Mentari di Langit Malam

Mentari di Langit Malam
Masa Lalu : Negosiasi


__ADS_3

4 tahun yang lalu..


“Pernahkah kamu berpikir bagaimana nasibmu jika tidak dilahirkan di keluarga ini?”


Pertanyaan yang konyol. Aku tetap melanjutkan membaca novel dan membiarkan kakakku melanjutkan ocehan tidak masuk akalnya. Aku tidak tahu masalah apa yang sedang dia hadapi hingga membuatnya kembali mengoceh tentang terlahir sebagai bagian dari keluarga Allison. Dia sudah sering melakukan hal seperti ini tahun-tahun sebelumnya yang membuat kakak pertamaku berdebat panjang dengannya. Untungnya saat ini hanya ada aku dan dia, bisa dipastikan dia hanya akan mengoceh seorang diri.


Buk.


Sebuah bantal mendarat tepat di wajahku, mengenai hidungku.


“Apakah keluarga kita mengajarkan untuk mengabaikan ucapan orang lain?”


Aku benar-benar membenci pemilik suara ini. Kuangkat wajahku dan mendapati kakak pertamaku sudah duduk di hadapanku. Kutaruh novel yang sedang kubaca ke atas meja. Kakak pertamaku benar-benar patuh pada aturan keluarga. Dia satu-satunya pewaris keketatan peraturan keluarga karena mau tidak mau dia akan menjadi pewaris.


Kualihkan pandanganku pada kakak keduaku yang sekarang sudah duduk dengan benar. Kakak pertamaku bernama William Henry Albert Allison dan nama kakak keduaku Robert Arthur Henry Allison. Aku selalu bertanya-tanya bagaimana bisa diantara kami bertiga hanya William satu-satunya yang mewarisi sifat ayah. Baik aku dan Arthur mewarisi sifat ibu yang terkesan lebih bebas dan sering melawan aturan. Tetapi entah kenapa aku lega dan bersyukur, bukan aku ataupun Arthur yang akan mewarisi perusahaaan milik Keluarga Allison. Aku sudah bisa membayangkan hanya dalam waktu satu minggu perusahaan akan hancur jika dipimpin olehku dan kakak keduaku.


“Aku mengabaikannya karena Kak Arthur berbicara omong kosong,” jawabku.


“Apa keluarga kita juga mengajarkan untuk mengabaikan pembicaraan walaupun penuh dengan omong kosong?”


Kupejamkan mataku. Aku sangat membenci kuliahnya tentang tata krama keluarga. Kutengokkan wajahku ke arah Arthur yang sekarang menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia menyuruhku untuk tetap diam sebelum William lebih lanjut akan menanyakan pembicaraan omong kosong apa yang terjadi.


“Ken akan datang,” ucap William setelah mengusap rambutku saat mengambil bantal yang dia lemparkan padaku.


“Benarkah?!” tanyaku sedikit menjerit.


“Wah… suasana hatimu benar-benar mudah untuk dibaca,” ucap Arthur.


“Bolehkah aku pergi?”


“Pergilah.”


“Hati-hati dengan senyumanmu. Semua orang bisa membacanya!!” teriak Arthur diikuti lemparan bantal ke arahnya oleh William.


Ken adalah teman masa kecilku. Kami selalu menghabiskan waktu bersama sejak di dalam kandungan. Kedua orang tua kami adalah teman baik dan tentunya sudah merencanakan tentang pernikahan kami mulai dari sebelum kami berdua lahir ke dunia. Saat masih kuliah, ayahku dan ayahnya membuat janji yang konyol untuk menjodohkan anak mereka jika berbeda jenis kelamin tentunya. Walaupun sudah diatur tetap saja aku dan Ken belum mengumumkan pertunangan kami. Ayah mengatakan akan mengumumkannya saat usia kami 18 tahun, beliau beranggapan itulah usia dimana perlahan kami sudah bisa mengambil keputusan dengan benar dan sekarang usia kami sudah 18 tahun.


