Menjadi Istri Bayaran

Menjadi Istri Bayaran
Menggodanya


__ADS_3

Sampai di rumah. Yeri berjalan langsung masuk ke dalam kamarnya. Masih didepan pintu baru mau melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamarnya, lalu menutupnya rapat. Tapi semua itu tak terjadi, sebuah tangan menarik kerah belakangnya, mencegah dia masuk.


"Eh… Kamu mau kemana?" tanya Arga. Tangannya seakan, Seperti memegang seekor kucing yang terlihat imut.


"Mau tidurlah" gumam Yeri.


"Siapa yang menyuruhku tidur?"


Yeri berdenyut kesal, menarik bajunya dengan tangannya. Dan alhasil bukannya bisa lepas dari cengkeraman Arga. Kancing bajunya lupa, membuat kerah bajunya terbuka.


Arga yang sadar, tak sengaja menatapnya. Laki-laki itu memalingkan wajahnya gugup.


"Apa yang kamu inginkan?" pekik Yeri.


"Buatkan aku minuman dulu, baru kamu tidur." pinta Arga.


Yeri menghela napasnya. "Baiklah, minuman air putih atau apa?"


"Terserah kamu."


"Emm… Oke! Oke!" gumam Yeri, berjalan menyeret kakinya. Menuju ke arah dapur. Dia membuatkan minuman lemon. Yeri teringat dengan ucapan omanya. Dia segera mengambil obat di dalam tas miliknya.


Yeri yang begitu polos mengiyakan saja apa yang dikatakan omanya. Meski sebenarnya dia tidak tahu itu obat apa.


"Ini obat Arga... Lagian kalau dia nanti sakit… Aku juga yang repot. Semoga saja dia sembuh setelah aku kasih obat ini." ucap Yeri, ia membuka obatnya. Seketika terdiam sejenak. Pikirannya melayang saat otaknya selalu bertanya, itu obat apa? Dan Arga sakit apa? Tadi dia tidak terlihat kalau sedang sakit. Dan wajahnya masih sehat-sehat saja. Masih tetap tampan. Gak pucat seperti orang sakit pada umumnya.


Ah… Lupakan saja.. Itu gak terlalu penting Yeri. Mungkin dia gak mau tahu jika dirinya sakit. Dan selalu berusaha untuk tetap sehat di depan semua orang.


"Tapi… Apa ini gak ada efek sampingnya? Atau nanti, Arga malah kenapa-napa lagi. Apalagi ini obat sepertinya bukan dari dokter." gumam Yeri mengamati obat itu.


Tapi ini perintah omanya, baiklah, gak mungkin juga oma akan menyelakakan cucunya sendiri." Yeri tersenyum tipis, memasukan obat itu ke dalam minuman Arga. Lalu mengaduknya hingga larut. Ia yang penasaran dengan rasanya, mencobanya dua sendok, ia lupa jika di situ ada obat yang baru saja dia kasih. Setelah selesai, Yeri meletakkannya di atas meja dapur. Ia melirik sekilas ke arah Arga yang sibuk menyiapkan makanan. Dan sembari memasukkan beberapa bahan makanan ke dalam kulkas.


"Aku pergi dulu." ucap Yeri. Arga mencoba meraih tangannya, tetapi ia hanya mengenai bajunya. Hingga tertarik. Kancing wanita itu semakin terbuka 3 dari atas. Terlihat jelas buah miliknya.


Apa yang aku lihat, jangan sampai aku tergoda oleh wanita ini.


"Lihatlah?" ucap Arga menunjuk ke arah dadanya. Ke dua mata Yeri turun ke bawah. Ia melihat dadanya terbuka sontak menutupi tubuhnya.


"Otak mesum!" pekik Yeri.


"Apa kamu tadi sudah melihatnya?" tanya Yeri.


"Enggak, siapa juga yang melihat. Lagian dada tepos gitu apa yang harus di lihat?" gumam Arga mengelak. Dia beranjak berdiri, melangkahkan kakinya berjalan mengambil lemon buatan Yeri. Ia mulai meminumnya sampai tetes terakhir.


"Eehhh… Kamu.. Ingat Aku gak akan tinggal diam. Tidak akan!" tegas Yeri. Menguntupkan bibirnya? dengan ke dua alisnya tertaut. "Kalau emang tepos, kenapa kamu gugup saat melihatnya. Bahkan mengalihkan pandangan. Dasar laki-laki," gumam kepala Yeri.


