
Mobil perlahan memasuki area sekolah, membuat satpam sekolah berlari ke arah mobil kami dan memastikan identitas kami. Tidak butuh waktu lama hingga akhirnya pintu gerbang sekolah terbuka dan aku bisa melihat kembali sekolah yang sudah aku tinggalkan selama beberapa hari terakhir dan akan aku tinggalkan seterusnya. Rintik hujan masih turun, membuat kelasku yang seharusnya saat ini sedang berolahraga sepertinya berada di lapangan indoor. Arthur membukakan pintu mobil begitu kami sampai di tempat parkir. Aku mengambil buket bunga marigold dan mencoba menutupinya dengan jaket yang aku kenakan.
"Aku memegang payung, bunga itu tidak akan basah," ucap Arthur begitu menyadari aku yang tidak keluar-keluar dari mobil.
"Terima kasih."
Kami berjalan menuju ruang kelasku, tentunya dengan beberapa pengawal. Ken juga menuruti ucapan Arthur dengan menjaga jarak 1 meter dariku. Beberapa kali aku bisa melihat dia sedang melihat ke arahku setiap aku menoleh ke belakang untuk memastikan Arthur tetap berada di belakangku.
"Aku tidak akan menyerangnya. Tenanglah," kata Arthur setelah kelima kalinya aku menoleh ke arahnya.
"Maaf."
Arthur menarik lembut tanganku, membuatku menghentikan langkah kakiku dan tentunya membuat semua yang berjalan di belakang kami ikut berhenti. Arthur menjongkokkan tubuhnya dan memperbaiki tali sepatuku. Sebenarnya tali sepatuku tidak terlalu lepas dan tidak membahayakanku karena jika sudah cukup membahayakanku pasti Paman Stephan akan langsung memberitahuku untuk memperbaikinya.
"Aku akan selalu melindungimu."
"Aku tahu, Kakak sudah berulang kali mengatakan hal itu."
"Aku harus pergi ke ruang VIP sebentar. Setelah meletakan bunga ini, langsung kembali ke dalam mobil."
Aku langsung mengangguk dan terus menatap punggung Arthur hingga akhirnya menghilang. Beberapa pengawal yang sebelumnya bersama denganku juga mengikuti Arthur, menyisakan paman. Aku rasa sudah cukup paman untuk melindungiku. Bahkan jika saat ini Ken ingin melakukan suatu hal buruk, paman bisa mengatasinya.
Aku kembali berjalan setelah paman memberikan tatapan berisi pertanyaan apakah aku akan tetap diam di tempat atau kembali berjalan menuju kelas. Beberapa anak menjulurkan kepala mereka begitu melihatku dan Ken melewati ruang kelas mereka. Bahkan bukan hanya para siswa, guru-guru juga langsung diam mematung begitu melihatku, walaupun untuk beberapa detik sebelum akhirnya kembali fokus mengajar dan memarahi para siswa yang menjulurkan kepala mereka melalui jendela.
__ADS_1
Langkah kakiku terhenti di depan papan pengumuman, tidak ada satupun pengumuman tentang berita kematian Natasha, hanya ada pengumuman tentang perombakan anggota kedisiplinan sekolah yang baru terpasang hari ini. Tentu saja akan ada perombakan anggota kedisiplinan mengingat Felix juga ikut pergi bersama dengan Natasha.
"Saya membawa pena tetapi tidak dengan kertas. Bisakah Nona memundurkan diri sebentar?" tanya paman setelah aku diam mengamati papan pengumuman selama 1 menit.
Aku menuruti permintaan paman dan tanpa basa-basi paman langsung meninju kaca papan pengumuman, membuat bunyi pecahan kaca terdengar sepanjang lorong. Ken dan pengawalnya cukup terkejut melihat apa yang dilakukan paman. Paman mengambil selembar poster yang terpasang di papan pengumuman dan memberikannya kepadaku, tentunya dengan pena yang dibawanya. Selanjutnya paman menekan sesuatu di jam tangan miliknya yang terhubung dengan earpiece pengawal lainnya, meminta pengawal lain yang mendengar untuk memanggil petugas kebersihan untuk datang ke tempat kami. Sedangkan aku mulai menulis sesuatu di belakang poster yang Paman berikan.
'Natasha, have a tight sleep and a nice dream. Terima kasih sudah mengajarkanku arti sebuah kesederhanaan dan cinta.'