Kutarik tangan bibi yang selalu membantuku sejak kecil. Aku rasa senyum yang merekah di wajahku sudah cukup menjadi jawaban dari pertanyaan yang belum sempat dilontarkan olehnya. Bibi mulai menyisir rambut panjangku dan mengepangnya dengan lembut dan penuh kasih sayang. Ken sangat menyukai kepangan rambut. Aku tidak tahu apakah dia memang menyukai kepangan atau menyukaiku yang mengepang rambut. Sepertinya aku terlalu percaya diri akhir-akhir ini.


“Baju apa yang harus aku kenakan?” tanyaku tidak sabar.

__ADS_1


“Nona,” ucap Bibi dengan suara yang tenang.


“Hmmm?” jawabku sembari mengangkat wajah ke arah Bibi yang masih mengepang rambutku.


“Nona sangat menyukainya bukan? Bibi harap Nona akan selalu bahagia.”


“Tentu, Zeta akan bahagia.”


...-----...


“Ucapkan lagi apa yang baru kamu ucapkan,” ucap William dengan tegas.


Semua orang terdiam. Suasana yang aku kira akan penuh dengan tawa bahagia seperti biasa ternyata penuh dengan ketegangan. Kulihat ayah yang masih dengan santainya melahap makanan. Aku bahkan sudah hilang selera begitu Ken mengucapkan kalimat pertamanya. Aku tidak tahu apakah ayah berada dipihakku saat ini atau dipihak Ken.


“Saya mencintai perempuan lain. Pertunangan antara Saya dan Zeta pasti akan terjadi di masa depan karena itu saya meminta untuk mengundurnya hingga usia kami 20 tahun. Sekarang biarkan saya menata perasaan yang saya miliki.”


Kling.


Ayah melemparkan garpu dan pisau ke atas meja dan membuat suasana kembali hening. Kutatap Ken yang sedari tadi menatapku. Sepertinya aku tahu siapa yang selama 2 bulan ini dia bicarakan. Seseorang yang aku kira adalah diriku ternyata orang lain. Sangat menyakitkan saat tahu kebenarannya dan sangat menyakitkan saat aku tahu harapan yang aku buat telah menghancurkan diriku sendiri.


“Apa ayahmu tahu apa yang kamu perbuat saat ini?” tanya Ayah sembari mengusap mulutnya dengan napkin.


“Tidak," balas Ken tanpa ragu.


“Bisakah Zeta berbicara berdua dengan Ken?” tanyaku akhirnya membuat Arthur ikut melempar garpu dan pisau ke atas meja.


“Lakukan apa yang menurutmu benar, Ibu akan menunggumu di ruang baca.”


Hanya anggukan yang aku berikan sebagai jawaban. Sekarang di ruang makan hanya ada aku dan Ken. Dia masih terus menatapku, tatapan seseorang yang tidak ingin kehilangan sesuatu dalam hidupnya. Sekarang aku tahu dengan pasti, dia hanya tidak ingin kehilangan perempuan itu dan juga persahabatan antara keluarga kami.


“Apa dia perempuan yang selalu kamu ceritakan selama 2 bulan terakhir?” tanyaku memecah hening yang bertahan selama 5 menit.


“Awalnya aku tidak percaya saat orang-orang mengatakan jika kamu sangat mudah dibaca. Kita sudah saling mengenal sejak kecil, aku tidak menyadari betapa mudahnya kamu dibaca. Saat teman-teman lain mengatakan kamu menyukaiku, aku tidak mempercayainya tetapi sekarang aku mempercayainya..”


“Kamu tidak menjawab pertanyaanku,” potongku tidak ingin berbasa-basi lagi.


“Aku tidak pernah menyukaimu, dari kita kecil hingga sekarang. Aku selalu menganggapmu sebagai adikku. Aku ingin memberi batas yang jelas pada hubungan kita.”


Batas?

