Mentari di Langit Malam

Mentari di Langit Malam
Alasan


__ADS_3

“Aku sudah mendengar semuanya dari Kesha, bagaimana kamu mempermalukannya.”


Aku terdiam, aku tidak berniat membuka kembali mulutku. Ken menghembuskan nafasnya dan perlahan mengurangi genggaman erat miliknya. Kembali kuamati Ken yang sekarang lebih tenang dari sebelumnya. Dia bahkan sudah bisa meminum coklat panas dari cangkirku. Kualihkan pandanganku pada tanganku yang sedang dia genggam ketika matanya menatapku seolah mengatakan ‘semuanya akan baik-baik saja’.


“Kenapa kamu menolak bermain piano untuknya? Dan juga kenapa kamu mengatakan tidak mengenalnya saat dia mengatakan jika kamu adalah sepupunya di depan banyak orang?”


“Apa urusannya denganmu?” balas Ken geram.


“Dia perempuan yang aku cintai dan aku tidak ingin dia terus mengingat hal memalukan itu.”


Tanpa kusadari sebuah tawa kecil menghiasi wajahku. Ken dan Alvin langsung mengalihkan pandangan mereka begitu mendengar suara tawaku yang pelan. Kutatap mata biru yang sudah menjauh dariku, mata biru yang dulunya penuh dengan rahasia, dan mata biru yang sekarang menatapku dengan penuh rasa ingin tahu. Cukup lama aku menatap mata Alvin hingga membuat Ken kembali mengeratkan genggaman tangan miliknya dan membuatku kembali tersadar.


Aku menatapnya bukan karena ingin kembali menyelami dunia yang pernah aku singgahi. Aku menatapnya karena ingin tahu kebenaran dari ucapannya. ‘Perempuan yang aku cintai’, siapapun akan tahu betapa canggungnya nada yang keluar untuk mengucapkan kata-kata itu. Aku ingin tahu seberapa jauh kebohongan yang akan dia ucapkan hanya untuk memenuhi rasa ingin tahunya.


Kuhembuskan nafasku dan mengambil cangkir yang berada di tangan Ken.


“Kalian minum dari cangkir sama? Apa semua pasangan melakukan hal itu? Berbagi cangkir ataupun sendok bukankah cukup menjijikkan?”


“Apa definisi ‘perempuan yang aku cintai’ bagimu? Bukankah itu berarti kamu siap berbagi apapun dengannya?”


Pertanyaan Ken membuat Alvin terdiam. Suasana berubah menjadi canggung hanya dengan pertanyaan yang Ken berikan. Aku berharap suasana canggung ini bisa membuatku dan Ken pergi meninggalkan café.


“Mungkin aku belum mencintainya seperti kamu mencintai istrimu,” ucap Alvin pelan.


Baik aku dan Ken langsung terdiam mendengar ucapannya. Dia pernah mengucapkan kalimat yang sama seperti saat ini. Kalimat yang menyadarkanku pada perasaan yang aku miliki.


Aku tidak tahu, apakah ingatannya yang hilang akan menuntunku kembali ke masa lalu atau ucapannya di masa sekarang yang akan membuatnya kembali mengingat masa lalu kami. Diantara kedua hal itu, tidak ada satupun yang aku inginkan. Aku tidak ingin kembali merasakan apa yang dulu aku rasakan dan aku tidak ingin dia kembali melakukan apa yang tidak seharusnya dia lakukan.


Alvin kembali terdiam, membuat suasana bertambah canggung. Ken kembali menyeruput sisa coklat panas dan aku kembali menatap tanganku yang berada di genggaman tangan Ken. Tangan Ken yang tadi pucat, sekarang sudah kembali memerah. Aku rasa sekarang dia benar-benar sudah tenang. Kuputar tangan Ken, membuatnya untuk sesaat mengalihkan pandangan pada apa yang sedang aku lakukan.


Aku tidak tahu jika dia sudah kembali memakai cincin pernikahan. Aku bahkan lupa dimana menyimpan cincin pernikahan milikku. Aku dan Ken hanya menggunakan cincin pernikahan di hari kami menikah, setelahnya aku meminta dia untuk tidak pernah memakainya lagi. Aku tidak tahu apa yang aku pikirkan saat itu hingga membuat permintaan yang tidak masuk akal seperti itu. Dan sekarang dia memakainya kembali, sejak kapan dia kembali memakai cincin pernikahan?


Haruskah aku mencari cincin pernikahan milikku dan memakainya?


Atau haruskah aku membeli cincin pernikahan yang baru?


“Haruskah aku membeli cincin pertunangan yang baru?”

