Mentari di Langit Malam

Mentari di Langit Malam
Masa Lalu : Kembali ke Garis Start


__ADS_3

Alunan violin mengisi ruang musik yang hanya berisikan aku dan Bu Jasmine. Sudah dua minggu aku menjalani home schooling dan konsultasi dengan Dokter Esme. Sudah satu bulan juga sejak aku mengetahui semua kebenaran yang ayah sembunyikan dari kami sekeluarga. Dan sudah satu bulan sejak dimana Alvin terus menerus mengirimkan bunga kepadaku. Bukan hanya bunga yang dia berikan setiap harinya ke rumah, dia juga selalu mengirimkan rekaman permainan piano miliknya kepadaku. Dia juga selalu menyempatkan diri setiap minggu untuk menemuiku, untuk datang ke rumahku dan membuat ibu kembali merasakan luka yang tidak akan pernah hilang dari hidupnya.


Kondisi William sudah membaik, dosis racun yang masuk ke dalam tubuhnya cukup kecil sehingga tidak terlalu berbahaya untuknya. Walaupun dia tetap harus mengalami beberapa gejala tidak menyenangkan dan tentunya pemeriksaan secara menyeluruh. Hal itu juga membuat ayah akhirnya memberikan satu orang yang bertugas untuk mencicipi makanan William, sesuatu yang sangat dibenci seluruh juru masak rumah ini karena hal ini menandakan adanya ketidakpercayaan dalam keluarga kami kepada mereka. Bagaimanapun William adalah penerus keluarga ini sehingga mau tidak mau semua yang membahayakan nyawanya harus dicurigai.


Aku juga menyadari sesuatu, aku tidak pernah tahu jika mencoba menghilangkan seseorang yang aku cintai dalam hidupku akan sesulit ini. Bahkan setelah aku mengetahui semua kebenaran tentang laki-laki yang aku cintai, aku tidak bisa mendorongnya keluar dari hidupku begitu saja. Hati kecilku bahkan berharap bahwa kebenaran yang menyakiti semua orang ini adalah sebuah kebohongan. Jika aku saja yang belum menjalin hubungan apapun dengan laki-laki yang aku cintai bisa merasakan rasa sakit seperti ini, bagaimana dengan ibu yang hidupnya dipenuh cinta kebohongan ayah?


"Ibu mendapat informasi jika selama dua minggu ini kamu tidak bisa tidur dengan baik. Apa ada masalah?" tanya Bu Jasmine begitu menyelesaikan permainan violinnya.


Aku berjalan mendekati lemari es lalu mengambil sekaleng cola dan memberikannya kepada Bu Jasmine. Beliau langsung membuka kaleng cola itu dan meminum isinya hingga habis hanya dalam beberapa tegukan. Hanya di kelas seni aku bisa bebas melakukan apapun karena Bu Jasmine membiarkanku melakukan semua yang aku mau dengan syarat setiap minggunya aku harus bisa menyetorkan permainan piano kepadanya. Syarat yang sangat mudah aku penuhi.


Bu Jasmine menatapku dengan penuh tanda tanya. Beliau meletakkan violin miliknya ke atas meja. Beliau selalu membawa violin miliknya sendiri setiap kali berkunjung untuk memberikan pelajaran kepadaku. Beliau mengatakan jika violin yang ada di rumahku tidak cocok dengan tangannya. Hal yang sebenarnya tidak aku tanyakan kepada beliau karena aku tahu setiap musisi pasti memiliki alat musiknya sendiri karena hanya dengan alat musik miliknya, seniman itu bisa dengan nyaman, bebas, dan leluasa memainkan permainannya.


"Apa itu Burung Phoenix yang ada di violin Ibu?" tanyaku begitu Bu Jasmine duduk berhadapan denganku. Pertanyaan itu sudah ingin aku tanyakan begitu pertama kali melihat gambar Burung Phoenix di bagian belakang violin milik beliau. Aku merasa tidak asing dengan gambar itu, seolah aku pernah melihat gambar yang sama.


"Adik Ibu, Olivia, dia yang menggambarkannya. Dia berharap Ibu akan lahir kembali menjadi musisi setelah dia memberikan gambar itu."

