
Ruang kerja ayah adalah satu-satunya ruangan di rumah yang belum pernah aku masuki. Bahkan saat aku masih berada di usia penuh dengan rasa ingin tahu, aku tidak memiliki satupun rasa penasaran dengan ruang kerja ayah. Bukan karena aku sudah tahu semua yang ada di dalam ruangan itu tetapi karena aku tahu semua yang masuk ke dalam ruangan itu akan merasakan sebuah ketidaknyamanan, kecuali ibu tentu saja. Arthur hanya masuk ke ruangan ini saat dia melakukan kesalahan, kesalahan yang sebenarnya banyak kaitannya denganku, dan di ruangan ini Arthur mendapatkan banyak hukuman. Aku tidak pernah menanyakan hukuman seperti apa yang Arthur dapatkan karena aku tidak ingin membuatnya mengingat kembali hukuman itu. Setiap kali dia keluar dari ruangan ayah, tidak ada satupun luka di tubuhnya, aku cukup lega dengan hal itu tetapi aku juga khawatir jika hukuman yang ayah berikan kepadanya dalam bentuk verbal. Tidak ada seorangpun yang tahu seberapa menyakitkannya hukuman verbal selain mereka yang menerimanya.
Dan, disinilah aku sekarang, berada di dalam ruangan yang tidak pernah ingin aku masuki...
Berbeda dengan kesan kelam yang selalu aku lihat setiap kali orang-orang keluar dari ruangan, ruangan ini memiliki kesan yang cukup hangat. Sepertinya kehangatan yang aku rasakan berasal dari susunan barang-barang yang ditata rapi oleh ibu dan juga pemilihan interiornya menambah kehangatan di ruangan ini. Di dalam ruangan ini juga terdapat sebuah pintu untuk ruangan lain, sepertinya pintu itu akan mengarah langsung ke kamar kedua orang tuaku yang letaknya juga berada di sebelah ruangan ini. Ide itu berasal dari ibu yang di masa lalu selalu melihat ayah bekerja dan tidur di ruang kerja ini. Ibu pernah menceritakan bagaimana ayah di masa-masa awal pernikahan mereka hanya menghabiskan waktunya di ruangan ini selama satu bulan penuh. Setelah kelahiran William, ibu ingin ayah sedikit berubah dan akhirnya menyatukan ruang kerja ini dengan kamar, sesuatu yang cukup berhasil melihat bagaimana sekarang ayah lebih banyak menghabiskan waktunya di dalam kamar bahkan saat sedang meninjau dokumen penting.
Aku seorang diri berada di ruangan ini karena begitu aku dan Arthur sampai di rumah, ayah langsung menyuruhku masuk ke dalam ruang kerjanya dan meninggalkan Arthur sendirian di ruang keluarga. Aku tidak tahu apa yang terjadi kepada Arthur, aku juga tidak mendengar suara apapun dari luar. Aku takut sesuatu terjadi kepada Arthur tetapi aku juga tahu ayah tidak akan melakukan hal yang akan menyakiti Arthur.
Sekarang aku tahu, sendirian di ruangan inilah yang membuat orang-orang menjadi ketakutan saat keluar dari ruangan. Ayah selalu membuat tamunya menunggu untuk waktu yang cukup lama di ruangan ini, seperti sedang memberikan waktu kepada tamunya untuk memikirkan kembali apa yang ingin mereka ucapkan. Sama halnya dengan tamu-tamu ayah, saat ini ayah ingin aku memikirkan kembali perbuatan dan kesalahan apa yang sudah aku perbuat hari ini. Aku benar-benar membenci perasaan tidak tenang ini.
