Mentari di Langit Malam

Mentari di Langit Malam
Masa Lalu : Akhir yang Tidak Diharapkan


__ADS_3

Belum ada 30 menit dari saat paman menempelkan poster yang berisikan ucapan belasungkawa yang aku tulis dan bunga di papan pengumuman, sekarang sudah banyak kertas-kertas memenuhi papan pengumuman berisikan ucapan belasungkawa mereka dan harapan mereka untuk Natasha di kehidupan berikutnya. Aku kembali berdiri diam di depan papan pengumuman setelah membuat anak-anak yang sedang menempelkan kertas ke papan pengumuman pergi. Sekarang aku tidak tahu apakah sebelum ini mereka ingin menunjukan sisi kemanusiaan mereka tetapi takut karena tidak ada yang memulainya atau sisi kemanusiaan mereka muncul setelah seseorang sepertiku memulainya.


Satu tulisan menarik perhatianku. Saat aku kembali mencoba mendekati papan pengumuman, paman melarangku karena masih ada sisa-sisa kaca yang tajam menempel di papan pengumuman.


"Zeta tidak akan menyakiti diri Zeta. Zeta mohon?"


Ucapanku membuat paman kembali ke posisinya, di belakangku. Aku berjalan mendekat dan mengambil secarik kertas yang berisikan tulisan, tulisan yang menarik perhatianku. Dan tulisan yang sangat aku kenal.


'Terima kasih telah membuat adikku memiliki sebuah impian dan merasakan sebuah cinta karena keinginannya.'


Arthur, dia yang menulisnya. Dia pasti menulisnya setelah kembali dari ruang VIP menuju ruang kelasku. Aku rasa dia mendapat berita jika sesuatu yang buruk terjadi kepada William setelah dia menulis dan menempelkan kertas ini. Tidak mungkin dia sudah mendapatkan kabar tentang William dan masih bisa tenang untuk menulis sesuatu seperti ini. Setelah memegang kertas milik Arthur selama beberapa detik, aku kembali menempelkannya ke papan pengumuman.


Tepat saat aku akan berbalik, melanjutkan langkahku, Ken tiba-tiba menempelkan secarik kertas ke papan pengumuman dengan tubuhnya yang sangat dekat denganku. Melihat diriku yang cukup terkejut, Paman langsung menarik tubuhku menjauhi Ken. Hal itu membuat Ken ikut terkejut, terkejut karena perubahan sikap paman kepadanya. Sepertinya dia tidak mengira paman akan seposesif ini kepadaku, seperti halnya kedua kakakku saat menyangkut dirinya.


"Maaf, aku membuatmu terkejut."


"Saya harap Tuan Ken tidak melakukan hal seperti ini lagi di masa depan."


Ken terdiam setelah mendengar balasan dari paman. Aku tidak bisa mengatakan apapun saat ini karena paman yang tiba-tiba membalas ucapan Ken, membuatku untuk kesekian kalinya kehilangan waktu yang tepat untuk berbicara. Paman menyodorkan tangannya ke depan, memintaku untuk segera berjalan kembali. Aku hanya bisa menuruti paman dan melanjutkan langkah kakiku dengan sebelumnya melihat sekilas ke arah Ken. Saat mataku bertatapan dengan matanya, fokus mataku juga ikut pada kertas yang tepat berada di belakang kepalanya. Sebuah kertas yang baru saja Ken tempelkan.


'Terima kasih membuatku menyadari seseorang yang penting dalam hidupku.'


"Paman, bolehkah Zeta menunggu Paman mengambil mobil di lobi depan bersama dengan Ken?" tanyaku setelah berjalan 3 langkah, membuat Ken langsung melihat ke arahku.


"Nona..."


"Ken tidak akan melakukan hal buruk kepada Zeta. Zeta tahu apa yang Paman khawatirkan. Zeta, mohon?" potongku.


"Baiklah," jawab Paman dengan sangat terpaksa.


Paman juga meminta para pengawal Ken untuk pergi mengambil mobil di tempat parkir bersamanya, meninggalkanku berdua dengan Ken di lorong yang sunyi ini. Aku dan Ken kembali bertatapan selama beberapa detik hingga aku memutuskan untuk kembali berjalan menuju lobi depan sekolah, tempat dimana biasanya para siswa di jemput oleh supir mereka.


Ken masih menjaga ucapannya dengan berjalan 1 meter dariku. Aku juga tidak memintanya untuk mendekatiku. Aku menyukai jarak yang sekarang tercipta, jarak yang mungkin seharusnya dari dulu kami pertahankan. Jarak dimana seharusnya tidak ada seorangpun dari kami yang mencoba mendekat ataupun menjauh. Jarak yang seharusnya bisa membuat kami mempertahankan hubungan masa kecil kami tanpa melibatkan satupun perasaan.