__ADS_1


Aku merasa seperti Alvin baru saja membaca pikiranku. Kuamati gerakan tangannya, dia mengeluarkan sebuah cincin dari saku jaketnya dan meletakkan di atas meja. Dia membuka kotak cincin dan menyodorkannya ke arah kami. Ken melepaskan genggaman tangannya begitu melihat cincin itu dan aku hanya bisa melihat wajah Ken yang berubah menjadi sendu sebelum akhirnya melihat kembali cincin itu.


Sebuah cincin yang terbuat dari palladium dengan ukiran Bunga Edelwies di sepanjang cincin dan berlian berukuran kecil melingkar disepertiga ukuran cincin itu. Cincin yang sangat aku kenal. Cincin yang hampir aku kenakan selama sisa hidupku. Aku tidak tahu jika cincin itu sudah kembali ke pemiliknya. Sekali lagi, tanpa kusadari sebuah senyum pahit kembali menghiasi wajahku. Senyum yang mungkin membuat si pemilik cincin ingin memenuhi rasa ingin tahunya.


“Kamu penipu!!!” teriakan seseorang mengalihkan perhatian kami bertiga.


Kesha dan Irene sudah berjalan menuju tempat Alvin duduk. Mereka berdua membawa begitu banyak belanjaan. Melihat wajah pucat Irene, mereka pasti pergi berbelanja dan sepertinya Alvin meninggalkan mereka begitu saja. Mendengar teriakan Kesha, Alvin langsung memasukkan cincin yang sedari tadi kami lihat ke dalam saku jaketnya. Sepertinya, Alvin belum menunjukkan cincin itu kepada Kesha melihat betapa dia ingin menyembunyikannya dari Kesha.


Ken kembali memasang ekspresi wajah biasa miliknya tetapi aku tahu wajahnya saat ini adalah wajah tanpa ekspresi, wajah saat dia ingin berlari dari masalah. Sekarang aku benar-benar tidak tahu apa yang ada di dalam pikirannya. Aku tidak bisa membaca wajah tanpa ekspresi miliknya. Di dalam pikirannya sekarang tidak hanya muncul satu atau dua pertanyaan, ratusan bahkan mungkin ribuan pertanyaan sudah memenuhi kepalanya.


“Kita menunggu kamu 2 jam dan ternyata kamu disini,” ucap Kesha diikuti tarikan pada telinga Alvin.


Kesha langsung mengambil tempat duduk di samping Alvin dan Irene mengambil kursi tambahan. Kesha menyeruput minuman dari cangkir Alvin dan langsung membuat Alvin menarik cangkir itu. Mungkin dia benar-benar menganggap berbagi cangkir yang sama adalah hal yang menjijikkan.


“Kita akan menikah. Sampai kapan kamu tidak akan berbagi denganku?”


Alvin tetap diam dan membuat suasana menjadi canggung. Irene menyikut lengan Ken, Ken hanya menatap tajam ke arahnya dan membuatnya menatapku penuh tanda tanya. Aku hanya menggelengkan kepalaku. Saat ini Ken benar-benar menjadi seseorang yang tidak bisa aku baca. Dia dalam mode diam yang sangat aku benci. Aku menyodorkan kartu pelanggan café kepada Irene, berharap dia memesan sesuatu dan memecah kecanggungan ini.


“Kamu mau pesan apa?” tanya Irene kepada Kesha.


“Sama denganmu.”


Suasana kembali hening dan canggung seperginya Irene. Kesha menggaruk-garuk hidungnya yang tidak gatal. Ken dan Alvin hanya diam membisu sembari mengamati sekeliling. Sedangkan aku lebih memilih membereskan barang-barang milikku dan Ken yang berserakan di atas meja.


“Kenapa kamu tidak bilang?” tanya Kesha memecah hening, membuatku langsung mengamatinya.


Kuamati raut wajahnya yang serius. Sepertinya dia berpikir ulang sebelum memutuskan untuk memberikan pertanyaan itu padaku. Aku tidak tahu maksud pertanyaannya tetapi melihat dari raut wajah serius miliknya, dia akan membahas sesuatu yang membuat suasana menjadi lebih canggung dari ini.


“Saat itu, kamu baru saja mengalami kecelakaan dan sedang dalam tahap pemulihan. Kamu memainkan piano saat itu karena kamu ingin mengingat kenangan yang kamu lupakan. Dan alasan kamu mengatakan jika aku bukan sepupumu dan aku terlihat menjijikkan di hadapan teman-temanku adalah karena kamu menganggapku sebagai orang lain. Kamu berhalusinasi saat itu. Kenapa kamu tidak mengatakan yang sebenarnya?”