Aku memutuskan berjalan menuju meja kerja ayah untuk menghilangkan perasaan tidak tenang di hatiku. Aku melihat sebuah dokumen yang bertuliskan Natasha Anthony Tindall, sepertinya ayah sudah tahu semua yang terjadi kepadaku hari ini. Aku masih merasa asing dengan nama lengkap Natasha, nama yang seharusnya bisa membuat dirinya memiliki semua yang dia inginkan. Hanya sebuah nama memang tetapi nama itu bisa membuat banyak perubahan dalam hidup seseorang. Aku memutuskan untuk tidak membuka dokumen itu lebih jauh karena tidak ingin melanggar batas yang selama ini aku buat. Aku kembali menyapu meja kerja ayah dan menemukan banyak foto di atas meja. Sebagian besar foto milik ibu yang berada di atas meja ini, foto terbanyak kedua adalah fotoku, dan hanya ada satu foto keluarga di ujung kanan meja. Tidak ada foto individual milik ayah, William, ataupun Arthur di meja ini, mungkin ayah menganggap aneh untuk meletakkan foto anak laki-lakinya di meja kerja miliknya. Atau mungkin foto kedua kakakku tidak bisa membuang lelah ayah saat bekerja sehingga tidak menaruh foto individual mereka di atas meja ini. Aku kembali mengamati setiap sudut ruangan ini dan tanpa kusadari, langkah kakiku sudah menuju jendela besar yang berada di belakang meja kerja ayah. Aku baru menyadari jika ruang kerja ayah juga terhubung dengan taman belakang rumah, taman dimana ibu sering menghabiskan waktunya. Akhirnya aku tahu alasan kenapa ibu tidak pernah sekalipun absen mengunjungi taman belakang walaupun hanya sekadar duduk diam menikmati bunga di taman. Hal itu karena ibu tahu jika ayah selalu mengamati dan menjadikan belaiu sebagai penghilang dalam bekerja sehingga mau tidak mau ibu harus terus melakukan peran itu dan menjadikan kunjungan taman belakang sebagai sebuah kewajiban.
Apa kewajiban yang ibu lakukan itu juga bagian dari cinta?
"Sangat indah bukan?"
Aku langsung memutar tubuhku ke arah sumber suara dan mendapati ayah yang berjalan menuju sofa. Aku hanya berdiam diri mengamati tubuh ayah yang sekarang sudah duduk. Aku masih mencoba memproses apa yang sedang terjadi dan apa yang harus aku lakukan. Belum sempat otakku selesai memproses, salah satu pelayan masuk ke dalam ruangan membawa beberapa camilan kesukaanku dan meletakkannya di atas meja, di depan sofa tempat ayah duduk. Seperti tahu jika suasana di ruangan ini bukanlah suasana yang bersahabat, pelayan itu langsung keluar ruangan tanpa mengatakan apapun.
Ayah menuangkan teh ke cangkirnya dan melihat ke arahku sebentar sebelum akhirnya menyeruput teh earl grey. Aku berjalan menuju sofa tempat ayah duduk begitu ayah kembali melihat ke arahku setelah selesai menyeruput teh dari cangkirnya. Aku memutuskan untuk duduk di sofa depan ayah, membuatku duduk berhadap-hadapan dengan ayah.
"Natasha memberi Zeta kunci ini," ucapku membuka percakapan. Aku meletakkan kunci beserta kalung yang Natasha berikan kepadaku ke atas meja. Aku sangat tahu ayah tidak menyukai basa-basi di saat seperti ini dan tidak ada untungnya bagiku menunggu ayah menanyakan beberapa pertanyaan karena dari sorot mata ayah saat ini, beliau menginginkanku menceritakan semuanya walaupun beliau sudah tahu apa yang terjadi.
"Zeta mohon bantu Natasha,” lanjutku setelah mendapati ayah hanya menatapku tajam.
"Ayah sudah mendengar semuanya, jika Ayah membantu Natasha maka Ayah bisa mendapatkan seluruh Perusahaan Tindall. Tetapi, apa yang akan Ayah dapatkan dari Zeta?"
"..."
"Ayah sudah mencari semua informasi tentang Natasha dan semua yang dia ceritakan kepada Zeta adalah kebeneran. Ayah akan memutuskan membantunya setelah bertemu langsung dengannya. Sekarang, Ayah hanya ingin tahu apa yang akan Ayah dapatkan dari Zeta?"
"Apa itu akan mempengaruhi keputusan Ayah?"
"Tentu."
"Apa yang Ayah inginkan dari Zeta?"
"Ayah dibesarkan di lingkungan yang keras bahkan lebih keras dari pamanmu, Zeta. Ayah yang saat itu hanyalah cadangan pamanmu mendapatkan perlakukan dan didikan yang luar biasa keras dari kedua orang tua Ayah. Ayah selalu berpikir betapa tidak adilnya kakekmu karena bahkan Paman Nyle tidak ia didik sekeras ia mendidik Ayah padahal saat itu pamanmu-lah yang menjadi ahli waris. Ayah hanya menerima semua perlakukan itu tanpa pernah sekalipun memberontak karena Ayah tahu sekeras apapun Ayah mencoba untuk memberontak hanya siksaan yang akan Ayah dapatkan. Perlakuan dan didikan yang Ayah terima menjadikan Ayah seseorang yang berhati dingin, tidak mengenal apa itu cinta, kasih sayang, dan kehangatan."