Sesampainya di lobi depan, aku langsung duduk di kursi panjang. Ken ikut duduk, tentunya tetap dengan jarak 1 meter dariku. Aku mengeluarkan sesuatu dari dalam saku jaketku, sesuatu yang sudah lama ingin aku kembalikan kepada pemiliknya. Aku meletakan gelang peninggalan Tante Lily ke samping kanan tempatku duduk, membuat Ken langsung melihat gelang milik ibunya.


"Natasha memberikan kembali gelang ini kepadaku dan aku menerimanya kembali dengan mengatakan jika aku akan menanggung semua rasa bersalah miliknya. Aku rasa saat dimana dia mengakui semuanya kepadamu, saat itu juga aku tidak lagi menanggung rasa bersalah miliknya."


"Maafkan aku, maafkan semua hal buruk yang telah aku lakukan. Aku mohon maafkan aku dan aku mohon jangan membenciku."

__ADS_1


"Apa alasanmu mengatakan hal seperti itu? Pernahkah aku menunjukan jika aku membencimu?" balasku yang sebenarnya cukup terkejut mendengar kalimat yang baru keluar dari mulutnya.


"..."


Ken terdiam dan mengambil gelang milik ibunya. Kami kembali diam untuk waktu yang lama dan paman masih belum datang. Aku tidak mengharapkan paman akan memberikan waktu yang lama kepadaku untuk berbicara dengan Ken. Aku hanya menginginkan beberapa menit saja, tidak selama ini.


"Tidak bisakah gelang ini...."


"Zeta?!" panggil seseorang memotong ucapan Ken.


"Kak Alvin?" ucapku setelah melihat siapa yang memanggilku, membuat Ken ikut mengikuti arah pandanganku.


Alvin sedang berlari ke arah kami. Aku berdiri dari tempat duduk dan berjalan mendekat ke arahnya, mencoba membuatnya tidak berlari lagi. Dia berhenti tepat di depanku sembari mencoba mengatur nafasnya, dia tidak lupa memberikan senyum khas miliknya dan tentunya tatapan lembut miliknya. Sekarang aku tahu dengan pasti alasan kenapa mata biru miliknya bisa membuatku ingin menyelaminya, membuatnya masuk ke dalam hidupku dengan mudah, dan membuatku mencintainya.


Mata biru miliknya adalah mata biru yang diturunkan oleh laki-laki yang merupakan cinta pertama dalam hidupku. Mata biru miliknya adalah mata biru yang sama dengan milik ayah, mata biru yang membuatku tidak bisa membenci ayah. Sekarang aku benar-benar bisa melihat jika laki-laki yang berdiri di depanku saat ini adalah kakak kandungku, kakak kandung yang berbeda ibu denganku.


Aku sangat ingin menanyakan satu pertanyaan kepadanya, pertanyaan yang mungkin tidak akan bisa aku tanyakan kepadanya. Aku kembali menatap matanya, membuatku melihat diriku di dalam matanya, diriku yang saat ini memberikan tatapan sendu kepadanya.


"Kamu baik-baik saja?"


Aku hanya mengangguk. Aku tahu jika anggukan yang aku berikan sebagai jawaban adalah sebuah kebohongan yang juga Alvin ketahui. Dia lebih memilih untuk mempercayai jawabanku dibandingkan menanyakan lebih lanjut. Aku pernah berpikir berapa banyak kebohongan yang aku berikan kepada orang lain dan orang itu mengetahui kebohongan yang aku berikan karena melihat betapa mudahnya aku dibaca seperti ini.


"Haruskah aku bolos pelajaran berikutnya?"


"Tidak, aku tidak ingin Kakak melakukan hal merugikan seperti itu."


"Tapi bagiku itu bukan hal yang merugikan."


"Kak," panggilku membuat Alvin lebih memfokuskan dirinya kepadaku.


"Baiklah, aku akan menghubungimu. Melihatmu sekarang sudah cukup. Berjanjilah padaku untuk pergi kencan denganku."


Aku kembali terjebak dalam mata biru miliknya dan hanya mengangguk.


"Baiklah, aku kembali ke kelas. Hubungi aku setelah sampai di rumah."


Sekali lagi aku hanya mengangguk. Alvin berjalan lebih dekat ke arahku, mencoba mengusap lembut rambutku. Sebelum hal itu terjadi, tubuhku ikut memundurkan diri begitu tubuh Alvin mendekatiku. Hal ini membuat tangan Alvin mengambang di udara dan membuat suasana diantara kami menjadi canggung. Aku memajukan tubuhku lalu menarik tangannya yang mengambang di udara dan meletakkannya ke atas kepalaku. Alvin perlahan mengusap lembut rambutku setelah sebelumnya cukup ragu karena tindakanku. Aku memberanikan diri menatap matanya kembali, mata yang sekarang penuh dengan berbagai macam pertanyaan.


