Mentari di Langit Malam

Mentari di Langit Malam
Masa Lalu : Cerita


__ADS_3

"Haruskah kita berhenti?"


Pertanyaan guru pianoku menghentikan gerakan kedua tanganku. Bu Miller, guru pianoku, mengambil kertas partitur dari atas piano. Sepertinya perasaanku saat ini menguasai permainan pianoku hingga membuat Bu Miller menghentikan permainanku.


"Ada kalanya kamu harus bisa menutupi perasaan yang sedang kamu rasakan. Bagaimana bisa kamu mengubah lagu gembira pada movement pertama menjadi lagu penuh amarah?"


"..."


"Permainan pianomu sama halnya dengan dirimu, sangat mudah dibaca. Jadi, apa alasanmu meminta diadakan kelas hari ini? Apakah untuk melampiaskan emosi ini?"


Aku tidak menjawab pertanyaan Bu Miller dan mengabaikannya. Aku kembali memainkan tuts-tuts piano dengan tidak beraturan. Hari ini memang bukan jadwal kelas pianoku, aku sedang ingin meluapkan emosi milikku dengan bermain piano tanpa henti. Tapi siapa sangka, memanggil Bu Miller justru membuatku tidak bisa meluapkan semua emosi yang ada di dalam hatiku.


Bu Miller memegang tangan kananku, mencoba menghentikkanku memainkan piano. Begitu aku berhenti memainkan piano, beliau langsung menutup piano dan memberikanku sebuah kertas partitur berisikan notasi musik Fur Elise. Aku hanya mengamati kertas partitur itu sebelum akhirnya meletakkannya di atas piano.


"Mainkan Fur Elise untuk pertemuan selanjutnya," ucap Bu Miller sembari tersenyum.


Ini akan menjadi kali ke-10 bagiku memainkan Fur Elise. Aku bahkan sudah menghafal notasi musik yang ada di partitur. Aku tidak mengira Bu Miller sangat menyukai Fur Elise hingga membuatku terus menerus memainkannya. Aku ingin memprotesnya untuk kesekian kalinya tetapi aku sudah tahu semua usahaku akan sia-sia.


"Ibu akan membiarkanmu menanyakan sesuatu. Sebagai ganti dari pelampiasan emosimu."


"Apa Ibu mengenal Bu Jasmine, guru seni di Sekolah Elizabeth?" tanyaku tanpa pikir panjang karena tiba-tiba nama itu yang terlintas di otakku.


"Tentu, dia adalah legenda hidup dari musik klasik.”


"Sehebat apa dia hingga disebut sebagai legenda hidup?" tanyaku sembari memperbaiki posisi dudukku.


"Dia selalu memenangkan perlombaan bergengsi dunia, mengharumkan nama negara kita. Dia bahkan terus mempertahankan gelarnya sebagai juara dunia selama 5 tahun berturut-turut, mendapatkan penghargaan dari kerajaan di usia yang sangat muda, dan masih banyak lainnya termasuk ikut andil dalam pembuatan lagu-lagu klasik untuk opera. Dia seorang jenius."


"Lalu apa yang membuat tangannya menjadi cedera sehingga dia berhenti bermain violin?"


"Apa maksudmu?"


Kuamati wajah Bu Miller yang berubah, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Ekspresi wajahnya saat ini seperti mengisyaratkan sebuah kebingungan dan ketidakpercayaan. Seperti pertanyaan yang baru saja aku tanyakan adalah sebuah informasi yang benar sekaligus salah. Bu Miller melangkahkan kakinya menuju kursi yang berjarak 2 meter dari tempatku duduk. Memainkan kertas-kertas partitur yang ada di pangkuannya hingga akhirnya kembali menatapku. Sepertinya ada sebuah kebimbangan dalam dirinya untuk menjawab pertanyaanku.


“Apakah seseorang dengan bakat luar biasa sepertinya akan menyerah hanya karena sebuah cedera?”


"..."


"Zeta, ada banyak dokter hebat diluar sana yang bisa mengobati cedera para musisi. Alasan seorang musisi berhenti memainkan alat musiknya adalah karena itu memang keinginannya atau karena dirinya menyerah."


