Mentari di Langit Malam

Mentari di Langit Malam
Masa Lalu : Trauma Masa Kecil


__ADS_3

Aku tidak tahu definisi tempat tinggal yang layak huni itu seperti apa. Aku juga tidak tahu standar sebuah rumah atau apartemen bisa dikatakan sebagai tempat tinggal yang baik itu apa. Aku hanya tahu jika apartemen seluas kamar William ini, bukanlah sebuah tempat yang bisa aku tinggali walau hanya satu malam. Hanya ada dua kamar tidur, satu ruang tamu yang merangkap menjadi ruang keluarga dan ruang makan, serta dapur yang sangat kecil. Melihat apartemen ini membuatku tersadar jika kamar William ternyata cukup luas untuk bisa menjadi sebuah apartemen.


Interior di apartemen ini juga sangat sederhana, menunjukan hanya ada seorang anak SMA dengan adiknya yang tinggal disini. Tidak ada barang mewah apapun di apartemen ini, bahkan untuk pernak-pernik lucu juga tidak ada. Hanya ada barang-barang penting yang biasa digunakan sehari-hari seperti peralatan makan, peralatan masak ataupun peralatan kebersihan, benar-benar hanya berisikan barang-barang yang memang dibutuhkan sebagai kepentingan dasar untuk hidup.


Aku bahkan tidak menemukan satupun jam dinding di apartemen ini. Saat mataku masih mencoba beradaptasi dengan pemandangan baru ini, mataku tertuju pada satu-satunya bingkai foto yang ada di apartemen ini. Aku bisa melihat wajah Natasha, Felix, dan Carlista yang tersenyum penuh bahagia. Aku rasa foto itu diambil saat Natasha masih berada di bangku SMP, melihat dari wajahnya yang masih cukup muda dan gaya rambutnya yang jauh berbeda dari dirinya yang sekarang. Melihat bagaimana bingkai foto ini tidak coba disembunyikan, aku rasa Ken belum pernah masuk ke apartemen ini.


Sebuah tangan menarik-narik bajuku, membuatku langsung mengalihkan fokusku pada Carlista yang terus-menerus menarik lengan bajuku sejak aku menginjakkan kakiku di apartemen ini. Dia menunjuk sebuah kamar dan memintaku berjalan bersama dengannya menuju kamar itu, kamar dimana Natasha berada. Berulang kali aku mencoba membuka pintu kamar tetapi tidak ada satupun usahaku yang membuahkan hasil.


Aku menatap Carlista yang juga sama bingungnya denganku karena pintu kamar milik kakaknya tidak terbuka. Melihat dari wajah bingungnya, aku rasa sebelum dia pergi dari apartemen pagi ini, dia masih bisa membuka pintu kamar ini dan sekarang pintunya tidak bisa terbuka.


'Apa Carlista memiliki kunci kamar ini?'


Carlista hanya menggeleng. Kualihkan pandanganku pada Arthur yang juga masih berusaha beradaptasi dengan lingkungan tempat kami sekarang berada. Sama halnya denganku, ini adalah kali pertama bagi kami berada di sebuah ruangan yang tidak pernah kami pikirkan bisa disebut sebagai sebuah tempat tinggal. Jika saja apartemen ini tidak sebersih ini, bisa aku pastikan baik aku dan Arthur tidak akan bisa menginjakkan kaki kami ke dalam apartemen ini karena kami sama-sama memiliki alergi terhadap debu.


"Kak Arthur, bisakah meminta Paman Stephan ataupun pengawal lainnya untuk kemari? Pintu kamar Natasha terkunci dan Carlista tidak memegang kuncinya," ucapku begitu sampai di tempat Arthur berdiri, tentunya tetap dengan tangan Carlista yang masih memegang lengan bajuku. Carlista tidak membiarkanku pergi jauh darinya, mungkin dia takut jika aku akan meninggalkannya dan tidak menolong kakaknya.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Arthur setelah beberapa kali menelan ludahnya sendiri.


"Aku baik-baik saja. Panggil Paman Stephan dan pengawal lainnya,” ucapku mengulangi kembali kalimat yang sebelumnya aku ucapkan.


"Tunggu, aku akan keluar sebentar."