"Aku mencintaimu Kak Alvin," ucapku dengan mata berisi air mata dan senyum sendu.

__ADS_1


Ini akan menjadi kali pertama dan terakhir bagiku bisa mengatakan jika aku mencintainya sebagai seorang laki-laki. Setelah ini, aku tidak akan bisa lagi melihatnya sebagai laki-laki yang aku cintai melainkan sebagai seorang kakak. Ini adalah kesempatan terakhir dalam hidupku untuk bisa menyatakan perasaanku yang sesungguhnya kepada laki-laki yang aku cintai.


"Ucapanmu dan wajah yang kamu tunjukan sangat berlainan, Zeta."


"..."


"Sesuatu terjadi bukan?" tanyanya menyelidik.


"Aku akan mengabari tempat kencan kita," ucapku tepat saat bunyi bel tanda istirahat berakhir berbunyi. Aku bersyukur telah diselamatkan oleh bel.


Alvin berhenti mengusap rambutku dan menatapku sebentar hingga akhirnya mulai berjalan kembali ke dalam sekolah. Dia beberapa kali terus melihat ke arahku setiap kali melangkahkan kakinya, mencoba memastikan jika aku baik-baik saja. Dan aku, sekali lagi hanya bisa memberikan senyum yang sepertinya diartikan olehnya sebagai sebuah senyum perpisahan.


"Kamu benar-benar mencintainya," ucap Ken setelah Alvin benar-benar menghilang dari pandangan kami.


"Cinta yang akan berakhir menyedihkan," balasku dengan sebuah air mata menetes, membuat Ken sedikit terkejut dan khawatir. Ken hampir melangkah mendekat ke arahku tetapi aku memberikan tatapan menyuruhnya untuk tetap berada di tempatnya dan hal itu membuatnya hanya bisa berdiam di tempatnya berdiri.


"Semua orang pasti berharap cintanya akan berakhir dengan kebahagiaan. Kamu tidak bisa mendahului Tuhan untuk menghakimi akhir dari kisah cintamu."


"Aku tidak menghakimi akhir kisah cintaku, Tuhan sudah memberikan sedikit jawaban untuk akhir kisah cintaku. Kita berdua, aku rasa memiliki takdir yang buruk dalam hal cinta."


"Sesuatu benar-benar telah terjadi?"


"Sesuatu selalu terjadi dalam hidup seseorang setiap detiknya."


Aku berjalan kembali ke tempat dimana sebelumnya aku duduk. Ken masih berdiri di posisinya, yang berbeda hanya sekarang tubuhnya menghadap ke arah kiri, menghadap ke arahku. Aku tahu dan sudah sangat paham betapa mudahnya aku dibaca. Apa yang aku tunjukkan hari ini, cepat atau lambat baik Ken maupun Alvin akan mengetahuinya. Dan diantara kedua laki-laki itu, Ken yang akan tahu terlebih dahulu mengingat betapa mudahnya dia bisa mengumpulkan informasi tentangku. Bahkan jika aku boleh membandingkannya dengan William, Ken lebih cepat dalam mendapatkan informasi.


Tin!


Bunyi klakson mobil mengagetkanku dan juga Ken. Aku mengamati mobil yang baru saja membunyikan klakson dan mendapati itu bukan mobilku ataupun Ken. Sekarang Ken lebih mendekatkan dirinya kepadaku, takut jika seseorang di dalam mobil akan melakukan hal buruk kepadaku. Kaca mobil diturunkan dan sebuah wajah yang tidak asing terlihat, wajah yang baru tadi pagi aku lihat melalui sebuah foto. Wajah yang membuat kisah cinta kedua orang tuaku dan kisah cintaku hancur. Wajah yang tidak ingin aku lihat dalam waktu secepat ini setelah aku mengetahui semua kebenaran yang terjadi.


"Apakah kamu Zeta?"


"Siapa Anda?" balas Ken sembari menutupi tubuhku dengan tubuhnya yang besar.


"Zeta, bolehkah kita berbicara? Ada sesuatu yang sangat ingin Tante bicarakan."


"Tetapi, siapa An..."


"Ken, matikan semua alat komunikasimu dan jangan biarkan keberadaan kita terlacak. Aku sekali lagi akan bergantung kepadamu," ucapku memotong Ken sembari menarik jaket bagian bawah Ken.

__ADS_1


...-----...


__ADS_2