Mentari di Langit Malam

Mentari di Langit Malam
Masa Lalu : Kenangan Kematian


__ADS_3

"Ini kali pertama Tante melihatmu menggunakan pakaian sefeminim ini,” ucap Tante Carlista sembari mempersilakanku duduk.


"Bagaimana kabar Carlista?" balasku.


"Baik, sangat baik. Dia sudah mulai bisa bersosialisasi kembali, dia bahkan sudah berani mengajak temannya untuk main ke rumah. Tante merasa menjadi seorang ibu seutuhnya dengan kehadiran Carlista. Tante sangat ingin merubah nama belakangnya menjadi nama suami Tante," jawab tante dengan wajah berseri-seri, wajah yang menampakkan kebahagiaan seorang ibu.


"Kenapa tidak Tante lakukan?"


"Pamanmu yang menolak."


"Alasannya?"


"Pamanmu tidak ingin Carlista melupakan siapa dirinya dan keluarganya sebelum masuk ke dalam hidup kami."


"Kenapa Tante tidak melakukan hal itu kepada Zeta?"


"Apa maksudmu, Sayang?"


"Ingatan Zeta akan kematian Paman Nyle, kenapa Tante membiarkan Zeta melupakannya? Bahkan Tante memaksa Zeta untuk melupakannya?"


Tante terdiam, diam yang cukup lama dan membuat suasana menjadi suram. Aku mengambil teko teh yang terbuat dari tangan bibi begitu melihat wajahnya yang berubah dari ceria menjadi sendu. Tante memperbaiki posisi duduknya dan mengaitkan kedua tangannya. Tante juga tidak lupa memberikan senyum canggung miliknya, senyum yang hanya beliau berikan saat beliau merasa tidak tenang. Aku menatap sebentar wajah tante hanya untuk melihat senyum canggung itu lalu kembali menuangkan teh ke dalam cangkir.


"Zeta sudah tahu kebenarannya tetapi masih belum menemukan ingatan itu bukan?" tanya tante saat aku menuangkan teh ke dalam cangkirnya. Hal itu membuatku berhenti menuangkan teh dan meletakkan teko ke atas meja.


"Seberapa gelap keluarga ini?" tanyaku dengan mata berair.


"Sangat gelap, Sayang. Jika anggota keluarga kita tidak saling melindungi dan menutupinya maka kegelapan keluarga kita akan menyebar keluar. Hal itu lebih berbahaya."


"Di dalam ingatan yang Zeta hilangkan apakah ada ayah?"


Tante menggeleng dan menatapku sebentar sebelum akhirnya berjalan menuju meja kerjanya. Beliau membuka sesuatu dan bunyi brankas terbuka terdengar. Aku bisa melihat keraguan di dalam dirinya sesaat sebelum mengambil sesuatu dari dalam brankas itu. Beliau kembali ke sofa tempatnya duduk sebelumnya dan meletakkan sebuah dokumen rekam medis milikku, dokumen yang selama ini aku cari dan tidak pernah aku temukan.


"Kematian Paman Nyle tidak ada kaitannya dengan ayahmu. Kematian kakak Tante disebabkan oleh ayah Tante sendiri dan Tante berusaha menutupinya, sangat ironis bukan?"


"..."


"Tante belum pernah melihat pamanmu begitu bahagia, kebahagiaan yang disebabkan oleh cinta. Tante mendukung semua orang dengan adil tidak peduli siapa yang mereka cintai, Tante mendukung mereka untuk mendapatkan cintanya. Tetapi Tante salah, seharusnya Tante tidak pernah mendukung pamanmu karena dia ahli waris Keluarga Allison. Seseorang yang dari lahir sudah ditakdirkan menjadi seorang penerus tidak mungkin bisa mendapatkan semua yang diinginkannya dan cinta termasuk di dalamnya. Pamanmu memaksa untuk menjalin hubungan dengan wanita dari kalangan bawah. Tidak menjadi masalah jika wanita yang pamanmu cintai adalah seorang guru taman kanak-kanak ataupun wanita dengan pekerjaan seorang kasir swalayan, tidak akan menjadi masalah, tetapi pamanmu mencintai seorang pekerja **** yang dikirimkan oleh keluarga lainnya untuk mencari kelemahan pamanmu. Wanita itu bukan hanya berhasil mendapatkan kelemahan pamanmu tetapi juga kelemahan Keluarga Allison. Saat itu adalah saat paling krusial bagi Keluarga Allison, mau tidak mau pamanmu harus bertanggung jawab. Tanggung jawab yang kakekmu berikan kepada pamanmu adalah nyawanya. Apa menurutmu kakek menyesal telah membunuh pewaris utama Keluarga Allison?"


