Mentari di Langit Malam

Mentari di Langit Malam
Masa Lalu : Pertemuan Kembali


__ADS_3

"Ah!! Aku melupakan laptop berisikan file proyekku!!" teriak Arthur membuat supir langsung menghentikan mobil.


Aku hanya memutar kedua mataku begitu Arthur menatapku. Jika saja mobil ini sudah melaju cukup jauh, aku pasti sudah mendorongnya keluar dari mobil, untungnya mobil yang aku tumpangi masih berada di lingkungan rumah kami.


Arthur dan Paman Stephan membahas apakah pengawal di rumah bisa membawakan laptop miliknya ke tempat kami berada. Jika saat ini Arthur langsung menelepon telepon rumah, aku jamin 100% mereka akan membawakan laptop miliknya ke tempat kami berada. Aku tidak tahu apa yang ada di pikirannya hingga mendiskusikan hal ini dengan supir.


Tanpa kusadari, tanganku membuka pintu mobil. Aku cukup terkejut dengan bunyi bukaan pintu mobil yang cukup keras. Arthur dan supir langsung melihat ke arahku begitu suara pintu mobil terbuka terdengar.


“Ah..,” ucapku begitu semua mata tertuju kepadaku.


"Zeta akan menunggu disini jika Kak Arthur dan Paman Stephan ingin kembali ke rumah,” lanjutku.


“Zeta ingin sesekali mengirup udara segar pagi hari," ucapku begitu tidak mendapat respon apapun sembari melangkahkan kaki keluar mobil.


Udara di pagi hari memang akan selalu menjadi udara terbaik. Aku menghirup dalam-dalam udara sejuk yang sekarang mengisi paru-paruku. Aku tidak bisa membayangkan betapa bahagianya orang yang hidup sebelum revolusi industri, udara yang mereka hirup pasti selalu sesegar dan sesejuk ini. Aku rasa inilah alasan kenapa kedua kakek dan nenekku langsung memutuskan pindah ke pedesaan begitu menyerahkan seluruh perusahaan kepada ahli waris, mereka juga merindukan udara seperti ini. Udara yang pastinya belum tercemar di daerah pedesaan.


Suara mobil melaju meninggalkanku terdengar. Sepertinya Arthur lebih memilih untuk merepotkan satu orang saja dibandingkan menelpon rumah yang akhirnya membuat banyak pegawai ribut mencari dimana laptopnya berada. Aku hendak berjalan menuju sebuah taman di seberang tempatku berada sebelum sebuah tangan mencegahku.


"Aku kira Kak Arthur ikut pergi bersama supir," ucapku terkejut mendapati Arthur berada di belakangku.


"Bagaimana bisa aku meninggalkanmu sendirian disini?


"Kamu ingin duduk di taman itu?" tanyanya sembari menunjuk taman yang hendak aku tuju.


Aku hanya mengangguk. Detik berikutnya, Arthur sudah menarikku menuju taman yang aku inginkan. Dia membersihkan bangku yang berisi beberapa debu dan meletakkan sapu tangan di atasnya sebelum menyuruhku duduk. Dia bahkan tidak melakukan hal yang sama untuk tempat yang dia duduki. Sungguh, aku semakin ingin tahu, apakah saat dia menemukan perempuan yang dia cintai, dia akan memperlakukannya lebih dari saat dia memperlakukanku?


"Kenapa Kakak tidak belajar menyetir?" tanyaku membuka percakapan di taman yang hening.


"Aku tidak ingin."


"Kenapa?"


"Aku lebih menyukai untuk duduk di kursi penumpang bersama denganmu."


"Berhenti bercanda."


"Aku tidak bercanda," balasnya dengan nada serius.


Arthur mengeluarkan sebuah tumblr dari dalam tasnya dan memberikannya kepadaku. Sebuah minuman berwarna cokelat mengisi tumblr di tanganku begitu aku membukanya. Tidak mungkin Arthur memberikanku cokelat panas disaat perutku masih kosong. Aku mendekatkan tumblr di tanganku ke hidungku dan menciumnya, bau susu. Aku langsung meminum susu dari tumblr beberapa tegukan sebelum akhirnya kembali memberikan tumblr di tanganku kepada Arthur, memintanya untuk ikut meminum susu yang dia siapkan. Arthur hanya meminum sedikit susu dari tumblr itu. Dia kembali memberikannya kepadaku dan menyuruhku untuk menghabiskannya.


