenapa aku dulu tak melihatnya. Atau aku takut melihatnya." gumam Yeri dalam hatinya. "Eh.. Bentar! Kenapa juga aku memikirkan tentang itu. Lebih baik lupakan pikiran kotor ini."


"Apa yang kamu lakukan?" Arga mengerutkan keningnya, dengan beraninya Yeri menyentuh dadanya. Dan dia bahkan tidak mendengarkan ucapannya.


"Yeri…."


"Eh.. Iya, ada apa?" Yeri membangunkan dirinya dari lamunannya. Ia mengangkat kepalanya, menatap Arga yang jauh lebih tinggi darinya. Ke dua matanya berkedip tak hentinya. Pandangan matanya terus menatap wajah tampan yang begitu menggemaskan dari bawah.


Arga menyentuh pinggang Yeri. Menariknya masuk dalam dekapannya. "Arga.. Apa yang kamu lakukan.. ini di kantor." geram Yeri lirih. Ke dua matanya memutar melihat para pegawai lainya menatap ke arahnya.


"Arga… Tolong lepaskan tangan kamu!" Yeri mencoba menggerakkan tubuhnya.


Arga tertunduk sedikit dan berbisik pelan tepat di telinga kirinya. "Jangan terlalu banyak bergerak. Apa kamu sengaja membuat lolipop milikku menegang?"


Yeri terdiam, ia mengejapkan matanya kikuk? Mencoba mencerna apa yang di katakan Arga.


"Bentar! Lolipop itu apa? Permen? Memangnya kamu punya permen? Di mana? Kenapa kamu gak bagi ke aku, dari pada aku kerja gak ada makanan." gumam Yeri, tersenyum manis di depan Arga.


Arga menatap wajah Yeri di bawah membalas senyumannya.


Dia terlalu polos atau terlalu bodoh? Dasar menyebalkan.


"Kalau kamu mau, nanti aku kasih di rumah." ucap Arga, melepaskan pinggang Vina dari dekapannya.


"Tapi…"


"Tapi apa? Mau sekarang?" goda Arga.


"Emm.. Baiklah di rumah saja, tapi lolipopnya itu.."

__ADS_1


Arga menutup mulut Yeri. Suara kerasnya membuat para pegawai lainnya menatap ke arahnya bingung.


"Bisa pelankan suara kamu?" bisik Arga.


Yeri mengerutkan keningnya bingung. "Emm. memangnya, kenapa?" tanya Yeri, menarik tangan Arga yang menutup mulutnya.


"Oh, ya! Bukannya itu hanya permen. Lagian apa salahnya." ucap Yeri begitu polos. Semua pegawai menatap ke arahnya sembari tertawa kecil. Yeri menatap bingung, kenapa semua menertawakannya.


Benar-benar gadis bodoh! Tapi asyik juga kalau aku bisa ngerjain dia. Arga tersenyum tipis, menatap ke bawah.


"Udah, sekarang lebih baik kamu pergi saja."


"Bentar, aku belum dapat jawaban dari kamu." gumam Yeri, mengedip-ngedipkan matanya menggoda.


"Nanti di rumah aku akan kasih tahu kamu."


"Kenapa harus nunggu di rumah?" tanya Yeri yang masih penasaran.


"Dasar cerewet!" pekik Arga, mencubit pipinya gemas.


"Sakit!" rengek Yeri menguntupkan bibirnya.


"Udah, sekarang kamu mau bawa aku kemana? Bukannya tadi kamu menyeret aku, sampai di sini?" gumam Arga.


"Oh, ya! Aku lupa." Yeri menarik tangan Arga kembali.


"Sebenarnya apa yang kamu ingin katakan. Jangan menarikku." gumam Arga kesal.


"Aku hanya ingin kasih tahu, kalau oma belum pulang. Lihatlah, dia berbicara dengan Lucas. Dan sepertinya ada yang akan di rencanakan oma pada kita." ucap Yeri.


Arga menatap ke arah oma, dan Lucas yang sedang berbicara serius. "Kenapa otak kamu jadi encer sekarang?" tanya Arga.


"Memangnya biasanya aku bodoh?"


"Memang bodoh!" ejek Arga, mendorong dahi Yeri dengan telunjuk tangan nya.


"Siapa yang bodoh, aku gak bodoh!" decak kesal Yeri memegang dahinya.


"Udah, lebih baik sekarang pergi sana." gumam Arga.


"Pergi kemana?" tanya Yeri bingung.


"Kamu dan aku tunjukan keromantisan kita. Aku gak mau kalau oma masih curiga kita bohongan. Bersifatlah semanis mungkin denganku di hadapan oma."


"Harusnya kamu juga begitu. Lagian kamu yang cari gara-gara duluan padaku." ucap Arga. "Dan soal lolipop tadi. Masih berlaku kan."


Arga menelan ludahnya. Ia menarik napasnya dalam-dalam, lalu mengeluarkan perlahan. "Gimana bisa dia gak tahu apa yang aku maksud," gumam Arga.


"Apa yang kamu katakan?" tanya Yeri.


"Emm.. Kamu cantik!"


"Benarkah?" wajah Yeri merona seketika. Wajahnya terlihat memerah mendapatkan sebuah pujian dari Arga. Yeri memegang ke dua pipinya.


"Memangnya aku cantik?" tanya Yeri memastikan.


Arga mengerutkan keningnya, menatap Yeri bingung. Ia menghela napasnya, mencoba untuk sabar menghadapi orang bodoh di depannya ini.


"Jangan banyak bicara." Arga memegang tangan Yeri, menggenggamnya erat. Dan berjalan melewati oma yang sekarang duduk di kantin perusahaan.


"Eh.. tunggu!" gumam Yeri, saat oma menatap ke arah mereka. Yeri dengan sigap memeluk tangan Arga. Menyandarkan kepalanya di bahunya.


"Eh.. Oma, ternyata masih di sini?" tanya Yeri.


"Iya.. kalian mau makan?" tanya Oma, wajahnya terlibat senang melihat Yeri begitu akrab dengan Arga.


"Iya… Dia ngajak makan tadi." gumam Arga sedikit jutek. Dia terlihat tak begitu suka dengan hal seperti ini. Tapi sekali terjebak tak bisa keluar lagi. Dia harus mengikuti permainan ini sampai selesai nantinya.


"Oma sudah makan?" tanya Yeri basa basi.


"Aku sudah makan, sudah. Kalian makan berdua sana." gumam Oma, mendorong tubuh Yeri agar segera berdiri dan makan bersama dengan Arga.

__ADS_1


__ADS_2