Aku hanya diam sembari menggelengkan kepalaku sebagai jawaban.


"Ya, benar. Kakekmu tidak pernah menyesal karena ayahmu adalah pengganti paling sempurna yang pernah ada. Bahkan Tante bisa mengatakan jika ayahmu melebihi pamanmu. Dan apa Zeta tahu apa yang paling menyedihkan dari cerita ini?"


Sekali lagi aku hanya diam sembari memberikan gelengan kepala sebagai jawaban.


"Wanita itu tidak pernah mencintai pamanmu, dia hanya memanfaatkan pamanmu. Beruntung pamanmu tidak tahu hal itu hingga akhir hayatnya. Beruntung pamanmu hanya mengetahui jika wanita yang dicintainya juga mencintainya sebesar dia mencintainya. Tante tidak bisa membayangkan apa yang akan pamanmu lakukan saat tahu dia sudah menghancurkan Keluarga Allison karena cintanya yang bodoh, cinta yang bahkan tidak pernah ada sejak awal."


"Bagaimana kabar wanita itu?"


"Dia berada di rumah sakit jiwa seorang diri tanpa ada seorangpun yang diizinkan untuk menjenguknya."


"..."


"Zeta?" panggil tante begitu menyadari diamku adalah lamunanku.


"Bolehkah Zeta bertanya sesuatu?"


"Tentu, Sayang."


"Apa ibu masih mengunjungi psikiaternya?"


"Tidak dan hal itu membuat Tante sedikit khawatir terlebih setelah mendengar kondisi mental ibumu yang semakin tidak stabil. Apakah sesuatu terjadi di rumah?"


"Berapa kali ibu mencoba bunuh diri selama pernikahannya dengan ayah?"


"Kenapa Zeta menanyakan hal itu?" balas tante sedikit terkejut, seolah hal tentang percobaan bunuh diri ibu adalah sesuatu yang tidak boleh diketahui oleh siapapun. Sepertinya ibu atau Kakek Phillip mencoba menutupi hal ini.


"Bisakah Tante menjawabnya?"


"Dua kali di awal pernikahan, tiga kali setelah kelahiran William, dan lima kali setelah kelahiran Arthur. Hanya itu yang tercatat, selebihnya Tante tidak tahu apakah memang ibumu tidak pernah melakukan percobaan bunuh diri lagi atau kakekmu dari Keluarga Norvin yang mencoba menyembunyikannya,” jawab tante setelah sebelumnya hanya diam menatapku.


"..."

__ADS_1


"Sesuatu terjadi di rumah kalian, bukan?"


Hanya sebuah senyum dan gelengan kepala yang aku berikan sebagai jawaban. Aku meminta izin untuk keluar ruang kerja bibi dan membawa rekam medis pengobatanku. Awalnya tante melarangku untuk membaca rekam medis itu seorang diri hingga akhirnya aku memaksa dan membuat beliau mengizinkanku. Begitu mendapat izin, aku langsung keluar dari ruang kerja tante dan berjalan menuju ruang rawat inap VIP di lantai 27, ruang yang akan selalu kosong kecuali saat kedua kakakku dan aku harus mendapatkan perawatan rawat inap.


Aku membuka korden panjang yang menutupi jendela besar begitu sampai di ruangan, membuat cahaya mentari pagi masuk perlahan menerangi ruangan yang juga sudah diterangi cahaya lampu. Sebelumnya aku juga sudah meletakkan dokumen rekam medisku ke atas meja dan sekarang aku sedang menatap keluar jendela, melihat hiruk pikuk jalanan di bawah dan juga gedung-gedung menjulang tinggi di depanku.


Setelah mendapat keyakinan yang cukup, aku berjalan mendekat ke arah meja dimana aku meletakkan dokumen rekam medisku. Perlahan tanganku kembali menyentuh rekam medis itu dan membukanya. Ini lebih seperti dokumen kepolisian dibandingkan dokumen rekam medis, melihat banyaknya foto Paman Nyle di dalam rekam medisku. Perasaan saat tidak ingin mengingat kembali kematian paman kembali menghatuiku. Tanganku berhenti membalikkan lembar rekam medis begitu mataku melihat foto pamanku berdua denganku di taman hiburan. Foto terakhir yang diambil sebelum kematiannya.


