Mentari di Langit Malam

Mentari di Langit Malam
Masa Lalu : Pembalasan


__ADS_3

"Jangan lupakan proyek ini. Sekian dari Ibu."


Bu Stella, guru sains kami, menutup kelas hari ini. Beliau menatapku sekilas sebelum meninggalkan ruang kelas. Tatapan yang sudah lama tidak aku dapatkan dari orang lain. Tatapan yang sebisa mungkin aku hindari. Tatapan takut, aku paling membenci saat orang lain memberikan tatapan itu kepadaku karena tatapan takut memberitahuku seberapa menakutkannya Keluarga Allison dimana aku bagian darinya.


Setelah bel pulang berbunyi, semua handphone milik teman-temanku membunyikan notifikasi pemberitahuan, termasuk handphone-ku yang terus bergetar. Aku mengabaikan pemberitahuan itu dan fokus memasukkan barang-barang milikku ke dalam tas. Bukannya aku tidak peduli, aku sudah tahu apa yang terjadi walaupun tidak 100%.


Ken berlari keluar ruang kelas setelah selesai membaca sesuatu dari handphone miliknya. Beberapa anak terkejut dengan suara bangku yang jatuh dan membuat mereka menatap ke arahnya, termasuk aku yang langsung disambut dengan tatapan tidak percaya darinya. Sepertinya dia baru saja melihat rekaman CCTV tentang pembullyan Natasha. Apapun itu, aku tidak ingin terlibat lagi dengannya.


Beberapa anak juga mulai melihat ke arahku bergantian. Tatapan mereka sama dengan tatapan Bu Stella, tatapan takut tetapi kali ini lebih menunjukan ketakutan daripada yang Bu Stella berikan kepadaku. Tidak mungkin berita tentang kebenaran bullying yang terjadi bisa membuat mereka takut kepadaku saat dimana mereka tahu apa yang sebenarnya terjadi. Aku menghentikan memasukan barang-barang milikku lalu mengambil handphone yang sedari tadi berada di atas meja dan terus bergetar.


'Grup Allison Mengambil Alih Sekolah Swasta Elizabeth'


'Grup Allison Memutus Kontrak dengan Banyak Perusahaan'


'Grup Allison Mengakuisisi Beberapa Perusahaan dan Menjadikannya Anak Perusahaan Allison'


Aku langsung menatap Stephanie yang juga sedang menatapku dengan sebuah senyum menghiasi wajahnya. Bagaimana bisa dia tetap tersenyum disaat sekolah milik keluarganya diambil alih oleh keluargaku? Bagaimana bisa dia tidak mengatakan apapun kepadaku?


"Kenapa kamu tidak mengatakan apapun? Sekolah ini adalah impianmu, bagaimana bisa?!" teriakku tidak sanggup melihat senyum yang ditunjukan Stephanie.


Anak-anak yang masih berada di dalam kelas terdiam. Caroline langsung mengambil alih keadaan dan meminta anak-anak lainnya untuk keluar dari ruang kelas ini secepatnya. Tanpa perlu menyuruh 2 kali, mereka sudah berbondong-bondong keluar dari kelas. Mereka juga takut akan konsekuensi apa yang akan mereka dapatkan jika tetap berada di ruangan ini.


Caroline menyuruhku untuk duduk, mencoba menenangkanku. Aku menurutinya dan duduk di kursi di sampingnya. Aku tidak ingin duduk di samping Stephanie atau emosi kami berdua akan saling bertemu dan menyebabkan adu mulut.


"Itu hanya de jure, Zeta. Secara de facto, keluargaku tetap mengurus sekolah ini. Baik sekarang maupun di masa depan."


"Ayahku bisa membatalkan semua itu hanya dalam satu malam, Steph."


"Untuk kali pertama dalam hidupku, aku bisa melihat senyum penuh kebahagiaan milik ayahku. Dan apa kamu tahu alasannya Zeta?"


"...."


"Ayahmu akhirnya menyetujui beberapa anak perusahaan Allison untuk melakukan merger dengan perusahaan milik keluargaku. Walaupun keluarga kita bersahabat dan sangat dekat, ayahmu tetap kritis terhadap rencana bisnis ayahku."


"Tetapi, sekolah ini adalah satu-satunya harapan bagimu untuk tidak mengurusi perusahaan utama keluargamu. Kamu tidak ingin melakukan pekerjaan kotor, kenapa? Kenapa?"


"Terkadang aku iri padamu, Zeta."


"Steph," panggil Caroline mencoba menghentikan apa yang ingin Stephanie ucapkan.


