
“Aku tahu apa yang ada dipikiranmu,” ucapku begitu melihat Ken menyeruput cokelat panas.
Ken memalingkan wajahnya ke arah orang-orang yang sedang mengantri untuk memesan. Kuikuti arah pandangnya yang sedang melihat sebuah keluarga atau lebih tepatnya seorang anak kecil yang berdiri diantara kedua orang tuanya. Orang tua anak itu masih cukup muda, sepertinya mereka menikah diusia yang sama denganku. Anak kecil itu balik menatap Ken, kualihkan pandanganku pada Ken yang sekarang sedang tersenyum. Kuamati ayah anak itu yang sekarang juga ikut memperhatikan Ken dan aku. Aku hanya membalas senyuman miliknya saat mata kami bertemu.
“Apakah sekarang kamu tahu apa yang ada dipikiranku?”
“Seorang anak?” jawabku dengan polosnya.
Ken tertawa kecil. Dia menatapku dengan ekspresi wajah yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Ekspresi wajah seseorang yang begitu tenang. Ini kali pertama setelah pernikahan kami aku melihat ekspresi seperti itu.
“Aku ingin bisa mencintaimu seperti laki-laki itu mencintai istrinya.”
Kualihkan kembali pandanganku kepada pasangan tadi yang sekarang sedang menunggu pesanan mereka. Sang suami terus menggenggam tangan istrinya dan sesekali menuliskan sesuatu di telapak tangan milik istrinya. Sang istri hanya tersenyum setiap kali suaminya selesai menuliskan sesuatu di tangannya.
“Wanita itu tidak bisa melihat.”
“Hah?” balasku terkejut.
“Wanita itu sebelumnya membawa tongkat. Aku melihat mereka di jalan saat kita membeli bunga. Mereka bertengkar hebat, laki-laki itu meninggalkan istrinya seorang diri dan membawa anak mereka. Selang 5 menit, laki-laki itu kembali dan membawa setangkai bunga yang dia beli di toko tempat kita membeli bunga. Aku tidak tahu apa yang terjadi setelahnya, tetapi melihat mereka saat ini sepertinya mereka sudah baikan. Apa kamu tahu apa alasan pertengkaran mereka?”
“Kenapa?” tanyaku sembari kembali melihat ke arah pasangan tersebut.
“Istrinya meminta bercerai karena dia merasa tidak pantas untuk suami dan anaknya.”
Aku terdiam mendengar jawaban Ken. Aku paham bagaimana perasaan itu, perasaan saat orang lain lebih baik dibandingkan diriku untuk mendampingi seseorang. Aku ingin menyerah saat itu dan karena itulah aku meminta Ken untuk melarikan diri dariku. Saat diriku merasa tidak pantas maka permasalahan sekecil apapun akan selalu menjadi titik awal dari pertengkaran yang besar. Dulu di awal pernikahan aku terus membuat perdebatan kecil menjadi pertengkaran besar hanya untuk membuat Ken marah dan akhirnya menyerah kepadaku.
Aku menikah dengannya bukan karena mencintainya. Saat itupun, aku rasa dia menikah denganku bukan karena mencintaiku tetapi karena rasa bersalah miliknya. Perasaan tidak pantas untuk berada dalam hidup seseorang ditambah tidak adanya cinta membuatku ingin mengakhiri semuanya secepat mungkin bahkan jika akhir itu akan menghancurkan hidupku. Tetapi, laki-laki yang sekarang duduk di depanku selalu mencegah akhir itu terjadi. Dia selalu mengabaikan tanda akan berakhirnya hubungan kami. Dia selalu membuat akhir yang aku buat menjadi sebuah awal baru bagi kami dan membuatku mau tidak mau selalu memulai kembali semuanya.
“Bukankah kamu sudah mencintaiku seperti laki-laki itu mencintai istrinya?” tanyaku.
__ADS_1
“Benarkah?”
“Kamu tidak menyerah saat aku membuat masalah untuk mengakhiri pernikahan kita.”
Sekali lagi, Ken tertawa kecil. Dia mengulurkan tangannya ke arahku dan mengusap kepalaku. Dia kembali menyeruput cokelat panas hingga menyisakan setengah dari isi cangkir. Kumasukkan cokelat panas milikku ke dalam cangkir miliknya. Aku ingat dia selalu melakukan hal seperti ini saat kami masih di sekolah dasar. Dia berhenti melakukannya saat kami kelas 8 dan perlahan sebuah jarak terbentuk diantara kami. Hingga saat ini, aku masih bertanya-tanya bagaimana bisa kami yang begitu dekat saat kecil berubah menjadi orang asing dimasa remaja dan sekarang kami kembali dekat bahkan sudah menjadi sepasang suami istri.
Kemana semua jarak itu pergi?
Dan kenapa harus ada jarak jika akhirnya kami kembali bersama?
“Aku belum sehebat dia hingga bisa membuat orang lain merasakan betapa besar cinta yang dia miliki untuk istrinya.”
