Mentari di Langit Malam

Mentari di Langit Malam
Masa Lalu : Surat Perjanjian


__ADS_3

Berita tentang Alvin adalah penerus Keluarga Nakamoto sudah menyebar luas. Tidak butuh waktu lama untuk membuat berita itu diketahui seantero sekolah. Bahkan aku rasa, Alvin langsung menjadi pembicaraan begitu konser amal selesai digelar. Bagaimana aku tahu? Tentu saja karena Caroline terus menerus mengirim pesan dan menelpon kemarin malam.


Saat ini akan lebih baik jika aku fokus pada makanan di depanku. Sepanjang malam aku tidak bisa tidur dan aku tidak ingin melewatkan sarapan, aku tidak ingin berada dalam mode zombie sepanjang hari ini.


"Ibu baru pertama kali melihat cincin itu, sangat indah. Apakah itu Edelweis, Zeta?"


Aku lupa jika aku masih memakai cincin pemberian Alvin. Aku belum pernah melepasnya dari hari dia memberikannya kepadaku. Aku langsung meletakkan pisau dan garpu di tanganku ke atas piring. Aku sudah memutuskan akan berada dalam mode zombie hari ini.


"Ah... Kak Alvin yang memberikannya," jawabku sembari mengelap mulutku yang sebenarnya tidak kotor.


"Ibu tidak tahu jika hubungan kalian sudah dekat hingga bisa bertukar hadiah."


"Zeta belum memberikan hadiah apapun."


"Waktu, Zeta memberikan waktu untuknya. Ibu rasa waktu adalah hadiah terpenting bagi seseorang."


Hening.


Hanya keheningan yang mengisi ruang makan hingga kami semua selesai menyantap makanan kami. Lebih tepatnya aku dan Arthur dipaksa menyantap sarapan di hadapan kami hingga habis dalam waktu singkat karena William terus menendang kakiku dan kaki Arthur, menyuruh kami untuk cepat menghabiskan makanan yang sudah disiapkan koki rumah. Makanan yang dimasak dengan penuh detail dan cita rasa yang tinggi itu sekarang berada di perutku dan sepertinya makanan itu tidak akan memberikan energi apapun untukku karena sudah pasti akan sulit dicerna.


"Kenapa aku merasa Ibu tidak suka dengan Alvin?" tanyaku begitu mobil berjalan meninggalkan halaman rumah.


Arthur melemparkan satu bungkus yogurt ke arahku. Dia memberi isyarat apakah harus dibukakan olehnya atau aku bisa membukanya sendiri. Aku hanya menggeleng dan mengembalikan yogurt itu ke Arthur. Sebagai gantinya aku mengambil puding di tangannya dan langsung memakannya dalam diam. Arthur selalu memberikanku makanan setiap kali aku mencoba memulai topik yang super sensitif dan tentunya topik yang tidak akan dibicarakan oleh William. Suasana di dalam mobil juga hening, tidak ada yang mencoba untuk membuka percakapan. Hanya pertanyaanku yang membuka dan menutup pembicaraan di dalam mobil ini. Sepanjang perjalanan aku hanya melihat jalanan yang masih cukup sepi ditemani puding lembut yang sekarang sudah masuk seluruhnya ke dalam perutku.


Sekali lagi aku melihat Ken dan Natasha bergandengan tangan di sepanjang jalan depan sekolah. Aku baru menyadarinya, setiap kali aku berangkat pagi pasti aku akan melihat Ken bersama Natasha. Sepertinya mereka berdua memang selalu berangkat pagi ke sekolah. Ah... tentu saja karena mereka harus naik bus. Paman Parker pasti memutus semua fasilitas yang Ken gunakan, tentunya hanya saat Ken bersama dengan Natasha. Aku rasa itulah alasan mengapa dia akhir-akhir ini sering mengambil uang cash. Selama ini dia tidak pernah mengambil uang cash dan menyimpannya di dalam dompet karena baginya cukup dengan satu gesekan semua selesai.


