Mentari di Langit Malam

Mentari di Langit Malam
Masa Lalu : Perlindungan Terakhir


__ADS_3

"Apa tidak ada yang ingin kamu katakan?" tanya Arthur begitu melihatku terdiam selama 15 menit setelah melihat kondisinya.


"Kakak tidak akan bisa bermain basket lagi."


"Lagipula sekarang tahun terakhirku."


"Cita-cita Kakak adalah menjadi pemain basket profesional."


"Cita-cita setiap orang bisa berubah."


"Lalu apa cita-cita Kakak sekarang?"


"Bersama denganmu."


"Maafkan Zeta karena sudah egois."


"Egois atau tidak, aku akan melakukan hal yang sama untuk melindungimu. Melindungi dirimu dan perasaanmu."


"Kenapa? Kenapa Kakak begitu mencintai Zeta?"


Arthur terdiam, tidak menjawab pertanyaanku. Dia lebih seperti sedang menghindari pertanyaanku. Dia menatap jauh ke luar jendela yang hanya menunjukkan rintik hujan. Dia menatapku kembali setelah selama 1 menit penuh hanya diam menatap jauh ke luar.


"Kamu membuatku berhenti bersaing dan mengajarkanku artinya istirahat. Kamu membuatku hidup, Zeta."


"Itu tidak cukup dengan semua yang sudah Kakak lakukan untukku."


"Cinta orang lain mungkin bisa terbatas tetapi cinta sebuah keluarga tidak memiliki batas, Zeta."


"..."


"Saat ayah menyuruhku untuk menjauh darimu selama 1 bulan, saat itu juga sebuah pertanyaan terlintas di pikiranku, 'apakah aku bisa hidup tanpa Zeta?' dan aku langsung menemukan jawabannya, 'aku tidak akan bisa hidup jauh dari adik tercintaku'. Tanpa berpikir panjang aku akhirnya meminta untuk bertanding dengan ayah di black room. Aku tidak peduli seberapa parah luka yang akan aku dapatkan, yang aku pedulikan apakah dengan luka yang aku dapatkan aku bisa bersama denganmu. Zeta, aku rasa aku mencintaimu sedalam ibu mencintaimu hingga tidak bisa melihatmu terluka dan menghilang sebentar saja."


"Kak..."

__ADS_1


"Ah... Ibu masih lebih dalam mencintaimu."


Aku memeluk Arthur dengan sangat erat. Saat ini di ruangan ini hanya ada aku dan Arthur sehingga aku bisa mengekspresikan perasaanku dengan leluasa. Lima belas menit setelah sampai di ruang rawat inap Arthur, kedua sahabatku langsung pergi ke kantin dengan alasan mereka sudah lama tidak datang ke rumah sakit ini dan tidak ingin melewatkan makanan kantin yang lezat.


Arthur mengelus lembut pipiku lalu memegang tanganku dan berjalan keluar dari ruangan. Beberapa pengawal langsung mengikuti kemana kami pergi. Bahkan para pengawal tidak menanyakan kemana kami akan pergi dan hanya mengikuti kami dalam diam, sangat berbeda saat mereka mengikutiku, mereka pasti akan selalu menanyakan kemana aku akan pergi. Sungguh, tidak adil.


Aku rasa Arthur sudah bosan dengan makanan yang selalu disajikan di ruangannya hingga memutuskan untuk menyusul Stephanie dan Caroline ke kantin. Aku bahkan tidak tahu apakah dia sudah boleh memakan makanan selain yang disediakan oleh ahli gizi. Aku beberapa kali menoleh ke belakang, meminta pengawal untuk mengecek apakah Arthur sudah boleh memakan makanan apapun. Tidak butuh waktu lama hingga pengawal memberiku jawaban jika Arthur sudah boleh makan makanan apapun, yang terpenting makanan itu dalam bentuk yang lunak.