"Ayahmu rela menghancurkan banyak perusahaan hanya untukmu. Hanya untuk melindungimu. Siapa yang akan menyangka diamnya ayahmu selama satu minggu bisa membuat mereka yang menyakitimu sekarang berada di bawah kakimu."


"...."


"Aku bahagia Zeta bisa bersahabat denganmu. Mungkin mulai saat ini jalan yang kita pilih akan berbeda. Mungkin setelah ini aku akan menggunakan cara-cara kotor seperti yang Kak William lakukan karena itu aku memohon padamu untuk tetap menjaga Caroline," lanjut Stephanie dan dia langsung berjalan meninggalkan ruang kelas begitu mengucapkan kalimat itu.


"Steph!!" panggil Caroline sembari berjalan mengejar Stephanie.


"Kejarlah kakakmu," ucapku begitu melihat keraguan dalam diri Caroline.


Aku tidak pernah tahu konsekuensi yang akan aku dapatkan hanya untuk melindungi Ken akan sebesar ini. Seharusnya dari awal aku tidak perlu mencoba untuk melindungi Ken hingga akhirnya menyakiti banyak orang seperti ini. Seharusnya aku bisa menyadari perasaan benci milikku kepada Ken sebelum akhirnya membuat keputusan bodoh ini.


Ting...


Sebuah pesan dari Arthur masuk. Aku rasa dia baik-baik saja dengan semua yang terjadi hari ini. Aku benar-benar menginginkan sikap masa bodoh miliknya.

__ADS_1


'Kamu dimana? Aku akan latihan basket selama 30 menit.'


'Dimana Kak William?' balasku.


'Sepertinya di ruang VIP. Kamu belum menjawab pertanyaanku, kamu dimana?'


Aku kembali membereskan semua barang-barang milikku dan berjalan keluar meninggalkan kelas. Aku menyusuri koridor sekolah untuk menemui William dan menanyakan alasan kenapa dia harus sampai seperti ini. Beberapa anak yang melewatiku, menundukkan kepalanya. Hal yang aku benci kembali terjadi lagi, sesuatu yang benar-benar aku benci seolah aku adalah raja dari rantai makanan dan mereka adalah mangsaku.


Langkah kakiku terhenti saat aku melihat poster yang Ken tempelkan masih ada di papan pengumuman sekolah.


Aku mengamati poster itu untuk waktu yang lama. Semua kata-kata hinaan yang tertulis di dalamnya tidak lagi menyakiti perasaanku. Sekarang hal lain yang menggangguku begitu melihat poster ini adalah Ken yang memilih untuk menggunakan foto yang juga ada dirinya. Semua kata-kata hinaan di poster itu, mengisi wajah Ken. Selama ini aku kira foto di poster yang dia tempelkan hanya foto berisi wajahku.


Kenapa dia memilih fotoku bersama dengannya saat dia bisa menemukan banyak fotoku seorang diri di internet?


"Maafkan saya, Nona. Sepertinya saya melupakan satu poster," ucap salah seorang pegawai.


"Tidak apa, biar saya yang melepasnya."


Pegawai itu berjalan meninggalkanku setelah mendengar ucapanku. Aku kembali terpaku menatap poster di depanku. Poster yang sebenarnya membuatku mengingat hari dimana foto ini diambil, hari ulang tahunku. Saat itu, untuk pertama kalinya Ken menolak berfoto denganku karena dia sudah mulai menyadari perasaannya untuk Natasha. Aku rasa hari itu, dia memberikan senyum tulus terakhir miliknya untukku.


"Ada sebuah keraguan dalam dirinya."


"Kak Alvin?!" teriakku terkejut begitu mendapatimAlvin sudah berada di sampingku.


"Saat pertama kali melihat poster ini, aku bertanya-tanya kenapa wajahmu tidak berisikan kata-kata hinaan dan justru kata-kata hinaan itu ada di foto miliknya. Seolah dia ingin memberitahu jika dialah orang yang pantas mendapatkan hinaan itu."


"..."


"Apa kamu tahu? Kemarin setelah dia mendengar semua ucapanmu, dia membabi buta mencari orang yang mencoba melemparkan pot ke atas kepalamu dan menyiramkan sup panas."


"Entah, aku hanya merasa ada kalanya seseorang bertindak impulsif tanpa memikirkan apa yang sebenarnya dia inginkan. Dan sepertinya dia akan membutuhkan kesempatan kedua."


Alvin melepas poster itu dari papan pengumuman. Dia membuat sebuah pesawat dari kertas dengan sesekali menatapku. Dia mengulurkan tangannya kepadaku, meminta tanganku untuk menggenggamnya. Aku menyambut uluran tangannya yang langsung dibalas dengan sebuah senyuman dan tatapan lembut miliknya. Dia menarik lembut tubuhku menuju lapangan di depan sekolah, lapangan yang dipenuhi rumput hijau.


