Mentari di Langit Malam

Mentari di Langit Malam
Masa Lalu : Gelang dan Cincin


__ADS_3

"Bisakah Paman tidak mengatakan apapun tentang pertemuanku dengan Natasha hari ini?"


"Nona, saya mohon maaf, akan sulit untuk saya."


"Tidak bisakah sekali saja Paman menjadi orang kepercayaan Zeta?"


"Maafkan saya."


"..."


Seharusnya aku tidak mencoba untuk meminta Paman Stephan yang merupakan pengawalku, pengawal ayahku juga. Aku tahu dengan pasti dimana letak kesetiaannya berada. Aku hanya ingin mencobanya, aku hanya menginginkan satu orang untuk berada di sisiku. Satu orang saja selain ibu, susah cukup untukku.


"Jika Zeta mengalami kecelakaan, apakah Paman akan menolong Zeta?"


"Saya akan berlari sebelum kecelakaan itu terjadi. Saya tidak akan membiarkan Nona mengalami hal-hal menyakitkan."


"Apa Paman membenci Ken?"


"..."


"Sudah lama Zeta tidak mendengar Paman membicarakan Ken."


"Saya berjanji tidak akan membiarkan Nona merasakan rasa sakit, bahkan jika rasa sakit itu berasal dari orang lain. Saya akan membalas mereka yang menyakiti Nona."


Aku tidak ingin orang lain membalaskan rasa sakit yang aku rasakan. Aku hanya ingin orang lain belajar rasa sakit dari apa yang aku rasakan. Aku hanya tidak ingin orang lain merasakan rasa sakit yang sama denganku.


"Paman, berjanjilah satu hal pada Zeta. Apapun yang terjadi jangan pernah membalas rasa sakit yang Zeta rasakan, cukup lindungi Zeta dari rasa sakit itu. Bisakah Paman berjanji?"


"..."


"Paman? Zeta mohon berjanjilah."


"Baik, Nona. Saya berjanji."


Aku langsung menyodorkan jari kelingking ke depan wajahnya. Aku tahu dia cukup terkejut dengan tindakanku terlebih saat ini mobil masih melaju. Aku menggoyang-goyangkan jari kelingkingku hingga akhirnya Paman Stephan menyerah dan menautkan jari kelingking miliknya.


"Terima kasih, Paman."


...-----...


Cincin dengan tema edelweis dan gelang dengan tema lili, apakah perempuan sangat menyukai bunga hingga menjadikannya bagian dalam hidupnya?


Kuletakkan kedua perhiasan itu ke atas meja rias dan membiarkan diriku kembali melihat langit yang membentang luas. Aku ingin tahu sejauh mana dan sampai mana langit ini membentang. Aku selalu penasaran, bagaimana bisa hanya dengan menatap langit membuat hatiku menjadi lebih tenang? Apakah sebuah sulap?


Tanpa kusadari tanganku menyenggol cincin yang memang aku letakkan di tepi meja. Cincin itu terus menggelinding hingga kayu almari menghentikannya. Kulangkahkan kakiku mengambil cincin itu. 'Nakamoto', aku baru menyadari jika bagian dalam cincin terdapat ukiran nama 'Nakamoto'. Aku langsung mengambil cincin itu dan kembali melangkahkan kakiku menuju meja bacaku. Kuambil gelang peninggalan Tante Lily dan mengamati bagian dalamnya. Lagi-lagi, aku baru menyadari jika terdapat ukiran nama 'Parker' pada gelang ini.


Tok...tok


"Ahhhh!!!" teriakku terkejut mendengar suara ketukan pintu.


"Zeta baik-baik saja?" tanya ibu khawatir.


Aku rasa ibu langsung terkejut dan membuka pintu kamarku. Aku hanya mengangguk dan berjalan ke arah ibu yang membawa cemilan kesukaanku yaitu fish and chips serta minuman kesukaanku yaitu susu cokelat. Ibu langsung meletakkan nampan berisi cemilan itu ke atas meja di samping ranjang tempat tidurku dengan tubuhku yang masih terus memeluk ibu. Begitu ibu selesai meletakkan nampan, beliau langsung membuatku duduk dan mengecek suhu badanku.


"Sudah normal."


"Maafkan Zeta."

__ADS_1


"Untuk apa Sayang? Sakit adalah hal yang manusiawi dan Ibu bersyukur karena kamu sakit jadi Ibu bisa menghabiskan banyak waktu denganmu."