Walaupun Ken sudah mengumumkan secara langsung hubungannya dengan Natasha, tetap saja masih ada anak-anak yang memandang Natasha sebelah mata. Hubungannya dengan Ken tidak membuatnya dihormati dan dihargai oleh semua anak-anak, walaupun beberapa anak masih ada yang berbasa-basi dengannya. Aku tidak tahu apa yang menyebabkan sikap anak-anak tidak berubah, aku hanya menduga jika Paman Parker berada dibalik semua ini. Paman pasti mengancam beberapa keluarga yang anaknya bersekolah disini dengan bisnis, membuat anak-anak mereka tetap menjauhi Natasha karena hubungannya dengan Ken. Aku ingin menanyakan hal ini kepada beberapa teman sekelas tetapi kemudian aku tersadar aku sudah tidak memiliki hubungan apapun dengan Ken dan menanyakan hal itu hanya akan menambah masalah.


"Menurutmu berapa lama Ken bisa bertahan dengan cara seperti ini?" tanya Arthur begitu mobil masuk ke lingkungan sekolah dan membuat kami tidak bisa lagi melihat Ken maupun Natasha.


"Selama apapun itu, pada akhirnya dia akan memohon kembali," jawab William.


"Aku rasa paman tidak akan semudah itu mengabulkan keinginannya saat hal itu terjadi."


"Siapa yang tahu apa yang akan Ken korbankan," jawab William dengan sebuah senyum sinis.


William dan Arthur melanjutkan percakapan mereka. Aku tidak bisa masuk ke dalam percakapan mereka karena dari awal aku tidak tahu apa yang mereka bahas. Sekarangpun mereka sedang membahas pertandingan basket, topik yang sangat aku benci karena aku menjadi orang ketiga setiap kali mereka membicarakan semua hal berbau basket.


Tepat saat William memarkirkan mobil, aku sudah bisa melihat kedua sahabatku sedang menungguku. Menunggu untuk menginterogasiku. Pertanyaan apapun yang akan mereka tanyakan mengenai Alvin, aku tidak akan bisa menjawabnya karena aku juga tidak tahu apapun tentangnya. Akan lebih baik jika mereka berdua menginterogasi Nichole, aku sangat yakin jika Nichole lebih tahu tentang Alvin dibandingkan diriku.


"Aku tahu kalian punya banyak pertanyaan untukku, tapi aku juga tidak tahu jawaban pertanyaan itu," ucapku begitu kedua saudari kembar itu menghampiriku dan kedua kakakku.


"Aku rasa akan lebih cepat jika kamu menanyakan semua pertanyaanmu ke tunanganmu, Carol," ucap William sembari memberikan tas milikku kepada Arthur.


"Aku sudah menanyakan semuanya ke Nichole," jawab Caroline dengan senyum cerah miliknya.


Arthur menarik tanganku dan membuatku berjalan di sampingnya. Stephanie dan Caroline mengikuti kami di belakang dan William entah pergi kemana. Sepertinya William memiliki urusan lain dan membiarkan Arthur mengantarku ke kelas. Selama ini William dan Arthur selalu mengantarkanku ke kelas, dan karena itu sejak aku berada di sekolah dasar banyak teman-teman yang takut kepadaku. Aku bahkan masih mengingat bagaimana kedua kakakku tahu semua informasi tentang teman-teman yang dekat denganku dan mereka bahkan mengancam teman-teman yang dekat denganku hanya karena mereka berdua curiga alasan teman-temanku mendekatiku karena harta yang keluargaku miliki. Hal itu membuatku tidak memiliki satu orangpun teman kecuali Stephanie dan Caroline.


"Kemana William pergi?" tanyaku memecah hening.


"Aku tidak tahu, dia dari kemarin sibuk dengan sesuatu."


"Tapi ini kali pertama dia tidak mengatakan apapun."


"Haruskah aku mencari tahu?" tanya Caroline sembari menjulurkan kepalanya di ruang antara Arthur dan aku berdiri.


"Tidak, kamu hanya akan mengumpulkan gosip tidak penting," balas Arthur sembari mendorong dahi Caroline dengan jari telunjuknya.


"Haruskah kita masuk ke kelas nanti saja?"

