
Keesokan harinya. Arga yang masih berbaring di lantai. Dengan selimut tebal menutupi tubuhnya. Ia mencoba untuk membuka matanya. Mengumpulkan separuh nyawanya yang masih belum datang. Ke dua matanya terbuka perlahan. Ia terkejut tubuhnya sudah berada di lantai. Sesekali ia mencoba mengingatnya kembali. Tapi tetap saja, ingatannya tak menjangkau. Mungkin dia terlalu mabuk jadi tak bisa ingat semuanya.
"Kepalaku pusing sekali" gumam Arga. Mengernyitkan matanya.
"Kenapa bisa aku di sini? Sebenarnya apa yang terjadi semalam. Apa Yeri menggeletakkan di lantai. Terus dia pergi?" Helaan napas keluar dari sela-sela bibirnya. "Kurang ajar sekali dia. Apa dia belum tahu siapa aku?"
Arga mencoba untuk bangun.
"Bentar! Kenapa tubuhku sakit semua?" Arga merasa tubuhnya benar-benar sangat sakit. Bahkan bergerak saja tak bisa.
Laki-laki itu terasa aneh, saat merasakan kaki dan tangannya gak bisa bergerak. Seketika dia berusaha membuka cepat selimutnya.
"Aaa… Siapa yang mengikatku?" teriak Arga yang baru sadar jika dirinya tiba-tiba di ikat. Bahkan dia tak pernah tidur di lantai. Sekarang dirinya merasakan nyenyaknya tidur di lantai.
"Yeri….." teriak Arga, sontak dia teringat tentang Yeri. Dialah yang membantunya pulang dari club malam kemarin malam. Dan yang dia ingat hanya dirinya naik taksi. Terus pulang, sampai di rumah..
"Ahh… Aku gak ingat semuanya. " decak kesal Arga.
"Sialan… Pasti dia yang mengikatku? Apa dia sudah berani denganku. Dasar wanita gak tahu diri."gerutu Arga, mencoba melepaskan ikatanya.
Yeri yang batu saja membuka matanya lagi. Meski dirinya sempat bangun tadi. Mungkin karena terlalu capek jadi ketiduran lagi.
"Kamu lagi apa sekarang?" tanya Yeri berjalan dengan santainya mendekat ke arahnya.
"Lagian kenapa juga kamu tidur di lantai. Di sofa atau ranjang masih bisa. Kebiasaan tidur lantai, ya?" Yeri terkekeh kecil melihat Arga begitu emosi.
"Oh, ya! Maaf kemarin malam aku tidur di ranjang. Lagian enak sekali tidur di atas. Nanti malam kamu tidur di bawah lagi, ya?"
"Apa kamu bilang?" Arga melebarkan matanya tajam.
"Tidur di bawah?" ucapnya lirih, mengedip-ngedipkan matanya. Sembari menunjuk ke lantai.
"Enak saja!"
"Memangnya kamu mau tidur di mana?" tanya Yeri, mencoba untuk berbicara santai kali ini. Dia mendekatkan wajahnya. Mengamati setiap lekuk wajah Arga saat dia marah. Ketampanan laki-laki itu tak pernah pudar meski dia marah sekalipun. Dia juga tetap saja tampan.
"Jangan menatapku seperti itu. Aku tidak mau bertanggung Jawab jika kamu suka denganku, nantinya."
Yeri tersenyum tipis. Seakan bibirnya ingin tertawa. "Apa kamu bilang suka? Hah… Gak akan," ucap Yeri memalingkan wajahnya acuh.
"Kalau gak, ya sudah sekarang buka ini." Arga menggerakan ke dua tangannya.
"Gak mau!"
__ADS_1
"Buka gak?" tegas Arga.
"Enggak!" tegas Yeri meninggikan suaranya tak mau kalah dari Arga.
"Buka…" Arga memelankan nada suaranya.
Dan Yeri hanya menggelengkan kepalanya pelan. Sebagai tanda jika dia tak mau membukanya. Melihat hal itu. Arga mencoba untuk tetap sabar-sabar. Meski dirinya sudah memuncak ingin sekali menariknya keluar dari apartemen ini. Tapi jika oma gak ikut campur sudah dengan mudah aku membuangnya.
"Yeri…"
"Iya… ada apa?"
Arga berdengus kesal, emosinya bahkan sudah di ujung tanduk. Dengan berat hati. Ia mencoba menarik napasnya dalam-dalam, menahannya, lalu mengeluarkan secara perlahan, untuk mengatur emosinya.
Lama lama aku bisa gila kalau berada di tempat, di kamar yang sama, dan di kantor sama kelak nanti. Aku gila jika dia terus di sisiku.
"Jangan bikin aku emosi." Arga merendahkan suaranya satu oktaf. Dirinya dari tadi sudah emosi, jika terus teriak lama-lama dia sendiri yang di anggap sebagai orang gila. Arga mencoba untuk tetap tenang, tenang, dan tenang, seperti air mengalir. Dan jika menguap, sangat mematikan.
Yeri mengerutkan bibirnya. Sembari menggelengkan kepalanya. Seperti anak kecil yang terlihat sangat imut dengan ekpresi wajah seperti itu.
"Buka, kan ikatanku ini! Aku bukan penjahat yang seenaknya kamu ikat." umpat kesal Arga.
Bukan penjahat katanya? Apa dia gak ingat dengan apa yang terjadi semalam. dia hampir saja mengambil milikku. Lagian kenapa juga cari gara-gara padaku. Tidak akan bisa, baby.