Arthur tiba-tiba menghentikan langkahnya, membuatku hampir terjatuh karena menghindari punggungnya. Dia kembali melihat jauh ke luar. Berbeda dengan sebelumnya dimana aku tidak tahu apa yang dilihatnya, kali ini aku bisa melihat dengan jelas apa yang sedang dilihatnya. Tiga orang sedang berbicara di bawah langit yang masih menurunkan rintik hujan. Mereka bertiga bahkan tidak berusaha melindungi diri mereka dari air yang perlahan mulai membahasi tubuh mereka. Beberapa orang yang lewat berulang kali meminta agar ketiga orang itu berteduh tetapi mereka mengabaikan hal itu.


"Aku rasa Natasha sedang mengakui semuanya," ucap Arthur pelan.


Daripada pengakuan yang sedang Natasha ucapkan, aku lebih terfokus pada tubuh Natasha yang bergetar hebat. Sepertinya dia memiliki trauma dengan semua laki-laki semenjak kejadian itu. Dia bahkan tidak menatap mata Ken saat berbicara dan setiap kali Ken membalas ucapannya, tubuh Natasha semakin bergetar, membuat Stevan mengeratkan genggaman tangannya. Genggaman tangan yang justru membuat Ken semakin hilang kendali.


"Apa Kakak masih ingin melihat mereka?" tanyaku mencoba membuat kami pergi dari tempat ini karena aku tidak ingin melihat ketiga orang itu lagi.


"Ken, dia sangat ingin memukul Felix bukan?"


Sekali lagi, kuikuti arah pandang Arthur dan mendapati Ken yang mengepalkan tangannya. Dia juga berulang kali mendongakan wajahnya ke atas, seperti menahan air mata mengalir dan membiarkan rintik hujan yang menggantikan air matanya untuk jatuh di atas pipinya. Saat aku mencoba melindungi Ken, aku tidak pernah berpikir hal seperti ini akan terjadi dan justru akan menyakitinya lebih dalam. Saat aku mencoba untuk menolongnya, saat itu juga aku mengarahkan pedang tumpul ke arahnya. Pedang tumpul yang membuatnya merasakan rasa sakit secara perlahan dan menyakitkan.


"Aku melihat, oh, kalian sedang melihatnya," teriak Caroline membuat beberapa orang yang lalu lalang melihat ke arah kami.


"Apa ini perasaanku saja atau Ken memang sedang menahan dirinya?"


Stephanie langsung menyumpal mulut Caroline dengan roti di tangannya. Semua yang mengenal Ken dengan baik juga tahu jika saat ini dia sedang menahan dirinya dari emosi yang dia rasakan. Dia mencoba untuk tidak memukul Felix dan dia juga sedang mencoba tidak menyalahkan dirinya sendiri atas pilihan yang sudah dibuat oleh Natasha. Dia sedang berusaha melawan dirinya sendiri.


Rintik hujan turun semakin lebat membuat Natasha dan Stevan pergi meninggalkan Ken menuju tempat yang lebih teduh. Arthur menghubungi beberapa dokter dan meminta mereka untuk datang ke tempat dimana Natasha berada. Dia juga meminta agar dokter memastikan kembali kondisi Natasha, terutama kondisi mentalnya. Hal ini tentunya membuat Stephanie dan Caroline terkejut, lebih tepatnya hanya Caroline yang terkejut. Aku rasa berita mengenai Natasha sudah tersebar kepada mereka para pewaris. Saat dimana Grup Allison sudah terlibat di dalamnya akan sangat mustahil para pewaris tidak tahu. Mereka lebih memilih diam dan menyimpan rapat-rapat rahasia yang mereka dapatkan atau Keluarga Allison akan bertindak lebih jauh. Pada akhirnya, yang mereka takutkan bukanlah kesalahan yang telah mereka perbuat kepada Natasha tetapi kekejaman Keluarga Allison yang saat ini sedang melindungi Natasha.


"Apa..," pertanyaan Caroline terhenti karena Stephanie langsung menginjak kakinya begitu kata keluar dari mulutnya.