"Apa kamu mau aku lihat semuanya. Kalau gitu bukan semuanya di depanku " gumam Arga, menarik sudut bibirnya tipis. Yeri mengeram kesal, menghentakkan kakinya kesal lalu masuk ke dalam kamarnya.


Braaakkk…


Ia membanting pintu keras. Sontak membuat laki-laki itu semakin menajamkan matanya, sebenarnya dia terkejut. Tapi dia ingin selalu menampakkan wajah cool miliknya. "Dasar wanita aneh!" pekik Arga, melangkahkan kakinya pergi. Ia segera masak, oseng daging. Lagian juga masak untuk dirinya sendiri. Kalau dia gak turun ya gak masalah.


"Argaa...." teriak Yeri memanggil suaminya itu.


"Ada apa?" jawab Arga meninggikan suaranya


"Jangan masuk kamar dulu. Aku mau mandi."


Arga yang sibuk masak tak mendengar apa yang di katakan Yeri. Hampir setengah jam masak semua sudah selesai. Arga dengan segera meletakkan di atas meja makan.


"Akhirnya selesai juga, sekarang waktunya aku mandi dulu." gumam Arga, menepuk-nepuk tangannya. Menghela napasnya lega. Dia segera melepaskan celemeknya meletakkan di atas meja, lalu berjalan masuk ke dalam kamarnya. Ia terdiam sejenak, tubuhnya tiba-tiba terasa sangat panas.


"Sialan! Apa yang terjadi padaku?" gumam Arga. Dia segera menarik bajunya. Hingga terlihat dada bidangnya yang begitu menggoda.

__ADS_1


"Di mana Yeri?" ke dua matanya mengkerut saat Yeri tak ada di sana.


"Yeri… Kamu di mana?" panggil Arga. Tubuhnya semakin panas. Dia mencoba mengontrolnya. Tapi perlahan dia tubuhnya sangat gerah, dan segera ingin berendam dalam bathup.


"Terserah deh, sekarang lebih baik mandi terus makan." gumam Arga, membuka pakaian kain miliknya. dan berjalan hanya mengenakan handuk putih menutupi pinggang hingga lututnya. Dia berjalan dengan langkah ringan, menuju pintu kamar mandi. Tanpa ragu, Arga memutar knop pintu, membukanya perlahan.


Karena pintu tak terkunci dipikir Yeri tidak ada di sana. Arga segera masuk mengunci. pintu kamar mandi. Dan spontan masuk ke dalam bathup yang sudah berisikan air. Yeri yang merendam tubuhnya di dalam air. Sontak terkejut, merasakan ada seorang duduk di atas kakinya.


"Aaarrrgggg…." Teriak keras Yeri, mencoba untuk duduk kembali.


"Aaaa…. Apa.yang kamu lakukan disini?" pekik Arga, memalingkan tubuhnya.


Yeri terdiam, ke dua kakinya merasakan ada yang aneh bergerak di kakinya.


Apa ini? Apa yang bergerak di atas kakiku. Apa itu?


Yeri yang penasaran ingin membuang apa yang bergerak di kakinya. Tangannya gemetar, saat perlahan mencoba mencarinya. Dan Arga hanya diam mengerutkan keningnya. Tak sengaja tangannya menyentuh sesuatu yang membuat Arga sontak menegang. Perlahan obat itu mulai membuat tubuh Arga semakin bergairah.


Aarrrrgg… Dia benar! Benar siapan. Sepertinya Yeri memasukan obat di minumanku. Awas saja kamu. Arga mencoba mengontrol nafsunya yang semakin membuat dia merasa kesakitan sendiri.


Tubuhnya kaku, dan begitu juga Yeri. Ia menelan ludahnya bersamaan.


"Aaaaaa….. Apa ini?" teriak Yeri melepaskannya kembali. Ia membalikkan badannya. Lalu membersihkan tangannya.


"Pergi dari sini otak, kotor, otak mesum?" pekik Yeri.


"Kamu yang mesum, bukannya tadi kamu yang memulai duluan?" pekik Arga tak mau kalah. Yeri menarik kakaknya, ia membalikkan badannya membelakangi Arga.


"Cepat pergi." Yeri meninggikan suaranya.


Arga bukanya pergi, ia menggeser tubuhnya semakin depan. Memeluk tubuh Yeri, sembari menyentuh dua buah miliknya.


