Mentari di Langit Malam

Mentari di Langit Malam
Masa Lalu : Berpura-pura


__ADS_3

Tatapan yang Tante Anastasia berikan kepadaku saat itu adalah tatapan perpisahan. Sepertinya hari itu adalah hari dimana Ken mengetahui semua kebenaran tentang hubungan ayahnya dengan Tante Anastasia. William juga memberitahuku dan Arthur tentang siapa Tante Anastasia walaupun dia tidak menceritakan perihal ayah ikut andil dalam kematian Tante Lily. Aku tidak tahu apakah William memang belum tahu atau dia menutupi kejahatan ayah agar Arthur dan aku bisa tetap memandang ayah sebagai seorang 'ayah'.


Sama halnya dengan kisah cinta kedua orang tuaku, kisah cinta Paman Parker dan Tante Anastasia juga sama dimana mereka berdua saling mencintai sebelum akhirnya Tante Lily datang dalam kehidupan paman. Berbeda dengan ibu yang memang tidak mendapatkan cinta ayah dari awal, Paman Parker sangat mencintai Tante Lily dan terus mengejarnya hingga tante menerimanya lalu mereka menikah. Tetapi siapa sangka dibalik cinta yang besar itu, paman juga masih memiliki cinta lain untuk Tante Anastasia.


Dahulu aku selalu mengira tidak akan ada cinta lain dibalik cinta yang besar tetapi sekarang aku tahu seseorang tidak akan bisa sepenuhnya menghapus cinta dari masa lalunya. Dan ketika cinta masa lalunya kembali hadir, cinta yang dikira telah mati selamanya tetapi ternyata hanya mati suri itu kembali bangkit secara perlahan.


Ken mengetahui semua kebenaran tentang Tante Anastasia karena dia melihat bagaimana tante yang selalu keluar masuk kamar ayahnya. Bahkan jika itu adalah aku, aku juga akan curiga tentang hubungan yang terjalin diantara keduanya, hubungan yang seharusnya tidak pernah ada. William tidak memberitahu lebih lanjut tentang apa yang terjadi setelahnya tetapi melihat bagaimana paman tidak bereaksi menunjukkan paman belum tahu apapun mengenai Ken yang sudah tahu kebenaran dibalik kematian ibunya. Sepertinya Ken menyelesaikan masalah ini seorang diri dan membuat Tante Anastasia meninggalkan rumahnya.


Sekarang aku penasaran tentang apa yang akan Paman Parker lakukan begitu tidak melihat Tante Anastasia berada di rumahnya.


Apakah paman akan membawanya kembali?


Apakah paman akan menyembunyikannya?


Dan, pembelaan seperti apa yang akan paman berikan kepada Ken?


Kualihkan perhatianku pada handphone milikku yang mati, membuat alunan piano yang Alvin kirimkan kepadaku ikut berhenti. Aku membiarkan handphone itu tetap berada di atas tempat tidur dan berjalan mendekat ke jendela. Aku membuka jendela, membiarkan udara malam perlahan mengisi ruang kosong di kamarku. Berbeda dengan udara pagi yang selalu menyejukkanku, udara malam hanya membuatku merasa tertekan seperti ada sesuatu di udara malam yang bisa mencekikku. Selama 10 menit aku membiarkan udara malam mencekikku hingga aku memutuskan untuk menutup kembali jendela.


Jam menunjukan pukul 23.14 malam. Waktu dimana seharusnya aku sudah tidur terlelap karena obat tidur yang sudah aku minum tetapi sekuat apapun efek obat itu, untuk hari ini obat itu tidak memiliki efek apapun kepadaku. Obat hanyalah bantuan untukku bisa tidur tetapi keputusan untuk tidur tetap berada di tanganku, lebih tepatnya di otakku yang hingga sekarang masih bekerja memikirkan berbagai masalah yang muncul secara bersamaan.