"Lalu, apakah Bu Jasmine berhenti karena menyerah?"


"Ibu tidak ingin membuatnya terdengar seperti dia adalah orang yang sangat mudah menyerah. Di dunia ini ada berbagai macam alasan seseorang menyerah. Sebelum ataupun setelah mengetahui alasan seseorang menyerah, kita tidak boleh menghakiminya bukan?"

__ADS_1


Bu Miller kembali memainkan kertas-kertas partitur di pangkuannya sembari sesekali menatapku dengan sebuah senyum misterius. Melihat dari semua jawaban yang diberikan olehnya, aku bisa menyimpulkan jika ada suatu hal besar yang membuat Bu Jasmine memutuskan untuk berhenti menjadi pemain violin profesional. Alasan cedera hanyalah alasan kecil untuk menutupi alasan yang sebenarnya.


Jika, Stephanie saja mendapatkan informasi yang tidak tepat tentang Bu Jasmine, lalu seberapa besar sebenarnya keinginan Bu Jasmine untuk menutupinya?


"Apa Ibu tahu alasan yang sebenarnya?" tanyaku akhirnya tidak bisa menahan rasa penasaran.


"Tentu, semua anggota asosiasi tahu dengan pasti alasannya. Tidak mungkin kami membiarkan berlian sepertinya hilang begitu saja, bukan?"


"Lalu apa alasannya?" desakku.


"Untuk itu, Ibu tidak memiliki kewajiban untuk menjawabnya sebagai guru pianomu."


"Ah...kenapa?" rengekku.


"Terkadang alasan seseorang menyerah adalah sesuatu yang tidak ingin dia ungkapkan ke dunia."


"..."


"Zeta!!! Apa kamu di dalam?!!!"


Teriakan namaku dan suara ketukan pintu terus terdengar, membuat Bu Miller akhirnya berjalan menuju pintu.


"Tetapi, Ibu rasa sebagai anggota Keluarga Allison, Zeta akan dengan mudah mendapatkan informasi itu," ucap Bu Miller sebelum membukakan pintu, membuat Arthur dan William langsung masuk ke dalam ruangan.


Bu Miller berbasa-basi sebentar dengan William dan Arthur sebelum akhirnya pergi meninggalkan ruangan ini, sebagai tanda kelas telah berakhir. Hari ini aku bahkan tidak mendapatkan pelajaran baru tentang piano, hanya sebuah cerita yang semakin membuatku penasaran. Dan tentunya sebuah partitur Fur Elise untuk kesekian kalinya.


"Paman Stephan hanya mengalami luka bakar ringan dan dalam dua hari sudah bisa menjagamu kembali," kalimat pertama yang William ucapkan, seolah tahu apa yang aku inginkan tanyakan.


Aku hanya mengangguk.


"Aku juga sudah dengar apa yang kamu lakukan kepada Ken, termasuk setiap kata yang keluar dari mulutmu," lanjut William.


Arthur berjalan menuju kulkas yang berada di samping lemari kaca, lemari yang berisikan alat-alat musik. Dia mengambil 2 kaleng soda dan sebotol air mineral. Sudah bisa dipastikan sebotol air mineral itu untuk siapa.


"Ibu juga sudah mendengarnya," ucap Arthur sembari meletakan sebotol air mineral ke hadapanku.


"Ah..," balasku tidak tahu harus merespon dengan kalimat seperti apa.


Suara bukaan kaleng terdengar, mengisi keheningan di ruangan ini. Arthur menatapku, bertanya haruskah dia membukakan botol minum di hadapanku yang aku balas dengan gelengan kepala. Berbeda dengan Arthur yang langsung menikmati soda di tangannya, William langsung mengambil botol di hadapanku dan membukanya.


"Minumlah. Bibi mengatakan kamu belum minum apapun dari saat kamu pulang sekolah dan aku tidak melihat ada sampah minuman di ruangan ini."


