Mentari di Langit Malam

Mentari di Langit Malam
Masa Lalu : You Love Her


__ADS_3

"Apa yang akan kamu katakan kepada ayah?"


"Pernahkah Kak Arthur menyalahkan diri Kakak atas sesuatu yang terjadi dalam hidup orang lain?" balasku tidak sesuai dengan pertanyaan yang Arthur berikan.


"..."


"Apakah kita benar-benar hanya sebuah variabel yang Tuhan kirimkan dalam kemalangan seseorang atau justru kitalah kemalangan yang Tuhan kirimkan?"


"Zeta, aku lelah."


Arthur langsung menutup kedua matanya setelah mengatakan hal itu. Hari ini memang hari yang cukup panjang, aku juga sudah sangat lelah dan ingin menutup kedua mataku. Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan aku katakan begitu sampai di rumah. Ayah dan William pasti sudah menunggu kami dengan ribuan pertanyaan yang ingin mereka tanyakan.


Beberapa kali Paman Stephan mencoba melihat kondisiku dan Arthur dari kaca spion depan. Paman juga tahu bagaimana melelahkannya hari ini untuk kami. Walaupun paman hanya seorang pengawal yang bertugas melindungi kami, paman tetap selalu memastikan kondisi kami secara fisik maupun mental tetap baik. Kejadian hari ini pasti membuat Paman akan lebih berhati-hati dengan mulai memeriksa setiap tempat yang akan aku datangi apakah akan membuatku kembali mengalami kecemasan atau tidak.


Dua buah mobil juga mengikuti di belakang kami begitu aku melihat kaca spion luar. Aku selalu bertanya-tanya kepada diriku sendiri alasan kenapa banyak pengawal yang melindungiku saat dimana hanya beberapa pengawal yang ditugaskan untuk melindungi ayah dan William. Aku bahkan tidak sepenting ayah yang keputusannya akan mempengaruhi banyak aspek dan aku juga tidak seberharga William yang akan mewarisi seluruh Grup Allison.


Aku sempat berpikir jika pengawal yang bekerja untuk ayah dan William adalah pengawal dengan keahlian paling baik diantara pengawal lainnya tetapi kemudian aku kembali tersadar jika Paman Stephan merupakan pengawal terbaik yang ada di keluarga Allison dan paman yang mengawalku. Lalu, kenapa pengamanan dan pengawalan yang aku dapatkan harus sebanyak dan sebaik ini?

__ADS_1


"Kenapa Paman tidak mengatakan apapun kepada ayah tentang pertemuanku dengan Natasha?" tanyaku mencoba memecah hening.


"Nona pernah meminta saya untuk berjanji melindungi Nona dari rasa sakit, jika saya mengatakan apa yang terjadi hari itu, bukankah Nona akan merasakan rasa sakit?"


"Apa ini? Apakah Paman sekarang berada di pihak Zeta?" balasku sembari tersenyum.


"..."


"Baiklah, Zeta tidak akan menanyakan apapun lagi," ucapku setelah menunggu 30 detik untuk paman menjawab pertanyaan terakhir yang aku berikan, yang hanya berakhir dengan diam. Kualihkan pandanganku ke luar kaca mobil sembari meregangkan kedua tanganku.


Tanganku memukul kotak berukuran sedang pemberian Felix yang sedari tadi berada di pangkuanku. Aku langsung melupakan kotak ini begitu masuk ke dalam mobil karena fokusku teralihkan kepada Arthur. Kubuka perlahan kotak berwarna krem ini dan mendapati sebuah album foto di dalamnya. Kuambil album foto itu lalu meletakkan kotak kosong dipangkuanku ke samping tempatku duduk, membuat Arthur membuka matanya sebentar karena terkejut ada sesuatu yang menyentuh tangannya sebelum akhirnya kembali menutup matanya begitu mendapatiku sedang sibuk dengan sesuatu di tanganku. Kubuka perlahan album ini, ada hiasan bunga kering di sisi kanan bawah album, sepertinya setiap halaman album ini juga dihiasi oleh bunga kering lainnya.