Aku memutuskan untuk turun ke lantai bawah, sepertinya aku akan menjadi lega setelah aku bisa mengeluarkan semua perasaan yang tertahan di dalam hatiku. Aku harus bermain piano di ruang musik dan mengeluarkan semua emosi yang mengisi tubuhku. Ibu benar-benar menurunkan hal ini kepadaku untuk selalu bermain piano setiap kali aku tidak bisa mengeluarkan emosi di dalam diriku.


Langkah kakiku terhenti begitu melihat pintu ruang kerja ayah terbuka dan lampu di dalamnya masih menyala. Aku mengamati sekitar selama beberapa saat, memastikan apakah ada orang lain atau tidak sebelum akhirnya berjalan mendekat ke ruang kerja ayah untuk menutup pintunya.


"Bagaimana bisa Ayah menyembunyikan semua hal ini? Apa yang akan Ayah lakukan saat ibu dan Zeta tahu semua ini?"


Suara William terdengar, membuat langkahku terhenti.


"Jangan buat Ayah mengulangi ucapan Ayah, William."


"Menurut Ayah mana yang akan paling menyakitkan untuk Zeta, apakah fakta dimana Ayah ikut berperan dalam kematian Tante Lily atau fakta dimana Ayah memiliki wanita dan anak lain?"


"William!!!" teriak ayah sembari memukul meja.


"Alvin adalah laki-laki pertama dalam hidup Zeta dan laki-laki itu adalah kakaknya. Zeta adalah perempuan dalam hidup Alvin dan perempuan itu adalah adiknya. Bukankah semua ini akan menyakiti keduanya?"


"Karena itu Ayah selalu memintamu untuk menjauhkan Alvin dari Zeta."

__ADS_1


"Apa hanya itu yang bisa Ayah katakan? Saat dimana Ayahlah yang orang yang paling menyakiti Zeta?"


"..."


"Ah.... aku bahkan belum membahas tentang ibu. Bagaimana dengan ibu? Apa yang akan Ayah lakukan? Jika saja tidak ada anak lain yang lahir setelah Alvin, aku rasa ibu akan memaafkan Ayah, tetapi apa ini?"


"Jangan melampaui batas, William," potong ayah dengan nada penuh amarah.


"Jika bukan aku lalu siapa?"


Tepat saat aku akan menutup pintu ruang kerja ayah, sebuah tangan menahanku. Aku langsung melihat ke arah kananku dan mendapati Arthur yang juga berada di dalam kegelapan sama sepertiku. Dia menarik tanganku menjauhi gagang pintu lalu tersenyum pahit.


"Jika ibumu atau Zeta tahu tentang hal ini, Ayah tidak akan tinggal diam, William."


"Kebenaran tentang kematian Tante Lily yang akan membuat Zeta paling menderita. Bahkan saat dia tahu kebenaran tentang siapa Alvin sebenarnya, dia tidak akan terlalu menderita. Tetapi Ayah, dia akan selalu menyalahkan dirinya atas kematian Tante Lily, kematian yang disebabkan oleh ayahnya sendiri. Dia akan membalas kematian tante dengan terus bersama Ken, bersama dengan laki-laki yang telah menyakitinya."


"Ayah tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Ayah akan membatalkan perjodohan itu."


"Ayah tidak akan bisa membatalkan perjodohan itu jika Zeta tahu semua kebenaran ini."


"Maka Ayah tidak akan membiarkan Zeta tahu kebenarannya dan jika Zeta tahu maka Ayah tidak akan segan untuk menyakiti Ken."


"..."


"Jika Ayah mencintainya tidak seharusnya Ayah melakukan semua ini. Tidak seharusnya."


"..."


"Aku akan menjadi pewaris Keluarga Allison tetapi aku tidak akan mewarisi satupun perilaku Ayah."


"William!!!"


"Kami mencintai Ayah dengan tulus tetapi kenapa Ayah tidak membalas ketulusan itu dengan sebuah ketulusan juga? Kenapa justru Ayah membalasnya dengan sebuah pengkhianatan dan rasa sakit?"


