
"Boleh tanya, tidak?" tanya Yeri. Memulai pembicaraan lebih dulu. Dia berhasil memecahkan keheningan di antara mereka. Arga melirik sekilas ke arah Yeri.
"Teman kamu laki-laki atau perempuan?" tanya Yeri lagi. Dia begitu penasaran. Kenapa sampai oma tidak boleh tahu. Rasa penasaran yang mengganggunya. Yeri memutuskan untuk mencari jawabannya dari Arga sendiri.
"Kamu tidak perlu tahu," ucap Arga. "Lebih baik diam saja. Nanti kamu juga akan tahu. Kemana kita akan pergi," ucap Arga.
Dia masih terlihat santai. Fokus mengemudi mobilnya. Tanpa pedulikan Yeri yang terdiam di sampingnya.
Yeri mengerutkan bibirnya. Dia menggerak kesal dalam hatinya. "Sepertinya ada yang di sembunyikan olehnya. Jangan sampai kecurigaanku benar. Kita sudah menikah. Aku tidak mau jika dia membuat masalah lagi."
"Ehh... Bentar, bentar! Kenapa aku panik. Aku harusnya tenang. Terserah dia mau pergi sama siapa saja. Kita hanya sebatas kontrak tidak lebih." Yeri menghela napasnya. Keluar dari sela-sela bibirnya yang terluka.
"Ya, udah. Aku diam!" ucap Yeri. Dia berusaha untuk tetap tenang. Dengan santainya, Yeri memakai handset di dua telinganya. Mendengarkan lagu galau kesukaannya. Yeri menyandarkan punggungnya, perlahan dia mulai memejamkan kedua matanya menikmati irama lagi yang di dengar olehnya.
Hingga hampir 40 menit perjalanan. Arga sampai di tempat tujuan. Yeri masih memejamkan kedua matanya. Dia tanpa sadar terbawa alunan irama lagi yang menghanyutkan pikirannya. Sampai terbawa masuk ke dalam alam bawah sadar.
"Sudah, sampai. Kamu mau disini atau masuk?" tanya Arga. Yeri tidak menghiraukan Arga. Dia masih tertidur lelap duduk di samping kursi pengemudi.
"Yeri," panggil Arga. Dia menoleh menatap ke arah Yeri. Desiran napas kesal keluar dari bibirnya.
"Astaga, baru beberapa menit saja perjalanan sudah tidur," ucap Arga. Dia beranjak kekuar dari mobilnya. Menutup pintunya lagi. Dan, bergegas membuka pintu mobil untuk Yeri. Arga menepuk pipi Yeri pelan dua kali.
"Yeri, bangun tidak?" ucap Arga.
"Hmmm... Apa, sih!" Yeri mengerutkan wajahnya. Di mengerutkan kedua matanya. Perlahan, menarik kedua tangannya ke atas. Merenggangkan otot tubuhnya yang terasa begitu kaku.
"Ada apa?" tanya Yeri. Perlahan pandangan mata itu menatap ke samping. Tepat kedua mata mereka saling tertuju. Yeri mengerjapkan kedua matanya beberapa kali.
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan, kenapa kamu membangunkanku?" tanya Yeri. Menarik kedua alisnya ke atas.
"Mau tetap disini. Atau, ikut kedalam?" tanya Arga.
Yeri terdiam sesaat. Dia mencoba untuk berpikir sejenak. "Jika masih lama berpikir, aku pergi dulu Kamu bisa cari aku didalam." Arga memalingkan pandangannya Membalikkan tubuhnya, segera pergi meninggalkan Yeri sendiri.
"Eh, dia bekerja ninggalin aku?" Yeri mengerjapkan kedua matanya. Melihat punggung tegak Arga sudah melangkah jauh dari pandangan matanya.
Yeri mengerutkan bibirnya. Dia duduk kembali di dalam mobil. Memutuskan untuk tidak masuk ke dalam. Dia memejamkan kedua matanya lagi. Baru ingin tertidur, seketika pikirannya mulai teringat tentang Arga. Bagaimana jika dia pergi bersama dengan wanita lain. Yeri membuka matanya lagi. Dia beranjak keluar. Mengambil tas yang tergeletak di atas dasboard mobilnya. Tak lupa menutup pintu mobil Arga lagi. Dia segera pergi masuk ke dalam hotel. Bahkan Yeri baru sadar saat sampai di depan lobi. Dia menatap sekelilingnya. Kedua mata itu berkeliling melihat setiap sudut merahnya hotel itu.
