Mentari di Langit Malam

Mentari di Langit Malam
Masa Lalu : Kencan


__ADS_3

"Saya sudah memberikan permen yang Nona belikan untuk anak-anak kepada salah satu pegawai dan Tuan Ken sepertinya sedang menunggu Nona untuk masuk ke dalam ruangan."


"Paman?"


"Ya?"


"Gambar Burung Phoenix di lukisan ini bukankah sama dengan gambar Burung Phoenix yang ada di dompet Kak Arthur?"


Pertanyaanku membuat Paman Stephan ikut mengamati dengan seksama lukisan di depan kami. Aku bahkan pernah mengamati dan menikmati lukisan ini ketika pertama kali mengunjungi tempat penitipan anak ini tetapi baru kali ini aku melihat gambar Burung Phoenix di bagian bawah lukisan abstrak ini. Hanya dengan melihatnya satu kali sudah bisa membuatku yakin gambar burung itu adalah simbol dari sang pelukis.


Tetapi, kenapa Burung Phoenix itu juga sama dengan Burung Phoenix yang ada di violin Bu Jasmine?


Dan juga, aku baru menyadari jika aku sering melihat Burung Phoenix ini di dompet Arthur, dompet yang selalu dia jaga dengan sangat baik. Tidak ada satupun orang rumah yang boleh menyentuh dompetnya. Bahkan jika dia meninggalkan dompetnya di rumah, dia akan langsung memarahi siapapun yang menyentuh dompet itu walaupun beberapa pegawai dan pengawal memiliki niat baik untuk mengantarkan dompet itu kepadanya.


Pantas saja aku begitu familiar dengan gambar yang ada di violin Bu Jasmine.


"Apakah Paman pernah mencari informasi rahasia?" tanyaku setelah menunggu paman menjawab pertanyaanku tetapi hasilnya nihil karena Paman masih sibuk mengamati lukisan di depan kami.


"Bukankah Nona tidak ingin terlibat dalam dunia ilegal seperti itu?" tanya Paman sedikit terkejut.


"Zeta mendapatkan izin dari yang bersangkutan dan sejujurnya Zeta juga sudah meminta tolong kepada Stephanie tetapi hingga sekarang belum ada balasan apapun."

__ADS_1


"Apa yang ingin Nona ketahui?"


"Alasan Bu Jasmine berhenti bermain violin di panggung."


"Baik."


Aku kembali mengamati lukisan yang penuh dengan warna biru itu. Ada sesuatu dari lukisan itu yang membuatku tidak bisa melepaskan pandangan darinya, sama halnya ketika pertama kali aku melihat mata biru milik Alvin. Hal yang membedakan adalah mata biru milik Alvin memberikan sebuah ketenangan yang belum pernah aku rasakan tetapi lukisan biru di depanku ini memberikan sebuah ketakutan yang belum pernah aku rasakan. Seolah lukisan itu menyimpan luka dari pelukisnya dan aku secara tidak langsung terbawa ke dalam lukisan itu untuk mencari tahu luka apa yang tersimpan di dalamnya.


Suara dua orang perempuan berbincang dan tertawa terdengar mendekati tempatku berdiri. Aku mengalihkan perhatianku mencari kedua sosok perempuan yang mengeluarkan tawa bahagia itu. Tidak perlu mencari, mataku sudah bertatapan dengan salah satu perempuan, perempuan yang sebelumnya sudah bertemu denganku secara tidak sengaja dan perempuan yang merupakan darah daging ayahku.


"Sina!!!" teriak seseorang dengan suara khas miliknya. Aku membalikkan tubuhku ke arah ruangan tempat dimana Alvin sebelumnya memainkan piano dan sudah mendapati Alvin yang sedang berlari menghampiri kedua perempuan itu. Melihat bagaimana wajahnya yang penuh dengan senyum, dia pasti akan melewatiku dan terus berlari ke arah kedua perempuan itu. Dan tebakanku tidak salah, Alvin memang melewatiku.


