
"Oma… Tuh, Yeri." ucap Arga berjalan lebih dulu meninggalkan Yeri yang masih di belakang.
"Kenapa kamu gak gandeng dia masuk?" tanya Oma kesal.
"Dia bukan anak kecil oma. Kenapa juga digandeng kalau masuk?" gerutu Arga kesal.
"Arga…"
Panggil Oma dengan nada kesalnya. Membuat Arga menghentikan langkahnya. Dengan tangan yang sudah memegang pegangan tangga ke lantai dua.
"Bawa dia masuk!" pinta oma tajam.
"Kenapa, oma marah-marah terus." pekik Arga. "Dia itu punya kaki, masih sanggup buat jalan. Kenapa juga Aku harus gandeng dia kayak anak kecil saja." gerutu Arga tak kalah kesal.
Oma semakin menatap tajam ke arah Arga. "Kenapa oma melotot. Udah lihat tuh, di sana. Dia sudah bisa jalan sendiri masuk. Bukan anak kecil yang harus di tuntun saat jalan." umpat Arga. Memalingkan wajahnya acuh lagi, dan mulai menaiki anak tangga.
"Kamu mau kemana lagi?" tanya Oma emosi. "Aku meminta kamu bawa Yeri ke sini. Sekarang kamu malah pergi." teriak oma
"Aku mau pergi sebentar oma. Ke kamar mandi. Dari pada dengerin kata oma. lebih baik aku buang air kecil." ucap Arga. "Memangnya gak boleh?"lanjutnya.
"Boleh-boleh aja. Tapi kenapa kamu gak sambut dulu dia."
"Udahlah oma, jangan bawel dulu. Aku udah mau ke kamar mandi. Malah oma cerewetnya minta ampun." gerutu Arga segera lari masuk ke dalam kamarnya. Dia bergegas pergi ke toilet buang air kecil.
Berhadapan dengan oma. Seakan wibawanya sebagai boss merasa hancur. Dia terlihat seperti perempuan saat berhadapan dengan perempuan yang di anggapnya paling bawel di keluarganya.
Sedangkan Yeri dia baru saja melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah oma. Dan tak hentinya juga dia terus menggerutu gak jelas.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Oma menyebut kedatangan Yeri. Dengan sebuah pelukan lembut. Dengan kecupan di pipi kanan dan kirinya.
"Oma… Arga mana?" tanya Yeri.
"Dia masih di toilet. Memangnya kamu sekarang sudah tidak sabar, ya mau berduaan lagi dengannya." goda Oma Mely.
"Apaan, sih. Oma. Gak juga, kok. Lagian juga aku hanya ingin kasih tadi dia sesuatu." gumam Yeri.
"Memangnya mau kasih tahu apa?" tanya Oma penasaran.
__ADS_1
"Ya.. Sesuatu oma, yang penting sebuah ketulusan cinta dari seseorang. Pokoknya dia nyebelin banget oma. Dia itu ta…"
"Yeri…." panggil Arga, yang baru saja keluar dari kamar mandi. berlari turun menuju ke arah Yeri Ke dua mata Yeri menatap ke arah Arga. Ia menghentikan ucapannya.
Arga menginjak kaki Yeri. Agar dia tetap diam. Tidak berbicara apa apa lagi tentang hubungannya dengan Cia. Kalau sampai oma tahu. Dia pasti akan marah besar dengannya.
"Aww---"
"Kenapa, Yeri, Kamu sakit?" tanya Oma.
Yeri tersenyum tipis. "Gak kok, oma. Aku hanya tadi ke injak kaki seseorang." ucap Yeri sembari melirik tajam ke arah Arga.
"Oo.. Ya, udah. Sekarang kalian duduk dulu. Tadi Lucas sudah bilang padaku. Kalau kamu tadi masih perawatan." ucap Oma menuntun Yeri untuk segera duduk di sofa.
"Iya… Oma. Setelah Lucas pergi. Tadi ada yang ganggu Yeri. Bahkan dia menarik tangan Yeri untuk pulang. Padahal Yeri belum selesai semua perawatan rambutnya." gumam Yeri menguntupkan bibirnya kesal.
Oma menatap ke arah Arga tajam. "Udah nanti sama oma. Oma akan temani kamu ke salon lagi." gumam oma. Mengusap punggung Arga.