Sekali lagi, dia menatap lembut ke arahku dan menerbangkan pesawat yang baru beberapa menit selesai dia buat. Aku langsung tertawa pelan begitu melihat pesawat itu tidak bisa terbang jauh. Kuamati wajah Alvin yang juga sepertinya malu karena tidak bisa menerbangkan pesawat itu jauh. Dia berjalan untuk mengambil pesawat itu tetapi aku menahannya agar tidak pergi.


Aku membaringkan tubuhku di atas rumput hijau, membuat Alvin ikut membaringkan tubuhnya. Kami menikmati keheningan ini sembari menatap langit yang mulai berubah warna menjadi oranye. Aku terus menatap langit hingga aku menyadari jika selama ini yang ditatap oleh Alvin bukanlah langit tetapi wajahku. Aku baru menyadarinya saat aku menolehkan wajahku ke arahnya dan mata biru miliknya sudah menyambutku.


"Aku menyukai mata biru milikmu," ucapnya memecah hening.


Aku bahkan melupakan fakta bahwa aku juga memiliki warna mata yang sama dengannya. Aku melupakan fakta dimana ayahku mewarisiku mata biru miliknya, mata biru yang selalu aku kagumi. Mata biru yang tidak hanya ayah wariskan kepadaku tetapi juga kepada Arthur. Berbeda denganku dan Arthur, William mewarisi mata cokelat milik ibu. Aku tidak menyangka kehadiran Alvin dalam hidupku bisa membuatku melupakan begitu saja mata biru milikku yang sangat aku cintai dahulu sebelum aku menemukan mata biru miliknya.


"Kakak juga memiliki mata berwarna biru," balasku.


"Apa kamu menyukainya?"


Aku hanya mengangguk dan terus menatap mata biru miliknya. Aku merasa mata birunya adalah magnet bagiku karena aku tidak bisa melepas pandanganku darinya. Sesuatu yang sudah aku lakukan sejak pertama kali melihatnya, aku memang sudah jatuh karena mata biru di hadapanku. Mata biru yang aku harap bisa terus menghilangkan luka yang aku rasakan dan mata biru yang aku harap bisa terus menemaniku.


"Apa yang akan kamu lakukan jika Ken meminta kesempatan kedua kepadamu?" tanyanya sembari mengubah posisi, kali ini dia benar-benar menatap langit.


"...."


"Apa kamu akan memberikan kesempatan kepadanya?"


"Kakak sendiri yang membuat Ken menandatangani perjanjian agar di masa depan tidak mendekatiku kembali," jawabku tanpa melepas pandanganku darinya.

__ADS_1


"Tetapi kamu belum menandatanganinya."


Aku terdiam dan kembali menatap langit yang semakin berwarna oranye. Aku memang belum menandatangi perjanjian itu. Sejujurnya aku tidak ingin menandatanganinya karena aku juga bersalah atas semua yang terjadi kepada Ken. Aku tidak ingin membatasi hidup seseorang hanya karena sebuah perjanjian.


"Apa menurutmu dia akan meminta kesempatan kedua kepadamu?"


"Aku tidak tahu,” jawabku membuat sepasang mata biru miliknya menatapku tidak percaya.


Aku memang tidak tahu apakah Ken akan meminta sebuah kesempatan kedua kepadaku atau tidak, saat dimana dia tidak pernah menyadari telah mendapatkan kesempatan dariku. Kesempatan yang selama ini aku berikan kepadanya, selalu dia anggap sebagai sebuah kesempatan persahabatan antara kami. Jika pertanyaan yang Alvin ajukan ditujukan untuk kesempatan dalam hal 'cinta', aku rasa Ken tidak akan pernah meminta kesempatan kedua karena dia tidak pernah mencintaiku.


Dan bagi seseorang dengan harga diri yang tinggi seperti Ken, meminta sebuah kesempatan kedua sama halnya dengan membuang harga dirinya. Aku tidak pernah melihat Ken meminta kesempatan kedua kecuali saat dia kalah sparing dengan ayahnya, dimana saat itu taruhannya adalah mengunjungi makam ibunya. Itu adalah kali pertama dalam hidupnya memohon kepada seseorang dan seseorang itu adalah ayahnya. Dia memohon kesempatan kedua agar bisa melakukan sparing untuk kedua kalinya sehingga dia bisa tetap mengunjungi makam ibunya. Aku rasa, aku tidak sepenting itu baginya hingga bisa membuatnya meminta akan hadirnya kesempatan kedua.