Tanganku mulai bergetar dan nafasku mulai tidak berirama. Aku terlalu sombong untuk mengatakan sudah tidak masalah mengetahui kebenaran dibalik trauma yang aku miliki. Hanya dengan membawa beberapa memori tentang paman sudah bisa membuat trauma itu kembali muncul.


Aku harus keluar dari ruangan ini sebelum aku tidak bisa bernafas.


...-----...


Hari kematian Paman Nyle..


"Zeta, pergi dari sini!!"


"Bagaimana dengan Paman?!"


"Paman akan baik-baik saja. Pergilah ke kamar Zeta dan lekas tidur."


Suara pukulan keras terdengar, aku yang saat itu berusia 5 tahun hanya sekilas melihat wajah Paman yang kesakitan dari balik pintu. Berulang kali Paman memintaku untuk segera meninggalkan kamarnya dan menuju kamarku tetapi kakiku tidak bergerak. Aku berpikir untuk melakukan sesuatu, aku harus menolong paman.


"Zeta, Paman mohon pergilah," ucap paman dengan hanya menggerakkan bibirnya tanpa mengeluarkan satupun suara. Hal itu membuat langsung berlari keluar mencari pertolongan.


...-----...


Ah, aku tidak bisa bernafas. Ingatan apa itu. Aku harus keluar dari ruangan ini secepat mungkin. Saat aku akan berdiri, tubuhku langsung terjatuh ke lantai. Kakiku lemas tidak bisa menopang tubuhku. Kepalaku sudah mulai terasa sangat berat seolah sebuah beban sebarat 100 kg baru saja dihantamkan ke kepalaku. Nafasku juga semakin tidak beraturan dan berat, aku mulai tidak bisa bernafas. Aku mencoba menggapai tas milikku yang berada di ujung kursi panjang tempatku duduk. Nihil, aku tidak bisa menggerakkan tubuhku.


...-----...


Hari kematian Paman Nyle..


"Kakek, sesuatu terjadi kepada Paman Nyle. Seseorang sedang memukuli paman!!! Kakek!!!" teriakku sembari menarik-narik jari telunjuk kakek, membawanya menuju kamar paman. Kakek mengikuti langkah kecilku, aku tidak menyadari wajahnya saat itu bukanlah wajah seorang ayah yang khawatir karena anaknya disakiti seseorang melainkan wajah seorang kakek yang takut akan kehilangan cucunya.


"Zeta?" panggil kakek dengan lembut di tengah jalan menuju kamar paman.


"Baiklah," balas kakek sembari mengangkat tubuh mungilku dan membawaku ke kamar paman lebih cepat.


Kakek langsung membuka pintu kamar paman dan aku melihat bukan hanya satu orang yang memukuli paman. Ada setidaknya lima orang yang sekarang sedang memukuli bagian perut paman. Mereka tidak melukai wajah paman dan hanya mengincar bagian organ vital paman seperti jantung dan paru-paru. Aku langsung memberontak meminta kakek menurunkanku dari gendongannya. Aku langsung berjalan menuju kelima orang itu dan menendang mereka semua begitu turun dari gendongan kakek.


"Berhenti menyakiti pamanku!!!" teriakku sekuat tenaga.


"Zeta," panggil paman dengan suara lemas, membuatku langsung berlari ke atas tempat tidur sambil menangis.


"Zeta membawa kakek, sekarang Paman akan baik-baik saja. Sudah ada kakek."


"Maafkan Paman. Pergilah ke kamar sekarang."


"Tidak!!!!" teriakku.


"Zeta," panggil paman sekali lagi berusaha membuatku meninggalkannya.


"Kita harus mengobati luka Paman!!! Kakek, panggil dokter untuk mengobati paman dan panggil polisi untuk menangkap mereka!!!" sekali lagi aku berteriak dengan nada nyaring yang diikuti dengan tangis.


"..."


"Kakek?!" panggilku dengan nada pelan dan takut begitu melihat kakek mengambil tongkat dari salah satu orang yang memukuli paman.


