Mentari di Langit Malam

Mentari di Langit Malam
Masa Lalu : Psikiater


__ADS_3

"Sudah lama Dokter tidak bertemu denganmu secara langsung."


Aku hanya diam mengamati Dokter Esme, psikiater yang selalu menanganiku, meninjau rekam medisku. Dokter Margareth juga berada di ruang yang sama dengan kami karena bagaimanapun Dokter Margareth tetaplah dokter utama yang bertanggung jawab atas kondisiku sehingga mau tidak mau beliau harus ada saat dimana aku menemui dokter lainnya bahkan saat itu bukan jam tugasnya. Bahkan aku rasa Dokter Margareth belum sempat mencuci wajahnya karena terburu-buru datang ke rumah sakit setelah mendapat panggilan jika aku sedang bersama Dokter Esme.


Walaupun saat ini aku sudah tidak merasakan kepanikan yang sebelumnya aku rasakan, Arthur tetap menyuruhku untuk bertemu dengan Dokter Esme untuk memastikan jika kondisiku memang baik-baik saja, sesuatu yang seharusnya dia juga lakukan. Dia menungguku dibalik pintu ruangan ini dan tidak mencoba menghubungi dokter pribadinya untuk memastikan kondisinya. Aku sangat ingin menghubungi dokter pribadinya tetapi aku tahu saat dimana aku mencoba menghubungi dokternya saat itu juga Arthur akan marah kepadaku.


"Zeta?" panggil Dokter Esme dengan lembut.


"Ah... maaf, Zeta melamun."


"Apa yang kamu rasakan saat melihat Natasha berbaring di atas tempat tidurnya dengan posisi yang sama dengan pamanmu?"


"Darimana Dokter tahu tentang Natasha?" tanyaku menyelidik.


Hanya sebuah senyum yang diberikan sebagai sebuah jawaban. Aku tahu arti dibalik senyuman itu, senyuman yang selalu diberikan oleh siapapun saat aku bertanya darimana mereka tahu semua hal yang berkaitan dengan hidupku. Senyuman yang sebenarnya tidak aku inginkan sebagai sebuah jawaban. Aku menginginkan sebuah jawaban dalam bentuk kalimat bukan sebuah senyum yang langsung membuatku tahu darimana mereka mengetahui semua hal tentangku. Aku ingin setidaknya mereka mencoba berbohong dengan kalimat mereka dan bukannya jujur dengan senyuman mereka.


Dokter Margareth mendekat ke arah kami dan meletakan dua buah cup kertas berisikan cokelat. Aku hanya menatap kepulan asap yang menghiasi cup itu tanpa ada keinginan untuk memegangnya ataupun meminum apa yang ada di dalamnya. Dokter Esme mengambil cup di hadapannya dan meletakkannya ke hadapanku.


"Banyak orang yang menginginkan apa yang dimiliki orang lain dan di satu sisi ada seseorang yang tidak menginginkan apapun tetapi dia memiliki segalanya."


"Dokter sedang menyindirku?" tanyaku setelah beberapa saat hanya diam mengamati cup.


"Dokter memiliki sebuah cerita tentang anak berusia 5 tahun, usia yang sangat muda untuk bertemu dengan psikiater. Dokter yang menanganinya mengira dia akan menceritakan semua yang terjadi kepadanya di hari itu tetapi siapa sangka anak 5 tahun itu hanya duduk diam tidak menjawab satupun pertanyaan yang diajukan kepadanya, seolah anak itu menutup dirinya dan emosinya."

__ADS_1


"..."


"Dan siapa sangka 2 tahun setelahnya, dia juga mengalami kehilangan dalam hidupnya tetapi kali ini bukan kehilangan yang sama seperti yang dia alami 2 tahun sebelumnya. Akhirnya setelah penantian panjang dari sang dokter, anak itu menceritakan semua perasaannya dan apa yang dia alami baik 2 tahun yang lalu ataupun di tahun itu. Setelah hari itu, dia menutupi kembali semua hal tentang kenangannya, tentang trauma yang dia alami. Dia mulai mengonsumsi obat-obatan yang memang diberikan kepadanya untuk menutupi luka yang dia rasakan. Luka yang menurut dokternya sulit ditanggung anak berusia 7 tahun. Apa Zeta tahu kelanjutannya? Atau Dokter Margareth ingin menebak apa yang terjadi kepada anak itu?"


"Dia pasti masih memiliki trauma itu dan aku rasa dia juga masih menyembunyikan traumanya," balas Dokter Margareth sembari meletakan cup berisikan kopi di tangannya ke atas meja.


"Zeta tidak ingin menebaknya?"


Aku hanya menggeleng karena aku sudah tahu cerita itu dan tidak berniat ikut dalam percapakan kedua dokter itu.


"Apa yang Dokter Margareth katakan tidak sepenuhnya salah. Anak itu tumbuh menjadi pribadi yang ceria, seperti seseorang yang belum pernah mengalami kejadian buruk, seolah memori di dalam otaknya tergantikan oleh sesuatu yang baru."


"Dia memanipulasi ingatannya? Di usia berapa dia memanipulasi ingatannya? Semenakutkan apa trauma yang dia alami?"