"Maksudku bagaimana dengan Ken? Dia kehujanan saat ini," lanjut Caroline.


"Zeta?" panggil Stephanie.

__ADS_1


Aku mengambil payung hitam yang sedari tadi dipegang oleh pengawal di belakang kami. Paman Stephan cukup terkejut begitu melihatku mengambil payung, begitu juga dengan Arthur yang langsung menahan tanganku. Mereka semua sangat ingin aku lepas dari Ken dan aku juga ingin melepaskan diriku sepenuhnya darinya. Tetapi, melihatnya yang saat ini berusaha tegar di bawah hujan membuatku tidak bisa mengabaikannya.


"Pergilah," ucapku sembari memberikan payung hitam di tanganku kepada Caroline.


"Aku?" balas Caroline kebingungan.


"Cinta yang dia berikan kepada Natasha bukan sebuah kebohongan. Dia tidak hanya merasakan rasa sakit karena pengkhianatan tetapi juga karena kehilangan cintanya. Pergilah dan lindungi dia."


Aku meletakan payung hitam yang menggantung di udara ke tangan Caroline. Aku berjalan meninggalkan mereka. Aku benar-benar sudah tidak ingin terlibat apapun dengan Ken. Aku ingin menyudahi semua hubungan yang aku miliki dengannya.


"Tapi kamu yang selalu melindunginya."


Teriakan Stephanie membuat Paman Stephan langsung menutup kedua telingaku. Paman berharap aku tidak mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Stephanie walaupun aku tetap bisa mendengar apa yang Stephanie ucapkan. Kalimat yang Stephanie ucapkan sekarang mengisi otakku, membuatku ingin menanggapi sekaligus mengabaikannya.


"Nona?" panggil paman begitu melihatku diam mematung.


"Aku hanyalah tokoh antagonis dalam hidupnya yang membuat situasi menjadi seperti ini," ucapku.


"Zeta!!!" panggil Arthur.


"Jika saat itu aku langsung memberi tahunya jika aku yang menolongnya di gedung olahraga, maka hubungan kami tidak akan berada di fase ini. Tidak akan ada orang lain yang terlibat dalam hubungan kami. Saat Kak Arthur mengatakan jika Natasha hanyalah variabel yang Tuhan kirimkan, semua itu salah. Akulah variabel yang Tuhan kirimkan dalam kemalangan mereka berdua. Aku selalu memposisikan diriku sebagai orang pertama tanpa mencoba memposisikan diriku sebagai orang ketiga. Saat aku memposisikan diriku sebagai orang ketiga, saat itu juga aku tersadar jika aku bukan hanya variabel tetapi juga kemalangan yang Tuhan kirimkan kepada mereka berdua. Aku tidak pernah melindungi siapapun. Aku adalah tokoh antagonis dalam hidup mereka."


"Zeta, kamu bukan kemalangan bagi siapapun. Kamu...."


"Apa kamu tahu Steph, saat ini aku takut jika aku juga sebuah kemalangan yang Tuhan kirimkan untuk keluargaku,” potongku.


"Hentikan. Ayo, kembali ke kamarku."


Arthur berjalan mendekatiku dimana sebelumnya dia memberikan perintah kepada Stephanie dan Caroline untuk segera memberikan payung itu kepada Ken. Paman memundurkan tubuhnya begitu Arthur berada di sampingku dan langsung menarikku masuk ke dalam lift, menuju kembali ke ruang rawat inapnya.


"Berhenti berpikir jika kamu adalah kemalangan bagi orang lain. Bagiku kamu adalah anugerah terindah yang Tuhan kirimkan kepada keluarga kita. Apapun yang sudah terjadi, jangan menyesalinya."


"Lalu apa yang harus Zeta lalukan?"

__ADS_1


"Tanyakan kepada diri Zeta. Mensyukuri atau mengutuk apa yang sudah terjadi. Hanya dirimu yang tahu."


...-----...


__ADS_2