Perempuan di samping Sina memberikan senyuman canggung. Perempuan itu mencoba memeluk Alvin yang hanya dibalas dengan uluran jabat tangan, membuat senyum perempuan itu bertambah canggung.


"Oh, aku lupa memberitahumu jika sepupuku datang ke London dan dia ingin menghabiskan waktu denganku hari ini. Tidak masalah bukan jika dia bergabung dengan kita?" tanya Alvin sekembalinya dari tempat kedua perempuan itu berdiri dengan penuh antusias.


"..."


"Ah, dan perempuan di samping sepupuku, perempuan yang mengenakan kemeja kuning adalah sepupuku dan perempuan di sampingnya adalah teman masa kecilku. Tidak masalah bukan jika mereka bergabung dengan kita?" tanya Alvin kembali sebelum aku bisa menjawab pertanyaan yang dia berikan sebelumnya.


"Tidak masalah tetapi aku akan tetap menganggap hari ini sebagai kencan kita dan aku tidak akan memiliki hutang apapun kepada Kakak."

__ADS_1


"Lakukan apapun yang kamu inginkan," ucap Alvin sembari menyejajarkan posisi matanya sejajar dengan mataku lalu dia mengacak-acak rambutku. Bahkan gerakan tangannya mengacak-acak rambutku tidak bisa membuat rambutku menjadi berantakan, aku tidak tahu selemah apa tenaga yang dia gunakan untuk mengacak-acak rambutku. Dia juga tidak lupa memberikan senyum dan tatapan lembut miliknya kepadaku. Begitu aku mengangguk dan mengalihkan pandanganku darinya, dia langsung berlari kembali menuju tempat kedua perempuan itu berdiri. Sekilas, hanya sekilas, aku bisa melihat tatapan penuh kebencian atau mungkin tatapan iri milik Sina yang ditujukan kepadaku.


"Nona," panggil paman dengan nada menahan amarah begitu memastikan Alvin sedang tidak melihat ke arahku dan sibuk dengan kedua tamu barunya.


"Zeta akan menelepon Paman satu kali sebagai tanda Paman boleh mengawasi Zeta dari jarak 3 meter, Zeta akan menelpon Paman dua kali sebagai tanda Paman boleh berada di samping Zeta, dan Zeta akan menelepon Paman tiga kali sebagai tanda Zeta ingin Paman membawa Zeta pergi. Apakah cukup?"


"Cukup, Nona."


"..."


"Nona, saat saya membuat handphone Nona berbunyi satu kali itu menandakan saya sedang menanyakan kondisi Nona atau saya sedang berjalan mendekat ke arah Nona tanpa persetujuan dari Nona. Nona hanya perlu mencari keberadaan saya dan memberikan isyarat apakah saya bisa mendekat atau tetap berada di tempat."


"Baiklah, Zeta akan langsung mencari Paman begitu handphone Zeta berbunyi."


"Terima kasih, Nona."


Saat dimana aku mengatakan akan menyesal jika tidak mendekat kepadanya, sepertinya saat seperti inilah yang akan membuatku menyesal karena tidak lebih cepat membuat hatiku terbuka untuknya. Untuk kali pertama, aku bisa melihat senyum penuh kebahagiaan miliknya yang belum pernah dia tunjukkan kepadaku. Senyum penuh kebahagiaan yang selalu dia berikan kepadaku hanya sebatas rasa bahagia karena bisa bersama dengan perempuan yang mengisi hatinya tetapi senyum penuh kebahagiaan yang dia tunjukkan saat ini di depan sepupu dan teman masa kecilnya adalah rasa bahagia karena mendapatkan mereka sebagai bagian dari hidupnya.


Aku rasa perempuan yang dia katakan sebagai teman masa kecilnya bukan hanya sekadar teman masa kecil. Sekarang, aku sudah mendapatkan kalimat yang tepat untuk mengakhiri semua ini.


...-----...

__ADS_1


__ADS_2