
Dua hari kemudian. Kedua mata Yeri tampak sayu. Dia hanya menatap dirinya dari balik cermin. Tubuh mungil itu sudah di balut dengan gaun putih menyapu lantai. Gaun yang terlihat egitu panang. Kedua ujung kaki bahkan tidak terlihat. Wajah cantik itu sudah di balut dengan make up tipis, Yeri memegang satu ikat bunga di genggaman tangannya.
Aku akan menikah, tapi aku merasa ada yang kurang. Memang ini buka pernikahan yang sesungguhnya. Tapi, saat melihat ayah masih terbaring di ranjang pasien. Aku tidak berdaya lagi. Aku akan melakukan apapun agar ayahku bisa sembuh. Dan, jika nantinya aku harus jadi istri sekamanya juga tidak masalah.
Lihat wajahku begitu menyedihkan. Aku harusnya bahagia, tapi kenapa wajahku masih saja datar. Yeri memejamkan kedua matanya perlahan. Saat dia membuka matanya. Keduamata itu membulat sempurna saat dia melihat sosok laki-laki yang berjalan pelan ke arahnya. Yeri menatap laki-laki itu dari pantulan cermin di depannya.
“Arga?” ucap Yeri.
“Kamu sudah siap? Pernikahan akan di mulai, dan nanti akan mengucapkan ijab Kabul denganmu. Dan, ini pertama kalinya dalam hidupku. Gaun ini memang sangat indah dan pas untuk tubuhmu.” Ucap Arga tepat di telinga kanannya. Yeri terdiam, tubuhnya menegang, Yeri berusaha menelan salivanya susah payah. Jemari tangan Arga memegang pinggangnya, dagu laki-laki itu menyandar di pundaknya.
"Bukannya kamu ingin menggodaku?" bisik Arga. Bulu roma Yeri muali berdiri. Merasakan hembusan napas berat Arga berdesir di telinganya.
"Sekarang, siapa yang lebih dulu menggoda." jemari tangan Arga menyentuh perlahan memeluk perut Yeri. Jantung Yeri berdetak lebih cepat dari biasanya. Wajahnya mulai menegang. Dia menatap wajahnya sendiri di depan cermin. Wajah yang mulai memerah.
"Lihatlah wajahmu?" Arga memegang dagu Yeri dari belakang. Mengangkat kepalanya menatap cermin.
"Aku tahu, jika kamu malu. Atau, kamu ingin aku mdnggodamu?" tanya Arga
Terkekeh kecil. Dia melepaskan dagu Yeri kasar.
"Aku tidak akan tergoda olehmu. Lakukan sesuai dengan perjanjian. Jangan melebihi batas. Jika perjanjian sudah selesai. Hubungan kita juga akan berakhir," ucap Yeri.
Deg!
Yeri terdiam seketika. Dia tidak bisa bertanya apa-apa lagi. Dirinya merasa sakit mendengar hal itu.
__ADS_1
Yeri menarik naoansya dalam-dalam. Sembari kedua nata ikut terpejam.
Apa aku mulai suka dengannya? Tidak, mungkin, kan? Itu hal gila yang aku rasakan nantinya. Tapi, kenapa aku tidka rela jika dia bilang seperti itu?
Yeri membuka matanya lebar. Dia tidak mau terlihat lemah. Yeri membalikkan badannya. Dan, segera menatap wajah Arga. "Bukanya kamu yang menggodaku. Kamu yang menciumku lebih dulu, kamu yang membuat aku seperti ini. Kamu yang menggodaku. Sekarang kamu bilang perjanjian. Kamu tidak ingat di pesta itu?" Yeri meninggikan suaranya. Yeri mencengkeram gaun miliknya. Menariknya sedimit ke atas. Dia berusaha melangkah perlahan mendekati Arga.
"Jangan pikir aku lemah, kamu bisa seenaknya. Jika aku tidka butuh uang mU segera. Maka aku juga tidak akan mau menikah denganmu." Yeri menarik kerah jas milik Arga lebih dekat dengannya.
"Tuan, Arga, yang terhormat!" Yeri menekankan suaranya. Kedua mata menatap tajam Arga.
"Asal kamu tahu. Aku sama sekali tidak tertarik denganmu. Aku juga tidak akan pernah jatuh cinta atau bahkan mau satu ranjang denganmu."