"Bahkan saat menikah dengan ibumu, Ayah tidak memiliki perasaan apapun kepadanya. Ayah selalu berusaha untuk menghindari ibumu setiap kali Ayah pulang ke rumah. Bahkan ada saat dimana Ayah merasa rumah ini adalah neraka karena kehadiran ibumu. Ibumu yang dibesarkan di keluarga yang penuh kasih sayang dan kelembutan selalu mencoba membuka hati Ayah tetapi tidak ada satupun usahanya yang berhasil. Kelahiran kedua kakakmu tidak membuat Ayah berubah, Ayah tetap menjadi seseorang yang dingin. Ayah bahkan menurunkan cara kakekmu dalam mendidik Ayah kepada kedua kakakmu. Bahkan Ayah mendidik Arthur lebih keras dibandingkan saat Ayah mendidik William. Hal itu agar membuat Arthur bisa menyaingi William, dan saat itu Ayah tersadar alasan sebenarnya kakekmu mendidik Ayah dengan keras karena mereka ingin paman merasa tersaingi hingga akhirnya berusaha lebih keras. Sepertinya pamanmu tidak mendapatkan pesan itu tetapi kakakmu mendapatkannya. William berusaha lebih keras dalam segala hal agar tidak tersaingi oleh Arthur walaupun pada akhirnya Arthur tetap menyainginya, kedua kakakmu berada di tingkat sekolah yang sama saat dimana seharusnya Arthur berada satu tingkat dibawah William. Apa Zeta tahu apa yang merubah Ayah?"
"Zeta?” panggil ayah menyadarkanku.
"Bagaimana Zeta merubah Ayah? Zeta tidak tahu," jawabku sembari menggelengkan kepalaku.
"Kelahiran Zeta bukan penyebabnya karena Zeta tidak membuat Ayah berubah bahkan setelah 2 tahun usiamu. Ayah berubah saat kamu berusia 3 tahun, saat itu adalah saat dimana ibumu merasa sangat lelah dan ingin bercerai dengan Ayah. Ayah merasa bingung dengan apa yang harus Ayah lakukan karena sebuah surat perceraian yang ibumu berikan. Ayah mencoba mencari bantuan dari kedua orang tua ibumu, Ayah bahkan tidak mencoba berbicara dengan ibumu tetapi justru berbicara dengan orang tuanya. Sangat menyebalkan bukan sikap Ayah?"
"Mungkin?" balasku ragu-ragu.
"Saat Ayah pulang dari kantor, Ayah mendapati ibumu sedang bermain-main denganmu dan itu adalah kali pertama Ayah melihat ibumu bisa tersenyum setulus dan penuh cinta seperti itu. Ayah merasa cemburu denganmu saat itu dan itulah kali pertama Ayah menyadari perasaan yang Ayah miliki untuk ibumu. Ayah membencimu saat itu tetapi kemudian tatapan yang kamu berikan kepada Ayah membuat dunia Ayah berubah. Senyuman yang kamu berikan kepada Ayah perlahan mengisi hati dingin Ayah dengan kehangatan yang sudah lama Ayah lupakan. Tingkah lucumu mengisi seluruh ruang hati Ayah dengan kedamaian. Dan kehadiranmu membuat Ayah semakin tidak ingin berpisah dengan ibumu. Sejak saat itu, Ayah berubah menjadi sosok yang seperti sekarang. Cinta yang ibumu berikan kepadamu perlahan membuat Ayah ikut mencintaimu.”
“Tidak ada alasan. Ayah jatuh cinta untuk kedua kalinya kepada anak perempuan Ayah. Dan jika kamu menanyakan alasan mengapa kedua kakakmu begitu mencintaimu, mereka akan memberikan jawaban yang sama dengan Ayah, 'tidak ada alasan'. Kamu adalah hidup kami."
"Apa yang ingin Ayah coba sampaikan kepada Zeta?"