Begitu aku selesai menulis, aku berjalan menuju papan pengumuman. Paman langsung mencegahku mendekati papan pengumuman lebih dekat dari tempatku berdiri saat ini, khawatir pecahan kaca akan melukaiku. Petugas kebersihan juga sebenarnya sudah datang dan sedang membersihkan pecahan-pecahan kaca yang berserakan. Sebelum Paman mengambil kertas poster dari tanganku, aku menarik satu tangkai bunga marigold dari buket, berharap paman bisa memasangnya bersamaan dengan kertas poster itu. Paman mengambil beberapa pin kecil dari poster lainnya, membuat poster-poster lain berjatuhan ke lantai. Kemudian Paman menancapkan pin ke kertas poster beserta setangkai bunga marigold yang aku berikan.
"Apakah cukup Nona?"
"Terima kasih, Paman."
Paman berjalan mendekatiku dan memintaku berjalan di luar area pecahan kaca. Aku menuruti perintahnya tanpa satupun pertanyaan.
Aku langsung menuju tempat biasa Natasha duduk sesampainya di kelas, tempat yang mungkin menyesakan untuknya selama beberapa bulan ini. Aku meminta paman untuk berada di luar kelas dan hal itu membuat paman juga meminta Ken untuk tetap berada di luar kelas. Aku meletakan buket bunga merigold ke atas meja. Bahkan saat dimana aku berharap ada satu orang yang memperlakukan Natasha dengan baik setelah apa yang terjadi tetap tidak ada satupun yang melakukannya. Jika setelah ini, papan pengumuman penuh berisi ucapan bela sungkawa dan meja ini penuh berisi bunga, aku yakin semua itu karena aku yang memulainya. Bahkan disaat seperti ini, mereka masih memandang dan tunduk pada kekuasaan dibandingkan rasa kemanusiaan mereka.
"Kenapa marigold?"
Aku menoleh ke arah sumber suara dimana Ken sudah duduk di bangku sebelahku. Aku melihat ke arah paman yang sekarang hanya menganggukkan kepalanya dan terus mengawasiku. Sepertinya Ken mengucapkan sesuatu hingga membuat paman mengizinkannya mendekatiku. Aku diam tidak menjawab pertanyaannya dan hanya diam mengamatinya yang saat ini sedang mengeluarkan sebuah kotak cincin dari dalam saku jaketnya.
Dia berjalan ragu ke arah meja tempatku duduk dan meletakkan kotak cincin itu sebelum akhirnya dia kembali lagi duduk di bangku sebelahku. Aku mengamati kotak cincin yang terbuka itu, sepasang cincin berada di dalamnya. Aku melihat ukiran huruf K dan N di atas cincin itu, cincin dengan merk yang sama seperti yang dahulu aku pesan untuk acara pertunanganku dengannya yang berakhir dengan pembatalan pemesanan. Aku juga membaca tulisan yang terukir di bagian kotak cincin, sebuah kalimat yang seharusnya tidak aku baca.
__ADS_1
'Terima kasih sudah membuatku menyadari perasaanku.'
"Dia memiliki kisah cinta yang menyedihkan," jawabku akhirnya karena tidak nyaman dengan tatapan yang Ken terus berikan.
"Bukankah seharusnya kamu memberikan bunga untuk membuatnya memiliki cinta yang membahagiakannya di kehidupan berikutnya?"
"Aku ingin membuatnya memiliki cinta yang indah dimanapun dia berada dan bunga ini adalah pembatas akhir dari kisah cintanya yang menyedihkan."
“Pembatas akhir?” gumamnya.
"Zeta?!" panggil Arthur dengan suara khawatir dan nafas terengah-engah.
"Ada apa?" tanyaku yang langsung berdiri karena terkejut mendengar suara khawatir milik Arthur.
"Sesuatu terjadi kepada William, helikopter sudah menjemputku di atap sekolah. Pulanglah dahulu tanpaku."
"Apa yang terjadi kepada Kak Will?"
"Aku akan memberitahumu nanti, sekarang, kumohon pulang."
"Biarkan aku yang mengantarnya. Aku akan memastikan dia sampai di rumah dan langsung menghubungimu," ucap Ken membuat Arthur langsung mengalihkan pandangannya dariku. Arthur hanya mengangguk dan memberikan tanda kepada paman untuk menjagaku dengan baik.
Arthur menggenggam tanganku dan mengacak-acak pelan rambutku sebelum akhirnya kembali berlari menuju atap sekolah.
__ADS_1
Aku kembali melihat ke arah buket bunga marigold di atas meja Natasha setelah tidak bisa melihat tubuh Arthur. Bunga itu sebenarnya ditujukan untuk diriku sendiri.
...-----...