Arthur berjalan keluar dari apartemen dengan tubuh yang sedikit bergetar. Aku mencoba untuk tidak mempedulikan hal itu dan memutuskan untuk kembali ke kamar Natasha, melihat apakah aku bisa mendobrak pintu kamarnya. Carlista juga beberapa kali menunjuk ke arah sebuah kotak yang berisikan kunci-kunci, aku mencoba beberapa tetapi sama sekali tidak cocok dengan pintu kamar Natasha. Sepertinya kunci pintu Natasha masih berada di gagang pintu sehingga aku tidak akan pernah bisa membuka pintu di depanku walaupun aku memegang kunci cadangannya.


"Biar aku yang mendobraknya," ucap Arthur.


"Mana Paman Stephan?"


"Sedang kesini, masih di lift. Bawa anak ini dan dirimu menjauh."

__ADS_1


Arthur mendorong pelan tubuhku menjauhi pintu kamar. Dia mulai mengambil ancang-ancang untuk mendobrak pintu di depannya. Bukannya aku meragukan kekuatan yang dimilikinya tetapi pintu di depan kami tidak akan bisa terbuka hanya dengan tenaga yang dimilikinya. Pintunya terbuat dari kayu yang cukup kuat.


Buk!!


"Kakak baik-baik saja?" tanyaku langsung menghampiri Arthur begitu dia mengaduh.


"..."


"Lebih baik kita tunggu Paman Stephan dan pengawal lain saja,” ucapku begitu hanya mendapatkan tatapan tajam dari Arthur.


Aku memegang bahu Arthur yang sepertinya terluka, melihat bagaimana dia terus meringis menahan rasa sakit. Bukan hanya sepertinya terluka, sekarang aku bisa melihat sebuah noda darah di baju putih miliknya. Aku kembali mengamati pintu di hadapan kami, mencoba mencari penyebab rasa sakit di bahu Arthur. Tidak mungkin dia bisa semudah itu terluka dan berdarah hanya karena mencoba mendobrak sebuah pintu. Mataku terhenti begitu melihat sebuah ujung paku kecil menancap di pintu itu, sepertinya Natasha memaku pintunya dari dalam.


Beberapa pengawal sudah masuk ke dalam apartemen, membuatku dan Arthur langsung memundurkan tubuh kami ke belakang. Arthur kemudian menyuruh mereka untuk mendobrak pintu.


"Tunggu, ada paku di pintu," ucapku sembari menunjuk sebuah ujung runcing kecil di pintu.


"Sepertinya bahu Kakak terluka karena itu," lanjutku begitu Arthur menatapku tidak percaya dengan apa yang baru dia dengar.


"Zeta juga baru tahu. Bagaimana bisa Kakak membuatku menjadi adik yang buruk?" balasku.


"Ah maaf."


Bruk!!


Sekali lagi Carlista langsung menarik tubuhku berjalan masuk ke kamar Natasha begitu pintu berhasil didobrak. Dia langsung melepaskan tarikannya begitu kakinya menyentuh lantai kamar Natasha, meninggalkanku seorang diri di depan pintu. Aku bisa mendengar suara Carlista yang memanggil kakaknya dengan suara yang sangat pelan. Aku melangkahkan kakiku ke dalam kamar Natasha dan mendapatinya entah sedang tertidur atau pingsan dengan posisi tengkurap. Carlista terus memanggil dan menggoyang-goyangkan tubuh Natasha, mencoba membuat Natasha sadar.


"Jangan dilihat."


Arthur menutup kedua mataku dengan tangannya. Tangannya bergetar, seolah memberitahuku jika seluruh badannya juga sudah bergetar ketakutan sedari tadi. Arthur memutar tubuhku menghadap tubuhnya, dia kemudian menyuruh para pengawal untuk membawa Natasha ke rumah sakit dan meminta Paman Stephan untuk tetap tinggal bersama kami. Arthur juga meminta pengawal untuk membawa Carlista pergi ke rumah sakit.

__ADS_1


"Kamu baik-baik saja?"