__ADS_1
"Apapun yang kamu lakukan, apapun yang kamu katakan, apapun yang kamu rencanakan, dan apapun yang kamu inginkan, semua itu akan berdampak kepada keluarga ini. Pusat keluarga ini adalah kamu, Zeta."
"..."
"Saat kamu ingin mencoba melindungi seseorang, saat itu juga kami akan melindungimu."
"Maafkan, Zeta. Seharusnya...."
"Tidak, Zeta bisa melakukan semua yang Zeta inginkan tetapi Ayah ingin Zeta bertanggung jawab dengan pilihan Zeta. Menolong Ken, menolong Natasha, bukan hanya Zeta yang terlibat tetapi seluruh anggota Keluarga Allison juga terlibat," potong Ayah.
Ayah memberikan tatapan lembut miliknya kepadaku selama beberapa detik sebelum akhirnya beliau kembali meminum teh. Beliau menolehkan kepalanya ke arah jendela besar yang menampilkan taman belakang rumah. Seperti seseorang yang sedang mencoba menyelami kembali masa lalunya, ayah terus menatap penuh rindu ke arah taman seolah ada sesuatu yang hilang dari taman itu dan ayah menginginkannya kembali.
Aku pernah mendengar cerita yang baru saja ayah ceritakan kepadaku dari ibu, hanya saja sekarang dari sudut pandang ayah dan ceritanya tidak selengkap cerita ibu. Ibu mengatakan jika beliau jatuh cinta pada pandangan pertama kepada ayah saat mereka berada di sekolah. Saat-saat itu memang ayah tidak terlalu peduli dengan orang-orang yang berada di sekitarnya tetapi ibu terus mengamati dan mencoba mencari tahu semua hal tentang ayah, sesuatu yang selalu dilakukan perempuan saat sedang jatuh cinta. Hingga suatu ketika keluarga ayah berkunjung ke rumah keluarga ibu sebagai bentuk kunjungan teman lama karena ternyata kedua kakekku sudah bersahabat dari saat mereka berada di bangku sekolah dasar tetapi terpisah karena Kakek Phillip, kakek dari keluarga ibu, melanjutkan sekolah di Prancis.
Kedua kakekku kembali bertemu setelah sekian lama karena keduanya menghadiri acara reuni, acara yang bahkan tidak pernah Kakek Ally, kakek dari keluarga ayah, datangi. Sejak saat itulah, hubungan kedua kakekku kembali seperti saat mereka masih berada di sekolah dasar dan hal itu membuat ibu yang saat itu jatuh hati kepada salah satu anak laki-laki Allison menjadi sedikit bahagia. Bahkan kedua kakekku ikut terkejut saat tahu jika kedua anaknya berada di sekolah yang sama. Jika saat itu, Kakek Ally tidak memutuskan datang ke acara reuni, mungkin aku dan kedua kakakku tidak akan terlahir ke dunia ini.
Keluarga ibu bisa terbilang sebagai sebuah keluarga yang tidak terlalu berpengaruh seperti Keluarga Allison, lebih seperti keluarga yang mengamati semua hal yang terjadi dan akan mengikuti arus kemana kekuasaan itu bergerak. Kunjungan yang terus-menerus terjadi menjadi sebuah awal dari pilihan kemana Keluarga Norvin, keluarga ibu, bergerak. Awal mula kunjungan yang Kakek Ally lakukan memang sebagai sebuah kunjungan teman lama tetapi perlahan Kakek Ally menunjukan niat yang sebenarnya dimana beliau ingin menjodohkan pamanku dengan salah satu anak perempuan Keluarga Norvin.
Saat itu, seharusnya ibu yang dijodohkan dengan Paman Nyle tetapi ibu mengatakan ingin menikahi orang yang dia cintai dan merasa tidak akan bisa mencintai pamanku. Ibu bahkan mengatakan tidak akan sanggup menjadi pendamping dari calon kepala Keluarga Allison berikutnya dan menginginkan perjodohannya dengan paman tidak terjadi. Membutuhkan waktu satu bulan lamanya hingga akhirnya ibu mengatakan yang sebenarnya kepada kakek, sesuatu yang membuat semua orang terkejut saat itu karena hampir semua perempuan akan lebih menginginkan menjadi istri pamanku dibandingkan menjadi istri dari ayahku yang hanya anak kedua dari Keluarga Allison.
Apakah setelah semua itu perjalanan ibu mudah? Tidak.
