
Aroma bayi langsung tercium begitu aku masuk ke dalam sebuah bangunan. Bangunan yang awalnya aku kira sebagai sebuah café ataupun rumah makan ternyata sebuah tempat penitipan anak. Baru kali ini, seseorang mengajakku untuk bertemu di tempat seperti ini, tempat yang bahkan tidak pernah terpikirkan olehku akan masuk ke dalamnya. Tempat penitipan anak ini sepertinya lumayan terkenal melihat banyaknya ruangan dan juga bangunan ini cukup luas. Jika hanya melihat dari luarnya saja, aku tidak akan menyangka tempat ini akan seluas ini.
Aku dan Arthur saling bertukar pandang begitu kaki kami melangkah masuk ke bangunan ini. Arthur hendak mengomel jika saja seorang pegawai tidak sengaja lewat di depan kami dan memberikan sebuah senyuman ramah kepada kami. Salah satu pegawai yang lewat langsung menyuruh kami untuk masuk ke dalam, lebih tepatnya ke meja resepsionis. Aku baru tahu meja resepsionis bisa berada cukup jauh dari pintu masuk.
Bagaimana orang-orang akan mendapatkan informasi dengan cepat jika meja resepsionis berada jauh seperti ini?
Begitu berjalan melewati ruangan-ruangan dan beberapa pajangan di bangunan ini, aku tahu dengan pasti alasan kenapa meja resepsionis berada di dalam. Siapapun akan langsung menitipkan anak mereka di tempat ini karena sudah melihat sendiri bagaimana penampakan ruangan-ruangan di bangunan ini dan tentunya interior di bangunan ini sangat menarik perhatian. Banyak lukisan-lukisan yang menghiasi dinding bangunan ini, baik lukisan di atas kanvas maupun lukisan langsung di atas tembok. Lukisan yang berada langsung di atas tempok, aku rasa semua itu dilukis oleh anak-anak yang berada di penitipan ini, seperti untuk melatih kreativitas mereka.
"Kami ingin bertemu dengan Alvin, dia mengatakan untuk menunggunya di tempat ini," ucap Arthur begitu pegawai menanyakan keperluan kami.
"Pemain piano itu yaa. Silakan tunggu disini atau bisa berkeliling."
"Baik, terima kasih."
Arthur langsung duduk di tempat yang ditunjuk pegawai. Aku masih berdiri dengan sesekali melihat ke arah Arthur yang sekarang sedang memainkan handphone miliknya. Tanpa kusadari aku sudah melangkahkan kakiku menuju sebuah lukisan yang terpajang di tembok depan resepsionis. Lukisan abstrak yang dipenuhi warna biru. Sepertinya pelukis ingin menggambarkan sebuah laut dan langit. Dua kombinasi yang menarik.
"Tidak ada yang tahu dimana pelukis ini berada."
Suara yang sangat aku kenal. Aku langsung menoleh ke sumber suara dan mendapati Alvin sedang berjalan ke arahku. Lagi-lagi untuk kesekian kalinya aku jatuh ke dalam mata biru miliknya. Aku tertarik pada lukisan di hadapanku ini karena warna biru, warna yang selalu aku lihat saat bersama dengannya.
"Sangat indah bukan?"
"Iya, sangat indah," balas Arthur yang saat ini berada di tengah-tengah kami.
"Kenapa kamu meminta untuk bertemu di tempat seperti ini?!" tanya kembali Arthur dengan nada kesal.
"Aku kerja paruh waktu disini. Aku ingin menunjukkan sisi lain dari diriku kepada Zeta. Apakah itu salah?"
"Ah.....," keluh Arthur.
"Ikut denganku."
Aku dan Arthur hanya bisa mengikuti Alvin yang sedang menuju sebuah ruangan. Betapa terkejutnya aku begitu melihat banyak anak kecil di ruangan itu. Mereka berlarian menuju Alvin dan langsung memeluknya. Alvin juga menyambut pelukan itu seperti sudah terbiasa. Dia kemudian melangkahkan kakinya menuju sebuah keyboard di sisi kanan ruangan. Tentunya diikuti oleh anak-anak kecil yang tadi memeluknya.
"Lagu apa yang akan kita mainkan hari ini?" tanya Alvin dengan nada anak kecil miliknya, sepertinya dia menyesuaikan dengan siapa dia berbicara saat ini.
"Five Little Ducks!!!" jawab anak-anak serempak.
