Menjadi Istri Bayaran

Menjadi Istri Bayaran
Jutek


__ADS_3

Yeri baru saja masuk ke dalam ruangan ICU melihat ayahnya yang masih berbaring di kamar tidur pasien. Setelah kekuar, dia berjalan penuh keraguan mendekati Arga. Laki-laki itu berdiri di depan pintu sembari melipat ke dua tangannya. Menyandarkan punggungnya di dinding.


"Tuan," sapa Yeri gugup.


"Pembayaran rumah sakit ayahmu sudah lunas. Kamu bisa merawatnya sampai dia sadar." Arga. Berjalan lebih dulu meninggalkan Yeri.


Yeri yang semula ingin berterima kasih padanya. Harus mengurungkan niatnya. Perlakuan angkuh Arga membuat Yeri geram.


"Sialan, itu orang terbuat dari apa, sih? Dinginnya lebih dari kutup utara." gerutu Yeri. Dia menghela napasnya kasar. Menghe takkan kakinya. Bibir berkerut. Terpaksa harus berjalan sedikit ceoat mengikuti langkah kaki Alex yang sudah pergi menjauh darinya.


"Tuan, tunggu!" teriak Yeri. Arga menghe tikam langkahnya mendadak. Yeri yang tidak sempat mengerem langkah kakinya yang cepat. Dia menabrak punggung Arga.


"Aw--" runtuh Yeri. Mengusap keningnya beberapa kali.


"Bisa tidak, jangan berhenti dadakan!" gerutu Yeri.


"Jangan diam-diam berbicara tentangku." kata Arga. Dia membalikkan badannya. Sembilan puluh derajat. Arga memegang lengan tangan Yeri. Mencengkeramnya sangat erat.


"Ikut aku!" pinta Arga.


Yeri berdesis pelan. Dia menarik lengan tangannya dari cengkeraman Arga. "Aku, bisa jalan sendiri, Tuan!" Yeri menekankan suaranya.


"Aku tidak mau terlalu lama," ucap Arga.


"Kita kemana?" tanya Yeri.


"Ke kantor!"


"Kantor?"


"Iya, kamu harus bekerja juga."


Kuras mata Yeri membulat sempurna. Dia mengerjapkan kedua matanya gak percaya. "Bentar, tuan! Kamu yakin?" tanya Yeri memastikan.


"Aku harus bekerja disana?" tanya Yeri.


"Kenapa? Kamu menolaknya?" tanya Arga heran. Kedua nata itu menatap sangat dalam.

__ADS_1


"Iya, aku mau. Tapi, tuan tidak masalah jika saya kerja di tempat tuan?" tanya Bella memastikan.


Arga menghela napasnya. "Daim saja, dan ikuti apa yang aku katakan. Jangan menolak, aku juga tidak suka jika di tolak!


Yeri memutar matanya malas. Dia berusaha terlihat baik. Tapi, semuanya percuma. Alex masih saja datar padanya. "Bagaimana, apa kamu masih mau berdiri di tempat itu?


" tanya Arga


"Iya, bentar lagi. Saya akan mengurus semuanya." kata Yeri. Dia segera berjalan lebih dulu meninggalkan Arga. Yeri yang terlihat sangat gugup. Dia berusaha tetap tenang dan pergi dari hadapan Arga.


"Kenapa dia?" ucap Arga datar.


Yeri segera masuk ke dalam mobilnya. Yeri duduk tanpa menunggu Arga yang masih berjalan pelan ke arah mobilnya.


Arga duduk di samping Yeri. Dia masih saja diam. Tanpa berbicara dengan Yeri. Arga mulai menjalankan pelan mobilnya kekuar dari sana.


Tak mau terlihat begitu tegang. Yeri segera memalingkan wajahnya. Dia berusaha untuk santai. Suasana dalam mobil tampak begitu menegangkan. Arga yang hanya diam saja di mobil. Membuat dirinya tidak bisa berkutik. Aura mencengkam terasa menusuk ke tulangnya.


Beberapa menit perjalanan. Mereka hanya diam. Hanya hembusan ac yang menyeruak masuk ke dalam pori-pori kulitnya.


Kenapa dia hanya diam saja. Apa dia sariawan? Lagian, sudah jadi bisa sangat gak nantinya. ajukan Arga aja dapat berbicara.


"Setelah ini, aku akan panggilan seseorang untuk membantumu. Setelah itu, kamu mulai bekerja."


"Yeri menatap Arga tak percaya. Apa bener kuta harus bekerja?" tanya Yeri memastikan lagi.