"Apa yang kamu lakukan?" umpat Yeri, menarik tangan Arga menjauh. Dan tetap saja. Arga yang tak bisa menahannya saat melihat sesuatu yang membuat dia tertarik. Arga memainkan sesukanya Seketika tubuh Yeri menggeliat, meski dia sempat mengelaknya.


Mendengar ******* keluar dari bibir tipis Yeri. Arga membalikkan tubuh Yeri.


Kenapa dengan tubuhku.. Kenapa aku hanya bisa diam, di saat laki-laki itu menyentuhku. Tubuhku terasa sangat menikmatinya. Tapi ini gak boleh terjadi. Aku gak boleh. Arga tetap, memegang dagunya. Ke dua mata mereka saling tertuju kesekian detik, hanya hitungan detik, Sebuah kecupan mendarat di bibir mungil Yeri. Tangan Arga bergerak begitu liarnya menjelajahi tubuhnya. Sebuah teriakan, *******, terdengar bersamaan saat jari Arga bermain di daerah miliknya.


"Emmm…. Arga…" Yeri memeluk erat tubuh Arga. Entah setan apa yang merasuki dirinya, membuat dia merasa sangat tenang saat jemari tangan Arga menyentuhnya.


Kenapa dengan tubuhku? Kenapa? Apa dia sudah berhasil membiusku.


"Apa kamu mau lebih?"


"Apa ini? Aku gak bisa seperti ini. Aku gak mau, gak mau."


Arga terdiam, ia bingung apa yang terjadi dengannya. Dirinya mencoba mengelak yang terjadi pada efek obat itu.


Arga mendorong tubuh Yeri menjauh darinya.


"Cepatlah keluar!" pinta Arga.


Yeri yang semula menikmatinya. Ia terkejut, dengan perlakuan Arga. Tapi ia juga tak mau jika melakukan hubungan lebih. Yeri mengambil handuk. Dan membalutnya di dada sampai ke atas pahanya.


Yeri berjalan keluar dari dalam bathup. Dan Arga masih sendiri. Seketika dia menyandarkan kepalanya.


"Wanita sialan? Kenapa dia membuat aku seperi ini? Apa dia sudah berani menggodaku? Atau dia memang sengaja ingin punya anak dariku. Agar dia nanti bisa bebas mendapatkan harta dariku. Awas saja!" gumam Arga. Merendamkan semua tubuhnya di dalam bathup, termasuk memasukan kepalanya di dalam air. Selesai berendam. Tubuhnya yang sudah mulai normal lagi. Arga beranjak dari bathup, mengambil handuk di atasnya menutupi pinggang sampai lututnya. Lalu berjalan menuju ke shower. Dan mulai membasahi tubuhnya lagi dari atas kepalanya.


Ke dua tangannya menempel di tembok menyangga tubuhnya. Sembari menunduk, penuh penyesalan. "Kalau aku sampai suka dengannya. Tak habis pikir. Aku sama saja menelan ludah yang sudah aku buang.


 


Yeri yang sudah pakai baju. Ia masih duduk merenung di atas ranjangnya. Ia masih memikirkan apa yang terjadi tadi di dalam bathup.

__ADS_1


"Arrrggg… dasar mesum! Otak mesum!" umpat Yeri, mengacak-acak rambutnya yang masih basah.


Kenapa tadi aku menikmatinya. Seakan aku sudah perlahan melakukan sebelumnya. Benar-Benar kejadian yang sangat menjijikkan. Yeri mengusap wajahnya berkali-kali. Ia tak bisa bayangkan lagi. Pikiran itu selalu muncul dalam otaknya. Membuat dirinya berimajinasi lebih jauh lagi.


"Ih.. bentar, kenapa aku pakai tangan ini. Tangan ini tadi….Aah… tangan mesum ini lama-lama buat aku gila. Kenapa pikiran itu selalu membayangiku." Yeri membayangkan lagi, saat dirinya tak sengaja menyentuh milik Arga. Benda kenyal itu seakan masih melekat di tangannya. Sontak dia berteriak sangat keras, mengusap tangannya dengan selimut putih di sampingnya.


"Enggak.. Enggak! Aku gak boleh mengingat itu lagi.. Gak boleh Yeri…" Yeri menggelengkan kepalanya. Lalu memegang kepalanya, sembari tertunduk.