__ADS_1


Pertanyaan Stephanie membuat kami bertiga menatap Stephanie yang sekarang sedang membenarkan tali sepatu miliknya. Caroline menghampiri Stephanie dan membantu memegang beberapa buku agar Stephanie bisa dengan mudah membenarkan tali sepatunya yang lepas. Tepat saat aku memutar tubuhku ke arah pintu kelas, mataku langsung bertatapan dengan Ken. Sepertinya alasan Stephanie berpura-pura membenarkan tali sepatu miliknya adalah Ken dan Natasha yang saat ini juga hampir masuk ke dalam kelas.


"Maafkan aku, aku telat," ucap Stephanie sembari berdiri dari jongkoknya.


"Kenapa kalian memperlakukanku seperti aku orang asing dan berbahaya untuk Zeta?"


Ken melangkahkan kakinya mendekat ke arah kami setelah meminta Natasha untuk masuk dahulu ke dalam kelas. Arthur langsung berjalan menghadang Ken yang semakin mendekat ke arahku. Aku bisa melihat rasa benci menguasai tubuh Arthur. Bahkan aku yang merasakan semua hal yang telah Ken lakukan kepadaku, aku tidak bisa merasakan rasa benci sebesar yang Arthur rasakan.


Sebenarnya, seberapa penting diriku dalam hidupnya?


"Kak," panggilku.


"Bicara dari sini."


"Aku ingin membahas tentang pesan yang aku kirimkan kepadamu kemarin malam."


"Hei!!! Kamu masih menghubungi Zeta?!!! Dan kamu Zeta kenapa tidak memblokir semua kontak miliknya?!!!" teriak Caroline.


Stephanie langsung memukul kepala Caroline dengan buku yang sedari tadi berada di tangannya. Dia langsung menarik tangan Caroline dan membawanya masuk ke dalam kelas. Mereka berdua juga tidak lupa memukul Ken dengan tas mereka begitu mereka berjalan melewatinya. Seperti yang aku harapkan dari keduanya.


"Bisakah kita berbicara berdua?"


"Tidak," jawabku sebelum Arthur menyela.


"Aku rasa masalah ini adalah masalah kita berdua."


"Saat dimana kamu menyakitiku secara diam-diam itu memang masalah kita berdua tetapi saat dimana kamu menyakitiku di depan umum, itu berbeda," ucapku membuat Ken terdiam sejenak.


"Baiklah, kita bicara dimana?" balasnya akhirnya.


Arthur menarikku masuk ke dalam kelas. Dia meletakkan tas milikku dan miliknya ke atas meja sebelum akhirnya mendatangi Stephanie. Sama halnya denganku, Stephanie dan Caroline menatap bingung ke arah Arthur. Kualihkan pandanganku pada Ken yang ternyata ikut masuk ke dalam kelas dan juga meletakkan tas miliknya di samping tempat Natasha duduk.


Neraka, aku rasa itu bukan sebutan yang cocok untuk sebuah ruangan yang penuh dengan kebebasan. Di sekolah ini terdapat suatu ruangan VIP, ruangan yang hanya bisa dimasuki oleh para penerus bisnis dan anggota keluarga yang dipilih oleh mereka. Ruangan itu menjadi satu-satunya ruangan yang tidak memiliki CCTV di sekolah ini. Siapapun yang berada di dalam ruangan itu bisa melakukan semua hal yang diinginkannya, bahkan jika hal itu melanggar aturan sekolah. Tidak akan ada sanksi apapun selama pelanggaran memang dilakukan di ruangan itu. Banyak yang menentang adanya ruangan itu, terutama mereka yang merupakan anggota kedisiplinan. Bagaimanapun sudah menjadi tugas anggota kedisiplinan untuk memastikan semua siswa mematuhi peraturan sekolah dan dengan adanya ruangan itu, banyak aturan sekolah yang dilanggar tetapi mereka tidak bisa menghukum pelaku.


