
"Tuan, rapat hari ini sudah selesai. Dan apa tuan ingin menemui Yeri?" tanya Jun. Mencoba mengingatkan tuannya. Lagian Jun tahu jika dari tadi tuannya itu sedang memikirkan sesuatu. Tapi dia tak mau bicara tentang apa yang di pikirkan. Sepertinya dia masih malu.
"Baiklah, di mana dia sekarang" tanya Arga
"Bukanya dia di perusahaan oma?" jawab Jun, menatap ke arah Arga.
"Iya, maaf aku lupa. Oh, ya! Tolong nanti selesaikan semuanya. Aku akan pergi sekarang." Arga bangkit dari duduknya. Berjalan menghampiri Jun yang masih berdiri tertunduk. Tak berani menatap tuanya. Dia benar-benar merasa sangat takut jika tuanya tiba-tiba marah gak jelas padanya. Karena itu sudah kebiasaan Arga selalu marah-marah saat ada masalah.
"Kemana tuan?" tanya Jun.
"Bukan urusan kamu, tapi aku mau sendiri." ucap Arga sedikit jutek. Wajah Jun seketika tertunduk ke dua kalinya.
Jun tahu, sepertinya tuanya itu masih ada masalah. Dan dia tak mau banyak bicara lagi. Yang penting sekarang, dia sehat, dan gak berbuat nekat lagi. Seperti sebelumnya yang selalu minum, padahal Jun tahu tuanya itu jarang sekali minum.
"Baik, tuan. Tapi tolong jangan minum." Jun menundukkan kepalanya.
Arga terkekeh kecil. "Jun, kamu kenapa? Sapa juga yang mau minum di siang hari gini." Arga melangkahkan kakinya mendekati Jun, menepuk pundaknya. Dan berbisik pelan. "Aku minum air putih, kalau enggak, aku dehidrasi gimana?"
"Maaf, tuan. Tadi maksutnya minum alkohol." gumam Jun menundukkan kepalanya kesekian kalinya.
"Jangan terlalu banyak menunduk, Jun. Aku bukan monster yang harus kamu takuti."
"Tenang saja, aku gak,akan. Minum alkohol." ucap Arga menepuk-nepuk pundak Jun dua kali. Lalu melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Jun yang masih berdiri tertunduk di ruangannya. Setelah terdengar suara pintu tertutup, dan Arga sudah keluar dari ruangannya. Saat itu Jun menoleh, dan ikut keluar dari ruangannya.
Arga berjalan keluar dari kantor. Menuju ke sebuah parkiran mobilnya.
"Kalau sampai adik aku macam-macam, awas saja. aku jitak kepalanya. Lagian kenapa juga dia ambil start untuk bisa dapatkan Yeri." gerutu Arga, lalu masuk ke dalam mobilnya. Menyalakan mesin mobilnya, dan seketika melaju dengan kecepatan sedang menembus jalanan raya.
Arga menatap ke arah jalan di depannya. Rasanya. Entah kenapa pikirannya jadi kacau seperti ini. Gak tenang, dan tiba-tiba juga selalu ke pikiran wanita itu.
"Drrrtt… Drttt…"
Suara ponsel bergetar membuat Arga menghentikan mobilnya di bahu jalan. Ia mengambil ponsel di sakunya. "Siapa lagi yang telfon, kenapa dia selalu ganggu." gumam Arga. Wajahnya yang semula malas mengambil ponselnya. Seketika dia terbelalak saat melihat panggilan masuk dari oma.
"Kenapa dia selalu menggangguku? Apa dia memang sengaja?" gumam Arga, ia menghela napasnya frustasi. Lalu memalingkan wajahnya sejenak. Ia mencoba berpikir, di angkat atau tidak, kalau tidak di angkat pasti marah? kalau di angkat, pasti juga marah-marah.
Arga memejamkan matanya, ia menjauhkan ponselnya dari telinganya. Sebelum ada bom meledak nantinya. Ke dua matanya mengernyit melirik Ponselnya dari jauh. Lalu mulai menerima panggilan telfonya.
"Semoga gak ada bom meledak lagi yang buat jantungan." Arga mengeraskan volumenya sedikit.
"ARGAAAAAAAAAA………" teriak oma-nyaa dari balik telfon itu.
Tuh, kan. Baru aku angkat sudah teriakannya membuat orang mendengar bisa mati jantungan.
"Oma, apa gak bisa pelan sedikit bicaranya. ingat umur oma," jawab Arga.
__ADS_1
"Oma masih muda, jangan bilang oma tua."
Emm.. Muda kenapa rambutnya sudah putih, lagian kulitnya gak bisa kenceng lagi. Terus Badannya juga sudah rapuh. Oma ada-ada saja." gumam lirih Arga. Dengan nada sedikit mengejek.
"Apa katamu?" pekik Oma meninggikan suaranya lagi. Seketika Arga yang semula santai, ia menutup kupingnya. Suara keras oma lama-lama buat jebol kendang telinganya.
"Oma, udah. Lama telinga aku sakit mendengar teriakan oma." ucap Arga.
"Ada apa, oma telfon aku? Jangan lama-lama juga kalau bicara. Bisa-bisa gendang telingaku bermasalah gara-ara oma."
