
Pemandangan yang dulu sempat aku harapkan terjadi, sekarang menjadi sebuah kenyataan. Aku tidak tahu jika harapan jahatku menjadi kenyataan hanya dalam hitungan minggu setelah aku membuatnya. Harapan yang seharusnya tidak pernah aku minta dan harapan yang membuatku menyesal karena pernah membuatnya tanpa mencoba melihat sesuatu dari semua sisi. Disinilah aku, melihat dengan kedua mataku harapanku menjadi sebuah kenyataan.
'Aku ingin perempuan itu dipermalukan seperti Ken mempermalukanku'
Saat aku membuat harapan itu, aku langsung menyadari satu hal. Setiap manusia memiliki sisi jahatnya. Ada diantara mereka yang secara terang-terangan menunjukkan sisi jahatnya dan sisanya hanya melalui harapan serta doa. Daripada mereka yang secara terang-terangan menunjukkan sisi jahat mereka, mereka yang menutupi sisi jahat mereka melalui untai doa adalah orang yang paling menakutkan. Tidak ada orang lain yang tahu semenakutkan apa doa yang mereka ucapkan kecuali diri mereka sendiri dan Tuhan. Tetapi aku yakin, Tuhan tidak akan mengabulkan doa yang jahat bukan?
"Apa? Kenapa tidak mengambil makanan yang mengotori sepatuku?" teriak Sera, kakak dari Charlotte.
Tempat ini sudah berubah menjadi arena sirkus. Banyak anak yang justru merekam semua hal ini, mereka tidak mencoba menolong Natasha. Entah karena mereka takut akan hal yang akan mereka terima saat mencoba menolongnya atau karena mereka menikmati pertunjukkan saat ini. Pertunjukkan yang mungkin sudah mereka ingin lihat sejak hari dimana Ken mengumumkan siapa perempuan yang dia cintai. Pertunjukkan yang mereka harapkan adalah aku yang melakukannya.
Natasha membungkukkan badannya dan mengambil satu potong steak yang jatuh di atas sepatu Sera. Aku rasa Sera sengaja melakukan hal itu. Beberapa pegawai di restoran ini hanya bisa melihat dan mengamati apa yang sedang terjadi. Mereka tidak berani melangkahkan kaki mereka menolong Natasha karena konsekuensi pemecatan yang akan mereka terima juga menakutkan.
Haruskah aku menolongnya atau haruskah aku tetap menontonnya?
"Jilat kedua sepatuku yang kamu kotori atau aku akan melaporkan restoran ini."
Perlahan Natasha kembali membungkukkan badannya. Kali ini dengan tubuh yang bergetar, dia perlahan mendekatkan wajahnya ke sepatu yang bahkan tidak menunjukkan noda bekas potongan steak. Badan Natasha semakin bergetar, entah karena menahan tangis atau menahan rasa sakit yang sekarang dia rasakan.
"Bukankah cukup kasar membuat seseorang menjilati sepatumu?" ucapku akhirnya tidak bisa melihat lagi pemandangan di depanku.
"Aku harap Keluarga Allison tidak ikut campur dalam hal ini. Perempuan ini, atau ****** ini, aku rasa tidak cukup baginya mengambil Ken darimu, dia juga mengambil laki-laki yang aku cintai. Bukankah kamu juga ingin melihatnya menderita seperti ini untuk sekali dalam hidupnya?"
Tidak mungkin Natasha merayu laki-laki lain disaat dia mempunyai 2 perjanjian dengan 2 keluarga yang bahkan bisa melenyapkannya.
"Kenapa tidak menjawab Zeta? Benar bukan kamu juga ingin melihat dia menderita dan dipermalukan?"
"Aku memang menginginkannya menderita saat dimana dia merebut Ken dariku tetapi kemudian aku sadar jika dia memang lebih baik dariku hingga bisa merebut Ken. Hentikan semua ini."
"Aku tidak sebaik dirimu, Zeta."