Kami berdua kembali menikmati keheningan di taman ini. Belum banyak mobil dari rumah-rumah besar di lingkungan ini yang lalu lalang di hadapan kami. Walaupun satu kali kami mendengar suara helikopter mendarat di salah satu rumah milik Keluarga Oswald, Keluarga Nichole.


Bukan hal yang menakjubkan untuk kami melihat dan mendengar helikopter di lingkungan ini, banyak pengusaha yang lebih memilih untuk menggunakan helikopter dibandingkan mobil saat melakukan perjalan bisnis atau hanya sekadar pergi ke kantor, sesuatu yang sebenarnya cukup efisien mengingat setiap waktu adalah uang. Ayah juga sering melakukan perjalanan bisnis ataupun hanya sekadar mengunjungi kantor dengan menggunakan helikopter, sesuatu yang perlahan diturunkan kepada William karena beberapa kali dia berangkat sekolah dengan menggunakan helikopter. Hal yang sebenarnya sangat aku benci saat dia bisa menggunakan mobil.

__ADS_1


"Aku mohon bantu aku. Bantu kakakku."


Dua anak perempuan dan satu anak laki-laki yang tidak asing bagiku perlahan membuat fokusku berpindah kepada mereka. Arthur yang sebelumnya menyenandungkan nada menggunakan mulutnya ikut berhenti begitu suara rengekan salah satu dari tiga anak itu terdengar. Anak laki-laki yang semula tampak tidak peduli dengan apa yang terjadi, tiba-tiba menarik tubuh salah satu anak perempuan ke belakang tubuhnya, seolah melindungi anak perempuan di belakangnya dari anak perempuan di depannya.


"Aku mohon," pinta anak perempuan itu sekali lagi.


"Pergi, aku tidak ingin melihat wajahmu lagi!!" teriak anak laki-laki itu sembari mendorong tubuh anak perempuan di depannya hingga jatuh.


"Aku pernah melihat mereka," gumam Arthur.


"Adik Natasha dan temannya," balasku sembari berjalan mendekati ketiga anak itu.


"Apa ini? Alat bantu dengar? Kamu tuli?!" tanya laki-laki itu sekali lagi dengan nada tinggi miliknya.


Langkah kakiku terhenti begitu anak laki-laki itu menginjak alat bantu dengar milik adik Natasha. Melihat dari ekspresi wajah kedua anak itu, aku yakin jika mereka tidak tahu jika adik Natasha memiliki gangguan pendengaran atau hanya salah satu diantara mereka saja yang tahu karena anak perempuan di belakang anak laki-laki itu sama sekali tidak menunjukkan wajah terkejut. Aku masih belum melanjutkan kembali langkah kakiku karena merasa sekarang bukan saat yang tepat untuk tiba-tiba memarahi anak laki-laki yang sudah merusak barang orang lain dengan seenaknya.


"Bagaimana bisa kamu tetap berada di sekolah, hah?! Orang sepertimu benar-benar pengemis. Tidak cukupkah mengemis untuk berteman dengan kami? Dan sekarang kamu mengemis untuk meminta bantuan kepada kami? Bahkan, kamu berani memunculkan wajahmu di lingkungan kami. Kamu hanya mempermalukan kami!!!"


"Aku...aku...aku."


"Hentikan ocehanmu, kamu bahkan tidak tahu apa yang aku katakan."


"Kita pergi saja," ucap anak laki-laki itu sembari menarik tangan anak perempuan yang sekarang sedang menatap sedih ke arah adik Natasha, tatapan seorang teman yang ingin membantu teman lainnya tetapi terhalang oleh sesuatu yang tidak bisa dilewatinya.