"Dasar cucu kurang ajar."
"Oma, aku udah sering di ajar. Kurang ajar gimana?"
"Arga.. Aku mau kamu temui oma nanti. Kamu sudah bikin Oma tua kamu ini kesal."
Tadi bilangnya muda, sekarang tua. Apa oma sudah pikun sekarang?
"Siap, oma."
"Kamu di mana sekarang?" tanya oma, nada suaranya masih tinggi.
"Di jalan, oma. "
"Ada urusan, oma."
"Baiklah, nanti ke rumahku. Aku gak mau tahu lagi "
"Ya, nanti pulang kerja oma. Salah sendiri. Yeri diperkajaan di Mix diam-diam tanpa memberi tahuku." gerutu Arga, meluapkan isi hatinya.
"Aku gak mempekerjakan dia." oma menurunkan nada suaranya.
"Terus siapa?"
"Ini pasti kejaaannya Gio. Dia yang membuat Yeri bekerja di sana."
"Kalau gitu urus saja Gio." pekik Arga.
"Aku akan urus dia. Sekarang kamu ambil alih perusahaannya. Aku gak mau kamu dan Yeri jauh. Dan semakin dekat, maka bumbu cinta kalian akan semakin mendalam" gumam oma.
Arga menelan ludahnya, mendengar hal itu membuat telinganya semakin gatal. Siapa juga yang suka dengannya. Arga juga bahkan membantah jika suka dengan Yeri. Meski entah dirinya juga sangat bingung dengan perasaannya sendiri.
"Oma, yakin Gio yang mengurus perusahan aku?" tanya Arga memastikan.
"Kenapa? Gio itu bisa lebih dari kamu. Asalkan mau belajar. Setidaknya di usia mudanya mau mengurus perusahaan. Gak seperti kamu, selalu saja memikirkan pacar kamu yang dulu. Gak jelas lagi." ejek omanya. Ia sangat ingat tentang pacar Arga dulu. Dan dirinya bahkan selalu bertemu denganya. Meski tak begitu akrab.
__ADS_1
Wajah Arga berubah ekspresi seketika. Wajah yang semula senyum berubah cemberut dalam hitungan detik saja.
"Oma, jangan bahas itu lagi." ucap tak suka Arga.
"Siap yang bahas tentang itu. Oma, hanya mengingatkan kamu. agar kamu lebih fokus bekerja dan istri kamus sekarang." ucap Oma.
"Sekarang kamu mau kemana?" tanya oma lagi.
Arga terdiam sejenak. Jika aku baru tahu oma. Dia pasti menggoda lagi. Lebih baik diam saja. Dan langsung ke tempat lokasi. Dari pada mendengarkan ocehan oma yang gak ada habisnya.
"Arga. Satu hal. Jangan sampai lupa segera datanglah ke rumahku. Aku gak mau tahu lagi. dan gak boleh membantah. Dan sekarang, kamu temui tuh, Yeri. Aku juga gak mau kalian jauh. Apalagi bekerja di tempat yang berbeda. Kalau Yeri di dekati laki-laki lain apa kamu akan diam saja
Arga mematikan ponselnya. Tanpa berpamitan lebih dulu pada oma. Ia yang merasa sudah gerah, melemparkan ponselnya di jok belakang mobil.
Iya terlalu banyak bicara. Membuang buang waktuku saja.
"Arga.. Arga.. Arga.. Dasar cucu kurang ajar. Oma belum selesai acara sudah di matikan. Apa dia mau cari masalah." gerutu omanya kesal.
---------
"Kalau aku terus mendengarkan ocehannya gak ada habisnya. Aku bisa gak sampai ke kantor Gio tepat waktu.
Arga menarik napasnya dalam-dalam, ia mulai menanyakan mesin mobilnya. Melaju lagi menuju ke kantor Gio. Meski gak tahu, gimana nanti dia menyembutnya. 15 menit sampai di sebuah kantor Gio. Dia merapikan jas hitam yang membalut tubuhnya. Dua pengawal menyambutnya, dan salah satu orang membuka pintu mobilnya. Mereka menyambut dengan baik kedatangan Arga. Seolah memang sudah tahu sebelumnya.
Tap.. Tap.. Tap..
Suara langkah kaki Arga memalingkan pandangan semua pegawai Gio. Dia menatap ke arahnya. Dengan tatapan kagum, bahkan semua berhenti berjalan hanya untuk memandang seorang laki-laki berjalan dengan langkah tegap. Menunjukan wajah tampannya yang begitu mempesona.
"Dia sangat tampan…"
"Iya. Melihatnya seketika hatiku meleleh."
"Eh.. bukanya itu pemilik Morgan group?" sambung yang lainya.
"Apa kamu tahu?"
"Iya, aku yakin itu dia. Biasanya memang dia masuk di tv. Dan katanya dia juga sudah menikah."
"Ah.. Menikah, patah hati aku."
"Tapi kenapa dia di sini?" timpal pegawai wanita lainnya.
"Bos kecil kita itu adiknya dia."
"Wah.. Ternyata seisi rumah semua tampan. Aku mau tanya pada ibunya dulu ngidam apa kalau hamil bisa mendapatkan laki-laki tampan."
__ADS_1