Alvin langsung memainkan lagu Five Little Ducks dengan keyboard. Anak-anak yang mendengar alunan musik langsung menyanyikan liriknya. Alvin juga ikut bernyanyi bersama dengan anak-anak dan pegawai yang berada di ruangan ini. Aku baru kali pertama mendengar suara Alvin bernyanyi, dia memiliki deep voice yang sangat tidak cocok dengan lagi anak-anak.
"Kenapa orang sekaya dia bekerja paruh waktu?" tanya Arthur begitu lagu mendekati akhir.
Aku langsung menyenggol perut Arthur.
"Apa aku salah?"
"Kakak benar tetapi aku tidak suka dengan nada sinis yang Kakak gunakan."
"Lagi! Lagi! Lagi! Lagi!" teriak anak-anak begitu lagu selesai dimainkan.
"Maafkan Kakak, hari ini cukup sampai disini saja karena Kakak ada urusan dengan dua kakak yang berdiri di belakang."
__ADS_1
Jawaban Alvin sontak membuat semua anak mengalihkan perhatian mereka ke arahku dan juga Arthur. Aku langsung tersenyum dan melambaikan tangan ke arah mereka, membuat beberapa diantara mereka mendatangiku. Aku langsung menginjak kaki Arthur begitu anak-anak yang mendatangi kami berhenti di tengah jalan karena melihat wajah Arthur yang menakutkan. Arthur memaksakan dirinya untuk tersenyum dan membuat anak-anak itu kembali mendatangi kami.
"Nama Kakak siapa?"
"Kakak punya hubungan apa dengan Kak Alvin?"
"Kakak kelas berapa?"
"Kakak tinggal dimana?"
Pertanyaan yang mereka tanyakan tidak ada hentinya, membuatku bingung harus menjawab pertanyaan yang mana.
"Ini Kak Zeta dan ini Kak Arthur," ucapku akhirnya sembari bergantian menunjuk diriku sendiri dan Arthur.
"Salam kenal," jawab anak-anak itu serempak.
"Bolehkah saya memberi permen kepada mereka?" tanyaku kepada salah satu pegawai yang dijawab dengan anggukan.
Aku langsung mengeluarkan Botan Rice Candy, permen Jepang yang sangat aku sukai. Aku melupakan satu hal, permen yang aku bawa saat ini tidak akan cukup untuk semua anak-anak yang sekarang menatapku dengan penuh harap. Seperti tahu apa yang ada di pikiranku, salah satu pegawai langsung menghampiriku.
"Bolehkah saya yang membagikannya? Sekaligus membagikan permen yang memang untuk mereka makan di jam ini."
"Ahh.. maafkan saya," ucapku bersalah karena sudah mengambil pekerjaannya.
"Tidak apa," jawab pegawai itu sambil meminta anak-anak untuk mengikuti instruksinya.
Aku langsung memberikan semua permen yang ada di dalam tasku kepada pegawai itu. Sebelum kami bertiga keluar dari ruangan, anak-anak mengucapkan terima kasih kepadaku atas permen yang aku berikan kepada mereka. Aku bahkan tidak bisa memberikan mereka semua permen itu.
"Apa kamu lapar?" tanya Alvin mengalihkan pembicaraan.
"Kenapa kamu bekerja paruh waktu saat kamu sudah memiliki segalanya?" balas Arthur.
Aku akan kehilangan kesempatan untuk masuk ke dalam pembicaraan jika Arthur terus menerus menjawab pertanyaan Alvin.
"Apakah aku terlihat seperti memiliki kebahagiaan?" balas Alvin sembari tersenyum.
Jawaban yang Alvin berikan membuatku dan Arthur menjadi kikuk, tidak tahu apa yang harus kami ucapkan. Aku langsung menatap Arthur yang sepertinya sedang memutar otaknya untuk membalas ucapan Alvin. Dan sepertinya dia gagal menemukan kalimat yang tepat untuk dia ucapkan.
"Aku tahu restoran yang enak. Ayo kesana," ucapku.
...-----...
Alvin terus memainkan kotak kecil berisikan cincin yang baru saja aku berikan kepadanya. Dia belum mengatakan apapun selama 5 menit setelah aku mengatakan sesuatu kepadanya, sesuatu yang mungkin saat ini sedang mengisi pikirannya. Aku hanya ingin mengembalikan cincin yang dia berikan karena di dalam cincin itu terdapat ukiran nama 'Nakamoto' dan aku merasa bukan orang yang tepat saat ini untuk menerima cincin itu. Terlebih aku masih terikat perjodohan dengan Ken.