Tepat saat kedua anak itu melangkahkan kakinya, adik Natasha mengejar mereka. Membuat kedua anak itu menghentikan langkah kaki mereka dan membuat anak laki-laki itu memberikan tatapan penuh amarah kepadanya. Sekarang, adik Natasha bahkan memegang salah satu kaki anak laki-laki untuk mencegahnya pergi meninggalkannya.


"Lepaskan kakiku!!!" bentak anak laki-laki itu sembari menendang tubuh adik Natasha hingga terjungkal. Tidak berhenti sampai disitu, anak laki-laki itu mencoba untuk memukul adik Natasha. Aku hendak berlari ke arah mereka sebelum pukulan itu mendarat ke wajah adik Natasha tetapi sebuah tangan mencegahku dan menyuruhku untuk tetap diam di tempatku berdiri karena dia yang akan menghentikan apa yang akan dilakukan anak laki-laki itu.


Arthur langsung memegang tangan yang hendak memukul adik Natasha. Dia memberikan sebuah senyum ke arah anak laki-laki itu.


"Hei? Siapa yang mengajarimu memukul perempuan?" tanya Arthur sembari memutar tangan anak laki-laki itu ke belakang tubuhnya. Beberapa kali anak laki-laki itu mengaduh hingga anak perempuan di sampingnya memukul pelan tubuh Arthur dan membuat Arthur melepaskan tangan anak laki-laki itu.


Arthur memberikan tanda kepadaku untuk mendekat. Aku langsung berlari menuju adik Natasha dan membantunya berdiri. Begitu berdiri, dia mengambil kedua alat bantu miliknya yang sudah rusak. Aku mendekatinya lalu mengambil alat bantu dengar dari tangannya dan memasukkannya ke dalam saku jaketku. Dia cukup terkejut melihat apa yang aku lakukan. Aku hanya tersenyum sembari mengambil sapu tangan milikku dan membersihkan beberapa kotoran yang ada di tangannya.


Arthur masih mengurus kedua anak lainnya. Dia sedang memberikan nasehat untuk tidak melakukan kekerasan apapun dan kepada siapapun. Anak laki-laki itu membalas dengan menyebutkan betapa menjijikkannya keluarga Natasha dan bagaimana adik Natasha membohongi mereka dengan terus mengatakan jika keluarganya kaya raya, lebih seperti anak laki-laki itu sedang melakukan pembelaan atas apa yang dia lakukan. Hal itu membuat Arthur mendorong pelan kepala anak itu. Berbeda dengan anak laki-laki yang sepertinya kakaknya, anak perempuan itu berjalan mendekatiku dan adik Natasha. Dia memberikan sebuah kotak musik yang sudah sangat usang.


"Maafkan aku, aku tidak akan bisa berteman denganmu lagi. Ayahku membencimu, ayah terus mengatakan jika kamu bukan dari golongan kami dan kamu pembohong karena terus menerus mengatakan jika kamu berasal dari Keluarga Tindall. Hentikan kebohongan ini."


Kulihat adik Natasha yang kebingungan, tidak mengerti apapun yang baru dikatakan temannya, atau mungkin mantan temannya. Aku bersyukur dia tidak mendengar apa yang baru saja keluar dari mulut temannya itu. Aku mengambil kotak musik itu dan menyuruh anak perempuan itu kembali ke kakaknya tetapi adik Natasha menahan anak perempuan itu, seperti memintanya untuk mengulangi apa yang baru saja dikatakannya.


'Dia meminta maaf kepadamu dan hari ini dia harus pergi dengan cepat karena ayahnya menunggunya'


Aku menyodorkan sebuah buku dengan tulisan yang baru saja aku goreskan di atasnya.

__ADS_1


'Lalu kenapa dia mengembalikan alat musik tanda persahabatan kami?'


Aku terdiam membaca tulisan itu. Tidak mungkin aku mengatakan jika temannya sudah tidak mau lagi berteman dengannya. Tetapi, membohonginya juga bukan hal yang tepat karena bisa jadi beberapa hari ke depan dia akan kembali mencoba menghubungi temannya itu.


'Apakah Katie ingin berhenti menjadi temanku?'