__ADS_1


"..."


"Alamat yang Ibu berikan kepadamu, apakah kamu sudah mencari tahu tentangnya?"


"Ah.. Zeta belum sempat karena seperti yang Ibu lihat saat ini Zeta sedang terkurung dan banyak hal yang terjadi selama beberapa bulan terakhir ini. Pikiran Zeta teralihkan oleh banyak hal tapi Zeta berjanji akan mengunjungi alamat yang Ibu berikan."


"Bisa Zeta antarkan Ibu keluar? Ibu rasa untuk hari ini sudah cukup,” ucap Bu Jasmine dengan nada sedikit kecewa. Aku tidak tahu nada itu muncul karena jawaban yang aku berikan sebelumnya atau karena pelajaran hari ini selesai.


Aku mengangguk dan membuat Bu Jasmine langsung berdiri dari tempatnya duduk lalu memasukkan violin miliknya ke dalam tempatnya. Begitu selesai, beliau langsung menyuruhku untuk jalan di depannya, seperti seorang pemandu. Aku membuka pintu ruang musik dan sebuah tangan menarik tubuhku.


Sekali lagi Bu Jasmine memberikan tanda kepadaku untuk berjalan di depannya sesaat setelah yakin jika aku sudah kembali dari keterkejutan yang beliau ciptakan. Kami berjalan dalam hening, tidak seperti minggu-minggu sebelumnya dimana beliau pasti akan mencoba mencairkan suasana dan selalu mencoba berbicara denganku.


Aku rasa topik Burung Phoenix yang membuat suasana ini. Langkah kakiku berhenti begitu melihat Arthur dan Ken berada di ruang tamu. Mereka berdua duduk berhadapan dengan wajah yang penuh luka. Tidak seperti Ken yang wajahnya benar-benar dipenuhi luka, wajah milik Arthur hanya memiliki beberapa luka di bagian bibir dan pipi kanan. Melihatku yang berhenti, Bu Jasmine juga ikut berhenti dan mengikuti arah pandangku.


"Apakah sekolah sudah selesai hingga kalian berdua sudah bisa pulang?"

__ADS_1


Pertanyaan itu sontak membuat kedua laki-laki itu mengalihkan pandangannya ke arah kami. Bu Jasmine menepuk pelan pundakku sebelum akhirnya berjalan keluar rumah seorang diri. Ini kali pertama dalam hidupku tidak membawa tamu keluar dari rumah hingga pintu. Aku menghembuskan nafas beberapa kali sebelum berjalan mengambil kotak P3K dan kembali berjalan menuju tempat kakakku berada. Seperti tahu aku akan mengobati luka di wajahnya, Arthur sudah menyodorkan wajahnya. Melihat dari darah yang sudah kering, aku rasa mereka sudah berkelahi dari beberapa jam yang lalu.


Bagaimana bisa mereka tidak mengobati luka mereka?


"Dulu setiap kali aku dan Kak Arthur memiliki luka, kamu akan selalu mengobatiku sebelum akhirnya mengobati Kak Arthur."


Arthur melempar beberapa kapas dan alkohol ke arah Ken sebagai balasan atas ucapannya. Dia lalu memberikan tanda kepada Ken untuk membersihkan sendiri luka yang ada di wajahnya. Ken hanya tertawa kecil sebelum akhirnya kedua tangannya meraba-raba dimana letak luka di wajahnya. Aku mengambil cermin kecil dari dalam kotak P3K dan memberikannya kepada Ken. Ken hanya diam mengamati cermin yang menggantung di udara dengan sesekali menatapku, membuatku cukup tidak nyaman sebenarnya.


"Hentikan menatapku dan ambil cermin ini," ucapku sudah tidak tahan dengan tatapan miliknya.


"Tidak bisakah kamu juga mengobati luka di wajahku?"


"Aku akan memanggil Bibi untuk membantumu," balas Arthur yang diikuti dengan tangannya mengambil telepon rumah dan menekan 3 nomor untuk memanggil bibi rumah.


"Kamu benar-benar menyebalkan, Kak Arthur."

__ADS_1


...-----...


__ADS_2