"Kamu tidak mau?" tanya Arga.


"Aku ragu denganmu, tuan!" Yeri menekankan suaranya.


"Diam, dan mulai bekerja. Hans akan mengantarkan kamu ke tempat kami kerja nanti."


Yeri menghela napasnya. Ingin dia segera pergi. Tapi, dia terperangkap lagi. Kali ini kejebak yidak bisa pergi kemanapun. Yeri hanya bisa diam dan menerima perintah untuk bekerja.


"Boleh tanya?" ucap Yeri sangat hati-hati.


"Tanya, apa?" Arga bersiap mulai memeriksa beberapa dokumen yang akan dia tanda tangani."

__ADS_1


"Aku tadi baru saja dapat kabar. Jika oma ingin bertemu!"


"Kenapa kamu tidak bilang?" tanya Arga. Arga masih fokus dengan pekerjaannya. Dia tidak menatap sama sekali ke arah Yeri. Jemari tangan Arga fokus pada keyboard laptop. Dia menekan beberapa huruf di sana.


"Aku boleh tanya?" tanya Yeri gugup.


"Tanya apa lagi?" gerutu Arga. Dia mulai fokus pada beberapa dokumen yang dia periksa.


"Kapan kita menikah?" tanya Yeri.


"Kita menikah segera. Oma akan datang kesini. Jadi kamu diam saja. Dan lebih baik duduk di tempatnya.


Yeri menyulitkan matanya. Dia memastikan dengan apa yang di dengar nya tadi.


"Apa benar?" tanya Yeri.


"Oma, mau datang. Katanya dia ingin bertemu denganmu. Sudah aku bilang. Jika oma bisa bertemu di rumah. Tapi, katanya dia ingin bertemu sekadang," ucap Arga. Dia berjalan pelan mendekati Yeri. Berdiri teoat di depan Yeri yang masih diam mematung. Arga memegang tangan Yeri. Membantunya untuk segera duduk.


"Yeri, duduklah, dulu!" ucap Arga. Dia membantu Yeri duduk di sofa.


"Tenangkan dirimu dulu. Jangan terlalu tegang, sayang!" Arga mengusap lembut rambut Yeri. Dia tersneyum tipis padanya. Tak menyangka sebuah kecupan lembut mendarat di keningnya. Yeri terbelalak seketika. Yeri melirik ke atas. Melihat wajah Arga di atasnya.


Jantung Yeri berdebar lebih ceoat dari biasanya. "Apa yang kamu lakukan?" tanya Yeri.


Arga melepaskan kedepannya. Dia beranjak duduk di samping Yeri. Meriah ke dua tangan Yeri. Mengusap punggung tangannya. "Oma bilang dia bawa gaun pernikahan untukmu. Kamu bisa pilih nanti!"


"Pernikahan?" tanya Yeri. Di jawab drngan gangguan kepala oleh Arga.


"Apa kita menikah secepatnya?" bibir Yeri gemetar. Membaut Arga curiga padanya. Arga menyentuh bibir Yeri. Ibu jari tangan kanan ya mengusap lembut bibir bawah Yeri memutar ke bibir atas. Jantung Yeri selama mau keluar dari kerangkanya. Melihat bibir yang begitu menggoda Arga ingin sekali ******* bibir itu. Pikirannya berfantasi liar bisa bermesraan dengannya.


"Apa yang kamu lakukan?" Yeri menepis tangan Arga.


"Kenapa? Aku calon suamimu? Mau aku kecup atau aku sentuh itu terserahku!" kata Arga. Yeri menakutkan kedua alisnya. Dia mendekatkan wajahnya pada Arga. "Ingat, tuan! Kamu dan aku hanya menikah kintrak. Tidak berhak kamu menyentuhku. Anda bisa melanggar perjanjian anda sendiri," ucap Yeri pelan. Dia sengaja mengingatkan lagi Arga tentang perjanjian itu. Yeri menepuk bahu Arga.


Arga menarik pergelangan tangan Yeri untuk segera duduk kembali di tempatnya.


"Perjanjian hanya untuk kamu. Tidak ada perbaikan untuk aku!" jelas Arga. Dia bangkit dari duduknya. Sembari tertawa kecil. Berjalan kembali ke kursi kerjanya.

__ADS_1


Yeri mengerutkan bibirnya. Dia memutar otaknya. Mencoba untuk tetap tenang sejenak. Bagaiamana bisa jika dirinya nanti bertemu dengan Deon. Dan, Deon menceritakan semuanya. Dia pasti akan marah.


"Kenapa kamu diam?" tanya Arga.


__ADS_2