Saat itu, aku bahkan tidak tahu siapa diriku. Hari dimana aku bangun dari tidur panjangku selama 3 bulan lamanya adalah hari dimana aku tahu jika seluruh duniaku sudah hancur dan aku memainkan piano seperti orang yang kerasukan. Aku terus memainkan tuts-tuts piano meskipun aku tidak bisa mendengar dan melihat permainan macam apa yang aku mainkan. Aku bahkan terus berhalusinasi melihat orang-orang yang tidak ingin aku lihat. Aku seperti orang gila saat itu dan mungkin aku pantas untuk masuk ke rumah sakit jiwa jika keluargaku melaporkan kondisiku yang sebenarnya kepada dokter yang menanganiku saat itu.


“Haruskah membahasnya saat ini?” tanya Ken dengan tatapan tajam miliknya membuat Kesha langsung menutup rapat mulutnya.


“Bisakah kamu tidak kasar kepadanya?” tanya Alvin akhirnya membuat suara setelah diam selama 10 menit sejak Kesha dan Irene masuk ke dalam café.


Kuhembuskan nafasku perlahan dan meraih tangan Ken yang sudah kembali sedingin es. Dia menepis tanganku yang membuat Kesha dan Alvin tertegun. Sekarang mereka tahu jika Ken yang sekarang bukanlah Ken yang mereka temui kemarin. Baik Kesha dan Alvin memperbaiki posisi duduk mereka.

__ADS_1


Irene meletakkan pesanannya di meja. Dia langsung duduk dan memakan apa yang dia pesan tanpa melihat situasi canggung diantara kami. Dia terus memakan roti miliknya hingga dia sadar ada sesuatu yang salah saat melihat kami berempat secara bergantian.


“Kenapa kalian semua diam?” tanyanya dengan mulut penuh makanan.


“Kenapa kamu mengatakannya kepada Kesha?” tanya Ken.


“Hah?” jawab Irene kebingungan sembari meletakkan sendok ke atas piring dan memalingkan wajahnya ke arah Kesha.


“Aku mengatakannya,” jawab Kesha pelan.


“Bukankah..”


“Bukankah seorang psikiater akan menjaga rahasia pasiennya?” potong Ken.


“Aku yang memaksanya,” jawab Kesha kembali dengan suara pelan.


“Haruskah aku mengatakan hal ini pada ayah?”


“Ken!!!!” teriak Kesha.


Teriakan Kesha cukup membuat pengunjung kembali memperhatikan meja kami. Untuk kedua kalinya beberapa orang menatap ke arah kami dengan tatapan penuh tanda tanya. Berbeda dengan sebelumnya, sekarang situasinya bertambah rumit hingga beberapa pegawai mencoba berjalan ke arah kami untuk memastikan apakah ada yang salah. Tuan Stephan langsung menghentikan para pegawai dan membuat tanda tanya beberapa pengunjung menjadi lebih besar. Kembali kucoba meraih tangan Ken, dia kembali menepis tanganku untuk kedua kalinya.


“Bukankah terlalu berlebihan untukmu bereaksi seperti ini? Bahkan tangan dari istrimu kamu tepis,” ucap Alvin membuatku langsung menatap tajam ke arahnya.


“Kamu mengatakan Kesha adalah perempuan yang kamu cintai dan kamu tidak ingin dia terus mengingat hal memalukan yang dia alami. Aku juga akan mengatakannya, Zeta adalah perempuan yang aku cintai dan aku tidak ingin dia mengingat hal yang menyedihkan. Sudah cukup dia merasakannya satu kali dan sudah cukup hukuman yang dia terima dengan mengingatnya. Dia akan terus merasakan rasa sakit selama dia mengingat hal mengerikan yang terjadi kepadanya. Aku dan kamu, kita mencintai orang yang berbeda dengan cara yang berbeda pula.”


“Ken,” panggilku pelan.


“Aku pergi dulu. Jangan ikuti aku.”


Ken mengambil tas miliknya dan langsung melangkahkan kakinya keluar café meninggalkan mata-mata penuh ingin tahu. Kuikuti punggung miliknya yang perlahan menghilang tertutup bangunan lain. Dua pengawal mengikuti Ken dan sisanya tetap berada di luar café. Tuan Stephan menatapku sebentar sebelum akhirnya melangkahkan kakinya keluar dari café.


“Aku benar-benar minta maaf,” ucap Irene.


“Kami akan baik-baik saja,” ucapku.


“Alasan aku menyembunyikan kebenaran tentang diriku adalah karena aku tidak ingin membebani siapapun. Sudah cukup aku membebani keluargaku, aku tidak ingin keluarga besar ikut terbebani. Dan Ken, alasan dia seperti sekarang adalah karena dia takut. Dia sudah terbiasa menjadi seseorang yang aku bebani, dia tidak ingin orang lain mengalihkan perhatianku darinya. Dia ingin menjadi satu-satunya orang yang aku bebani. Maafkan kecemburuan dia. Aku permisi,” lanjutku.

__ADS_1


...-----...


__ADS_2