Kuambil kentang goreng yang merupakan bagian dari fish and chips dan langsung memakannya. Ibu mengambil sebuah kursi dan duduk di hadapanku. Beliau beberapa kali membersihkan sisa-sisa makanan yang berada di sekitar mulutku. Disaat seperti ini, aku akan menunjukkan sisi manjaku kepada ibu. Hanya saat dimana aku sakit.


Aku tidak tahu apa penyebab dari demamku. Semalam tiba-tiba suhu tubuhku meningkat dan sepertinya dokter pribadi ayah yang langsung menanganiku. Setiap anggota Keluarga Allison memiliki dokternya sendiri-sendiri, hal ini sudah berlaku dari dahulu. Kata William, dokter yang berbeda-beda ini memungkinkan rekam medis kami tidak dilihat oleh satu dokter saja yang nantinya bisa mengakibatkan kebocoran kondisi tubuh kami.


William pernah memberitahuku semua hal itu terjadi karena dahulu ada anggota keluarga yang membeli informasi kesehatan kepada dokter yang berakibat dengan kematian pewaris asli. Untuk mengantisipasi hal ini terjadi kembali di masa depan, pewaris berikutnya meminta semua anggota keluarga memiliki dokter yang berbeda-beda. Dan beruntungnya, pewaris berikutnya bukanlah anggota keluarga yang menyebabkan pewaris sebelumnya meninggal. Banyak hal kelam tentang keluargaku dan jujur aku tidak ingin tahu lebih banyak.


"Apa ada yang Zeta pikirkan hingga akhirnya jatuh sakit?"


Aku menutup kembali mulutku begitu akan menjawab pertanyaan ibu. Aku tidak tahu jawaban seperti apa yang harus aku berikan. Bahkan diriku sendiri tidak tahu jawaban dari pertanyaan itu. Bagaimana bisa aku menjawabnya?


Ibu memegang kedua tanganku lalu pergi menuju meja riasku. Beliau memandang cincin dan gelang di atas meja rias selama beberapa saat sebelum akhirnya membawanya ke hadapanku. Di telapak tangan kanan ibu terdapat gelang peninggalan Tante Lily dan di telapak kirinya terdapat cincin pemberian Alvin. Aku rasa ibu sudah tahu jika kedua perhiasan itu adalah tanda bahwa seseorang menjadi pendamping pewaris dari kedua keluarga itu.


"Sangat berat bukan memikul keduanya?" tanya ibu sembari menaik turunkan tangannya, seolah terlihat sebagai sebuah timbangan.


"Zeta baru tahu jika di kedua perhiasan itu terukir sebuah nama," aku berhenti tidak melanjutkan ucapanku.


"Menurut Zeta cinta itu apa?"


"Sesuatu yang membuat Zeta bahagia?"


"Cinta seperti apa yang membuat Zeta bahagia? Apakah hanya cinta dari lawan jenis?"


Aku hanya menggeleng.


"Ibu bahagia karena akhirnya Zeta menemukan impian yang selama ini Zeta cari. Tetapi Zeta, apakah hanya dengan memberikan cinta itu satu-satunya cara bagi Zeta untuk membalas kebaikan orang yang memberikan Zeta impian?"


"..."


Ibu melangkahkan kakinya kembali menuju meja rias dan meletakkan kembali kedua perhiasan itu. Beliau lalu membuka perlahan tirai yang sebagian belum aku buka karena aku merasa terganggu dengan cahaya matahari yang mengintip kamarku. Sekarang cahaya matahari sepenuhnya masuk ke dalam kamarku. Cahaya yang sebenarnya cukup aku hindari karena sangat menyilaukan.


"Ibu tidak pernah menyetujui perjodohanmu dengan Ken tetapi Ibu juga tidak bisa membiarkan sahabat Ibu memohon. Ibu selalu menginginkan kamu mendapatkan cinta yang kamu inginkan bukan cinta yang dipaksakan. Cinta adalah sesuatu yang bagi sebagain orang sangat mudah untuk diucapkan tetapi tidak bagi kita. Cinta yang akan keluar dari mulut kita akan membawa kita kepada rasa sakit atau kebahagiaan di masa depan, orang-orang bertaruh akan dua rasa itu dan juga pada rasa penyesalan. Tetapi untuk kita, cinta yang kita ucapkan akan membawa banyak masalah seperti yang Zeta lihat pada Ken. Oleh karena itu, Ibu meminta Zeta untuk mengembalikan kedua benda ini kepada pemiliknya. Jangan menyimpan sesuatu yang belum menjadi milik Zeta."