"Saat aku memberikan cincin ini kepadamu, bukankah aku mengatakan agar kamu tidak melepasnya?"
Aku masih mengingat dengan jelas hari dimana dia memberikan cincin ini kepadaku. Hari dimana aku kehilangan gelang peninggalan Tante Lily adalah hari dimana aku juga menerima cincin ini. Aku masih bisa merasakan perasaanku yang langsung membaik begitu melihat sosoknya, perasaan yang bahkan tidak bisa disembuhkan oleh Ken secepat itu. Aku masih mengingat semua itu dengan sangat jelas.
"Aku belum berjanji apapun saat itu," jawabku akhirnya.
"Apakah hanya janji yang bisa mengikatmu? Apakah aku juga harus mengikatmu dengan sebuah janji?"
__ADS_1
"Alvin," panggil Arthur.
"Aku berterima kasih kepada Kakak yang sudah memberikanku sebuah impian tetapi aku...."
"Aku juga mengatakan akan memberikan waktu yang cukup untukmu bukan? Aku akan menunggu selama apapun waktu yang kamu butuhkan. Aku tidak akan memaksamu untuk segera memberikan jawaban kepadaku."
Kali ini raut wajah Alvin berubah. Raut wajah kesal yang baru kali ini dia tunjukkan kepadaku. Mungkin ini juga kali pertama Arthur melihat ekspresi kesal miliknya, melihat bagaimana Arthur cukup terkejut begitu mendengar nada dan melihat wajahnya.
Tetapi, bagaimana bisa wajah kesal itu tetap memberikan tatapan lembut kepadaku?
"Zeta, aku akan membiarkanmu mendapatkan jawaban dari semua pertanyaan yang ada di dalam hatimu. Aku tidak peduli jika waktu yang kamu butuhkan sangat lama. Aku akan tetap menunggumu tetapi aku mohon jangan menghilang dari hidupku."
"...."
"Apa yang harus aku lakukan untuk membuatmu tetap berada dalam hidupku?"
"...."
"Zeta?"
"Jadilah kakakku. Aku akan mengganggap Kakak sebagai kakakku hingga aku menemukan jawaban dari semua pertanyaan yang ada di dalam hatiku."
"Baik. Aku akan menjadi kakak yang posesif."
"Hei, masih ada aku."
Arthur langsung mengambil makanan yang masih tersisa di atas piringku begitu percakapan serius antara aku dengan Alvin berakhir, membuatku dan Alvin langsung tertawa. Aku tidak tahu apakah keputusan yang aku ambil saat ini adalah keputusan yang tepat. Aku juga tidak tahu apakah aku akan menyesali keputusan yang aku buat saat ini di masa depan. Satu hal yang aku tahu, aku juga tidak ingin Alvin menghilang dalam hidupku. Aku menginginkannya untuk terus berada di sampingku.
"Simpan cincin ini. Saat jawaban itu sudah muncul, jika jawaban itu adalah jawaban yang aku inginkan, kenakan cincin ini."
"Bolehkah aku yang menyimpannya?" tanya Arthur yang langsung mengambil kotak cincin itu.
"Tentu, lakukan apa yang Keluarga Allison inginkan. Aku tahu kamu tidak akan melakukan hal bodoh kepada cincin itu."
Arthur langsung memasukkan kotak cincin itu ke dalam saku bajunya. Dia bahkan tidak meminta pendapat dariku sebelumnya. Dia mengganggap semua hal yang dia lakukan pasti aku setujui.
"Aku lupa memberitahumu jika Caroline meneleponku dan meminta kita untuk datang ke acara ulang tahun Charlotte," ucap Arthur setelah selesai menghabiskan makanan di piringku.
"Hah? Acara ulang tahun?" tanyaku dengan wajah bingung.
"Teman sekelasmu berulang tahun dan mengadakan pesta perayaan. Kamu tidak tahu?"
"Ah....," balasku.
"Ah?"
"Aku belum membeli kado apapun."
"Apa kamu benar bagian dari Keluarga Allison?" tanya Alvin sambil memberikan minuman miliknya ke gelasku, sepertinya dia mendengar suara yang aku ciptakan karena terus menyedot minuman yang sudah habis.
...-----...
__ADS_1