Anak perempuan yang masih berdiri di depan kami, atau Katie, dia meminta pena yang berada di tanganku.


"Jangan menuliskan kata-kata yang menyakitinya. Aku rasa kamu masih menganggapnya sebagai temanmu, melihat bagaimana kamu tidak menyakitinya dan tidak terkejut melihat alat bantu dengar miliknya," ucapku sebelum memberikan pena yang berada di tanganku kepadanya.


'Maafkan aku, aku tidak bisa lagi bersama denganmu. Ayahku melarangku dan mengatakan akan mengurungku jika aku terus bermain denganmu. Maafkan aku juga tidak bisa menolongmu dan kakakmu.'


Katie langsung berlari kembali menuju kakaknya yang sedari tadi masih menerima omelan dari Arthur. Aku memberikan tatapan menyuruh Arthur untuk membiarkan kedua anak itu pergi. Aku tidak ingin menambah masalah dengan menahan dua anak kecil yang nantinya akan menceritakan apa yang mereka alami kepada kedua orang tua mereka, terlebih Arthur sempat mengenalkan dirinya menggunakan nama lengkap. Jika kedua anak itu memiliki memori yang baik, bisa jadi muncul gosip salah satu anak Keluarga Allison membully anak-anak. Dan tentunya gosip itu akan muncul di beberapa surat kabar.


Arthur berjalan mendekatiku. Dia memberikan sebuah lollipop kepada adik Natasha yang hanya dibalas dengan tatapan tidak percaya ke arahnya, membuat Arthur sedikit syok karena merasa dianggap sebagai orang jahat. Aku mengambil lollipop dari tangan Arthur dan membuka bungkusnya lalu memberikan permen itu ke kedua tangannya, dia langsung mengisap lollipop itu membuat Arthur memasang ekspresi tidak percaya karena adik Natasha lebih mempercayaiku.


'Apa ada masalah dengan kakakmu?'


Seolah tersadar kembali, adik Natasha langsung membuka mulutnya, mencoba untuk mengeluarkan suaranya. Setelah mencoba selama beberapa saat, dia mengambil kembali buku dan pena dari tanganku. Sepertinya, dia tidak bisa mengeluarkan suara miliknya untuk orang yang tidak begitu dia kenal, seperti dia memiliki sebuah trauma sendiri dengan orang asing.


'Kak Natasha jatuh sakit. Aku tidak bisa membawanya ke rumah sakit. Badannya sangat panas. Aku mencoba membeli obat di apotek tapi uang yang aku bawa tidak cukup.'


"Kamu akan membantunya?" tanya Arthur begitu selesai membaca tulisan mungil itu.


"Kenapa aku tidak membantunya? Adakah alasan untukku tidak membantu seseorang yang kesulitan?" balasku sembari sekali lagi menulis sesuatu di atas buku milikku yang sudah dipenuhi dengan coretan-coretan.


'Beritahu alamat rumahmu, kita kesana. Tetapi menunggu supir Kakak dahulu.'


"Paman Stephan kita sudah kembali daritadi," ucap Arthur setelah aku membalikkan buku di tanganku.


"...."


"Sudah ada disana sejak 10 menit yang lalu. Paman Stephan bahkan membayarkan ongkos taksi yang tidak anak ini bayarkan," lanjutnya begitu melihat tatapan penuh tanda tanya milikku.


"Terima kasih atas informasi yang cukup telat," balasku diikuti tawa becanda milik Arthur.


Adik Natasha menarik bajuku, memberikan tatapan seolah bertanya adakah yang salah. Aku langsung memberikan sebuah senyum dan gelengan kepala. Aku menggenggam tangannya dan berjalan menuju tempat dimana mobil keluargaku terparkir.


Ah... aku melupakan sesuatu.


'Siapa namamu?'


'Carlista Anthony Tindall'

__ADS_1


"Apa dia benar-benar bagian dari Keluarga Tindall? Keluarga yang sama dengan Sera dan Charlotte?" tanya Arthur tidak percaya begitu membaca nama itu, sama halnya denganku yang juga tidak percaya dengan apa yang baru saja aku baca.


...-----...


__ADS_2