Mentari di Langit Malam

Mentari di Langit Malam
Masa Lalu : Melindungi


__ADS_3

Aku masih bisa merasakan tamparan keras yang diberikan Ken kepadaku. Aku merasa akan terus merasakan tamparan ini hingga beberapa hari ke depan. Perlahan kupegang pipiku yang sudah mulai membengkak. Akan sangat sulit untuk menutupi luka di pipiku saat ini dari ayah atau bisa jadi sekarang ayah sudah tahu semuanya.


"Apakah sakit?" tanya Stephanie.


Aku hanya menggeleng dan langsung menurunkan tanganku dari pipiku. Arthur terus mengamatimu dari kaca spion depan. Beberapa kali dia sibuk dengan handphone miliknya, aku yakin dia sedang mengabari ibu. Tidak mungkin dia mengabari ayah ataupun William karena Arthur tidak pernah melakukan hal itu. Baginya, ayah ataupun William akan tahu semua yang terjadi padaku dengan sendirinya. Hanya menyisakan ibu yang tidak akan tahu apapun sebelum kami memberitahunya.


Sebuah botol dingin diberikan kepadaku. Stephanie terus menyenggolkan botol dingin di tangannya kepadaku agar aku bisa mengompres pipiku. Aku tidak suka rasa dingin yang akan aku rasakan. Bukan hanya pipiku saja yang akan merasakan dingin tetapi seluruh tubuhku mengingat betapa sensitifnya tubuhku terhadap dingin.


Aku menggeleng dan mendorong botol di tangan Stephanie.


"Benarkah tidak sakit?" tanya Stephanie sekali lagi memastikan.


"Hmmm," jawabku sembari mengangguk.


Stephanie dan Caroline memutuskan untuk ikut pulang denganku. Mereka ingin memastikan jika aku baik-baik saja. Definisi baik-baik saja bagi mereka adalah air mata. Mereka ingin melihatku meneteskan air mata sebagai tanda bahwa aku baik-baik saja. Mereka mengira saat ini aku sedang menyembunyikan perasaanku yang sebenarnya dan mereka tidak ingin aku akan menangis sendirian.


"Apa kalian pernah melihatku menangis saat Ken menyakitiku?" tanyaku untuk kesekian kalinya. Aku sudah bosan harus menanyakan pertanyaan itu berulang kali.


"Kali ini dia keterlaluan. Dia bahkan tidak mendengarkan penjelasan. Dia..."


Caroline menghentikan ucapannya, membuatku langsung menatap ke arahnya yang sekarang sedang berusaha menahan agar dirinya tidak menangis. Stephanie langsung menepuk lembut pundak saudari kembarnya itu dan membiarkan kepala Caroline berada di pundaknya.


"Bisakah Paman memakai airpod ini?" tanya Arthur sembari memasang kedua airpod di tangannya ke telinga supir. Dia bahkan tidak menunggu supir itu menjawabnya dan langsung melakukan apapun yang dia inginkan. Tipikal laki-laki Keluarga Allison, selalu bergerak tanpa menunggu persetujuan siapapun.


Bagaimanapun, aku lebih menyukai Arthur dibandingkan William yang lebih memaksa. William tidak akan mengajukan satupun pertanyaan, dia akan langsung bertindak. Berbeda dengan Arthur yang akan mengajukan pertanyaan terlebih dahulu sehingga orang yang diperintah olehnya tidak terlalu terkejut. Walaupun begitu, keduanya tetap tidak memberikan kesempatan bagi orang lain untuk memberikan pendapatnya.


"Ceritakan apa yang sebenarnya terjadi."


"Zeta?" tanya Stephanie meminta izin kepadaku agar dia yang menceritakan semuanya.


Aku mengangguk dan langsung mengalihkan perhatianku ke jalanan. Stephanie menceritakan semua yang dia dengar di café tempat kami bertemu Natasha dan sekretaris Paman Parker dengan tidak sengaja. Dia mengulangi setiap ucapan yang Natasha ucapkan dengan sangat detail. Bahkan aku sudah melupakan semua pembicaraan itu. Bagaimana bisa dia masih mengingatnya?

__ADS_1


Sesekali kuamati wajah Arthur yang tetap datar. Dia tidak terkejut ataupun merasa bersalah atas sikapnya kepada Ken, sangat berbeda Stephanie dan Caroline yang menunjukkan wajah bersalah mereka. Aku rasa apa yang sudah Ken lakukan kepadaku cukup meninggalkan kebencian yang mendalam bagi Arthur. Aku kira Arthur akan menunjukkan ekspresi tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Kali ini, dia lebih memilih untuk menunjukkan sisi dewasa miliknya.


