
"Sekarang segera baca aturan itu," pinta Arga. Sembari berdesis pelan. Dia berusaha untuk tetap tenang dan dingin berhadapan dengan wanita seperti Yeri
Tanpa menjawab Yeri, mulai membaca aturan itu satu persatu dengan nada lirih.
Aturan pernikahan kontrak.
Jangan pernah tidur bersama.
Tidak boleh jatuh cinta satu sama lain.
Jangan terlalu dekat.
Harus melayani suami. Membantu membuatkan kopi atau menyiapkan baju.
Menuruti apa yang di katakan oleh suami.
Tidak boleh pergi dengan laki-laki lain. Atau, berpacaran dengan laki-laki lain.
Harus berakting sebaik mungkin di depan keluarga. Menunjukan jika suami istri yang bahagia.
Perjanjian ini hanya berlaku selama 1 tahun. Selebihnya biarkan suami yang mengatur.
Boleh pergi sendiri ke rumah keluarga. Tapi, jangan pergi bermain keluar.
Harus menyiapkan makanan sesuai jadwal yang sudah di te tukan di daftar makanan sehari-hari .
Harus patuh semua perintah dari suami. Jangan menolaknya, apapun perintahnya. Jika menolak akan di kenakan sanksi membayar denda sesuai keinginan suami.
Tidak boleh membuat masalah di manapun. Ingat, kamu hanya di perintah aku. Kamu hanya milikku.
Yeri membalik lembaran kertas itu. Dia membaca dalam hatinya . Lembaran kedua hanya bertuliskan tentang perjanjian tersebut menjadi perjanjian berdua. Tidak ada paksaan sama sekali. Perjanjian yang di selesaikan acara baik-baik. Kesepahaman berdua. Atas nama dirinya dan Arga. Bahkan Arga sudah menandatangani perjanjian itu. Dengan segera Yeri meriah kertas yang ada di sampingnya. Jemari tangannya mulai menggambar tanda tangan bermaterai tepat di atas namanya.
Yeri menghela naoansya. Di pikirannya sekarang hanha uang. Dia bisa mendapatkan uang. Meski harus menikah paksa dengan orang yang sama sekali tidak Dia cintai. Tapi, ini sudah aturan dia tidak boleh melanggarnya untuk kedepannya.
"Sudah selesai," ucap Yeri. Dia menutup map itu. Dengan wajah penuh senyuman. Dia memberikannya kembali pada Arga.
__ADS_1
"Kapan peraturan ini berlaku?" tanya Yeri.
"Saat kamu sudah mulai masuk ke dalam rumahku. Aturan, ini akan berlaku." Arga tersneyum tipis melihat aturan itu sudha di tanda tangani oleh Yeri.
"Wanita yang begitu malang," kata lirih Arga. Dia kembali memasang wajah dingin dan juteknya. Menatap ke arah Yeri yang ada di depannya.
"Belum, kamu harus menandatangai semuanya." pinta Arga jutek.
Yeri menghela napasnya. Dia sedikit mengerutkan bibirnya.
"Hanya perjanjian yang mudah, aku tidak permasalahkan semuanya," Yeri dengan penuh semangat dia mengambil bolpoin yang sudah di siapkan di atas meja. Dia berusaha untuk tetap santai. Saat jemari tangannya mulai mengukirkan sebuah tanda tangan di kertas putih. Semua kertas itu sudah ada tanda tangan dirinya.
"Sudah selesai," ucap Yeri.
"Baik, makasih!" Arga menarik kertas itu dari tangan Yeri. Dia segera meletakkan di atas meja. Arga menyentuh dagu Yeri, menariknya sedikit ke atas. Kedua mata mereka saling tertuju satu sama lain.
"Kamu harus patuh padaku." pinta Arga. Arga mendekatkan wajahnya. Senyuman tipis terukir di bibirnya. Senyum penuh dengan intrik. Bukannya takut, Yeri membalas senyuman arga. Dia semakin mendapatkan wajahnya. Hingga hembusan napas mereka saling menyatu satu sama lain.
"Apa yang kamu lakukan, tuan muda Arga. Apa anda mau menggodaku di awal?" tanya Yeri menarik salah satu alisnya. Arga menarik kembali tubuhnya. Dia memalingkan wajahnya dari pandangan mata Yeri.
"Sekarang, kamu bisa pergi. Biarkan sopir pribadinya yang antarkan kamu pulang," pinta Arga. Berjalan pelan menuju ke kursi kerjanya. Arga beranjak duduk di kursi kerjanya.