Aku langsung mengambil botol yang sudah terbuka dan meminumnya. Aku tidak ingin diceramahi untuk kesekian kalinya hanya karena masalah minum, walaupun aku tahu betapa pentingnya cairan untuk tubuhku. Aku langsung menghabiskan satu botol air mineral, membuat Arthur kembali mengambil botol lainnya. Berbeda dengan sebelumnya, kali ini dia sudah langsung membuka tutupnya.

__ADS_1


"Ibu pasti akan menasehatimu," ucap William setelah aku selesai meminum air dari botol ke dua.


"Tentu saja ibu akan menasehatinya," balas Arthur.


"Aku ingin menanyakan satu hal kepadamu," ucap William, mengabaikan kalimat Arthur.


Aku hanya mengangguk.


"Apa yang kamu inginkan dari para penerima beasiswa yang sudah mem-bully-mu? Apa kamu ingin beasiswa mereka dicabut?"


"Tidak," jawabku langsung begitu mendengar pertanyaan William.


William hanya membalasku dengan tatapan penuh tanda tanya. Aku kembali mengambil botol di hadapanku dan meminumnya. Alasan William menanyakan hal itu, sudah pasti ayah dan dia sudah mulai bergerak untuk menyelesaikan masalah bullying yang aku alami. Aku tidak ingin melibatkan lebih banyak orang hanya untuk masalahku dengan Ken. Aku juga tidak ingin membuat orang lain menderita.


"Apa alasanmu menanyakan hal itu kepada Zeta?" tanya Arthur.


"Kamu akan tahu besok. Lalu, apa yang kamu inginkan?"


"Mereka bertindak karena Ken. Biarkan saja mereka. Aku tidak ingin ada orang lain yang terbawa-bawa masalahku dengan Ken."


"Seperti yang aku harapkan dari adikku. Kamu terlalu baik," ucap Arthur sembari berdiri dari tempatnya duduk.


"Baiklah. Bahas tentang itu nanti saat makan malam."


"Ada apa sebenarnya?" tanyaku dan Arthur berbarengan.


"Kalian akan tahu besok."


Aku dan Arthur langsung berpandangan, menyadari akan adanya hal buruk yang terjadi. Bukan hal buruk untukku tetapi untuk orang lain. Firasatku mengatakan jika kali ini, sesuatu yang benar-benar buruk akan terjadi.


"Dan kamu Arthur, ayo pergi temui ayah," ucap William sembari berdiri dari tempatnya duduk.


"Untuk apa? Aku tidak ingin."


"Jika kamu tidak ingin masuk ke ruang kerja ayah, seharusnya kamu bisa melindungi Zeta dengan lebih baik."


"Hei!!! Lalu, bagaimana denganmu?!!"


"Kamu akan melihat hasil kerjaku besok."


"Zeta?" panggil Arthur dengan nada memelas kepadaku.


Arthur sekarang juga menatapku dengan tatapan memelas. Aku tidak bisa melakukan apapun karena setiap yang akan keluar dari mulutku hanya akan memberatkannya. Ayah ataupun William selalu memutar ucapanku setiap kali aku mencoba menolong Arthur saat ayah merasa Arthur tidak melindungiku dengan benar. Aku tidak merasa Arthur tidak melindungiku dengan benar selama satu minggu ini. Dia terus membersihkan ruang kelas dari coretan-coretan penuh hinaan yang ditujukan kepadaku dan tidak membiarkanku melihatnya. Dia juga melepas seluruh poster tentangku yang ada di setiap sudut sekolah. Dia bahkan langsung memukul Ken begitu tahu pisau dan pistol berada di mejaku. Walaupun beberapa kali, dia tidak bisa melindungiku seperti saat seseorang menjatuhkan pot bunga ke atas kepalaku, bagaimanapun juga letak kelasnya cukup jauh dari kelasku sehingga tidak mungkin dia bisa selalu berada di dekatku. Ditambah sudah ada pengawal yang mengawasiku secara langsung.

__ADS_1


William menarik tubuh Arthur karena Arthur tetap duduk di sampingku. Mau tidak mau, Arthur harus mengikuti William menuju ruang kerja ayah. Dan mau tidak mau, aku hanya bisa melepas kepergiannya dengan senyum pahit.


...-----...


__ADS_2