Usaha apapun yang dilakukan oleh anggota kedisiplinan untuk menghilangkan ruangan VIP selalu ditolak. Sejak awal berdirinya, sekolah ini memang difokuskan untuk mereka yang akan mewarisi bisnis keluarga dan ruangan VIP juga sudah ada sejak berdirinya sekolah ini yang berfungsi untuk memberikan pelajaran tambahan bagi mereka sang pewaris. Setiap harinya akan selalu ada kelas tambahan di dalam ruang VIP itu. Tidak ada seorangpun yang tahu pelajaran seperti apa yang diberikan, hanya mereka yang memang diwajibkan masuk ke kelas tambahan itu yang tahu dan mereka semua menutup rapat mulut mereka akan semua hal yang terjadi di ruangan itu, termasuk Stephanie, bahkan Caroline tidak pernah bisa mendapatkan satu katapun yang keluar dari mulut Stephanie setiap kali dia menanyakan tentang ruang VIP. Dan karena itu aku selalu merasa aneh tentang bagaimana anggota kedisiplinan bisa tahu adanya pelanggaran di ruangan itu saat tidak ada satupun orang yang membocorkannya. Terlebih, anggota kedisplinan tidak memiliki akses masuk ke dalamnya karena semua anggota kedisiplinan adalah siswa yang mendapatkan beasiswa.


"Jangan lupa mengganti monitor di depan pintu menjadi TS," ucap Stephanie sembari memberikan sebuah kunci berwarna emas dengan gantungan Pikachu.


"Thomas Stephanie? Wahhh, aku merinding," balas Caroline.


"Kamu mau aku pukul lagi?!!"


Stephanie dan Caroline melanjutkan adu argumen mereka. Arthur bahkan langsung meninggalkan keduanya tanpa mengucapkan 'terima kasih' kepada Stephanie dan kembali menarik tanganku keluar kelas menuju ruang VIP. Ken juga langsung berjalan keluar begitu melihat kami berdua keluar dari kelas, tentunya setelah berbincang sepatah dua patah dengan Natasha. Bahkan dia masih menyunggingkan sebuah senyum saat keluar dari kelas.


Apakah aku sepertinya saat sedang jatuh cinta? Sangat menggelikan untuk dilihat.


"Aku juga memiliki kunci ruangan ini," ucap Ken saat Arthur sedang mengganti tulisan di monitor depan pintu yang berfungsi agar orang lain tahu jika ruangan ini sedang digunakan dan tidak langsung masuk begitu saja ke dalamnya.


"Aku rasa paman tidak sebaik itu untuk tetap membiarkanmu memiliki kunci ruangan ini."


"Sepertinya Kak Arthur lebih cocok menjadi anak ayahku dibandingkan aku," balas Ken sembari tertawa kecil.


"Bisakah kalian berdua berhenti bertengkar?" tanyaku sebelum suasana berubah kembali menjadi medan perang.


Aku langsung melangkah masuk begitu Arthur selesai mengganti layar monitor di depan pintu. Ini kali pertama aku masuk ke dalam ruangan VIP, selama ini aku selaku menolak setiap kali William mengajakku untuk masuk. Aku hanya merasa ruangan ini tidak pantas untukku. Ruangan ini sama seperti kelas biasa, hanya ada beberapa tambahan ruang-ruang kecil yang sepertinya digunakan untuk beristirahat beberapa siswa dan tentunya ruangan ini sangat besar.


Interior di dalam ruangan juga berbeda, lebih terasa seperti sebuah rumah. Beberapa interior seperti jam dinding ataupun gramofon juga ada di ruangan ini, tidak mungkin sekolah mendekorasi ruangan ini, lebih seperti banyak sentuhan remaja. Sepertinya para siswa yang mendekorasi ruangan ini terutama melihat banyaknya barang-batang antik berharga ratusan juta. Ruangan ini benar-benar perpaduan antara gaya modern dan klasik. Pasti terdapat dua kubu melihat bagaimana setengah ruangan ini memiliki nuansa modern dan setengahnya nuansa klasik.


Arthur menyodorkan satu botol jus kepadaku. Dia mengambilnya dari kulkas yang berada di ujung ruangan. Aku lupa jika Arthur juga sering masuk ke dalam ruangan ini, dia tentunya sudah familiar dengan suasana dan juga barang-barang yang ada di ruangan ini. Aku mengambilnya dan langsung duduk di salah satu kursi yang menghadap taman.

