Menjadi Istri Bayaran

Menjadi Istri Bayaran
Terluka


__ADS_3

Felicia menundukkan kepalanya. Ia mencoba mengatur napasnya dalam-dalam. Menerima hatinya yang terluka dengan sambutan dari Arga saat pertama bertemu.


"Kalau gak ada yang di bicarakan lagi, aku pergi!" ucap Arga bangkit dari duduknya.


Felicia beranjak berdiri tegap, memegang lengan Arga. "Jangan pergi!" ucap Felicia.


"Kenapa?" ke dua mata Arga masih enggak menatap ke arah Felicia.


Wanita itu memeluk erat lengan Arga. "Aku mau minta maaf," ucap lirih Felicia.


 


Yeri yang terburu-buru ingin segera memberikan sebuah dokumen pada Arga.


Permisi, Ar…


belum sempat menutup mulutnya. Yeri yang baru ingin masuk ke dalam ruangan Arga terkejut melihat tuanya sedang berduaan dengan wanita di dalam.


Napas Yeri seketika sesak, jantungnya tak bisa berdetak normal. Kenapa aku melihat mereka sedikit jeles. Seakan dibuat tali melilit hatiku.


Kenapa hatiku merasa sangat sakit? Apa aku ada kelainan hati? Tapi sepertinya keluargaku tidak ada penyakit kelainan hati. Tapi kenapa dengan hatiku saat ini. Ah.. entahlah.. aku juga bingung dengan hatiku sendiri.


Yeri menepuk nepuk dadanya berkali-kali. Ia mengangkat kepalanya, menahan air mata yang ingin menetes tanpa sebab.


Yeri mencoba untuk tersenyum. "Maaf, sepertinya aku mengganggu kalian."


Arga menatap ke arah Yeri. Wajahnya mengkerut melihat ekspresi wajah Yeri yang terlihat berbeda dari biasanya. Merasa penasaran dengan dirinya. Arga melepaskan tangan Felicia di lengannya. Mendorong tubuh dia menjauh darinya. dan segera berjalan dengan langkah ringan mendekati Yeri.


"Maaf! Jangan marah padaku. aku tadi gak sengaja, soalnya mau menyerahkan berkas ini." ucap Yeri tertunduk, ia hanya mengangkat berkas itu mengulurkan pada Arga. Dengan badan menunduk 45 derajat.


Yeri membalikkan badannya perlahan, dia baru melangkah satu langkah ke depan. Tangan Arga meraih pergelangan tangannya. Mencegah dia keluar lagi dari ruangannya.


"Kamu gak boleh pergi!" ucap Arga.


"Tapi…."


Arga menutup bibir Yeri dengan telunjuk tangannya. "Sssttt… Jangan banyak bicara lagi. Ikuti apa kataku." bisik Arga.


"Kamu tetaplah di sini. Dan biarkan wanita di belakang itu pergi."


Felicia, menghela napasnya, ia menarik bawah bibirnya semakin masuk ke dalam sela-sela giginya. Mencoba menahan rasa tangis yang ingin sekali keluar membasahi pipinya. Dan rasa rindu yang berlebih di balas kontan dengannya sekarang. Meski dirinya sudah tahu. gak mungkin kalau balikkan dengan mantan. Hati Felicia merasa tersayat sayat, saat melihat Arga dekat dengan wanita yang baru di telinga tadi. Dan Felicia juga tak begitu kenal padanya.


"Biarkan dia pergi. Dan kamu tetap di sini temani aku."


"Tapi aku…"


"Kamu jangan pernah bilang sesuatu lagi. Atau kamu ingin mengejarnya. Biarkan dia. Tapi jika kamu mau memberi tahu jika dia gimana nantinya."

__ADS_1


"Tapi… "


Arga memegang pergelangan tangannya. Menarik tubuh Arga masuk ke dalam. Dan mengabaikan Felicia yang masih diam berdiri di sana. Ia hanya bisa menatap Arga yang sedikit acuh padanya.


Felicia hanya diam menatap tajam ke arah Yeri. "Arga… Gimana kalau nanti kita makan. Atau kali saja." rengek Felicia, berjalan menghampiri Arga lagi. Ia tahu kalau Arah mengacuhkannya, tapi Dia tetap saja ingin mendekatinya.


"Apa kamu gak tahu kalau aku sudah punya istri." jawab Arga, meraih bahu Yeri. Memeluknya dalam dekapannya.


Felicia menatap ke arah Yeri. Pandangan matanya tertuju pada sekujur tubuhnya. Dari ujung kaki sampai ujung kepalanya. "Gak usah bohong padaku Arga. Aku gak semudah itu di bohongi. Dan aku yakin kalian hanya pura-pura, kan. Hanya untuk menyakitiki." ucap Felicia menggelengkan kepalanya tak percaya. Ia tak bisa terima jika Arga sudah menikah.