Kakek Ally terus meminta ibu untuk mencoba satu atau dua kali berkencan dengan Paman Nyle dan membuka hatinya secara perlahan. Kakek merasa hanya ibu yang cocok menjadi pendamping paman, sesuatu yang bahkan hingga sekarang masih diyakini oleh kakek dan membuat ayah marah setiap kali kakek membahasnya. Paman yang sudah tahu alasan sebenarnya dibalik penolakannya tidak bisa memaksa ibu tetapi paman juga tidak mungkin menolak perintah kakek. Hingga akhirnya paman menyetujui pertemuan yang diatur untuk berkencan dengan ibu dan tentunya ibu dengan berat hati juga menyetujui pertemuan itu.
Siapa sangka, ayahlah yang datang ke acara pertemuan itu menggantikan paman. Saat itu, hubungan ayah dan ibu sudah bukan lagi orang asing tetapi sahabat karena pertemuan kedua keluarga yang terus menerus terjadi dan juga karena mereka satu sekolah. Ibu juga merasa jika ayah sangat memahami dirinya dan mudah untuk diajak diskusi, tipikal laki-laki yang menurut ibu akan membuat banyak perempuan jatuh hati. Saat tahu jika ayah yang menemuinya, tidak tahu apa yang merasuki ibu saat itu hingga akhirnya memberanikan diri mengatakan semuanya kepada ayah tentang perasaannya dan perjodohannya. Ayah hanya diam tidak merespon apapun dan membuat ibu merasa berada dititik terbawah hidupnya karena laki-laki yang dicintainya tidak memiliki perasaan apapun kepadanya.
Selama satu minggu penuh ibu mengurung diri dan menolak bertemu dengan siapapun, bahkan ibu sampai dirawat di rumah sakit setelah satu minggu lamanya mengurung diri di kamar. Sesuatu yang mungkin juga terjadi kepadaku jika saja aku masih belum bisa mengatur kondisi mentalku dengan baik.
Orang lain akan mengatakan jika ayah juga jatuh cinta kepada ibu tetapi ibu sangat tahu jika ayah tidak mencintainya. Bahkan saat kakek bertanya apakah ayah mencintai ibu, ayah menjawab dengan sebuah gelengan. Hingga saat ini tidak ada yang tahu alasan ayah melakukan hal itu. Ibu juga tidak berani menanyakan alasannya kepada ayah karena ibu takut untuk mengetahui kebenarannya. Ibu merasa sudah cukup saat dimana ayah tidak mencintainya diawal pernikahan mereka, ibu tidak ingin alasan di masa lalu itu justru membuat pernikahannya yang sekarang menjadi hancur hanya karena sebuah alasan yang mungkin terdengar manusiawi jika melihat sikap dingin ayah di masa lalu.
Seperti yang ayah ceritakan, setelah pernikahan ayah selalu menghindari ibu dengan pulang ke rumah di saat semua lampu sudah dimatikan. Ayah selalu menghindari semua hal yang berkaitan dengan ibu, bahkan ayah menolak untuk hadir di acara keluarga dan reuni. Kedua orang tuaku baru memiliki hubungan layaknya sepasang suami istri setelah ada tuntutan cucu yang datang dari kedua kakekku. Tuntutan itu membuat William dan Arthur hadir dalam keluarga kecil kami. Ibu tidak terlalu merasa bahagia dengan kelahiran kedua kakakku karena ayah tidak pernah melihat ke arah kedua kakakku saat mereka baru lahir.
Ayah baru menjalankan tugasnya sebagai seorang ayah hanya saat kedua kakakku berusia 1 tahun. Sebenarnya ayah memiliki alasan dibalik ketidakhadirannya sebagai seorang ayah, beliau sibuk dengan bisnis yang tiba-tiba dilimpahkan kepadanya dan tidak ingin kehadiran seorang bayi membuatnya harus membagi waktu antara pekerjaan dengan anak. Sebenarnya ayah cukup bertanggung jawab dengan mempekerjakan banyak pengasuh tetapi tetap saja ibu menginginkan sosok ayah bersama dengannya merawat anak-anak mereka.