"Zeta, pergilah. Maafkan Paman tidak bisa menepati janji untuk melihatmu tumbuh hingga akhirnya menikah dengan laki-laki pilihanmu."


"Tidak, Paman harus menepati janji itu," rengekku sembari memegang wajah paman dan menggerak-gerakkan tubuhnya.


"Zeta?" panggil kakek, membuatku langsung mengalihkan tatapanku ke arah kakek. Sekali lagi kakek mengangkat tubuhku. Berbeda dari sebelumnya, kakek hanya mengangkat sebentar tubuhku sebelum akhirnya memberikanku kepada salah satu orang yang sebelumnya memukuli paman.


"Apa yang Kakek lakukan?!" teriakku sembari meronta-ronta agar tidak disentuh orang yang telah melukai paman.


Kakek melangkahkan kakinya mendekatiku sekali lagi begitu melihatku yang terus meronta-ronta. Kakek mengusap lembut rambutku dan mencium keningku. Kakek juga memintaku untuk tidak terus berteriak dan diam.


Aku bisa merasakan hawa menakutkan yang keluar dari tubuh kakek dan seketika itu aku langsung terdiam menuruti ucapannya. Begitu melihatku sudah lebih terkendali dan tenang, kakek kembali berjalan mendekati tempat tidur paman dan tanpa basa-basi langsung memukul paman dengan tongkat besi yang ada di tangannya.

__ADS_1


"Apa yang Kakek lakukan?" tanyaku kali ini lebih karena takut melihat seseorang yang aku percayai akan menolong paman berubah menjadi seseorang yang menyakiti paman.


Paman mengaduh pelan dan darah mulai keluar dari mulutnya. Kakek kembali memukul paman setiap kali paman bersuara dan aku hanya bisa mengatakan 'hentikan kakek, paman kesakitan' setiap kali pukulan mendarat di tubuh paman. Kakek mengabaikan ucapanku dan aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan.


"Paman mencintaimu, Zeta. Maafkan Paman," ucap paman sebelum akhirnya menutup matanya.


Kakek langsung berjalan ke arahku begitu melihat paman tidak sadarkan diri. Kakek mengambilku kembali ke dalam gendongannya. Air mataku tidak berhenti mengalir dan kakek terus mengusap lembut air mataku. Aku tidak tahu apakah usapan lembut milik kakek benar-benar tulus atau sebuah peringatan untukku agar berhenti menangis.


"Maafkan Kakek karena membuat Zeta harus melihat sesuatu yang tidak seharusnya Zeta lihat. Sekarang kita ke kamar Zeta dan anggap semua ini sebagai mimpi buruk. Semua ini hanya mimpi buruk. Hanya mimpi buruk yang tidak seharusnya Zeta ingat saat bangun. Kakek akan membacakan cerita pengantar tidur untuk Zeta."


Kakek berjalan keluar dari kamar dengan tetap terus menghapus air mata yang masih turun ke pipiku. Kakek juga menutupi kedua mataku dengan tangan kanannya yang bebas sehingga membuatku tidak lagi melihat paman. Tepat setelah kami meninggalkan kamar paman, suara pukulan kembali terdengar. Mereka kembali memukuli paman bahkan setelah paman tidak sadarkan diri.


"Zeta, Kakek melakukan hal ini karena Kakek mencintai pamanmu. Jadi, ayo lupakan semua yang Zeta lihat. Setelah ini Zeta akan melupakan mimpi buruk ini dan akan terus memiliki mimpi indah."


...-----...


Air mata sudah memenuhi wajahku. Ingatan apa itu. Ingatan apa yang baru saja terlintas di pikiranku.


Zeta bodoh. Zeta memang orang paling bodoh di dunia baik saat masih kecil maupun saat remaja.


Bagaimana bisa aku membiarkan seseorang meninggal di depanku?


Bagaimana bisa aku tidak mengatakan apapun bahkan setelah apa yang aku lihat?


Bagaimana bisa aku hanya diam menuruti kemauan kakek?


Bagaimana bisa membunuh paman sama halnya dengan mencintainya?


Aku tidak bisa lagi menahan rasa sakit yang tubuhku rasakan. Aku sangat ingin keluar dari ruangan ini. Kuangkat tangan kiriku meraba bagian bawah meja, mencari-cari tombol emergency yang akan memanggil perawat ataupun pengawalku. Aku menemukannya tetapi aku tidak bisa menekannya karena bayang-bayang wajah paman kembali mengisi pikiranku. Bagaimana bisa aku mencoba menyelamatkan diriku sekarang saat dimana aku tidak bisa menyelamatkan paman?