"Tidak usah, biarkan aku saja yang antar dia," saut seorang laki-laki yang entah sejak kapan dia sudah berada di ruangan Arga. Yeri menoleh ke sumber suara. Dia menatap ke arah Gio yang tersenyum simpul padanya. Sembari mengedipkan satu matanya menggoda.
"Lagian ada yang ketinggalan, aku lupa bawa dia pulang sekalian!" kata Gio.
"Kamu mau mendekati calon kakak ipar kamu?"
"Bukannya kakak ipar juga harus dekat dengan adiknya. Lagian, apa masalahnya. Dia juga nanti akan jadi bagian dari keluarga kita. Keluarga kamu juga keluargaku," jawab Gio.
"Baiklah, jaga kakak ipar kamu dengan baik. Jangan menggodanya," pinta Arga.
"Siap, bos!" jawab antusias Gio.
Yeri hanya diam, Dia bangkit dari duduknya. Dan, bersiap pergi. Lagian dia pergi kemana saja itu juga terserah dirinya. Dia tidak betah berasa di ruangan tuan Arga terlalu lama. Banyak pasang mata yang melihatnya dengan tatapan tak suka di sana.
Yeri meriah tas miliknya di atas meja. "Oke, aku boleh pergi, kan?" tanya Yeri.
"Silahkan!"
__ADS_1
**
Yeri pergi bersama dengan Gio. Dia satu mobil untuk kesekian kalinya. Kali ini laki-laki itu melirik ke arah Yeri.
"Makasih!" ucap Gio.
"Untuk apa?" tanya Yeri.
"Tapi, sebelumnya aku mau minta maaf padaku."
Yeri menoleh menatap Gio dari samping. Laki-laki itu fokus pada jalan di depannya.
"Jangan marah padaku!"
"Tidak!" jawab Yeri.
"Aku mau jujur padamu. Sebenarnya semua ini adalah rencana awal dariku. Aku yang menyampaikan semuanya. Bukannya kamu sudah tahu dari awal saat pesta." Gio melirik sekilas ke arah Yeri beberapa detik.
"Akhirnya kamu mau jadi istri kakakku, aku tidak tahu lagi harus bagaimana. Saat aku bingung harus mencari calon istri untuk kakak aku. Aku terpikir untuk menyewa kamu."
"Iya, kamu merencanakan semuanya agar aku dekat dengan kakak kamu. Awalnya ini adalah mimpi buruk. Aku malu dengan semuanya. Tapi, aku pikir mungkin memang kamu benar. Menikah dengannya lebih berguna. Meski aku terpaksa harus berpura-oura jatuh cinta padanya nanti. Aku pura-pura menikah, pura-pura bahagia."
"Aku yakin semuanya akan berakhir bahagia,"
"Entahlah! Aku tidak berharap hal itu terjadi. Ada seseorang yang sangat aku sukai. Dan, entah apa aku bisa bersamanya nanti. Sepertinya aku juga harus mengubur dalam-dalam keinginan aku," ucap Yeri menjelaskan semuanya. Dalam hati kecilnya dia merasa menyesal. Tapi dia terpaksa melakukan semuanya demi ayahnya. Dia ingin pengobatan yang terbaik untuk ayahnya. Dan, ini jalan satu-satunya sumber uang untuknya.
"Maaf, aku mengacaukan rencana kamu." kata Gio.
Yeri pura-pura tersneyum bahagia di depan Gio. "Iya, tenang saja. Ini sudah jalan yabg akh ambil. Aku bersedia menikah. Aku bersedia menanggung semua resikonya,"
"Apa kamu terlalu butuh uang?" tanya Gio memastikan.
"Iya," jawab datar Yeri. Senyuman itu seketika memudar dari bibir Yeri. Dia memalingkan wajahnya. Menghindari tatapan Gio.
Gio menepuk pi.dak Yeri menepuk pundaknya dua kali. "Aku juga akan bantu kamu jika butuh uang," kata Gio.
"Tidak perlu!" jawab Yeri.
"Aku udah pernah bilang. Jika kamu butuh uang bilang padaku. Tapi, temani aku jalan-jalan saat aku bahagia atau aku ingin sendiri." jelas Gio.
__ADS_1
"Gimana dengan kakak kamu?" tanya Yeri.
"Aku bicasa bantu kamu percuma. Lagian kakak aku hanya belikan, ini itu semuanya Tanpa hal lain?