Suara pukulan mulai terdengar. Arthur langsung menarik tubuhku menjauhi ruang kerja ayah karena dia tahu aku pasti akan langsung masuk ke ruangan itu jika ayah terus memukuli William. Tarikan Arthur bukan lagi tarikan seorang kakak yang sedang melindungi adiknya melainkan tarikan seseorang yang membutuhkan kekuatan.


Arthur terus membawa tubuhku hingga aku kembali lagi ke dalam kamarku, kamar yang baru beberapa menit lalu aku tinggalkan. Dia menutup pintu kamarku dan langsung duduk di depan pintu dengan wajah yang dia coba sembunyikan menggunakan tangannya.

__ADS_1


"Kapan kamu tahu semua ini?" tanya Arthur untuk kali pertama setelah dia membawaku kembali ke kamarku.


"Dua minggu yang lalu saat ibu memainkan piano," jawabku dengan jujur karena aku tidak ingin menutupi apapun lagi darinya.


"Ibu sudah tahu semua ini?" balas Arthur dengan suara tawa kecil miliknya.


"Tidak dengan anak kedua."


Arthur mengangkat wajahnya dan menatapku. Aku berjalan mendekat ke arahnya dan duduk tepat di hadapannya hingga jari-jari kakiku menyentuh jari-jari kaki miliknya. Aku mengambil tangan besar miliknya dan meletakannya ke pipiku.


"Ibu sudah tahu dari awal pernikahan tentang semua ini. Satu hal yang tidak ibu tahu hanyalah kelahiran anak kedua, kelahiran adikku."


"Jangan menyebutnya sebagai adikmu."


"Ibu menutupi semuanya. Maafkan Zeta karena tidak memberitahu semua yang terjadi."


Arthur menarik tangannya dari pipiku. Dia kembali membenamkan wajahnya.


"Kak Arthur sendiri sudah tahu dari kapan?"


"Apa maksudmu?" tanyanya sedikit terkejut.


"Respon Kakak bukanlah respon seseorang yang baru pertama kali mengetahui kebenaran ini," lanjutku.


"Ah.. aku memang tidak akan pernah bisa membohongi adik kecilku ini."


Arthur mengacak-acak rambutku lalu menghembuskan nafas dengan berat. Dia berdiri dan memberikan kedua tangannya untuk membantuku berdiri. Aku menyambut uluran tangannya dan ikut berdiri. Arthur langsung berjalan ke arah jendela, meninggalkanku, lalu membuka jendela itu dan membiarkan udara malam sekali lagi masuk ke dalam ruangan ini. Dia berdiam diri untuk waktu yang lama sembari menghirup udara malam.


"Aku tidak sengaja membaca surat yang dikirimkan kepada William. Aku tidak ingin mempercayai semua isi surat itu dan menganggapnya sebagai ulah seseorang yang tidak menyukai keluarga kita," ucap Arthur terhenti dan sekali lagi menghirup udara malam.


"Lalu apa yang membuat Kakak menjadi ragu?"


"Ibu, permainan pianonya adalah permainan yang penuh dengan amarah dan rasa sakit," balasnya sembari memutar tubuhnya menghadap ke arahku, membuatku bisa melihat mata merah miliknya.


"Pembelaan seperti apa yang akan ayah berikan?" lanjutnya sembari menutup jendela.


Arthur terdiam beberapa saat di depan jendela sebelum akhirnya dia berjalan ke arahku. Aku tidak akan pernah bisa merubah ekspresi dan suasana hatiku secepat yang dia lakukan. Sekarang aku sudah tidak melihat amarah, kebencian, ataupun kesedihan dalam dirinya. Arthur menepuk pelan pundakku sebelum akhirnya berjalan keluar dari kamarku.

__ADS_1


"Udara malam benar-benar menyesakkan, Zeta."


...-----...


__ADS_2