Aku mendengar pertanyaan itu tetapi tubuhku tidak bisa meresponnya. Saat ini, tubuhku kembali berada di masa lalu, di masa dimana aku menemukan mayat pamanku. Tubuh yang aku kira hanya sedang tertidur, ternyata sudah meninggalkan dunia ini dengan posisi yang sama seperti Natasha. Aku dengan bodohnya terus memanggil-manggil pamanku hingga akhirnya kakekku mendengar suaraku yang terus-menerus memanggil nama paman tanpa ada balasan. Kakekku yang juga tidak tahu jika anak laki-laki pertamanya telah meninggal, membalikkan tubuh paman, membuatku melihat wajah pucat dengan mata yang terbuka. Kakek langsung memanggil dokter, dan saat itu aku melihat bagaimana seorang dokter mencoba menyelamatkan seseorang yang telah meninggal dengan terus memberikan CPR, sesuatu yang seharusnya tidak mereka lakukan.


Saat itu, aku kira pengalaman menakutkan itu tidak akan menghantuiku, ternyata aku salah karena sejak hari itu aku menderita claustrophobia, fobia terhadap ruangan sempit. Ruang kamar dimana aku menemukan pamanku sudah tidak bernyawa adalah batas dimana aku tidak bisa mentolerir sebuah ruangan yang lebih sempit dari itu. Dan apartemen ini, membuatku langsung merasakan rasa cemas begitu memasukinya.


Sama halnya denganku, Arthur juga menderita claustrophobia dengan alasan yang berbeda denganku. Aku tidak tahu alasan dibalik fobianya karena dia tidak pernah menceritakan apapun baik kepadaku ataupun kepada kedua orang tuaku. Dia juga tidak menceritakan apapun kepada psikiater yang menanganinya, seolah dia ingin menyimpan rahasia itu hingga akhir hayatnya. Sesuatu yang tidak bisa aku pahami karena aku sangat ingin sembuh dari fobia ini. Dan untuk bisa sembuh dari fobia ini, aku harus bisa mengatasi trauma masa laluku.


"Zeta!!!!" teriak Arthur sembari menggoyang-goyangkan tubuhku.


"Aku melihat wajah Paman kembali. Aku akan takut untuk menutup mataku," ucapku begitu tersadar sembari memeluk Arthur.


"Jika saat itu aku tidak terlambat membangunkan paman. Jika saat itu aku tidak membuat keluarga kita terlambat datang ke acara Tante Lily, apakah mereka berdua akan tetap hidup?" tanyaku terbata-bata.


"Zeta, hidup dan mati sudah Tuhan atur. Jika Tuhan menuliskan seseorang untuk meninggal saat itu, apapun yang kamu lakukan, mereka akan tetap meninggal. Kamu hanya variabel lain dari kematian mereka."


"...."


"Zeta, dengarkan aku, semua itu bukan salahmu. Aku tahu apa yang ada di pikiranmu saat ini, hentikan pikiran itu," ucap Arthur sembari melepas pelukanku dan memegang kedua bahuku.


"Memangnya apa yang aku pikirkan?"


"Natasha tidak akan meninggal hari ini. Kamu tidak telat dan kamu datang tepat waktu. Natasha akan selamat. Dia hanya demam biasa. Kumohon, jangan jadikan hal kecil ini menjadi beban pikiranmu. Kembali menjadi Zeta. Zeta?!"


"Maafkan aku," ucapku sembari kembali memeluk Arthur.


"Jangan meminta maaf. Setiap orang memiliki kenangan mereka masing-masing, sebagian orang menunjukan kenangan itu dan sebagian lainnya memilih untuk menyembunyikannya. Dan mereka yang memilih menyembunyikannya memiliki luka yang lebih dalam. Sama halnya denganmu yang lebih memilih menyembunyikannya, aku juga memilih untuk menyembunyikan kenangan milikku. Tidak ada yang salah dengan menyembunyikan kenangan itu, Zeta. Dan juga tidak ada yang salah jika kamu ingin menunjukan kenangan itu. Yang salah adalah saat kamu menyalahkan dirimu sendiri atas kenangan yang memang sudah dituliskan oleh Tuhan dan menjadikannya sebagai pijakan yang sama untuk kenangan yang bahkan belum kamu buat."


"..."

__ADS_1


"Semua perasaan yang kamu miliki untuk setiap kenangan dalam hidupmu, bukan berarti perasaan yang sama akan mengisi kenangan yang sama. Kamu boleh mengubah perasaan milikmu setiap kali mengingat kenangan itu, tidak ada yang memintamu untuk tetap memberikan rasa yang sama untuk kenangan yang sama."


...-----...


__ADS_2