Arthur dan Alvin langsung memegang kedua tanganku begitu aku akan berjalan mendekat ke arah Natasha. Mereka berdua menggelengkan kepala mereka, mencegahku terlibat lebih jauh. Stephanie juga ikut memberikan tatapan agar aku tidak masuk ke dalam masalah ini atau suatu hal buruk akan terjadi.
"Cepat jilat sepatu!!" teriak Sera begitu melihat Natasha tidak menjilati sepatunya.
"Kak, hentikan. Ini pesta ulang tahunku, aku kira Kakak mengaturnya untukku tetapi apa ini?" omel Charlotte sembari membatu Natasha berdiri.
"Berapa kali harus aku katakan agar tidak ikut campur?!" teriak Sera menggila.
Sera mendorong pelan tubuh Charlotte yang menghalangi dirinya dengan Natasha. Sera langsung memegang kerah baju Natasha dan menariknya ke arahnya. Aku rasa tarikan kuat Sera membuat leher Natasha sedikit tercekik dan membuatnya kesulitan bernafas. Tanpa menghiraukan hal itu, Sera menarik paksa tubuh Natasha mengikutinya ke tempat buffet. Sera langsung menumpahkan semua makanan ke tubuh Natasha, membuat Natasha sedikit terkejut karena beberapa makanan masih cukup panas.
Tubuhku tidak bergerak ke arahnya untuk menolongnya. Aku sama dengan teman-teman yang lain, ikut menyaksikan pertunjukkan ini. Melihat seorang manusia menyiksa manusia lainnya. Manajer restoran ini keluar dari ruangannya dan langsung mencoba menghentikan apa yang sedang Sera lakukan. Sera langsung mendorong tubuh wanita paruh baya itu. Wanita itu langsung melihat ke arahku, meminta bantuan kepadaku. Wanita yang pernah berterima kasih kepadaku dan mungkin akan membenciku karena aku tidak langsung menolong Natasha.
"Kita lihat siapa yang akan dia pilih."
Sera menelepon seseorang dan menyuruh orang itu untuk datang kemari. Natasha menundukkan kepala ke bawah, menunjukkan ketidakberdayaannya di hadapan kami semua. Dan kami hanya menatapnya tanpa ada satupun diantara kami yang melangkahkan kaki mendekat kepadanya untuk menolongnya.
"Wahh, ketua komisi kedisiplinan sekolah?" ucap Caroline tidak percaya.
Aku langsung menoleh ke arah seorang laki-laki yang sedang berjalan ke arah kami. Laki-laki yang selalu dikenal dengan kesederhanaannya dan kepintarannya. Walaupun dari keluarga yang tidak berada dan menjadi ketua komisi kedisiplinan sekolah, dia bisa bergaul dengan semua anak dari keluarga manapun. Berbeda dengan para siswa yang mendapatkan beasiswa yang selalu membenci keluarga dari golongan atas, laki-laki itu selalu bijaksana dalam mengambil tindakan. Hal itu membuatnya memiliki hubungan yang baik dengan para pewaris perusahaan, termasuk dengan William. Walaupun dia tidak bisa mengatur anggotanya agar tidak membenci keluarga golongan atas, setidaknya dia masih bisa mengatur agar para anggotanya tidak bertindak diluar kendali.
Laki-laki itu, Felix, berjalan ke arah Natasha tanpa ada sebuah keraguan dalam dirinya. Dia membantu membersihkan makanan-makanan yang mengotori baju dan tubuh Natasha. Hal itu tentunya membuat Sera marah. Bahkan tanpa perlu menanyakan apapun lagi, kita semua tahu siapa yang akan dipilih Felix. Pilihan yang awalnya aku kira tidak mungkin dipilih olehnya melihat dengan keluarga mana dia akan berurusan.
"Kamu memilhnya?!" tanya Sera penuh emosi.
"Aku pernah mengatakan satu hal kepadamu, aku sudah memiliki seseorang yang mengisi hatiku dan mengubah diriku menjadi lebih baik. Dan orang itu adalah Natasha."
"Kamu bercanda bukan?! Aku lebih dari dia, aku memiliki semuanya. Kenapa?!"