"Aku gak mau, jika kamu menikah dengannya. Dan satu lagi aku tetap tidak percaya dengan pernikahan kamu. Aku tahu kamu sangat mencintai aku. Dan gak mungkin berpaling dari wanita lainya." Felicia mencengkeram lengan jasnya. menarik nariknya frustasi. "Kamu bohong, kan. Bilang padaku Arga. Jika kamu hanya pura-pura. Kamu tidak cinta dengannya. Bilang Arga… Jangan diam saja.. Aku mau kejujuran darimu."


Wanita itu menyandarkan kepalanya di dada Arga. Membuat Yeri bingung dengan apa yang di lakukannya.


Arga tersenyum tipis. Menarik tangan Felicia, dan sedikit mendorong tubuhnya menjauh darinya. "Terserah kamu percaya atau tidak. Tapi sepertinya aku sudah melupakanmu. Dan kamu gak ada sama sekali di hatiku. Sekarang lebih baik kamu pergi." bentak Arga keras. Membuat Yeri yang dalam dekapannya terkejut. Baru kali ini dia terlihat sangat marah.


Yeri menatap wajah Arga. Terlihat wajah yang penuh kekesalan. kemarahan, ke dua matanya bahkan mulai berkaca-kaca. Setelah puas menatap Arga. Yeri menatap ke arah Felicia. Air mata perlahan sudah mulai menetes di ke dua matanya. Ia masih belum percaya jika Arga sudah menikah.


"Oke! Kamu boleh mengusirku. Tapi aku akan tetap mencari kamu. Aku ingin menunjukan jika aku tak salah. Dan aku tetap setia sama kamu." ucap Felicia kecewa. Air mata sudah terurai membasahi pipinya. Dan tubuh Arga seketika gemetar, melihat air mata itu jatuh di ke dua mata Felicia. Dia tak sanggup menatapnya, dia tak sanggup melihatnya menangis. Dan perasaanya masih sama . Ia tak pernah tega melihatnya menangis. Dan ingin selalu mengusap air mata yang sudah membasahi pipinya.


Sebenarnya ada apa dengan Aga dan wanita ini. Apa dia? Emm… Dia mantan pacarnya? Atau kekasihnya? Dari ke dua matanya menunjukan hal cinta di antara mereka berdua. Tapi kenapa juga Arga membentaknya?


"Aku pergi. Makasih! Makasih kamu telah membuat aku menjadi seperti ini. Dan kamu yang melukaiku sekarang dengan pernikahan palsu ini. Dan kamu bilang aku yang menyakiti kamu." Felicia menarik sudut bibirnya tipis. "Bye…" Felicia mencoba untuk tetap tersenyum meski dalam hati dia sangat hancur.


Wanita itu melangkahkan kakinya pergi. Meski dalam hati Arga ingin sekali memeluknya. mendekapnya dan meminta dia untuk tetap ada di sisinya. Tetapi apa yang di lakukannya dulu membuat dia semakin marah jika bertemu dengannya. Penghianatan yang membuat semua kehidupannya hancur.


Suara pintu tertutup begitu kerasnya. Membuat Yeri yang semula hanya diam ia terkejut. Lalu memegang dadanya.


Perlahan tangan Arga mulai merenggang dari bahunya. Ia melepaskan pelukannya. Dan memalingkan wajahnya. Air mata perlahan mulai menetes dari ke dua matanya. Dia tak mau jika Yeri tahu, jika dia menangis. Di depan dia Arga mencoba selalu terlihat dingin.


"Oh, ya. Gimana? Soal dokumen yang aku berikan tadi?" tanya Yeri.


Arga mengusap ke air mata dengan jari tangannya. Ia menarik napasnya dalam-dalam, dan mencoba untuk tidak meneteskan air mata lagi. Setelah merasa lega, Arga berjalan ringan menuju kursi kerjanya.


"Sekarang kamu pergilah!" pinta Arga tanpa menatap ke arah Yeri.


"Tapi aku di sini ingin bilang sesuatu."


"Aku bilang pergi, pergi! Jangan membantahku. Bentak Arga, membuat Yeri melangkahkan menghentakkan langkahnya untuk mendekati Arga.


"Kamu membentakku?" tanya Yeri gugup. Ia tak menyangka jika Arga juga membentaknya. Tadi di depan wanita itu dia terlihat sangat lengket dengannya. Dan sekarang dia mengusirku. Apa yang sebenarnya terjadi padanya?


Yeri menelan ludahnya susah payah. Ia menatap wajah Arga yang seakan terus berpaling padanya. Melihat pipinya basah. Ia yakin jika laki-laki itu sedang menangis. Entah apa yang di pikirannya. Tapi Yeri tahu, jika hatinya sedang terluka.


Yeri menarik napasnya dalam dalam, menahannya, laku mengeluarkan secara perlahan. "Baiklah, aku akan pergi." ucap Yeri.


"Dan jika memang kamu suka dengannya. Kenapa juga kamu malah menyakiti dia. Dan membiarkan dia pergi. Kenapa kamu tidak mengejarnya." pekik Yeri sok tahu.

__ADS_1


"Kamu jangan mengajariku. Kamu gak tahu perasaanku. Lebih baik sekarang kamu diam dan pergilah. Aku ingin sendiri."