"Bolehkah Zeta bertanya sesuatu?"


"Tentu, pertanyaan apapun selama Ibu bisa menjawabnya."


"Bagaimana Zeta tahu Zeta mencintai seseorang?"


"Hati Zeta yang akan menuntun Zeta ke tempat orang itu berada. Tanpa Zeta sadari, Zeta akan bergerak ke arah orang yang Zeta cintai. Biarkan semua itu mengalir dengan sendirinya dan jangan memaksakan diri Zeta dengan terus berpikir bahwa 'dia adalah seseorang yang aku cintai' karena hal itu, tanpa Zeta sadari membuat Zeta terpaksa mencintai orang itu. Dan jika takdir mengizinkan, takdir akan membantu Zeta untuk berjalan menuju orang yang Zeta cintai."


"..."


"Mulai saat ini, Ibu ingin Zeta fokus pada impian Zeta. Mengejar impian yang selama ini Zeta cari dengan susah payah."


"Terima kasih, Ibu," ucapku sembari memeluk ibu.


Ibu terus memelukku hingga aku yang akhirnya melepaskan pelukan. Beliau memberikan tatapan lembut miliknya yang selalu beliau berikan kepada anak-anaknya. Aku ingin tahu dibalik tatapan lembut itu apakah ada kisah di baliknya yang tidak aku ketahui hingga saat ini. Aku ingin tahu apakah ada pengorbanan besar yang ibu lakukan dibalik mata lembutnya.


"Ingin membantu Ibu merajut?"


Aku langsung menggelengkan kepalaku. Selama ini aku belum pernah berhasil satu kalipun dalam merajut. Memegang alat rajut seperti hakpen ataupun breien saja aku masih belum berhasil. Dibalik ketidakberhasilanku, ibu selalu membuatku terus belajar merajut karena beliau ingin di masa depan aku bisa membuat pakaian untuk anakku sendiri dengan tanganku seperti yang beliau lakukan kepada ketiga anaknnya. Dan sepertinya hal itu sudah menjadi hal yang turun temurun di keluarga ibu.


Ibu berjalan menuju almariku dan membuka bagian bawahnya. Sebuah kotak kayu langsung keluar dari tempatnya menuju tempatku duduk. Berbagai macam benang dan alat merajut tertata rapi di dalam kotak itu. Setelah 2 bulan lamanya, akhirnya kotak rajutan itu keluar dari tempat tergelapnya. Ibu langsung menyodorkan hakpen kepadaku, mau tidak mau aku menerimanya.


"Zeta, bukan seperti itu cara memegangnya. Letakkan gagang hakpen dalam genggaman tanganmu sama seperti saat kamu memegang pensil. Ibu jari Zeta harus berada di atas hakpen. Sisa jari lainnya untuk menggenggam hakpen," ucap ibu dengan terus memegang tanganku, mencontohkan cara memegang yang benar.

__ADS_1


"Apakah ini nyaman?" tanya ibu setelah hakpen berhasil kupegang.


Aku hanya mengangguk. Ibu langsung mengisyaratkan agar aku mulai merajut, tentu aku hanya diam mematung melihat jari-jari ibu yang sudah terlatih merajut. Tanpa kusadari kuhembuskan nafasku dengan sangat keras dan menjatuhkan kedua tanganku ke atas pahaku.


"Zeta menyerah," ucapku akhirnya.


"Hmmm?" balas ibu sembari tersenyum.


Aku langsung membaringkan tubuhku ke atas kasur begitu membebaskan diri dari alat-alat rajut. Belum sempat aku menutup mataku, wajah ibu sudah berada tepat di atas wajahku. Beliau tersenyum kecil sebelum akhirnya ikut berbaring di sampingku. Seperti yang aku harapkan dari ibu, beliau tidak pernah memaksakan apapun kepadaku dan juga kepada kedua kakakku. Beliau hanya ingin kami menikmati setiap detik dalam hidup kami tanpa adanya beban.