"Jangan terlalu kepedean. Lagian aku senyum bukan buat kamu." tegas Yeri. dia beranjak berdiri. "Oh, ya. Aku mau cuci muka dulu. Karena kamu hari ini telah membuat tidur nyenyakku kebangun. Jadi aku biarkan kamu disitu sementara. Gak akan lama, kok, jadi tenang saja."
Yeri berjalan dengan langkah memang sedikit mengejek. Ia masuk ke dalam kamar mandi. Sampai di dalam, seketika dia tertawa terbahak-bahak. Suara tawanya sampai terdengar di telinga Arga. Membuat laki-laki itu semakin kesal.
Dia beraninya menertawakanku. Apa dia sudah bosan hidup.
"Awas saja kamu, Yeri. Aku akan balas semuanya. Enak saja kamu mengikat. Lagian kamu siapa? Mau cari gara- gara denganku. Jika kamu mau cari gara-gara denganku, kamu salah orang." gumam Arga menarik sudut bibirnya tipis. Seakan dia sudah menyiapkan sebuah rencana untuknya. Kepalanya yang masih terasa pusing ia mencoba menarik tubuhnya, hingga bersandar di tembok dengan ke dua tangan dan kakinya masih terikat rapat.
Yeri segera cuci muka. Dia menatap wajahnya di depan cermin. "Apa aku bilang padanya jika dia telah… Ah.. Gak usah, ngapain juga aku bilang. Dia gak sadar dan gak mungkin ingat. Nanti aku di kira mengada-ada lagi, tanpa bukti." Yeri menghela napasnya.
"Yang penting aku sekarang selamat dari dia. Dan sekarang tinggal pembalasanku. Emang dia pikir bisa dengan mudah memberikan milikku. Tidak akan pernah ferguso." Yeri mengangguk anggukan kepalanya, tersenyum licik.
"Yeri… Keluarlah sekarang!"
"Ada apa?"
"Keluarlah… Aku akan membalas jika kamu tak keluar segera."
Yeri membuka pintu kamar mandi. Dia memasang wajah manisnya. Berjalan mendekati Arga yang kini sudah bersandar di tembok. "Buka talinya?" Melihat Yeri sudah keluar, Arga langsung menyodorkan tangannya.
__ADS_1
"Bentar! Bentar! Aku punya sesuatu untuk kamu" Yeri beranjak lagi. Dirinya ingat jika tadi membuat dua teh coklat hangat. Menemani pagi hari ini. Tapi sepertinya udah dingin. Gara-gara nunggu Arga terbangun. Ia ikut tidur lagi di atas ranjang.
Yeri meletakkan teh coklat itu di atas meja. Dia kembali duduk jongkok. Wajahnya mengamati setiap gerak gerik tubuh Arga.
"Sakit?" tanya Arga kesal.
"Iya… Kamu lepaskan sekarang, ya. Aku akan beri kamu kejutan nantinya."
"Kejutan apa?" tanya Yeri penasaran.
"Sesuatu yang akan membuat kamu selalu ingat. Dan tak pernah di lupakan." ucap Arga. Dia mencoba merayu semanis mungkin Yeri. Agar dia mau melepaskan ikatanya.
"Emm… Karena aku baik hati sekarang. Aku gak mau kejutan dari kamu. Dan aku akan lepaskan kamu secara cuma-cuma." ucap Yeri yang mulai melepaskan ingatannya sangat erat yang mengikat kaki dan sayangnya.
"Sudah…"
"Akhirnya lepas juga." Arga beranjak berdiri. Ia mengusap tangannya yang masih terasa sakit.
"Kenapa kamu mengikatku?" tanya Arga menajamkan matanya.
"Gak ingat!" tegasnya. "Oh, iya. Aku gak punya waktu lagi sekarang." Yeri mencoba untuk kabur dari Arga. Bukanya dia takut, tetapi dia juga punya pekerjaan lain. Dari kemarin dia mencoba melamar pekerjaan di sebuah perusahaan. Dan sudah sekian lama penantiannya. Akhirnya diterima juga. Lagian ini juga tugas magang dari kampusnya. Dan berharap jika lulus nanti segera bekerja di tempat yang di inginkan.
"Tunggu, kamu mau kemana?" tanya Arga. Dia berusaha mendekati Yeri. Tetapi ke dua kakinya terasa sangat sakit untuk bergerak.
Sialan! Ini gara-gara wanita itu mengikatnya seperti pencuri di apartemennya sendiri. Harusnya dia yang di ikat. Karena seenaknya masuk ke dalam apartemen milikku.
"Aku mau mandi. Sekarang sudah telat, mau wawancara nanti."
"Wawancara?" Arga mengerutkan keningnya.
"Soal apa?"
"Soal apa, gimana? Kamu itu jelas gak?" decak kesal Yeri, yang langsung masuk ke dalam kamar mandi. Menutup pintunya sangat keras. Membuat suara dencitan pintu itu Arga terperanjak dari tempatnya.
"Heh…. Apa yang kamu lakukan. Apa kamu mau merusak pintu kamar mandiku?" teriak Arga kesal.
"Diamlah! Aku gak punya banyak waktu." balas Yeri dengan teriakan tak kalah keras.
"Dasar wanita aneh!" pekik Arga.
Tubuh Arga yang seakan kering, gara-gara kobaran emosi dalam.dirinya. Ia mengambil teh coklat di meja. Meneguknya sampai tak tersisa. Lalu meletakkan kembali gelas kosong itu di atas meja. Pandangan matanya kosong menatap ke depan.
"Kenapa aku jadi bungung" gumam Arga.
__ADS_1