__ADS_1


Dia sudah membuat batas, batas yang tidak bisa aku tembus hingga akhirnya dia sendiri yang menghilangkan batas itu. Batas yang dia bangun sejak kami SMP dan baru dia hancurkan dua bulan yang lalu. Batas seperti apa lagi yang akan dia bangun?


“Saat usia kita 20 tahun, apakah kamu akan meminta keluarga kita untuk membatalkan perjodohan kita?”


“…”


“Baiklah, beri aku waktu hingga ulang tahunku. Selama waktu itu, aku akan menata perasaanku dan akan memberikan keputusan bahkan sebelum usia kita 20 tahun.”


“…”


“Kamu tidak akan pernah menjadi perempuan yang akan aku cintai. Jangan melakukan apapun. Kumohon,” ucapnya.


“Baiklah, aku akan mengikuti apa yang kamu minta.”


...-----...


Aku ingin menjadi tokoh antagonis yang menghancurkan tokoh utama di dalam suatu cerita. Aku ingin menjadi seseorang yang jahat dan egois untuk mendapatkan apa yang aku inginkan tetapi realita menghampiriku dengan kecepatan cahaya yang membuatku tidak bisa menghindar. Aku tidak akan bisa menjadi tokoh antagonis maupun protagonis dalam suatu cerita. Aku selamanya hanya akan menjadi pemain figuran yang tidak memiliki satupun peran penting.


Sudah dua minggu sejak kejadian itu dan aku melalui hari-hari seperti biasa yang membuat keluargaku kebingungan dan ketakutan. Kebingungan karena tidak ada gadis remaja yang tidak menunjukkan apapun setelah patah hati dan ketakutan karena sekarang aku sedang menyembunyikan perasaanku yang sebenarnya untuk kali pertama dalam hidupku. Ternyata mudah menjadi seseorang yang menutupi perasaannya. Sangat mudah hingga membuatku ingin terus menjadi diriku yang sekarang.


Kualihkan pandanganku pada kaca spion depan dimana William dan Arthur sedang melihatku bergantian. Mereka terus melihat ke belakang dan membuatku takut William akan menabrak kendaraan di depan kami. Kuputuskan untuk memberikan senyum seperti biasa. Begitu melihat senyumku, Arthur langsung memutar tubuhnya ke belakang dan melihatku secara langsung.


“Anak bodoh,” ucapnya.


Semua orang akan menjadi bodoh saat jatuh cinta dan semua orang akan kembali menjadi rasional saat patah hati. Sangat ironis, saat kita bahagia kita justru menjadi bodoh dan saat kita sedih kita kembali menjadi orang yang pintar. Sepertinya otak dan hati tidak akan pernah berjalan di jalan dan arah yang sama. Salah satu diantara mereka harus mengalah demi kebahagiaan sang pemiliknya.


Kembali kualihkan pandanganku keluar. Seseorang yang sangat aku kenal, seseorang yang baru menolakku dua minggu yang lalu sekarang sudah berjalan berdampingan dengan perempuan lain. Mereka mengobrol dan tertawa bersama seolah hanya ada mereka berdua di dunia ini. Tawa yang palsu, aku tidak tahu mana diantara keduanya yang menjadi palsu. Atau mungkin diriku yang menginginkan apa yang aku lihat saat ini adalah sebuah kepalsuan bukan ketulusan.


“Bagaimana bisa dia….”


“Kak, apakah mencintai dan dicintai akan membuat kita bahagia? Apakah aku akan seperti mereka saat menemukan seseorang yang aku cintai dan mencintaiku?” tanyaku memotong sebelum umpatan-umpatan keluar dari mulut Arthur.


“…”


“Apakah aku tidak bisa menemukan seseorang yang mencintaiku?”


“Banyak yang mencintaimu,” jawab William dengan cepat.


“Mereka hanya takut karena kamu berasal dari keluarga Allison,” lanjut Arthur membuat William memukul kepalanya.

__ADS_1


“Maka aku akan mencari seseorang yang tidak takut pada keluarga Allison.”


...-----...


__ADS_2