Arga menepis tangan Yeri sangat kasar. Wanita itu hampir saja terjatuh. "Jangan pikir kamu wnaita paling cantik. Aku memang mendekatiku hanya untuk satu perjanjian. karena aku harus segera menikah. Tapi, kekasih ku tidak mau menikah lebih dulu. Dan, aku memilihmu," jelas Arga.
Yeri menarik sudut bibirnya sinis. "Kamu bilang jika kamu tidak punya pasangan. Bahkan adikmu juga bilang itu. Ternyata keluarga kalian semua pembohong?"
Yeri memukul dada bidang Arga. "Kamu pikir kamu bis menyakitiku. Tidak akan, aku tidak akan pernah sama sekali peduli denganmu,"
Arga mengulurkan tangannya ke arah Yeri. Membaut wajah Yeri tampak bingung. Dia hanya diam menatap tangan Arga di depannya. "Lupakan, pertengkaran ini. Sekarang, lebih baik ikut aku!"
"Kita akan menikah. Lakukan semuanya drngan baik. Aku tidak mau jika oma tahu jika aku hanya pura-pura denganmu. Lakukan secara profesional. Ingat, aku sudah membayar semua pengobatan ayahmu. Aku memberikan kamu uang sesuai dengan apa yang kamu minta," kata Arga.
"Baiklah, tapi kamu harus tahu. Jika aku tidak mau kamu melarangmu melakukan tugasku sebagai kencan bayaran."
"Apa kamu gila?" Arga berteriak sangat keras. Ya ga lantang itu me gejutkan Yeri. Dia seketika bergidik takut melihat kemarahan Arga.
__ADS_1
"Kamu mau buat malu aku?" tanya Arga. Sembari menahan amarahnya. Dia menggerak kesal. Mengepalkan kedua matanya.
"Kamu mau mencoreng nama baik keluargaku? Terus, kamu jalan dengan laki-laki lain. Rekan bisnis tahu, jika kamu punya laki-laki lain. Apa aku tidak malu, hah?" Arga meninggikan suaranya.
"Kenapa kamu marah?" tanya Yeri.
"Jika nanti kekasihmu dagang lagi padamu. Kami juga akan pergi dengannya. Kamu juga pasti akan jalan dengannya." jelas Yeri menarik salah satu alisnya ke atas. Dia melangkah lagi mendekat. Menusuk-nusuk dada Arga drngan telunjuk tangannya.
"Jangan seenaknya sendiri. Jangan pikir aku bisa menuruti apa yang kamu katakan. Jika kamu berulah, aku juga akan berulah, wanita tidak akan buta hanya karena suaminya. Apalagi suami pura-pura.
Arga hanya diam, dia menarik tangan Yeri. Menyeretnya untuk kekuar dari ruangan itu. Yeri hampir saja terjatuh ke depan beberapa kali. Arga tidak pedulikannya. Dia perlakukan dirinya sangat kasar.
"Jika kamu hanya ingin berhubungan denganku. Maka hari ini, kita akan langsung berhubungan. Aku akan bawa kamu ke sebuah hotel berkelas di sini." kata Arga membungkam bibir Yeri.
"Iya, tapi lepaskan aku!" pinta Yeri berusaha melepaskan cengkeraman tangan Arga yang semkin kuat.
"Tidak, kita akan menikah. Semuanya sudah menungg!"
"Aku pikir kamu orang baik. Ternyata aku salah. Pikiranku salah, kamu sama saja sepertu laki-laki pada umumnya," umpat Yeri.
Arga hanya diam, dia menarik tangan Yeri. Membiarkan tangan itu memeluk lengan tangannya. Arga membawanya untuk keluar dari ruangannya. Berjalan pelan menemui beberapa keluarga yang sudah menunggu. tetapi kedua orang tua Arga tidak datang. Mereka masih sibuk dengan pekerjaannya di luar negeri.
"Tersenyumlah!" pinta Arga. Yeri menarik napasnya, dia mencoba untuk tersenyum meski hanya senyumanpaksa hang keluar di bibirnya.
Mereka berjalan di atas panggung. Semua orang menatap ke arahnya dnegan sangat menarik perhatian. Wajahnya yang begitu cantik. Dan, terlihat sangat anggun.
__ADS_1
Arga beranjak duduk, dia membantu Yeri untuk duduk. Yeri masih bingung dengan sikap Arga. Dia hanya pasrah duduk di sampingnya.