Menjadi Istri Bayaran

Menjadi Istri Bayaran
Menangis


__ADS_3

Apa dia menangis? Kenapa? Tadi apa aku salah bicara? Yeri mengamati setiap lekuk wajah Cia. Mengamati gerak gerik wajahnya. Dia tahu jika wanita itu menyimpan kesedihan di saat dirinya mencoba untuk tersenyum tipis.


"Oo… Apa sekarang kamu juga ingin punya rencana lagi dengannya?" tanya Cia. Tersenyum tipis di depannya.


"Entahlah, aku juga tidak tahu."


Tak lama Arga yang baru pulang. Ia membuka pintu apartemen. Membuat Yeri dan Cia kompak menatap ke arah pintu.


"Arga?" gumam Yeri dan Cia kompak. Membuat Arga menatap ke arahnya. Ke dua matanya mengkerut saat melihat wajah Cia di depannya. Dengan pakaian olah raga, dengan handuk kecil di lehernya. Untuk mengusap keringatnya sehabis joging di taman belakang apartemennya.


"Kamu habis olahraga?" tanya Yeri memastikan. wajahnya mengkerut, manatap setiap detail tubuh Arga. Seakan dia sedang mengamati seorang penjahat


Arga hanya diam saja. Ke dua matanya menatap wajah cantik Cia di depannya. Wanita itu hanya diam menunduk. Menatap wajah cantik Cia yang ada di depannya. Dia tak bisa mengelak, wajah Cia memang sangatlah cantik. Matanya juga sangat indah, membuat laki-laki melihatnya langsung tergila-gila olehnya.


"Dia? Kenapa dia ada di sini?" gumam Arga. Berjalan ringan mendekati ke arah Cia. Dan dia hanya menatap wajah Cia. Tak melirik sama sekali ke arah Yeri. Dan sepertinya dia melupakan beberapa detik Yeri.


Isss…. Kenapa dia malah menatap ke arahnya? Apa aku kurang cantik? Apa aku harus berpenampilan seperti dia. Terlihat lebih seksi sedikit. Dengan wajah sederhana sih, dia juga tidak pakai make up sama sekali.


"Kenapa kamu ada di sini? Siapa yang mengijinkan kamu ada di sini? Aku tidak suka ada wanita penghianat masuk ke dalam rumahku. Dan lebih baik sekarang, anda pergi dari sini." ucap Arga menarik tangan Cia, mencoba untuk menariknya keluar.


Dan Cia tetap bersikukuh untuk tetap di dalam apartemennya.


"Aku akan tetap di sini. Sampai aku dapat penjelasan darimu." ucap Cia tegas.


"Penjelasan apa lagi?" tanya Arga.


"Apa kamu masih mencintaiku?" tanya Cia membuat Arga terdiam seketika.


Dalam hati kecil Arga. Dia masih sangat mencintai Cia. Dan tak akan pernah bisa melupakannya. Namun, ia tak mau jujur padanya. Jika masih mencintainya.


Arga melepaskan cengkeraman tangannya. Ia menatap ke arah Yeri, menarik tangannya, membuat tubuhnya masuk dalam dekapan tubuhnya.


"Bukanya kamu sudah tahu, kalau aku menikah. Seharusnya sekarang kamu bisa melihat. kalau aku tak akan pernah melupakan istriku ini. Dan pastinya aku juga sangat mencintainya." ucap Arga, mengecup kening Yeri begitu lembut.


Cia menarik napasnya dalam-dalam. Ia menarik bibirnya masuk ke dalam, mencoba untuk tak mengeluarkan air mata yang terasa terbendung di ke dua matanya.


"Kamu yakin?" tanya Cia, dengan bibir gemetar.


"Iya… Aku yakin, dan aku tak akan pernah jatuh cinta dengan wanita lain lagi selain dia. Dari pada harus kembali dengan wanita penghianat seperti kamu. Lebih baik cinta yang sederhana dan bisa selamanya bersama."


Cia membalikkan badannya, tak kuasa ia meneteskan air matanya yang sudah tak tertahankan lagi. Cia menarik napasnya dalam-dalam, mencoba untuk tetap menenangkan hatinya.

__ADS_1


Cia segera mengusap air matanya dengan punggung tangannya. Dia segera menarik dua ujung bibirnya. membentuk sebuah senyuman kecil yang terukir di wajahnya.


Yeri tahu jika wanita itu pasti sangat terluka dengan ucapan Arga. Tetapi dia juga tak bisa berbuat apa-apa, tahu sendiri. Dia seperti singa. Apa yang di ucapkan tak bisa dibantah. Jika Yeri berani membantahnya. Bisa habis dia di terkam singa jantan yang membuatnya tak bisa berkutik sekarang.


Cia membalikkan badannya. Menatap ke arah Yeri dan Arga. "Oh, ya. Nanti malam, aku akan undang kalian ke pesta ulang tahunku. Dan kalian harus datang, ya? Aku akan tunggu kehadiran kalian." ucap Cia mencoba untuk tetap tegar. Meski pandangan matanya berkeliling melihat pelukan Arga yang begitu erat mendekat bahu istrinya.


"Memangnya kenapa aku harus datang? Tanpa aku pesta juga masih tetap akan berlanjut. Dan kamu juga masih bisa bersenang senang." ucap Arga, ke dua matanya mencoba untuk menghindari tatapan ke dua mata Cia.


