Mentari di Langit Malam

Mentari di Langit Malam
Masa Lalu : Kebohongan


__ADS_3

"Kamu meninggalkan sesuatu."


"Aku tidak meninggalkan apapun."


Sebuah kotak berisikan cincin diletakkan di depanku.


"Cincin ini sudah menjadi milikmu, aku tidak bisa menerimanya kembali. Aku bisa menerima perpisahan kita tetapi aku tidak dengan cincin ini."


Apakah Alvin masih bisa mengucapkan kalimat itu setelah mengetahui semua kebenaran tentang dirinya?


Aku akan sangat bersyukur jika dia tidak akan bisa mengucapkan kembali kalimat itu. Tidak peduli kebenaran apa yang akan dia ketahui di masa depan, dia tidak akan pernah melepaskanku. Dia tetap akan bisa mengatakan kalimat itu bahkan setelah tahu hubungan apa yang sebenarnya kami berdua miliki. Dia tidak peduli dengan takdir menyakitkan ini.


"Kamu sudah tahu semuanya, kenapa tetap melakukan hal ini?" balasku sendu.


"Aku tidak tahu apa yang kamu maksud."


Bohong.


Sina memberitahuku jika Alvin sudah mengetahui semua kebenaran tentang dirinya. Dia sudah mengetahui semuanya dan tetap ingin menganggap semua ini hanya omong kosong. Aku tidak tahu apakah semua ini karena cinta yang dia miliki untukku ataukah karena kebenaran ini sangat menyakitinya hingga dia tidak mau menerimanya.

__ADS_1


"Aku akan mengikuti setiap langkahmu," ucapnya sembari memegang tanganku. Pegangan tangan yang terasa menyesakkan. Sangat menyesakkan.


"Kumohon, jangan melakukan hal bodoh seperti itu."


Aku menarik tanganku dari pegangan tangannya. Dia cukup terkejut. Sepertinya dia mengira aku akan sama dengannya yang berpura-pura tidak tahu kebenaran tentang keluarga kami. Dia mengira aku akan tetap berada di sampingnya sebagai seorang perempuan yang mencintainya tetapi sayangnya aku tidak ingin Tuhan murka kepadaku dan memberikan lebih banyak takdir yang menyakitkan.


"Aku akan selalu mencintaimu," ucapnya sembari berdiri dari tempatnya duduk.


"Cinta yang Kakak berikan hanya akan menyakitiku. Itu bukan cinta, itu hanya rasa sakit."


Ucapanku membuat Alvin berhenti melangkahkan kakinya. Aku mengambil kotak cincin dari atas meja dan berjalan mendekat ke arahnya. Langkah kakiku terhenti tepat 5 langkah darinya, aku tidak bisa mendekat kepadanya seperti sebelumnya. Jarak saat ini bahkan terlalu dekat untuk kami berdua. Belum sempat aku selesai meyakinkan diriku, Alvin sudah berbalik menghadapku dengan tatapan sendu miliknya. Jarak ini benar-benar jarak yang sangat dekat untuk kami.


Alvin menatap kosong uluran tanganku. Dia tertawa sebentar sebelum menarik tubuhku ke dalam pelukannya. Aku mencoba melepaskan pelukannya tetapi tenaganya sangat kuat. Aku hanya akan menyakiti diriku sendiri jika terus memberontak.


"Hanya 1 menit. Aku tidak akan meminta lebih."


Aku berhenti memberontak dan membiarkannya memelukku. Aku sudah tidak bisa membedakan apakah pelukan ini pelukan seorang kakak atau pelukan seorang laki-laki yang aku cintai.


Bodoh. Kamu bodoh Zeta.

__ADS_1


Saat dimana otakku membuat sebuah pertanyaan untuk memilih, saat itu juga jawabannya sudah terlihat. Jawaban yang mungkin tidak sesuai dengan isi hatiku. Otakku sudah tahu dengan pasti apa yang harus tubuh ini lakukan tetapi rasanya sangat menyakitkan. Sangat menyakitkan untuk melihat seseorang yang aku cintai dengan benar kali pertama dalam hidupku sebagai kakakku. Semua ini sangat menyiksaku.


"Apa kamu mencintaiku?" tanyanya sembari melepas pelukannya.


"Tidak. Kakak pernah mengatakan tidak akan menungguku selamanya dan hanya akan menunggu selama waktu yang aku butuhkan, sekarang aku sudah berada di waktu yang aku butuhkan dan aku tidak akan pernah bisa bersama dengan Kakak," jawabku sembari meneteskan air mata.


"..."


"Kak..," panggilku begitu Alvin hanya diam. Dia menatapku sejenak sebelum mengusap air mataku.


"Aku akan selalu mencintaimu, Zeta."


Aku menggeleng begitu mendengar kalimat itu. Alvin mengambil kotak cincin dari tanganku dan langsung melangkahkan kakinya menjauh dariku. Aku ingin mengejarnya dan memberitahunya jika aku bahagia memiliki seorang kakak sepertinya. Aku ingin mengejarnya dan memberitahunya jika aku akan terus mencintainya sebagai seorang kakak. Aku hanya ingin memberitahunya untuk tidak menyalahkan dirinya dan Tuhan untuk semua yang telah terjadi. Aku hanya ingin dia tahu jika aku tetap akan mencintainya.


Ting.


'Selamat tinggal'.


...-----...

__ADS_1


__ADS_2