"Dia datang ke hotel?" tanya Yeri pada dirinya sendiri. Hati kecilnya mulai curiga. Bagaimana bisa seorang laki-laki pergi ke hotel. Tidak mungkin jika dia menemui laki-laki. Pasti dia menemui seorang wanita.
"Arrggg..." Yeri menghentakkan kakinya kesal.
"Bagaimana bisa aku meninggalkan dia pergi sendiri. Astaga, bagaimana aku bisa menemukannya," ucap Yeri.
Yeri mengerutkan bibirnya. "Mbak, ada tamu dengan nama Arga?" tanya Yeri. Dia meletakkan tasnya di atas meja panjang receptionis.
"Maaf, saya tidak bisa memberi tahu anda. Semua tamu di hotel ini profasi." ucap sang receptionis.
"Mbak, aku ini istrinya. Jadi bilang sekarang Aku.mau cari tahu dimana suamiku," tegas Yeri.
"Tapi..."
"Mbak, lebih baik katakan sekarang." tegas Yeri.
"Iya, bentar. Namanya siapa?" tanya sang receptionis lirih.
__ADS_1
"Arga wijaya." kata Yeri.
Yeri menghela naoansya. Dia jemari tangannya mengetuk atas meja receptionis. Sembari menunggu jawaban dari receptionis di depannya.
"Bagaimana, mbak?" tanya Yeri Dia sudah tidak sabar lagi menunggu jawaban.
"Sudah, dia belum memesan kamar. Mungkin dia bertemu dnegan seseorang disini Di restauran belakang hotel. Atau, di taman belakang. Menikmati pemandangan hotel," ucap sang receptionis. Mendengar jawaban itu seketika Yeri menghela napasnya lega. Dia mengusap dadanya beberapa kali.
"Baik, makasih. Untung saja dia tidak memesan kamar. Aku pikir dia pergi dengan wanita lain," kata Yeri Dia beranjak pergi dari receptionis. Berjalan menuju ke restauran yang di maksud oleh mbak receptionis tadi.
Sampai di restaurant yang di maksud. Yeri berdiri di depan pintu. Kedua mata itu menelisik setiap sudut ruangan. Dia tidak melihat siapapun ada disana. Merasa gagal menemukan Arga. Yeri teringat jika di belakang ada taman dengan pemandangan yang bagus. Kata mbak receptionis itu.
"Kenapa dia cepat sekali menghilang. Aku harus mencarinya kemana lagi," Yeri mengerutkan bibirnya. Dia menghentikan kakinya kesal. membalikkan badannya. Dan, segera pergi menuju ke taman belakang. Dia terus berjalan mengurusi petunjuk yang tertera. Hingga langkah kakinya tertuju pada taman yang begitu indah. Pemandangan yang luar biasa. Lengkap dengan kolam renang di ujung sana.
Pandangan mata Yeri tertuju pada sosok laki-laki yang duduk sembari berbincang mesra dengan seorang wanita cantik di ujung taman. Mereka saling bercanda satu sama lain.
Yeri melangkah mendekat. Memastikan lagi siapa laki-laki itu.
"Arga?" kedua mata Yeri melebar sempurna. Saat dia melihat sosok arga yang berada disana. Tatapan matanya beralih melirik wanita yang berada di sampingnya. "Dia siapa?" tanya Yeri. Dia berjalan lebih dekat lagi. Tanpa berani mendekati mereka berdua. Atau, bahkan menganggu hubungan mereka.
"Apa yang mereka lakukan?" tanya Yeri. Terbesit dalam benaknya untuk berjalan mendekati Arga. Dia duduk tak jauh dari mereka berdua duduk.
"Oh, ya! Bagaimana butik kamu?" tanya Arga pada wanita itu.
"Semuanya berjalan dengan lancar," kata anaita itu.
"Sella, maaf jika aku tidak bisa menemani kamu terlalu lama kemarin. Aku tidak bahkan tidak bisa menjemput kamu di bandara," kata Arga. Ya, sosok wanita di samping Arga adalah Sella. Dia kekasih Arga yang sudah lama sekali tidak pernah bertemu. Bahkan hubungan mereka sempat losh contact. Mereka tidak pernah sama sekali berhubungan.
__ADS_1
Sekarang pertama kalinya. Mereka bertemu. Dan, hari yang begitu bahagia bagi Arga. Bisa menatap kekasih lamanya lagi.