Setelah berusia 1 tahun, kedua kakakku mulai dikenalkan dengan peraturan Keluarga Allison, membuat ibu semakin merasa gagal menjadi seorang ibu karena tidak bisa memberikan masa kecil seperti yang anak-anak lain miliki. Ayah bersikap belum memperlakukan ibu sepenuhnya sebagai istrinya, lebih seperti ayah hanya menganggap ibu sebagai rekan bisnisnya. Saat itu, ibu merasakan dua kegagalan dalam hidupnya, gagal sebagai seorang istri dan gagal sebagai seorang ibu. Diantara kedua kegagalan itu, kegagalan menjadi seorang ibulah yang paling mempengaruhi keyakinan ibu untuk tetap berada di Keluarga Allison.
Hingga akhirnya ibu mengandungku, sebuah kehamilan yang tidak direncanakan. Ibu hampir menggugurkanku sebelum akhirnya memutuskan untuk mempertahankanku karena melihat seorang ibu yang kehilangan anaknya saat beliau pergi untuk kontrol. Ibu tidak ingin Tuhan marah kepadanya karena tidak bersyukur atas apa yang telah Tuhan berikan kepadanya. Ibu mempertahankanku dengan perasaan yang tidak begitu bahagia hingga ibu tahu jika anak yang dikandungnya adalah seorang perempuan. Ibu merasa ada sebuah harapan dalam hidupnya dengan kehadiranku. Dan seperti kehamilan-kehamilan sebelumnya, ayah tidak pernah menemani ibu berkunjung ke dokter.
Ayah juga mengetahui kehamilan ibu dari rekam medis keluarga yang rutin ayah cek setiap bulan. Ayah sempat menanyakan alasan kenapa ibu tidak memberitahu kehamilannya ataupun meminta ayah menemani periksa ke dokter seperti kehamilan sebelumnya yang hanya dijawab oleh ibu dengan kalimat, 'aku sudah lelah menunggumu'. Kalimat yang saat itu menurut ibu membuat ayah sedikit menunjukkan perubahan dalam dirinya dengan beberapa kali datang ke tempat periksa dokter tanpa sepengetahuan ibu. Jika aku boleh menyimpulkan, aku rasa ayah mulai takut kehilangan ibu sejak saat dimana ibu menunjukan betapa lelah dirinya menunggu ayah. Walaupun aku tidak tahu apakah kesimpulan yang aku buat benar atau tidak.
Setelah kelahiranku, ibu merasa kembali hidup dan beberapa orang yang bekerja di rumah juga mengatakan jika kelahiranku membuat ibu menjadi kembali ceria. Bahkan ibu mulai kembali menata rumah ini, membeli berbagi macam pernak-pernik. Ibu dan rumah ini kembali hidup setelah kelahiranku, sesuatu yang membuat para pekerja di rumah ini menjadi bahagia.
Hal yang berbeda dengan kelahiranku adalah ibu yang tidak mengizinkanku berhubungan dengan ayah dimana saat kelahiran kedua kakakku, ibu selalu berusaha agar kedua kakakku dapat berhubungan dengan ayah. Melihat bagaimana ayah mendidik William dan Arthur, membuat ibu ingin menyelamatkan masa kecilku dan tidak membiarkan ayah mendekatiku. Hingga batas toleransi ibu mencapai batasnya, saat dimana ayah membuat William dan Arthur bersaing satu sama lain dan akan menghukum siapapun yang kalah di hadapan yang menang. Ibu tidak bisa menyelamatkan William saat itu dan membuat William harus ditangani oleh psikiater di usia 4 tahun karena dia memiliki rasa rendah diri yang cukup tinggi. Tentunya hal itu dikarenakan Arthur yang selalu bisa mengalahkannya. Ibu terus menyalahkan dirinya karena tidak bisa menjadi ibu yang baik untuk kedua anak laki-lakinya. Rasa bersalah itu membuat ibu tidak ingin anak perempuannya juga merasakan hal sama. Dan, akhirnya ibu meminta bercerai dengan ayah.
Sejak ibu memberikan surat perceraian kepada ayah, ayah mulai berubah. Perubahan yang dikatakan beberapa orang cukup drastis, seperti ayah menjadi orang lain. Ayah mulai berhenti membuat kedua kakakku saling bersaing walaupun keduanya terus bersaing tanpa mereka sadari hingga mereka berada di bangku SMP. Aku tidak mengingat perubahan apa yang terjadi pada ayah, aku hanya mengingat ayah yang selalu diam-diam memberikan mainan dan makanan kesukaanku. Ayah bahkan bermain denganku saat ibu sedang tidak mengawasiku.