__ADS_1


Satu-satunya yang aku sukai dari ruangan ini hanya letaknya yang sangat dekat dengan taman sehingga aku bisa melihat danau buatan di belakang sekolah. Arthur kembali mengambil botol jus dari tanganku dan mencoba membukanya. Dia kembali menyodorkan botol jus itu setelah berhasil membuka tutupnya. Aku rasa dia kesulitan untuk membuka miliknya dan menganggap aku akan lebih kesulitan daripada dirinya saat mencoba membukanya.


"Aku tidak tahu jika kamu masih melakukan hal seperti itu untuk Zeta," ucap Ken sembari ikut duduk bersama kami.


"Apa yang ingin kamu bahas?" tanya Arthur mengabaikan ucapan Ken sebelumnya.


"Aku menemukan surat perjanjian tentang perjodohanku dengan Zeta."


"Apa isinya?"


Aku merasa pembicaraan ini akan menjadi milik Arthur dan Ken. Aku tidak bisa masuk ke dalam percakapan ini.


"Perjodohan ini bisa dibatalkan jika Zeta dan aku bisa membuktikan tidak ada rasa suka diantara kami berdua."


"Tunggu, William memberitahuku jika pembatalan perjodohan akan didiskusikan di kemudian hari. Kamu tidak salah membaca surat perjanjian bukan?"


Benar juga, William memberitahuku jika pembatalan perjodohan akan didiskusikan di kemudian hari. Lalu, bagaimana bisa Ken tahu semua itu?


"Aku tidak salah membaca."


"Lalu maksudmu William berbohong kepadaku dan juga kepada Zeta?"


"Aku tidak mengatakan hal itu. Apa yang Kak William katakan sepenuhnya benar dan apa yang baru saja aku katakan juga sepenuhnya benar. Aku rasa surat perjanjian yang ada di Keluarga Allison adalah surat pertama dan surat yang ada di keluargaku adalah surat lanjutannya."


"Bagaimana kamu tahu?" kali ini aku memberanikan diri membuka mulutku.


"Tanggal di surat yang kemarin aku baca adalah satu hari sebelum kematian ibuku dan aku yakin surat yang ada di Keluarga Allison adalah surat yang ditulis bahkan sebelum kita lahir. Aku rasa sesuatu terjadi hingga akhirnya surat mengenai pembatalan perjodohan sudah ada. Kak William tidak tahu hal ini bukan?"


"..."


"Sepertinya kedua ayah kita sengaja menyembunyikan surat ini."


"Tapi kenapa?" tanyaku.


"Karena ayah dan paman masih menginginkan perjodohan kalian berhasil," potong Arthur.


"Aku juga memikirkan hal itu tetapi aku rasa Paman Allison sedang berusaha untuk mendapatkan surat pembatalan ini setelah semua yang aku lakukan pada Zeta. Sekarang, hanya ayahku yang masih menginginkan perjodohan ini."


"Periksa surat itu."


"Sebegitu tidak percayakah Kak Arthur kepadaku?"


"Aku hanya tidak ingin usaha yang akan dilakukan Zeta sia-sia. Pastikan keaslian surat itu dan jangan beritahu siapapun kecuali Zeta dan aku."


"Baiklah."


"Aku ingin bertanya satu hal," ucap Ken tepat saat Arthur mencoba menarik tubuhku untuk kesekian kalinya.


"..."


"Apakah aku masih menjadi adik kecilmu?"


Arthur menghembuskan nafasnya. Aku tahu bagaimana hubungan mereka berdua sangat baik sebelumnya, bahkan mereka berdua menjadi duo pemain basket yang paling ditakuti karena kombinasi mereka berdua bisa mencetak skor yang tinggi. Setiap kali Ken melakukan kesalahan dan mendapat teguran serta hukuman dari para senior lain, Arthur pasti akan selalu membantunya. Tetapi sekarang, semua berubah.


"Penyesalan terbesar kedua dalam hidupku adalah mempercayakan Zeta kepadamu."


Arthur langsung membawaku keluar dari ruang VIP meninggalkan Ken yang hanya diam mematung setelah mendengar jawaban yang mungkin tidak dia harapkan keluar dari mulut Arthur. Sekarang, satu-satunya orang di dunia ini yang menganggap dan memperlakukan Ken selayaknya seorang adik sudah hilang.


Sekarang, dunianya akan kembali menjadi sunyi.

__ADS_1


...-----...


__ADS_2