"Beneran oma?" tanya antusias Yeri. .
"Oma juga ingin terlihat cantik." ucap oma.
Arga memutar matanya seketika. "Oma, cantik dari mana? Udah tua juga wajah tetep sama. Gak ada cantik-cantiknya." ejek arga memutar matanya.
"Kamu jangan salah. Oma, dulu masih suka gak kalah cantik dari Yeri. Bahkan oma jadi idaman semua cowok."
"Kan, itu dulu oma. Sebelum semuanya mulai keriput." ledek Arga.
"Arga…" geram Oma menatap tajam ke arah Arga.
Arga meringis seketika. "Hehe.. Udah, oma jangan marah. Tadi aku hanya bercanda oma. Beneran, Arga hanya bercanda." gumam Arga beralasan.
Arga memegang pundak oma. Memijatnya perlahan. "Udah, ya. Oma jangan marah lagi. Kalau oma sering marah. Wajah oma tambah keriput. Dan semakin hati sekalian tua."
"ARGAAA….."
"Iya, oma." jawab Arga pelan.
__ADS_1
Yeri yang duduk di samping mereka seketika tertawa melihat ulah Arga. Wajah yang semula memendam kesedihan itu. Sekarang bisa tertawa lepas. Apalagi jika oma selalu di gandengkan dengan Arga. Yang memang dari dulu suka jahil sama oma. Dan dia anak paling bandel dari pada Gio.
Tapi soal wanita Gio pemenangnya. Dia suka gonta-ganti wanita. Dan Arga. Selalu setia pada satu wanita. Bahkan sampai sekarang. Seakan cinta pertama itu sulit di lupakan.
"Oma.. Jangan marah. Arga, kan sudah bilang." ucap Arga.
"Cepat turunkan tangan kamu dari pundaknya. Aku gak capek." ucap Oma kesal.
"Tapi oma gak marah, kan?" tanya Arga memastikan.
"Oma tetep marah sama kamu." pekik Oma, membenarkan posisi duduknya. Dengan tangan memegang pundaknya Yang terasa sangat capek.
"kalau kamu memberi oma cucu. Beda lagi ceritanya. Oma akan selalu senang. Dan tidak marah lagi padamu." gumam Oma.
"Apa….?" ke dua mata Arga melotot seketika. Seakan bola matanya ingin kluar dari kerangkanya.
Shitt.... Kenapa oma selalu saja ingin Yeri segera hamil. Kalau Yeri gak bisa hamil gimana? Lagian aku juga belum melakukannya dengannya. hanya menyentuhnya saja. Dan gak mungkin hamil, kan? Ah… Dasar oma… ada saja permintaannya. Tapi… Kau tetap saja… Gak mau punya anak dulu. Ribet.
"Oh, ya! Arga. Aku ingin bicara sama kamu. Kalau malam. Kamu harus sering minum obat. Atau kamu biar kamu bisa tahan lama dengannya."
"Apaan, sih oma. " gerutu Arga kesal.
"Kalau gak mau, ya. Sudah.. Gimana kamu bisa tahan lama di ranjang. Lagian Yeri pasti betah lama-lama." goda Oma.
"Enggak….." tegas Arga.
"Oh, ya. Tentang Cia.. Apakah kamu pernah bertemu dengannya?" tanya Oma. wajahnya mulai serius kembali saat berbicara dengan nama Cia. Seakan nama itu sakral di ke keluarga mereka.
"Kamu sudah pernah bertemu dengannya?" tanya Oma menatap ke arah Yeri.
"Belom, oma. Dia belum pernah bertemu dengannya." jawab Arga.
"Aku bicara dengan Yeri. Bukan bicara denganmu." pekik Oma kesal.
"Oma, kan aku juga suami Yeri. Jadi oma bisa bicara denganku juga. Kita juga satu pasangan. Nanti saling cerita juga," ucap Arga terlihat sedikit memaksa. Dia merasa dirinya begitu ingin tahu tentang apa hang akan di bicarakan oma pada Yeri nanti. Kenapa oma tidak ingin jika dirinya tau.
"Oma, mau cerita pada ku? Apa yang oma ingin katakan?" tanya Arga lagi.
__ADS_1