"Jika Zeta terus menerus seperti ini, semua orang yang tidak mengenal Zeta dengan baik akan langsung bisa membaca pikiran Zeta," ucap Ibu sambil mengelus lembut rambut panjangku.


"Apa maksud Ibu?" tanyaku sembari memiringkan badanku ke arah ibu.


"Ada sesuatu yang Zeta sembunyikan bukan? Ada sesuatu yang Zeta ingin ceritakan tetapi Zeta masih memikirkannya, benar bukan?"


"..."


"Zeta, belajarlah agar orang lain tidak bisa membaca pikiran Zeta. Agar orang lain tidak mengambil keuntungan dari Zeta."


“…”


“Jadi, apa yang ingin Zeta katakan?”


"Ibu, perempuan yang Ken cintai, perempuan itu diutus oleh Keluarga Nakamoto dan Paman Parker membiarkan perempuan itu tanpa melakukan apapun untuk melindungi Ken. Bahkan Paman Parker meminta perempuan itu untuk juga mendekati Ken agar Ken menyadari perasaan miliknya."


"Lalu apa hal itu membuat hati Zeta kembali menuju Ken?"


Aku hanya menggeleng.


"Setelah tahu semua itu, hati Zeta tidak merasakan apapun lagi untuk Ken. Dan hal itu membuat Zeta merasa bersalah."


"Kenapa?"


"Karena seharusnya Zeta masih bisa memiliki perasaan untuk Ken, bukan?" balasku sedikit ragu.


"..."


"Sebenarnya Zeta menyadari jika perasaan yang Zeta miliki untuk Ken hanya perasaan bersalah dan kasihan. Zeta menyadarinya di hari peringatan kematian Tante Lily."


"Zeta, sama halnya dengan dunia ini yang tidak hanya hitam putih, hati kita juga bukan sekadar merasakan dan tidak merasakan. Ada jawaban yang lebih kompleks saat sebuah pertanyaan ditujukan untuk perasaan kita. Dan jawaban itu hanya Zeta yang bisa mendapatkannya. Ibu hanya bisa mengatakan tidak ada yang salah selama Zeta mengikuti hati Zeta dan tentunya mengikuti aturan yang ada. Karena itu, Zeta bebas memiliki perasaan apapun untuk setiap orang yang ada dalam hidup Zeta, tidak ada yang akan membatasi perasaan milik Zeta selain diri Zeta sendiri."


Bebas...


Sesuatu yang hingga saat ini tidak terpikirkan olehku. Aku selalu berpikir jika aku tidak mencintai seseorang maka perasaan yang aku miliki untuk mereka hanya sebatas kebutuhan agar aku bisa tetap berhubungan dengannya. Jika aku tidak mencintai mereka maka aku akan menutup rapat-rapat perasaanku dan melabeli seseorang itu sebagai 'orang yang tidak aku cintai'. Aku tidak pernah memikirkan jika aku bisa memberikan perasaan lain kepada orang itu, perasaan yang mungkin lebih dalam dari sekadar cinta. Aku justru menutup hatiku dan membiarkan perasaan yang seharusnya bisa aku rasakan, tidak aku rasakan.


"Zeta, jangan beri tahu hal mengenai Ken kepada Ayah ataupun William," ucap ibu menyadarkanku dari pikiranku yang melanglang buana.


"Kenapa? Bukankah akan lebih jika Ayah tahu?"


"Ada kalanya alasan dibalik seseorang melakukan sesuatu hanya akan menjadi kelemahan baginya. Saat ini alasan perempuan itu mendekati Ken adalah kelemahan bagi Ken. Ayah dan William tidak mungkin bisa bersimpati seperti halnya Zeta dan Ibu, mereka berdua akan terus menganggap Ken telah menyakiti hati kamu, Zeta. Bagi seorang ayah seperti ayahmu dan bagi seorang kakak seperti William, Ken tetap salah apapun yang dia lakukan dan Ken harus merasakan hal yang setimpal dengan apa yang sudah kamu lalui. Itulah cara mereka melindungi kamu, Zeta."


"..."


"Biarkan ayahmu melakukan tanggung jawabnya sebagai seorang ayah dan biarkan kakakmu melakukan tugasnya sebagai seorang kakak. Mereka melindungimu dengan cara yang berbeda dengan Ibu dan Zeta harus bisa menerimanya karena mereka juga bagian dari hidup Zeta."


...-----...

__ADS_1


__ADS_2