
"Yeri… Kenapa dari tadi kamu masih saja cemberut. Ada masalah?" tanya Angel, menggeser duduknya tepat di samping tempat kerja Yeri.
Yeri menghela nafasnya. Ia menghentakkan kakinya, merengek kesal, lalu meletakkan kepalanya di atas meja.
"Sebel, tau, gak." decak Yeri. "Ahh… pokoknya, aku sebel… Sebel.. Sebel…"
"Sebel kenapa lagi? Memangnya kamu ada masalah dengan suami kamu? Atau sebel dengan yang lainya." tanya Angel penasaran. Ia semakin mendekatkan kursinya.
"Ah…. Tau, lah!" decak kesal Yeri. Bibirnya mengkerut beberapa detik, ia menyandarkan dagunya di atas meja.
"Menurut kamu kenapa ya, hati selalu sakit saat melihat ada wanita lain datang menemui pacar kamu?" tanya Yeri, menatap ke arah Angel. Mengedip-ngedipkan matanya. Ia mengeluarkan jurus wanita imutnya. Dengan pipi sedikit cabi miliknya.
Angel tersenyum tipis.
"Emm… Bentar! Bentar! Apa ini tandanya…." Angel yang tau apa maksud dari perkataan Yeri. Ia mencoba menggodanya. Tetapi dengan cepat Yeri menutup mulutnya. Sebelum wanita itu berbicara keras dan membuat para pegawai lainya tahu.
Yeri melotot tajam. "Jangan keras-keras kalau bicara." geram Yeri.
"Hehe… Maaf! Lagian aku penasaran. Siapa dulu yang maksud ini?" tanya Angel, mencolek dagu Yeri. Mencoba menggoda wanita di depannya itu yang masih cemberut dari tadi.
"Bukan urusan kamu! Aku hanya tanya, kalau gak mau jawab, ya, sudah. Aku juga gak maksa." decak kesal Yeri. mencoba beranjak berdiri. Dan Angel menarik tangannya duduk kembali.
"Duduk, dulu, baby. Jangan ngambek dulu. Lagian aku tanya tadi belum di balas juga." ucap Angel, wajahnya mengekspresikan kekesalannya.
"Mau? Gak?" tanya Yeri lagi mencoba memastikan. Ia lebih meninggikan nada suaranya.
"Itu bukan buat aku. Buat temanku." gumam Yeri. Ia tahu teman barunya itu super duper selalu ingin tahu urusan orang lain. Padahal belum tertentu urusannya juga bisa gampang di atur. Ah.. entahlah, tapi dia baginya adalah teman yang asyik. Baru pertama kenal sudah akrab.
"Kenapa jadi diam?" tanya Angel.
"Udah cerita sekarang, atau aku pergi." ancam Yeri.
"Iya… Iya… Aku kasih tahu, saran saja buat kamu." ucap Angel, menepuk bahu Yeri.
"Sebenarnya kalau perasaan kamu sakit saat melihat pacar kamu dengan wanita lain. Itu tandannya cinta. Lagian gimana bisa pacaran
tanpa adanya cinta." gumam Angel. "Dan kamu tanya aneh-aneh saja. Sekarang ada apa, wanita pacaran tanpa adanya cinta?" tanya Angel balik.
Jika dia tahu, aku menikah hanya sebatas bayaran. Apa dia akan terkejut? Aku menikah juga karena cinta. Tapi karena uang.
"Hehe… Sepertinya gak ada!" gumam Yeri tersenyum tipis.
__ADS_1
"Nah, kalau udah tahu gak ada. Kenapa kamu tanya gitu.. atau kamu.."
"Udah… Aku itu hanya tanya tadi. Tapi satu lagi, aku ingin sekali tahu tentang perasaan temanku. Jadi… Aku.. Eh.. Iya.. Kalau aku…" Yeri seketika gugup, ia menundukkan kepalanya. bahkan ingatannya seakan tiba-tiba hilang begitu saja. Dia tak tahu harus bicara apa lagi di depan temannya.
"Aku.. apa? Kamu lagi ada masalah? Tentang cinta atau masalah dengan teman kamu?"
"Gak, ada, sih." Yeri masih tertunduk. Dia lupa apa yang harus dikatakannya tadi. Mungkin nanti kalau sudah lama baru ingat lagi apa yang di katakan tadi.
"Udah, deh. Ayo pergi ke tempat makanan terdekat." Angel menarik tangan Yeri berdiri. Merasa Yeri itu selalu malas untuk berdiri jika tak ada hal lain.
Yeri memikirkan apa yang di katakan seseorang tadi. Jika tadinya dia sangat percaya. Tapi kini dia ragu apa perasaan itu nyata?
Sampai di kantin. Yeri hanya duduk diam. Dari tadi dia hanya melamun memikirkan perasaannya. Tak henti dia memegang dadanya. Mencengkeram bajunya sangat erat.
"Tapi sekarang hatiku masih sakit? Ah…Mungkin ini hanya kelainan hati. Tapi biasanya gak, ya?" gumam Yeri.
"Yeri…. Aku ambil makanan dulu. Kamu mau minum apa?" tanya Angel menepuk pundak Yeri.