"Ihh… Itu benar-benar perbuatan yang sangat menjijikkan, aku gak bisa bayangkan kenapa aku tadi begitu bodoh. Lagian tadi kenapa aku rasakan segala. Kan jadi otakku yang mesum. Dasar bodoh kamu, Yeri!" pekik Yeri pada dirinya sendiri. Mengibaskan tangan kanannya berkali-kali dengan ekspresi wajah sangat jijik.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Arga, berjalan keluar dari kamar mandi. Seketika Yeri langsung membelakangi Arga, menutup rapat ke dua matanya.


"Jangan datang ke sini. Aku gak mau melihat kamu." ucap Yeri. Mengernyitkan wajahnya.


"Ambilkan bajuku? Kalau enggak aku akan datang ke samping kamu. Dan…"


Pikiran kotor Yeri membayangkan jika Arga akan berbuat lebih padanya. Dalam satu tarikan napasnya dia mulai menuruti apa kata Arga.


"Iya… iya aku ambilkan." potong Yeri cepat. Dia segera bangkit dari duduknya, dan mengambil baju lengkap untuknya. Melemparnya ke belakang ke sembarang arah. Ke dua matanya Yeri masih tertutup rapat, kali ini dia gak mau mengulang ke dua kalinya tentang kejadian di dalam bathup tadi.


"Tetap diam di situ, jangan pergi kemana-mana. Aku mau pakai baju dulu. Kalau udah selesai nanti aku akan bilang kamu. Dan nanti, ingat kamu harus ikut aku. Jangan membantahnya. Karena semua terjadi gara-gara kamu." pekik Arga, panjang lebar menjelaskan semuanya.


Terjadi gara-gara aku? Apa gara-gara tangan nakalku tadi yang terlalu bodoh. Atau otakku yang gak paham tadi apa?


Yeri hanya diam, tubuhnya benar-benar sangat gugup. Ia hanya diam seperti patung di posisi yang sama dan tempat yang sama. Tanpa bergerak menjauh.


Sedangkan Arga mengamati setiap gerak-gerik Yeri. Sembari memakai bajunya. Arga memakai bajunya secepat kilat, dia berjalan meraih tangan Yeri. keluar dengan langkah cepat. "Lepaskan aku! Apa yang akan kamu lakukan, bodoh!" pekik Yeri.


"Siapa yang bodoh?" tanya Arga, dia membawa Yeri pergi ke dapur. Melepaskan tangannya kasar.


"Jangan macam-macam lagi padaku." tegas Yeri.


"Enggak, siapa juga yang mau dengan kamu. Sekarang buka matamu." pekik Arga.


"Gak mau!" tegas Yeri.


"Buka gak?"


"Aku bilang enggak, ya, enggak! Jangan terlalu memaksa ku. Atau aku akan teriak."


"Silahkan teriak sekarang. Karena ruangan ini kedap suara." bisik Arga. Ia mencengkeram pergelangan tangan Yeri.


"Sekarang buka lebar matamu, aku mau tanya sesuatu padamu sekarang. Kalau dalam hitungan 5 kamu belum buka mata. Aku lepas semua baju kamu paksa." ancam Arga, membuat tubuh Yeri mengkerut seketika. Ia menelan ludahnya susah payah. Membuat tenggorokan yang semula kering jadi lega.


Dia selalu mengancamku dengan hal itu. Yeri menarik napasnya dalam-dalam.


"Satu…… Dua…… Tiga…….."


"Iya. Iya, aku buka mata sekarang. Dan ingat jangan macam-macam padaku." ucap Yeri.


Arga mendekatkan wajahnya, tepat di saat ke dua mata Yeri terbuka lebar. Sontak wanita itu menarik kepalanya sedikit ke belakang.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Yeri.


"Harusnya aku yang tanya padamu. Apa yang kamu lakukan tadi?" tanya Arga balik, menarik ke dua alisnya ke atas bersamaan.


"Memangnya apa yang aku lakukan?" tanya Yeri bingung,


Arga berdiri tegas, menarik tangan yeri sedikit masuk ke dapur. "Apa tadi yang kamu masukan ke dalam minumanku " bentak Arga, membuat wanita itu mengkerut seketika. Baru kali ini dalam hidupnya mendengar suara bentakan dari laki-laki.


Arga yang melihat Yeri ketakutan. Dia memegang lengan Yeri. "Maaf! Maaf, aku tadi gak sengaja bentak kamu." gumam Arga.


Yeri menepis tangan Arga. "Maaf! Kamu tahu, aku gak pernah sama sekali mendengar ayah aku bentak aku, tau bahkan laki-laki yang selalu ada denganku." wajah yang semula takut kini terlihat lebih garang dari biasanya.

__ADS_1


__ADS_2