Menjadi Istri Bayaran

Menjadi Istri Bayaran
Bertemu Mantan kekasih


__ADS_3

"Hai.." sapa seorang laki-laki yang ada di depannya.


Yeri yang sedari tadi duduk sendiri. Sembari mengaduk kopi di gelas miliknya. Bahkan dia belum meminumnya sama sekali. Yeri terus melamun tanpa sadar dia di amati dari kejauhan oleh sosok laki-laki tampan yang saat ini mendekatinya.


"Iya," jawab jutek Yeri. Tanpa melirik sama sekali dia siapa. Yeri menghela napasnya. Menundukkan kepalanya frustasi. Dia memejamkan kedua matanya. Hatinya terasa sangat bimbang. Dia tidak tahu harus melakukan apa lagi. Dia tidak bisa menikah dengan orang yang sangat tidak dia cintai. Dan, sekarang. Laki-laki yang di idamkan datang kembali. Tapi, dia tahu dulu snagat menyakiti Deon.


"Aku boleh duduk, disini?" tanya laki-laki itu. Dia beranjak duduk di samping Yeri. Merasa tidak nyaman berdua dengan Deon. Yeri beranjak berdiri. Dia segera pergi berjalan pelan menuju ke kantor Arga.


"Maaf, aku harus kembali!" kata Yeri. meraih tas hitam miliknya di atas meja.


Deon menarik lengan Yeri agar dia duduk kembali


"Duduklah, sayang!" ucap Deon.


"Kenapa kamu datang kesini. Bukanya kamu di ruangan kerjamu. Dan, sudah aku bilang. Aku sudah terlanjur tanda tangan kontrak," ucap Yeri. Dia masih belum sadar siapa yang ada di depannya. Laki-laki itu tersenyum tipis. Dia mengamati setiap gerak gerik Yeri.


Dia melipat kedua tangannya di atas meja. Dan, sedikit mendorong tubuhnya lebih dekat pada wajah Yeri.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Yeri. Dia belum juga sadar dengan apa yang dirinya katakan tadi. Pikirannya hang kacau membaut dirinya keceplosan.


"Kontrak apa?" tanya laki-laki itu. Yeri menghembuskan napasnya kesal. Dia mengangkat kepalanya. Pandangan matanya menajam menatap kedepan. Kedua bola mata hitam itu membulat. Saat Melihat siapa yang ada di depannya.


Yeri meringis, dia terlihat sangat malu. Dalam hati dirinya ingin sekali kabur sekarang. Gimana bisa menghadapi laki-lakinyang di cintanya. Dia tidak bisa berada di depannya terlalu lama. Bahkan kedua kakinya seakan baru saja menginjak lem. Dia tidak bisa bergerak sama sekali. Tubuhnya terasa kaku, mematung dalam hitungan detik saja. Kedua mata menatap lurus. Sembari terus menelan ludahnya beberapa kali hingga melegakan tenggorokannya yang entah sejak kapan mulai terasa sangat kering.


"Em, itu. Em.. Ka-kamu kenapa ada disini?" tanya Yeri gugup. Dia tidak bisa berkutik di depannya. Yeri semakin gugup. Pikirannya ingin sekali pergi menghindari Deon. Tapi, dia tidak bisa.


"Aku mau pergi!" kata Yeri. Dia masih salah tingkah di buatnya.


"Jangan pergi!" pinta Deon. Menggennggam erat tangannya di atas meja.


"Oh, ya! Kenapa kamu sendiri?" tanya Deon.


"Gak, apa-apa. Aku ingin sendiri," jawab Yeri.

__ADS_1


"Aku ganggu kamu?"


"Tidak, memangnya kenapa?" Yeri mengerjapkan matanya. Tak hentinya jantung berdebar sangat cepat. Dia ingin sekali kabur. Tapi, dirinya tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Yeri ingin sekali melompat kegirangan. Gimana tidak, dia bisa berbicara berdua dengan Deon. Ini hal yang paling langka. Dan, anehnya kenapa di saat aku akan segera menikah.


Yeri menghela napasnya. Dia segera bangkit dari pergi dari sana. Deon tidak mau kehilangan Yeri. Dia berlari mengejar Yeri. Berjalan beriringan dengannya. Menuju ke kantor kembali.


"Kenapa kamu mengikuti?" tanya Yeri.


"Aku ingin bicara denganmu!"


"Oh, Ya! Katanya kamu akan menikah?" tanya Deon basa-basi.