"Ayah dan William tidak akan peduli dengan hal itu," ucap Arthur begitu Stephanie selesai menceritakan semuanya.


"Bagaimana dengan Kakak?" tanyaku.


"Saat dimana dia belum menamparmu, aku bisa memahaminya tetapi saat ini aku sangat membencinya. Aku akan melakukan apapun untuk membuatnya menderita."


"Dia sudah cukup menderita."


"..."


"Zeta, aku ingin bertanya satu hal. Kenapa kamu tidak langsung mengatakan kepada Ken jika semua itu hanya kesalahpahaman?"


"Steph, Ken tidak mendengarkan dia," balas Caroline.


"Mau Ken mendengarnya atau tidak, Zeta selalu mengatakan kebenarannya."


"Jika aku mengatakan yang sebenarnya, Ken akan tahu semua hal tentang Natasha," jawabku.


"Zeta!!!" teriak Arthur, Stephanie, dan Caroline bersamaan.


"Setelah semua yang dia lakukan kepadamu? Kamu masih ingin menyelamatkannya?!" ucap Caroline tidak percaya.


"Carol, kamu beberapa hari lalu mengatakan akan memperlakukan Ken dengan baik setelah tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kemana Carol itu pergi?"


"Zeta, kali ini berbeda," ucap Stephanie.


"Apa yang berbeda?"


"Banyak orang yang terlibat di dalamnya. Dan sekarang Ken menamparmu, apakah Paman Allison dan Kak Will akan diam saja?"

__ADS_1


Tentu tidak. Baik ayah ataupun William akan semakin membenci Ken. Aku sangat yakin kejadian hari ini akan membuat ayah semakin ingin membatalkan perjodohanku dengan Ken. Aku juga sangat yakin, William sedang menyusun sebuah rencana untuk membuat Ken menderita. Dan aku juga yakin Paman Parker akan menghabisi Ken.


Seperti yang ibu katakan kepadaku, kata cinta yang keluar dari mulut kami akan menimbulkan banyak masalah..


"Kenapa kamu ingin melindunginya?" tanya Arthur akhirnya menyerah kepadaku.


"Aku ingin melindungi senyum terakhir yang Tante Lily coba lindungi. Senyum itu muncul hanya saat Ken bersama dengan Natasha. Aku ingin melindungi senyum itu hingga akhir seperti yang tante lakukan."


"Lalu apa yang akan kamu lakukan saat dia tahu semua ini? Termasuk fakta dimana kamu yang menolongnya. Apa yang akan kamu lakukan?"


"Aku akan membuatnya tidak tahu semua hal itu."


"Bagaimana caranya?"


"Membuat perjanjian dengan Paman ..."


"Baiklah."


"Kak Arthur!!!" teriak Stephanie dan Caroline bersamaan.


Kuamati wajah Arthur dari kaca spion depan. Wajah seseorang yang sedang mengenang kembali kenangan masa lalunya. Kenangan yang hingga saat ini belum bisa aku buka. Sorot matanya menunjukkan sebuah kerinduan akan masa lalu, kerindungan yang mungkin tidak akan bisa dia obati karena penawar yang bisa mengobati kerinduan itu belum menampakkan rupanya.


Berbeda dengan William yang sudah pasti terlihat memiliki rahasia, Arthur yang selalu menunjukkan wajah ceria miliknya juga memiliki sebuah rahasia, rahasia yang menurutnya cukup kelam. Bahkan kedua orang tuaku tidak tahu rahasia apa yang dimilikinya, hanya William satu-satunya orang yang tahu tentang rahasia miliknya. Ayah tidak terlalu penasaran dengan rahasia miliknya karena bagi ayah sudah sewajarnya anggota Keluarga Allison memiliki satu rahasia dalam hidupnya. Ibu sendiri sama halnya denganku yang mencoba menanyakan rahasia itu kepada Arthur. Ibu sudah menyerah untuk mengetahui rahasia miliknya dan aku hingga saat ini masih belum menyerah. Aku sedang menunggu waktu yang tepat untuknya menceritakan rahasia kelam miliknya. Waktu yang mungkin tidak akan pernah aku dapatkan.


"Berjanjilah satu hal kepadaku. Kamu akan terus melakukan semua hal itu bersamaku, tidak peduli apapun yang terjadi."


"Aku berjanji," ucapku sembari menyodorkan jari kelingking yang langsung disambut olehnya.


"Dan kalian berdua, jika hal ini terdengar oleh William. Aku akan membuat kalian menyesal."


...-----...

__ADS_1


__ADS_2