"Kamu tidak membuatku bahagia. Perilakumu hari ini menunjukkan siapa dirimu sebenarnya. Aku tidak ingin menghakimi hatimu karena aku tidak sepenuhnya tahu kisah yang sudah hatimu lalui. Tetapi, aku akan menghakimi tindakanmu saat ini. Selamanya kamu tidak akan bisa memilikiku."
__ADS_1
"Felix!!!!!!"
"Kamu bisa mengambil beasiswa yang aku dapatkan. Aku tidak masalah akan hal itu tetapi kamu tidak bisa mengambil masa depanku."
"Hentikan, Felix," pinta Natasha lirih.
Felix langsung mengalihkan perhatiannya kepada Natasha. Dia sekali lagi membersihkan sisa-sisa makanan yang masih menempel di baju Natasha. Dia bahkan melepaskan jaket yang dipakainya lalu memberikannya kepada Natasha untuk menutupi pakaiannya yang sangat kotor. Sekarang dia mengelap dan membersihkan kuah berwarna merah yang menghiasi wajah serta rambut Natasha.
Beberapa orang yang awalnya merekam semua ini, sudah menghentikkan kegiatan mereka. Mereka tahu jika mereka tetap merekam kejadian ini, maka Sera juga akan ikut merasakan rasa malu karena perkataan yang baru saja Felix katakan. Dan dengan begini, video tentang kejadian ini tidak akan tersebar luas.
Tanpa kusadari tubuhku sudah berjalan mendekat ke arah Natasha sebelum Sera berusaha untuk memukulnya dengan nampan. Aku terkejut melihat bagaimana tubuhku bereaksi seperti ini dan bagaimana bisa Arthur maupun Alvin membiarkanku pergi kali ini.
"Hentikan," ucapku.
"...."
"Mencintai seseorang dengan cara seperti ini, hanya akan menyakitimu lebih jauh di masa depan," ucapku sembari mengambil tempat makanan dari tangan Sera.
"Apa yang kalian lakukan?!!!!!!"
Suara yang sangat aku kenal. Suara yang seharusnya sejak awal berada di sini dan mencegah semua hal ini terjadi. Kuputar tubuhku menuju sumber suara yang saat ini sedang berjalan ke arahku. Dia menatapku penuh amarah. Amarah yang seharusnya dia tujukan kepada Sera bukan kepadaku.
"Dimana letak nuranimu?!"
Sekali lagi Ken berteriak penuh amarah. Bedanya kali ini teriakan penuh amarah miliknya ditujukan kepadaku bukan kepada semua orang yang berada di tempat ini. Dia terus menatapku dengan penuh amarah selama 1 menit sebelum akhirnya mengalihkan perhatiannya kepada Natasha. Felix sudah tidak sedekat sebelumnya dengan Natasha. Melihat bagaimana dia memposisikan dirinya, dia pasti tahu semua yang Natasha lakukan.
Setelah memastikan Natasha baik-baik saja. Ken kembali memusatkan perhatiannya kepadaku, kepada seseorang yang bahkan tidak tahu apapun tentang kejadian ini. Dia mengambil nampan dari tanganku dengan paksa dan membantingnya, membuat suara yang cukup nyaring dan mengagetkan semua orang. Sera bahkan memundurkan tubuhnya begitu melihat amarah menguasai diri Ken. Dia takut kepada Keluarga Parker tetapi tidak takut kepada Keluarga Allison, sangat ironis saat dimana Keluarga Allison memiliki kekuasaan lebih di atas Keluarga Parker.
"Kamu bukan manusia, Zeta. Apakah dengan menyiksanya seperti ini akan membuatmu bahagia?"
"Ken..." panggil Sera pelan.
Aku membalas tatapan amarahnya dengan tatapan kosong milikku. Dia mengira aku yang melakukan semua hal ini kepada Natasha hanya karena melihat yang berada di tanganku. Pantas saja dia langsung melangkahkan kakinya menuju ke arahku begitu dia menginjakkan kakinya ke tempat ini.