"Terserah" jawab Yeri datar tanpa menatap sedikitpun ke arahnya.
"Baiklah!" Angel berdengus kesal. Dia segera pergi mengambil makanan. Tak hentinya dia menatap ke belakang melihat gerak gerik Yeri.
"Arrgggg… Kepalaku… kenapa jadi pusing." gumam Yeri mengacak acak rambutnya frustasi.
Hanya deraian air mata yang pasti akan menemani aku nantinya." ucap Yeri seperti seseorang yang menyanyikan lagu sedih dengan sangat menghayati.
Yeri memegang dadanya.
Apa benar aku suka dengannya? Aku cinta padanya? Tapi…. Apa itu yakin? Tapi kenapa kau jadi harus sendiri. Kalau memang cinta dia pasti bilang. Gak mungkin juga dia mengacuhkanku.
Angel yang sedang mengambil makanan. Ia kembali dengan tatapan tajamnya. Sembari menggelengkan kepalanya. Gimana bisa temannya itu selalu melamun dari tempat kerja sampai di kantin masih tetap sama.
Apalagi dia terus mengoceh sendiri seperti orang gila baru. Hanya karena cinta saja perbuatannya juga jadi gila.
"Yeri… Apa kamu sudah gila?" tanya Angel ceplas ceplos.
"Siapa yang gila?"
"Kamu."
Yeri mengerutkan keningnya. "Kamu yakin? Gak bohong, kan?" tanya Yeri.
__ADS_1
Angel menggelar napasnya. Menelan ludahnya berkali-kali.
Ini anak kenapa, ya? Apa dia sudah gila beneran. Dan dia juga terlihat linglung. Wajahnya terlihat sangat aneh, bahkan bicara saja gak jelas.
"Aahhh…. Angel.." rengek Yeri seperti anak kecil. Menghentikan ke dua kaki dan ke dua tangannya tak henti bergerak. Sembari duduk dengan kepala di atas meja.
"Apalagi, Yeri," tanya Angel sedikit kesal.
"Kamu kenal gak? Siapa wanita yang datang tadi?" tanya Yeri menatap ke arah Angel.
Angel terdiam sesaat. Dia mencoba mengingat kembali siapa.yang datang tadi. "Bentar…. Kau ingat-ingat dulu. Siapa. Memangnya ada apa?" tanya Angel. Perlahan dia mulai ingat, jika tadi ada wanita cantik seorang artis terkenal datang ke kantor. Dia pikir dia mencari sesuatu di kantor itu.
"Oo... Mungkin maksud kamu tadi, wanita cantik itu. Pakai gaun merah?" tanya Angel. Dna langsung di jawab Yeri dengan anggukan kepalanya.
"Dia itu adalah artis sekaligus model internasional. Dia wanita cantik banget. Dan sekaligus aku adalah fans dia. Gak hanya cantik, dia juga baik banget. Selama ini dia selalu memberi orang yang membutuhkan. Dia juga gak sombong. Setiap Bertemu dengan Fans dia selalu mau di ajak foto."
Apa dia segitu baiknya?" tanya Yeri memastikan
"Iya.. dia itu perfect woman." ucap Angel menunjukkan ajah kagumnya.
"Apalah dayaku… Yang not perfect. Aku sangat buruk? Buruk dalam segala hal. Cinta, nasib dan pekerjaan. Aaaa…. menyebalkan menyebalkan.."
Angel mengerutkan keningnya bingung. Apa yang terjadi dengan temannya itu. Dia hari ini napak sangat aneh.
Angel memegang kening Yeri. Mencoba memastikan jika dia baik-baik saja. "Yeri… Kalau kamu sakit sekarang aku akan antar kamu pulang."
"Apa pulang?" tanya Yeri. "Enggak! Enggak!"
Kalau aku pulang dia pasti bertemu dengan dia diam-diam. Lalu kalau dia pergi ninggalin aku.. Gak… gak bisa.. gak bisa...
"Yeri…." panggil Angel mengeraskan suaranya. Membuat semua orang di sana menatap ke arah Angel aneh. Membuat Angel kikuk seketika. Ia menggaruk kepalanya yang tak gatal itu. "Hehe… Maaf.. Maaf." ucap Angel pada semua yang menatapnya.
Yeri tersenyum tipis, seakan ingin menertawakannya. Tapi takut Angel marah. "Angel… Kamu gak apa-apa?" tanya Yeri meriah makanannya.
Angel menatap tajam, memainkan bibirnya kesal. "Apa katanya? Gak apa-apa, aku malu Yeri.. Sayang.." geram Angel.
"Udah, sekarang lebih baik kita makan dulu." ucap Yeri yang mulai dengan lahapnya memakan habis makanan di piringnya. Seakan melupakan emosi dalam hatinya. Setelah selesai, Yeri segera menyeduh minumannya sampai habis tak tersisa.
Dan sedangkan Angel. Dia menatap Yeri dengan bibir sedikit menganga tak percaya.
Lalu menggelengkan kepalanya. Dan mulai makan lagi tak perdulikan Yeri.
__ADS_1