"Aku ingin kamu bisa memberikanku sebuah kejutan. Hanya untuk hadir dalam pesta. Kalau kamu gak datang, aku juga gak akan bisa merayakan pesta itu." ucap Cia. Mencoba tersenyum lagi. Meski dalam hati dia memendam rasa sakit yang menancap amat dalam, hatinya bagikan di lilit tali yang di penuhi dengan jarum. Rasa sakitnya amat dalam. apalagi saat dia dituduh olehnya. Tanpa tahu kenyataan sebenarnya kenapa dia meninggalkan Arga.


"Baiklah! Aku pergi dulu." ucap Cia, membalikkan badannya cepat. Ia tak tahan lagi melihat kemesraan mereka.


"Oh, ya. Aku tunggu kalian datang." ucap Cia.


"Iya… pasti kita akan datang." saut Yeri antusias. Dan hanya di balas dengan senyum tipis oleh Cia. Arga yang kesal, ia menginjak kaki Yeri. Melepaskan pelukannya.


"Aw---"


"Sakit tahu…" geram Yeri.


"Jangan bicara sembarangan tanpa keputusan dariku." gumam Arga memelankan suaranya. Ke dua mata mereka saling melotot, terkunci, seakan percikan api kemarahan menyambar-nyambar di ke dua mata mereka.


"Aku gak mau tahu, kamu harus ikut ke pesta dia. Kasihan dia." pekik Yeri.


Cia yang masih berdiri. Dia mendengar sekilas pembicaraan mereka. Ia tersenyum samar, sebelum dia berjalan keluar dari apartemen Arga. Sedangkan Yeri dan Arga masih tetap saja berseteru. Seakan mereka tak bisa akur satu sama lain.


"Aku gak akan datang." tegas Arga.


"Kamu harus datang, kasihan dia. Lihatlah, di balik senyumnya tadi. Dia memendam air mata."


"Emangnya apa urusannya dengan kamu?" tanya Arga menarik ke dua alisnya bersamaan. Dengan ke dua tangannya di lipat di atas dadanya.


"Aku sebagai wanita tahu. Apa yang dia rasakan sekarang."


"Memangnya kamu wanita?"


Yeri melebarkan wanitanya , menguntupkan bibirnya. Mengedip-ngedipkan matanya kesal.


"Apa kamu bilang? Tadi?" Yeri berdengus kesal, memelotot semakin tajam ke arah Arga. Bukanya takut laki-laki itu mendekatkan tubuhnya. Ia sedikit membungkukkan tubuhnya, mendekatkan wajahnya, Yeri yang merasa risih dia menarik kepalanya sedikit ke belakang, membuat punggungnya seketika ikut tertarik.


Dan laki-laki itu tak mau menyerah, ia semakin mendekatkan wajahnya. Membuat Yeri hampir saja terjatuh ke belakang, dengan sigap tangan kanan Arga menangkap punggung Yeri.

__ADS_1


"jangan sok jadi pahlawan. Sekarang urus sendiri urusan cinta kamu. Jangan ikut campur dengan urusan cinta orang lain. Apa kamu paham?" jelas Arga.


"Bisa lepaskan aku gak?" tanya Yeri tajam.


"Oke!!" Arga melepaskan tangannya, kembali tubuh Yeri spontan terjatuh tepat di lantai bawahnya. Bukk….


"ARGAA……." teriak Yeri, memegang pinggulnya yang terasa sakit.


"Kenapa kamu jatuhkan aku?" pekik Yeri.


"Bukanya kamu yang minta?"


"Tapi bisa, kan, bantu aku berdiri dulu." Yeri mengulurkan tangannya ke depan. Berharap laki-laki itu menolongnya.


"Gak ada waktu." ucap jutek Arga, melangkahkan kakinya pergi.


Eh… Kamu… tolongin aku dulu." ucap Yeri.


"Berdiri sendiri, bukanya kamu punya kaki. Bisa berdiri sendiri, kan?"


"Iihhh…. nyebelin tahu gak.." geram Yeri mengumpat kesal. Memukul lantai di bawahnya berkali-kali.


Yeri menguncupkan bibirnya. Menghela napasnya kesal, ia mengusapdadanya berkali-kali.


Sabar, Yeri.. Ini cobaan.. sabar.. Sabar.. Gumam Yeri dalam hatinya, helaan napasnya keluar dari sela-sela bibirnya.


Dan Arga tak perdulikannya. Dia segera berjalan menuju ke dapur. Meminum satu gelas air putih. Dan sesekali dia melirik ke arah Yeri yang masih duduk di lantai.


"Kamu sekarang lebih suka duduk di lantai" tanya Arga, menarik sudut bibirnya. Membentuk senyuman tipis.


"Eh.. Kenapa kamu senyum-senyum?" tanya Yeri kesal.


"Siapa juga yang senyum!"


"Tadi itu apa?"


"Emm… Tadi aku mau tunjukin bibir manisku." ucap Arga sok tampan.


Yeri menarik sudut bibirnya, sembari mencibir pelan.


"Dasar sok tampan, sok manis, sejak kapan juga dia jadi manis?"

__ADS_1


"Diamlah! Jika kamu gak ingin aku lempar ini." Arga duduk di sofa, ia makan kacang yang ada di toples kaca depannya.


Yeri menggertakkan rahangnya, membuka lebar kelopak matanya. Mengejek lak-laki itu. Arga tak perduli lagi dengannya. Dan malah sibuk dengan cemilan dan juga tv depannya.


__ADS_2