"Apa menurutmu aku yang melakukan semua ini?" balasku.
Plak!!!
Tanpa mencoba memahami pertanyaanku. Tanpa mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi. Dan tanpa mencoba mendengarkanku. Sebuah tamparan sudah mendarat di pipiku. Tamparan yang dia berikan dengan sekuat tenaganya, bahkan dia tidak melihat siapa yang akan mendapatkan tamparan itu. Perlahan bagian dalam pipiku mengeluarkan darah, darah pertama dalam hidupku karena seseorang menamparku.
Laki-laki yang dahulu berjanji akan melindungiku dan tidak akan membiarkan seseorang menyakitiku, sekarang menjadi laki-laki yang paling menyakitiku. Laki-laki pertama dalam hidupku yang menggunakan kekerasan terhadapku. Laki-laki pertama dalam hidupku yang menamparku. Laki-laki pertama dalam hidupku yang melanggar janjinya. Dan laki-laki pertama dalam hidupku yang tetap ingin aku lindungi bahkan setelah semua yang dia lakukan.
Arthur langsung berlari ke arahku begitu bunyi tamparan terdengar. Dia langsung memukuli Ken dengan membabi buta dan tidak membiarkan Ken membalas satupun pukulannya. Dia terus memukuli Ken tanpa henti dan aku tidak bisa mengeluarkan satu katapun untuk menghentikannya.
"Kak Arthur hentikan," ucap Stephanie sembari membantu Felix yang sedang berusaha melerai Arthur dan Ken.
"Kak, hentikan," ucapku akhirnya setelah melihat kondisi wajah Ken yang dipenuhi luka.
Suaraku yang bergetar membuat Arthur menghentikkan tangannya yang hendak memukul Ken. Dia langsung berdiri dari atas tubuh Ken dan berjalan ke arahku. Dia langsung memberikan tangan besar miliknya kepadaku dan memegang pipi kananku yang baru saja mendapat tamparan keras. Ken juga langsung berdiri saat Arthur menghampiriku. Sekarang dia menyentuh wajahnya yang penuh dengan luka. Aku rasa, setelah ini dia juga akan mendapat luka dari ayahnya sendiri.
"Apa-apaan itu, dia kakakmu? Kenapa sangat kotor dan menjijikan?" sebuah suara anak kecil muncul, membuat perhatian kami teralih.
"Lalu ada apa dengan kakak-kakak ini?"
"Wahh, apakah dia benar-benar kakakmu?"
Sepertinya Tuhan belum cukup memberikan pertunjukkan hari ini kepada kami hingga akhirnya mengirimkan malaikat kecil ke tempat ini. Adik Natasha melangkah ke dalam ruangan dan langsung berlari menghampiri kakaknya. Dengan bahasa isyarat yang dia gunakan, dia menanyakan apakah terjadi sesuatu kepada Natasha, yang hanya dijawab dengan sebuah gelengan oleh Natasha.
"Kami tidak bisa bermain denganmu lagi. Kamu bilang kakakmu orang kaya tapi apa ini. Sepertinya kamu pembohong," ucap anak kecil yang sebelumnya juga menanyakan pertanyaan kepada adik Natasha.
__ADS_1
"Jika kakakmu kaya kenapa dia memakai pakaian pegawai dan lihat betapa kotornya dia," ucap anak lainnya.
"Setelah ini jangan lagi mengikuti kami, kamu tidak cocok dengan kami. Ayo pergi."
Adik Natasha langsung mengejar temannya yang keluar dari tempat ini setelah mengucapkan kalimat yang cukup menyakitkan. Natasha langsung ikut berlari menghampiri adiknya. Anak-anak yang berada di tempat ini semuanya diam.membisu, tidak tahu apa yang harus mereka lakukan. Mereka ingin meninggalkan tempat ini sekarang juga tetapi hal itu sudah mustahil saat dimana Ken menampar pipiku.
"Aku akan memastikan kamu mendapatkan apa yang Natasha dapatkan," ucap Ken sebelum akhirnya berjalan mengejar Natasha.