"Iya, aku akan menikah segera!" jawab Yeri sangat antusias. Yeri tersenyum simpul di depan Deon.


"Selamat, ya!" Deon mengangkat tangannya. Mengulurkan tangan kanan ya tepat di depan Yeri.


Yeri terdiam seketika. Dia menatap tangan Deon.


"Maksud kamu? Selamat untuk apa?" tanya Deon.


"Memang duniaku sekejam apa, tuan?" tanya Yeri. Tak mau kalah.


"Sangat kejam, sampai aku tidak mau berhubungan denganku nantinya."


"Kita lihat saja, siapa yang lebih kejam, tuan!" Yeri mendekatkan wajahnya, kedua mata itu menatap lekat mata Deon tanpa rasa takut sama sekali dalam benaknya.


"Aku akan menikah dengan tuan Arga. Tidak ada yang bisa menghalangiku."


"Apa benar?" tanya Deon. Tersneyum tipis.


"Aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Aku yakin dia tidak mencintaimu. Dia hanya ingin tubuhmu."


Yeri terkekeh kecil. Dia membalikkan badannya. Berdiri membelakangi Deon. "Kamu pikir kamu siapa? Kamu tahu tentang Arga. Tidak ada yang tahu tentang dia. Jika dia ingin tubuhku kenapa? Lagian kalau menikah itu kewajiban aku melayaninya." kata Yeri. Dia berhasil, melangkah lebih dekat dengan Deon. Dia mendekatkan wajahnya. Kedua mata itu saling memandang sesaat.

__ADS_1


"Atau, jangan-jangan kamu ingin menikah denganku. Atau, kamu hanya ingin tubuhku? Tapi, sayang sekali kamu tidak bisa mendapatkan tubuhku" Yeri menarik sudut bibirnya tipis. Dia menepuk pundak Yeri.


Deon memegang lengan tangan Yeri. Menarik tangannya, tubuh Yeri memutar, berbalik masuk ke dalam delapan hangat tubuh Deon. Deon memegang pinggang Yeri. Kedua mata mereka saling tertuju satu sama lain.


"Aku tidak akan melepaskan mu begitu saja menikah dengannya," ucap Deon.


"Jika kamu menikah dengannya. Maka aku akan jadi penghancur rumah tanggamu." Tangan kiri Deon memegang dagu Yeri. Menariknya sedikit ke atas.


Deon mendekatkan bibirnya tepat di telinga kiri Yeri. Tubuh Yeri terdiam mematung. Dia menelan ludahnya susah payah. Dia gemetar saat merasakan hembusan napas Deon berada di ujung telinganya. Bulu roma mulai berdiri. Dia merasakan sensasi berbeda dari Deon.


"Aku sangat mencintaimu!" ucap Deon. "Aku tidak akan melepaskan mu! Ingat itu!" tegas Deon.


Yeri mengumpulkan semua keberaniannya. Dia tidak mau jika Arga tahu tentang dirinya dan Deon.


"Baiklah," Yeri mendorong tubuh Deon menjauh darinya.


"Pergilah sekarang!" kata Yeri. Dia segera berlari menjauh dari Deon. Laki-laki itu Bahkan tersneyum melihat kepergian Yeri.


"Larilah sejauh mungkin. Jika kamu bisa!" kata Deon.


***


Yeri berdesis pelan. Dia masih mengingat betul apa yang dj katakan Deon. Ucapan deon terus terngiang dalam kepalanya. Yeri yidak habis pikir jika Deon sangat mencintainya. Dulu dia hanya main-main. Hanya karena ingin uangnya. Tapi, setelah ayah tahu. Dan, dia marah besar sampai sakit. Yeri memutuskan untuk pergi. Dia tidak mau kembali lagi dengan Deon.


Yeri terus berjalan, tanpa pedulikan beberapa pegawai yang menatapnya sangat ramah. Ada juga yang berbisik membicarakannya. Yeri mengabaikan mereka semua. Hingga saat dia sampai di depan ruangan Arga. Kedua mata mereka saling tertuju satu sama lain.


"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Yeri. Dia mengerutkan bibirnya. Dengan satu Helaan napasnya Yeri mulai mengetuk pintu ruangan Arga.


"Masuklah!" pinta Arga.


Yeri melangkahkan kakinya masuk ke dalam.


"Dari mana? Kenapa kamu tampak sangat gugup? Apa kamu bertemu kekasihmu?" tanya Arga.

__ADS_1


Yeri mengangkat kepalanya. Kedua mata Yeri membulat seketika. Bagaimana bisa dia tahu?


__ADS_2