Ayah juga melakukan semua yang aku inginkan, bahkan saat aku meminta ayah untuk bermain rumah-rumahan denganku dan membuat ayah memakai pakaian perempuan lengkap dengan riasan wajah, ayah tetap melakukannya. Ayah juga menolongku saat aku mencoba mengambil mainan di tangga dan membuatku hampir terjatuh, ayah langsung menarikku ke dalam pelukannya dan membuat ayah yang terjatuh dengan posisi terlentang dimana aku berada di bagian atas tubuh ayah saat itu. Aku rasa hanya aku yang memiliki ingatan masa kecil yang indah dibandingkan kedua kakakku.
"Ayah ingin Zeta beristirahat," ucap ayah menyadarkanku kembali dari lamunan panjang.
"Apa maksud Ayah?'
"Home schooling dan fokus pada pengobatan," ucap ayah sembari meletakkan sebuah dokumen rekam medis milikku di atas meja.
__ADS_1
"Tidak ada home schooling di sekolah," jawabku terbata-bata dan takut.
"Ayah bisa membuat peraturan itu."
"Ayah, jangan sentuh sekolah itu," pintaku memelas.
"Ayah bukan menanyakan kesediaan Zeta tetapi Ayah sedang memberitahu apa yang harus Zeta lakukan."
"Berjanji pada Zeta, Ayah tidak akan melakukan apapun kepada Sekolah Elizabeth."
"Zeta, Ayah tahu betapa pentingnya Stephanie dalam hidupmu."
"..."
"Paman Chester ingin melihat sejauh mana Stephanie mempertahankan keinginannya."
"..."
"Obat yang Dokter Esme resepkan sudah ada di kamar. Zeta bisa keluar sekarang."
"Maafkan Zeta dan terima kasih Ayah," ucapku sebelum keluar ruangan.
William dan Arthur langsung menyambutku begitu aku menutup ruang kerja ayah. Ada sesuatu yang terjadi di antara mereka, sesuatu yang tidak bisa aku jelaskan tetapi bisa aku rasakan. Ada sebuah jarak diantara mereka, jarak untuk tidak saling melukai. Dan ada sebuah perasaan dingin diantara mereka, perasaan yang menciptakan jarak itu. Aku yakin sesuatu telah terjadi.
Arthur mengusap lembut rambutku sebelum akhirnya mendorong pelan tubuhku menjauhi pintu. Dia langsung masuk ke dalam ruang kerja ayah tanpa mengatakan apapun. Aku langsung menoleh ke arah William, meminta sebuah penjelasan apa yang sebenarnya telah terjadi.
"Ayah sudah tahu tentang CCTV yang Arthur manipulasi."
Begitu mendengar ucapan William, aku langsung mencoba meraih gagang pintu ruang kerja ayah. Usahaku sia-sia karena William langsung menarik paksa lenganku dan membawaku masuk ke dalam kamarku. Baru kali ini William menggunakan tenaga miliknya kepadaku.
"Dia harus bertanggung jawab atas perbuatannya," ucap William begitu sampai di kamarku.
"Tapi semua itu karena Zeta," ucapku dengan bergetar, takut sesuatu yang buruk akan terjadi kepada Arthur.
"Zeta, setiap orang memiliki pilihan dan dibalik pilihan itu setiap orang harus bertanggung jawab."
"Tapi..."
"Sudah tahu bukan apa yang terjadi saat kamu melakukan sesuatu tanpa berpikir panjang?"
"..."
"Ayah juga sudah tahu jika Paman Stephan menyembunyikan pertemuanmu dengan Natasha."
"Zeta yang memintanya. Kak..."
"Jangan pernah melakukan hal bodoh seperti ini lagi, Zeta,” potong William.
William langsung pergi meninggalkan kamarku begitu mengucapkan kalimat itu. Aku tidak tahu dimana letak kesalahan yang aku perbuat. Aku tidak tahu jika menolong seseorang bisa menjadi sebuah malapetaka bagi orang lain. Aku tidak tahu jika perbuatan baik yang coba aku lakukan justru menimbulkan kesulitan bagi orang lain. Aku...
Apakah aku memang ditakdirkan menjadi tokoh antagonis dalam hidup orang lain?
...-----...
__ADS_1