Aku kembali mengamati pasangan itu untuk kesekian kalinya dan langsung memalingkan wajah saat sebuah senyum diberikan oleh sang istri yang bahkan tidak bisa melihatku. Aku rasa aku paham apa yang ingin Ken sampaikan. Saat orang lain menyadari cinta seseorang, aku rasa tidak ada sesuatu yang dapat menggambarkan betapa besar cinta yang dimilikinya hingga orang yang tidak dikenalpun ikut merasakan cinta itu.
“Aku ke toilet sebentar,” ucap Ken membuyarkan lamunanku.
Tok..tok..
Seseorang mengetukkan jarinya ke meja. Aku tidak perlu susah payah menebak pelakunya. Ken selalu melakukannya untuk membuatku menghentikkan apa yang sedang aku kerjakan dan kembali memfokuskan diriku padanya.
“Tidak biasanya kamu cepat kem..,” ucapku terhenti begitu melihat mata yang berbeda dari yang aku kenal.
“Kamu memiliki suara yang indah.”
Alvin meletakkan pesanan yang dia bawa di atas meja tempatku dan Ken duduk. Dia melangkahkan kakinya menuju tempat yang diduduki Ken sebelumnya. Kualihkan pandanganku ke seluruh penjuru café untuk mencari wajah Ken.
“Duduklah, aku tidak akan memakanmu,” ucapnya setelah lebih dari 3 menit diam mengamatiku.
Aku tidak bergeming, aku tetap memusatkan perhatianku untuk mencari Ken. Seseorang menarik tanganku dan langsung membawa tubuhku ke dalam pelukannya. Seseorang yang sedari tadi aku cari. Seseorang yang mungkin lebih terkejut daripada diriku.
__ADS_1
“Itu tempatku duduk,” ucap Ken dingin.
“Ah… aku hanya tinggal bergeser, bukan?” balas Alvin dengan santai sembari bergeser ke kursi di sebelahnya.
Beberapa pengunjung mulai memperhatikan kami. Pengawal yang tadinya berada di seberang jalan, sekarang sudah berada di depan café bahkan Tuan Stephan sudah masuk ke dalam. Ken belum mau melepaskan pelukannya. Pelukannya semakin erat tiap detiknya.
“Duduklah, kita membuat suasana café menjadi suram dan hentikan pelukan itu. Terlihat konyol,” lanjut Alvin begitu sadar tidak akan mendapat respon dari Ken untuk apa yang dia ucapkan sebelumnya.
Ken melepaskan pelukannya dan menggantinya dengan memegang erat tanganku. Aku duduk di tempat sebelumnya dan Ken memilih duduk di sampingku. Alvin hanya tersenyum denga sesekali melihat ke arah pengunjung lainnya dan memberikan senyum miliknya. Aku masih bisa melihat betapa supel dirinya. Bahkan setelah semua ingatannya hilang, dia tidak kehilangan kepribadiannya yang ramah dan supel.
Aku terus melihat wajah Ken, wajahnya sangat tenang tetapi genggaman tangannya begitu erat. Aku terus melihat Ken tanpa memperhatikan sekelilingku. Cangkir berisi cokelat panas di sampingku tersenggol dan hampir tumpah mengenaiku jika saja Ken tidak langsung mengambil cangkir itu.
“Hati-hati dan berhentilah menatapku,” ucapnya membuat Alvin yang sedang menikmati minumannya kembali memperhatikan kami.
Kupalingkan wajahku pada tumpukan log book di depanku. Ken, dia kembali menatapku dengan tatapan yang sama seperti 4 tahun yang lalu. Tatapan yang sudah lama hilang dari dirinya dan tatapan yang sangat aku benci. Melihat bagaimana tatapan itu muncul kembali, sekarang aku tahu dengan pasti apa yang ada di dalam pikiran Ken.
‘Bisakah hati seseorang benar-benar tidak berdegup kencang saat melihat kembali cinta masa lalunya?’
Dan….
‘Bisakah seseorang berada diantara dua orang yang berpisah karena takdir yang tidak memihak keduanya?’
Pertanyaan yang selalu berputar di kepalanya, bahkan saat dia tidur. Pertanyaan yang hanya satu kali dia tanyakan padaku. Pertanyaan dimana jawaban yang aku berikan selalu dia anggap sebagai sebuah kebohongan. Pertanyaan yang tidak pernah meninggalkan kami dan akan terus bersama kami hingga kami berdamai dengan semua hal yang terjadi di masa lalu.
Kisah cinta yang sudah aku akhiri di masa remajaku, kembali memperkenalkan dirinya setelah 4 tahun. Kenangan masa lalu yang aku paksakan berhenti, kembali berputar di kepalaku. Seseorang yang aku lupakan dengan susah payah, kembali menjadi seseorang yang bahkan tidak mengenalku.
Takdir macam apa lagi yang akan mempermainkan kami?
...-----...
__ADS_1