"Ken," panggilku.
"..."
"Ken, aku ingin mengatakan jika aku tidak menyesal pernah mengenal sisi lain dari dirimu."
Ken membalikkan tubuhnya ke arahku selama beberapa saat. Menatapku dengan tatapan penuh amarah dan benci yang menjadi satu. Dia kembali berlari mengejar Natasha yang entah sekarang sudah berlari sejauh mana.
"Zeta, aku...."
"Kamu lebih takut kepada Keluarga Parker dibandingkan Keluarga Allison. Haruskah aku menunjukkan apa yang bisa aku perbuat sebagai bagian dari Keluarga Allison?" tanyaku dengan sinis.
Sera menelan ludahnya dan kembali diam mematung. Semua yang ada di tempat ini juga ikut diam, tidak bersuara. Sepertinya mereka masih terkejut dengan apa yang baru saja terjadi dan takut dengan apa yang baru saja aku ucapkan. Selama ini, aku tidak pernah menunjukkan kekuatan dan kekuasaan yang aku miliki sebagai bagian dari Keluarga Allison dan sekarang aku tiba-tiba mengatakan sesuatu yang mereka takuti.
"Jika kalian mengeluarkan satu kata tentang kejadian ini, aku akan membuat kalian menyesal. Hapus semua rekaman yang kalian miliki dan tutup rapat-rapat mulut kalian."
"Tapi kamu tidak salah, Zeta," ucap salah satu teman kelasku.
"Jika Zeta tidak salah kenapa kalian diam saja? Ikuti apa yang Zeta ucapkan atau kalian ingin melihat seberapa besar pengaruh dari 2 anak Keluarga Allison?" balas Arthur.
Semuanya langsung melakukan apa yang aku katakan. Mereka yang merekam kejadian ini langsung menghapus file milik mereka. Mereka juga langsung menandatangi surat elektronik yang dibuat Stephanie. Aku bahkan tidak menyadari jika dia sudah membuat surat itu. Disaat seperti ini, kedudukan keluarga kami menjadi sangat jelas. Siapa yang menjadi pertama dan siapa yang menjadi kedua. Aku membenci hal itu.
"Terima kasih," ucap Felix.
"Aku tidak membutuhkan ucapan terima kasih darimu. Untuk membalasku, cukup jangan menghalangi apa yang akan Ken lakukan di masa depan sekalipun dia melakukan pelanggaran," ucapku.
"Tapi itu..."
"Saat kamu tidak menghentikan apa yang Natasha lakukan, kamu harusnya tahu jika akan ada banyak orang yang tersakiti karena keputusan yang dia buat. Aku rasa kamu harus melakukan itu jika kamu tidak ingin Natasha melawan Keluarga Parker."
"Zeta?" panggil Arthur menyelidik begitu mendengar ucapanku.
"Aku akan menceritakan semuanya. Aku berjanji," ucapku.
Kulangkahkan kakiku mendekati para pegawai dan manajer tempat ini. Dengan menggunakan bahasa isyarat, aku meminta maaf atas apa yang terjadi hari ini dan akan mengganti semua kerugian yang terjadi. Aku juga meminta mereka untuk merahasiakan hal yang terjadi hari ini.
Manajer restoran mendekatiku dan memberikan selembar kertas kepadaku.
'Terima kasih'
Kata yang seharusnya tidak aku terima karena aku bahkan tidak bisa menyelamatkan Natasha lebih awal. Aku bahkan tidak melakukan apapun untuk menolongnya, yang aku miliki hanya keraguan untuk menolongnya. Aku tidak pantas menerima kata ini. Sekali lagi aku memberikan bahasa isyarat yang berarti, 'maafkan saya' sebelum akhirnya berjalan meninggalkannya.
"Zeta," panggil Alvin begitu aku berada di tempatnya berdiri.
"..."
"Aku berjanji akan melindungimu."
"Tidak, jangan pernah mengucapkan janji itu karena aku baru saja melihat orang yang melanggar janji yang sama seperti yang Kakak ucapkan."
...-----...
__ADS_1