"Jangan pernah bohongi perasaan kamu. Memang semuanya tahu jika perasaan laki-laki yang tulus saat dia meneteskan air mata hanya demi seorang wanita yang paling di cintainya.


"Aku bilang pergi ya, pergi!" bentak Arga ke dua kalinya.


Yeri hanya tersenyum tipus, menarik ujung bibirnya. "Kejarlah dia." ucap Yeri. Sebelum wanita itu pergi dari hadapannya.


Arga yang semula tak mau menatap ke dua wanita di hadapannya tadi. Ia mulai mengangkat kepalanya saat suara pintu tertutup terdengar di telinganya.


"Arrgggg….. Kenapa semuanya seperti ini. Kenapa di saat aku mulai bahagia dia datang padaku, kenapa?" teriak Arga, wajahnya terlihat sangat emosi, ke dua tangannya mengobrak abrik meja di sampingnya.


Brakk… Brakk..


Suara tumpukan dokumen itu terjatuh ke lantai.


"Dia membuat kepalaku sangat pusing. Dia membuat aku hatiku berantakan." teriak Arga, memegang kepalanya yang terasa sangat pusing. ia menjatuhkan tubuhnya bersandar di kursi kerjanya.


Ke dua matanya terpejam, mencoba mengatur emosinya yang mulai tak bisa di kontrol.


Sedangkan Jun yang semula ingin masuk, langkahnya terhenti di depan pintu. Ia mengurungkan niatnya saat mendengar tuanya marah. Jika dia masuk sama saja cari mati. Saat marah Arga ingin selalu sendiri. Dia gak mau di ganggu oleh siapapun.


Jun menatap ke arah Yeri yang berdiri tak jauh darinya. Dia terdiam menatap ke arah pintu. Mendengar kemarahan Arga membuat wanita itu bergidik takut. Sekujur tubuhnya gemetar seketika. Wajah yang semula selalu tersenyum, berubah menjadi sebuah ketakutan baru yang di rasakannya.


Apa aku harus berbuat sesuatu padanya. tanya Yeri dalam hatinya.


"Lebih baik kamu menjauh dari sini. Jangan sampai tuan tambah marah jika kamu mendengar dia meluapkan emosinya. Dia tak suka di ganggu.


"Ada apa dengannya?" tanya Yeri.


"Aku gak bisa cerita di sini. Nanti pulang kerja. Kamu temui aku di taman. Jam 7 malam. Dan aku akan cerita kenapa tuan bisa seperti ini. Tapi jangan cerita pada siapapun termasuk tuan Arga sendiri. Dia tidak mau kisahnya di ceritakan pada semua orang."


Yeri tersenyum tipis menatap ke arah Jun. "Tapi sepertinya gak usah. Aku ingin dia cerita sendiri nantinya. Entah itu sekarang, atau sampai dia merasa lega."


"Kamu yakin?" tanya Jun memastikan. "Tuan tidak mudah cerita masalahnya pada siapapun. jika bukan pada orang yang sangat tulus dia cintai." lanjutnya.


Seketika Yeri terbungkam saat mendengar orang yang paling di cintai. Dia sadar jika Arga tak suka dengannya. Di bandingkan dengan dirinya Felicia jauh lebih cantik, pintar, dan dia bisa segalanya. Sedangkan dirinya hanya wanita biasa yang sedikit gila. Dia juga tak terlalu pintar. Dan hanya pintar mencari masalah dalam kehidupannya. Dia bisa lepas dari masalah itu hanyalah sebuah keberuntungan baginya.


"Ya, udah aku pergi dulu. Masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan." ucap Yeri, segera berlari pergi meninggalkan Jun. Entah kenapa hatinya merasa sangat sakit. Ia ingin kebagian sejadi jadinya.


jun hanya menghela napasnya. Dia menatap ke arah Yeri sembari menggelengkan kepalanya. "Tuan Arga di kelilingi oleh para wanita cantik. Sementara diriku satu saja tak ada yang dekat denganku." gumam Jun, menghela napasnya lagi, sedikit frustasi.


Jun membuka sedikit pintu ruangan Arga. Melihat tuanya masih memegang kepalanya Dengan ke dua mata terpejam. Ia langsung menutup pintunya kembali. Dan memilih untuk segera pergi meninggalkan ruangan Arga.


"Dari pada cari masalah dengan, tuan Arga. Lebih baik aku pergi saja." ucap Jun, tak berapa lama dia sudah pergi menjauh dari depan ruanganya.


 

__ADS_1


"Sekarang apa yang harus kau lakukan? Apa aku harus menemui Felicia. Atau aku hanya Diam dengan penuh amarah seperti ini. Tapi rasa sakit hatiku masih belum terobati. Aku masih dendam padanya." gumam Arga, rahangnya mulai menegang, Wajahnya seketika memerah, dengan ke dua tangan mengepal, ia memukul meja kerjanya begitu keras.


"Aku benci dengan kehidupan cinta yang membuat kepalaku terasa ingin pecah." gumam Arga tak hentinya terus menyesali semuanya.


__ADS_2