Dokter Esme diam tidak menjawab pertanyaan beruntun milik Dokter Margareth itu dan justru terus menatapku.


"Darimana kamu tahu?" tanya Dokter Margareth terkejut.


"Karena anak berusia 5 tahun itu adalah Zeta," balasku sembari melihat Dokter Margareth yang sepertinya cukup terkejut melihat bagaimana dia meletakan tangan kirinya ke mulutnya yang setengah terbuka. Aku rasa Dokter Margareth belum sepenuhnya tahu semua kondisiku, entah ayah yang menutupi semuanya atau orang lain yang menutupinya.


Anak kecil itu adalah aku. Sama halnya dengan Arthur, aku juga tidak ingin menceritakan apapun tentang apa yang aku alami tetapi kematian Tante Lily membuat kondisiku menjadi parah dan akhirnya aku menyerah untuk menutupi semuanya. Aku menceritakan semua hal yang membuatku mengalami mimpi buruk setiap harinya dan trauma yang aku rasakan atas kematian pamanku. Setelah aku menceritakan semua yang terjadi, perlahan aku menghilangkan memori dan kenangan yang berkaitan dengan kematian paman, sesuatu yang seharusnya tidak aku lakukan.


Aku berpikir alasan aku menyerah dan akhirnya menceritakan semuanya kepada Dokter Esme yang menanganiku adalah karena aku ingin menghilangkan dan melupakan semua kenangan itu. Setidaknya aku sudah memberitahu satu orang tentang rahasia yang aku coba sembunyikan. Hingga saat ini, aku tidak bisa mengingat kembali hal apa yang sebenarnya terjadi di hari kematian paman. Walaupun aku sudah melupakan hal itu, wajah terakhir paman yang aku lihat dan rasa bersalah yang muncul terus menghantuiku bahkan hingga sekarang. Sesuatu yang aku kira hanya berdampak kecil dalam hidupku, ternyata memiliki dampak yang cukup besar. Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi kepadaku jika aku bisa mengembalikan ingatan yang sudah aku hilangkan itu.

__ADS_1


"Dan apakah Zeta ingin menebak apa yang akan Dokter katakan selanjutnya?" lanjut Dokter Esme membuat Dokter Margareth mencoba menghentikan percakapan ini.


"Zeta tidak ingin dan tidak mau tahu."


"Anak itu menjadi seseorang yang tidak bisa mengekspresikan dirinya. Dia membuat dirinya menjadi seseorang yang mudah dibaca karena dia tidak bisa mengeluarkan apa yang ada di dalam dirinya dan apa yang dia rasakan. Dia membuat dirinya mudah dibaca sehingga orang lain bisa membantunya merasakan emosi yang belum dia sadari."


Dokter Esme tetap mengatakan apa yang ingin dikatakannya bahkan setelah mendengar jawabanku. Aku rasa kali ini beliau sangat ingin aku kembali mengingat kenangan yang sudah aku lupakan. Beliau ingin aku mengatasi traumaku dan satu-satunya jalan adalah dengan menerima kenangan yang sudah aku lupakan.


"Saya rasa Dokter Esme sudah melewati batas," ucap Dokter Margareth cemas begitu menyadari adanya perubahan di wajahku.


"Zeta memang melakukan hal itu dan Zeta tahu apa yang ingin Dokter coba sampaikan. Dokter ingin Zeta untuk mencoba mengingat kembali apa yang telah Zeta hilangkan agar Zeta bisa terbebas dari trauma ini. Tetapi, Zeta rasa Zeta akan gila jika mengingatnya."


"..."


"Bisakah Dokter memberi tahu kondisi Zeta karena Zeta harus segera pergi ke IGD?"


"Kamu baik-baik saja. Dokter akan meresepkan beberapa obat karena beberapa hari ke depan kamu pasti akan kesulitan untuk tidur. Ini akan menjadi kali pertama setelah 5 tahun lamanya kamu berhenti mengonsumsi obat," ucap Dokter Esme dengan sebuah senyum pahit menghiasi wajahnya, wajah yang sebenarnya sudah lama tidak aku lihat dan tidak ingin aku lihat.


"Zeta akan menyuruh seseorang mengambil obat yang Dokter resepkan. Zeta izin keluar ruangan."


Aku beranjak dari tempatku duduk. Dokter Margareth membuatku membawa cup berisikan cokelat yang tidak ingin aku sentuh. Sepertinya beliau ingin memperbaiki suasana yang sangat canggung ini dan membuatku tidak terlalu memikirkan percakapan yang baru saja terjadi. Entahlah, aku tidak tahu apa yang ada di pikirannya.


Ah, aku lupa untuk mengatakan sesuatu...

__ADS_1


"Dokter, anak itu tidak tumbuh menjadi seseorang yang ceria. Dia hanya tumbuh dibalik kata ceria tanpa pernah merasakan ceria yang sesungguhnya. Maafkan Zeta yang sudah menganggu waktu pagi Dokter," ucapku sebelum akhirnya keluar dari ruangan yang membuatku merasakan sesak.


...-----...


__ADS_2