"Aku tidak akan memaksamu untuk menandatangi perjanjian itu, aku tidak ingin memaksamu melakukan sesuatu yang tidak kamu inginkan. Bahkan jika di masa depan kamu ingin memberinya kesempatan lain, aku tidak memiliki hak untuk marah," ucap Alvin sembari kembali menatapku yang masih dengan tenang menatap langit.


Aku tidak pernah mengira kalimat seperti itu akan keluar dari mulut seseorang yang saat pertama kali bertemu dengan Ken mengeluarkan kalimat yang bisa dibilang tidak cukup ramah. Seseorang yang tidak pernah memberikan tatapan bersahabat kepada Ken tiba-tiba mengeluarkan kalimat yang tidak mempermasalahkan jika Ken mendapatkan kesempatan kedua. Apakah sesuatu terjadi hingga membuat hatinya berubah?


"Aku melihat diriku pada dirinya," ucapnya seolah tahu apa yang aku pikirkan.


Aku menolehkan wajahku ke sisi kiri tempat Alvin berada. Dia seperti sedang memikirkan sesuatu, sesuatu yang ingin dia katakan dari awal bertemu denganku. Sesuatu yang juga membuatnya ragu untuk mengatakannya kepadaku.


"Sebelum aku bertemu denganmu, aku pernah mencintai seseorang dengan egois. Aku mencintainya dengan begitu egois hingga tidak menyadari jika dia tidak pernah mencintaiku. Sama seperti yang Ken lakukan kepada Natasha."


"..."


"Dan aku juga baru tahu jika keluargaku yang mengutus Natasha kepada Ken."


Aku langsung bangun dan duduk, terkejut mendengar apa yang baru saja dia katakan. Jika saat ini dia sudah mengetahui tentang hal ini, ayah dan William juga pasti sudah tahu tentang kebenaran yang aku coba sembunyikan. Alvin ikut bangun dari tempatnya berbaring dan duduk menghadapku. Dia memegang kedua tanganku, seolah memberi ketenangan yang sedang aku butuhkan saat ini.


"Ayahmu dan William belum mengetahui hal ini. Aku mengetahui hal ini karena tidak sengaja melihat berkas dokumen milik Natasha."


"Alasan Kakak tidak masalah jika aku memberikan kesempatan kedua..."


"Hmmm, aku tidak ingin mendapatkanmu dengan cara yang curang," potongnya.


"Aku tidak akan pernah bisa menggantikan semua kenangan yang telah dibuat olehnya tetapi aku akan mengisi kenangan yang tidak bisa dia lengkapi. Karena itu, tidak bisakah kamu membiarkanku masuk ke dalam hidupmu?" lanjutnya.


Aku melepaskan pegangan tangannya, membuatnya sedikit terkejut. Aku kembali membaringkan tubuhku ke atas rumput lalu melihat ke arah Alvin yang sedang menatapku dengan lembut. Dengan gerakan mataku, aku menyuruhnya untuk kembali berbaring bersama denganku. Dia menurutiku dan kembali menemaniku menikmati senja, senja yang tidak akan pernah aku lihat lagi di musim ini.


"Kakak sudah menjadi bagian dalam hidupku," ucapku sembari melihatnya.


Alvin memberikan sebuah senyum yang sangat tulus kepadaku. Dia mengambil tangan kiriku yang berada di atas perut dan langsung menggenggamnya dengan sangat erat. Genggaman yang sering aku rasakan setiap kali ayah menggenggam tanganku. Genggaman yang pernah aku kira sebagai genggaman penuh kekangan karena tidak ingin melihatku pergi jauh darinya tetapi lambat laun aku tahu jika genggaman yang ayah berikan kepadaku adalah genggaman penuh rasa takut. Rasa takut jika aku akan diambil darinya dan meninggalkannya. Rasa takut yang sama seperti yang aku rasakan pada genggaman milik Alvin saat ini.


Kami menikmati langit senja untuk waktu yang cukup lama, membuatku melupakan alasan awalku untuk menemui William. Aku ingin terus bisa menikmati senja seperti ini dengannya. Bahkan jika Tuhan tidak mengizinkanku untuk terus berada di dalam hidupnya, aku hanya akan meminta kepada Tuhan agar membiarkanku dan dirinya bisa terus menikmati senja dengan bahagia seperti sekarang.


"Untuk masalah Stephanie, aku rasa kamu harus memberinya sedikit waktu."


"Bagaimana Kakak tahu?" tanyaku terkejut.


"Ruang VIP."


"Kak Will memberitahuku jika Kakak tidak pernah mau bergabung ataupun masuk ke ruang VIP."


"Seseorang berubahku," ucapnya sembari tertawa kecil.


Ah... aku benar-benar ingin mengejar impianku bersama dengannya.

__ADS_1


...-----...


__ADS_2