"Tekanlah. Paman mencintaimu, Zeta."


Aku menekan tombol emergency begitu suara itu terus memenuhi pikiranku. Suara yang aku kenal perlahan tidak hanya mengisi pikiranku tetapi juga ruangan ini. Suara yang hanya sebuah ilusi yang aku ciptakan hanya agar aku tidak merasa bersalah atas kematian paman. Ilusi yang selama ini aku ciptakan hanya agar aku bisa tetap hidup.


Seseorang membuka paksa pintu ruangan. Paman Stephan terdiam selama beberapa detik lalu meminta beberapa perawat maupun dokter yang ikut masuk bersamanya untuk keluar sebentar dari ruangan. Paman kembali menutup pintu ruangan dan langsung berlari ke arahku. Paman mengambil tabung oksigen yang berada di samping ranjang tempat tidur dan memasangkannya ke hidungku.


"Paman, Zeta..." ucapku tidak bisa melanjutkan apa yang ingin aku ucapkan.


"Nona akan baik-baik saja," ucap paman sembari menutup rekam medis yang ada di atas meja lalu membuangnya jauh-jauh dari jangkauanku.


Aku menangis dengan sangat keras di dalam pelukan paman. Aku juga memegang dengan sangat erat lengan paman, bahkan mungkin kuku-kuku di jariku meninggalkan bekas di lengannya. Paman meminta tenaga medis di luar untuk masuk ke dalam ruangan dalam waktu 5 menit dan paman juga memberitahu kondisiku kepada tenaga medis di luar agar bisa langsung menanganiku begitu masuk ke dalam ruangan.


"Jangan pernah melakukan hal seperti ini lagi, Nona. Saya mohon jangan membuat saya merasakan kehilangan keluarga untuk kedua kalinya."


"Maafkan Zeta," ucapku sebelum akhirnya jatuh pingsan.


...-----...


"Seharusnya Zeta memberitahu perawat jika Zeta sudah sadarkan diri."


Kualihkan pandanganku dari jendela ke arah ibu yang tangannya penuh dengan makanan kesukaanku. Aku bisa melihat sekilas jika di luar ruangan ini banyak pengawal yang berjaga saat ibu mencoba menutup kembali pintu ruangan ini. Setelah ini semua aktivitasku akan diawasi 24 jam dan aku tidak akan memiliki privasi apapun lagi.


"Zeta baru bangun dan langsung teralihkan dengan warna biru langit," balasku.


"Ingin makan buah?"


Ibu mengangkat kotak berisi penuh buah kesukaanku hingga sejajar dengan wajahku. Aku hanya menggeleng, membuat ibu kembali meletakkan kotak berisi buah itu ke meja samping tempat tidur. Ibu lanjut memegang kedua tanganku, membuatku langsung menatap matanya yang sedang menatap lembut ke arahku. Tatapan mata yang meminta untuk berbagi rasa sakit.


"Maafkan Ibu karena mewariskan Zeta sesuatu yang menyakitkan."


"Tidak, Zeta bahagia dan bersyukur dengan apa yang Zeta dapatkan."


"Zeta, berulang kali Ibu ingin menganggap jika semua yang telah terjadi hanya mimpi buruk tetapi kemudian Ibu menjadi takut untuk terbangun dari mimpi buruk ini. Apa Zeta tahu kenapa?"


Aku menggeleng.


"Karena di dalam mimpi buruk ini, Ibu juga merasakan kebahagiaan dan Ibu takut jika semua ini hanya sebuah mimpi buruk maka semua kebahagiaan yang Ibu rasakan selama ini akan ikut hilang bersama dengan bangunnya Ibu."


"..."


"Kenangan buruk ataupun mimpi buruk, keduanya tetap memberikan kebahagian. Kebahagian kecil yang muncul disetiap kenangan ataupun mimpi buruk, Ibu tidak ingin menghilangkannya. Itu pilihan Ibu untuk tetap berada di dalam mimpi buruk ini karena kebahagiaan yang Ibu dapatkan. Lalu, bagaimana dengan Zeta?"

__ADS_1


...-----...


__ADS_2