'Her', kata yang tertulis di halaman pertama album ini. Aku baru tahu jika Natasha bisa membuat tulisan yang cukup aesthetic seperti ini, mengingat tulisannya cukup tidak bisa dibaca. Tulisannya di halaman depan album ini memang tidak terlalu banyak hiasan, lebih terkesan sederhana, sesuatu yang sebenarnya cukup menggambarkan dirinya. Cukup dengan halaman pertama, aku kembali membalik ke halaman berikutnya dan mendapati sebuah foto, foto yang bahkan aku tidak tahu keberadaannya di dunia ini. Sebuah kata 'yours' tertulis di bawah foto ini yang halamannya saat ini dihiasi oleh bunga mawar merah kering, berbeda dengan halaman sebelumnya yang memiliki hiasan bunga mawar biru kering.


Foto yang sekarang aku lihat adalah fotoku yang sedang berbicara dengan Stephanie dan Caroline dengan Ken yang menatapku dari belakang. Foto ini lebih memfokuskan wajah Ken yang sedang melihat ke arahku. Ini kali pertama aku melihat foto ini, tidak mungkin seseorang memfotoku tanpa aku ketahui karena sudah pasti para pengawalku akan membuat siapapun yang memfotoku tanpa izin mendapatkan pelajaran berharga.


Aku kembali membalik ke halaman selanjutnya dan sekali lagi mendapati foto dimana Ken sedang melihat ke arahku tanpa aku sadari. Aku terus membalikkan halaman demi halaman di album ini dan aku juga terus mendapati foto dimana Ken menatapku dengan tatapan yang belum pernah aku lihat. Tatapan yang dulu sangat aku inginkan hadir di dalam hidupku dan tatapan yang saat ini tidak aku inginkan ada di dalam hidupku. Foto-foto yang berada di album ini bukan foto yang sudah sangat lama, aku masih bisa melihat jika foto-foto ini diambil beberapa minggu terakhir ini. Aku mengingat beberapa kejadian di foto ini diambil saat di kelas, lapangan, kantin, dan tempat parkir. Jika foto ini adalah foto yang baru diambil beberapa minggu terakhir, bagaimana bisa Ken menatapku dengan tatapan seperti itu saat dia sudah memutuskan untuk bersama dengan Natasha?

__ADS_1


Aku kembali menyadari satu hal jika foto-foto ini bukanlah foto yang diambil dengan kamera yang bagus ataupun kamera handphone. Foto-foto ini seperti sebuah screen capture yang diambil dari sebuah video melihat beberapa foto memiliki kualitas yang sangat buruk. Sepertinya, Natasha mengumpulkan foto-foto ini dari rekaman CCTV sekolah. Tidak sembarang orang bisa mendapatkan rekaman CCTV terlebih hanya untuk membuat album seperti ini. Aku rasa Felix membantunya karena ketua kedisplinan memiliki akses ke beberapa fasilitas sekolah seperti CCTV maupun kunci seluruh ruangan sekolah.


Beberapa kali aku menghembuskan nafas dengan berat saat melihat foto di album ini, membuat Paman Stephan terus melihat ke belakang, memastikan jika aku baik-baik saja. Aku hanya memberikan sebuah senyuman manis yang terkesan dipaksakan setiap kali aku memergoki paman yang mencoba melihat kondisiku dari spion depan atau saat lampu lalu lintas berubah warna menjadi merah, paman pasti menolehkan wajahnya ke arahku. Aku terus membalik-balikkan halaman album ini hingga menyadari jika setiap kata yang tertulis di bawah ataupun di atas foto di album ini membentuk sebuah kalimat.


'Yours', 'Observe', 'Unaware', 'Lie', 'Overlook', 'Voice', 'Eyes', 'Hurt', 'Entire', 'Regret'.


Aku langsung menutup album ini begitu menyadari kalimat yang tersusun dari huruf awal setiap kata di bawah foto. Aku kembali mengambil kotak yang sebelumnya aku letakan di samping tempatku duduk dan memasukkan album di tanganku ke dalamnya. Tanpa kusadari aku meletakkan album itu dengan posisi terbalik, cover yang seharusnya berada di atas sekarang berada di bawah. Aku membenci semua kebetulan yang terjadi hari ini. Aku benar-benar membenci tulisan yang saat ini aku baca di bagian belakang album ini.


'Kamu melihatnya dengan tatapan yang belum pernah kamu berikan kepada perempuan manapun, benarkah kamu tidak pernah mencintainya?'


'Apakah kehadirannya membuatmu tidak menyadari perasaan yang kamu miliki?'


'Apakah saat ini ketidakhadirannya membuatmu menyadari perasaan yang kamu miliki?'


'Zeta, benarkah kamu sudah tidak memiliki perasaan apapun kepada Ken?'


...-----...

__ADS_1


__ADS_2