Mentari di Langit Malam

Mentari di Langit Malam
Masa Lalu : Peringatan Kematian


__ADS_3

"Apa yang kamu pikirkan dengan menggunakan pakaian berwarna merah muda di acara peringatan kematian seseorang?" tanyaku dengan nada marah begitu melihat Caroline.


"Aku lupa jika hari ini peringatan kematian ibu Ken, aku sedang kencan dan tiba-tiba aku dijemput. Salahkan Stephanie yang tidak memberitahuku apapun. Tapi tenang saja, aku akan mengganti pakaianku," balasnya sembari menunjukkan plastik berisikan baju hitam yang mungkin saja baru dibelinya.


Kulangkahkan kakiku menjauhi Stephanie dan Caroline menuju tempat kedua kakakku berada. Ini adalah kali pertama dalam 10 tahun aku menghadiri peringatan kematian Tante Lily melalui pintu depan. Selama ini aku selalu datang sebelum tamu-tamu datang dan aku akan langsung menuju kamar pribadi tante bersama dengan Ken. Kami akan menghabiskan satu hari penuh dengan memainkan piano di ruang kedap suara itu, memainkan setiap lagu yang belum sempat tante alunkan. Dan karena itulah aku bisa bermain piano.


Aku tidak tahu sejak kapan sesuatu yang awalnya aku lakukan hanya untuk menghibur Ken berubah menjadi sesuatu yang harus kami lakukan setiap tahunnya. Kami bersembunyi dari para tamu dan juga keluarga kami. Awalnya semua kebingungan mencari kemana kami pergi dan baik aku maupun Ken menyembunyikan keberadaan kami saat acara berlangsung selama 5 tahun hingga akhirnya kedua kakakku mempergoki kami berdua di kamar yang sunyi itu.


Saat itu aku masih berpikir jika keluarga kami benar-benar tidak tahu dimana kami berada tetapi saat ini aku tahu dengan pasti jika dari awal keluarga kami tahu dimana kami berada dan memilih untuk berpura-pura tidak mengetahuinya. Bukan hanya memainkan piano yang kami berdua lakukan, kami juga membaca jurnal-jurnal yang tante tulis semasa hidupnya. Jurnal tentang kelahirannya, masa kecilnya, masa remajanya, masa dewasanya, pertemuannya dengan Paman Parker, pernikahannya, kehadiran Ken dalam hidupnya, dan firasat akan kematiannya. Terdapat ratusan jurnal yang ditulis oleh tante semasa hidupnya, dan kami berjanji hanya membaca 5 jurnal setiap tahunnya.


Lalu, bagaimana aku tahu jika tante juga menulis akan firasat kematiannya?


Aku tidak sengaja membacanya sebelum tahu urutan jurnal-jurnal yang ditulis dan sebelum kami membuat janji hanya akan membaca 5 jurnal setiap tahunnya. Hingga saat ini aku tidak menceritakan apapun kepada Ken tentang jurnal berisi firasat kematian itu. Mungkin aku akan membiarkannya menemukannya sendiri.


Rumah Ken dipenuhi dengan bunga kesukaan tante, bunga lily putih, bunga yang memiliki nama yang sama dengannya. Tidak ada yang tahu alasan mengapa tante sangat menyukai bunga lily putih selain karena memiliki nama yang sama dengannya, dimana bunga itu adalah bunga yang selalu ada disetiap acara pemakaman. Aku pernah sekali menanyakan alasannya dan tante hanya menjawab karena lily putih menggambarkan sebuah kepolosan dan keagungan disaat bersamaan. Sesuatu yang tidak aku mengerti hingga sekarang.


"Dia sudah membawa masuk Natasha ke rumah ini,” gumam Caroline.


"Steph, bisakah kamu meminta saudara kembarmu untuk tidak bergosip hanya hingga acara ini selesai?"


Pertanyaan atau lebih tepatnya permintaan William membuatku, Arthur, dan dua saudari kembar itu terdiam. Dia bukan lagi dalam mode William yang kami kenal. Sekarang dia berada dalam mode 'pewaris' dan dia harus menjaga sikap serta ucapannya. Aku menatap William yang sekarang sedang berjabat tangan dan mengobrol dengan kepala Keluarga Paulo.


Aku tidak bisa membayangkan betapa banyak beban yang harus dirangkul olehnya hingga dia bisa berada diposisinya saat ini. Sangat jarang pewaris seusianya yang bisa membahas bisnis dengan keluarga lainnya terlebih mereka membahasnya di acara peringatan kematian seseorang.


"Zeta, aku tidak bisa menemukan Ken," ucap seseorang sembari menarik lengan bajuku.


Kualihkan perhatianku ke Natasha yang sekarang berdiri di depanku dengan wajah cemas. Dia memegang handphone miliknya yang terus memunculkan nomor Ken, nomor yang bahkan tidak menjawab panggilan itu. Arthur langsung berjalan ke arahku begitu melihat Natasha berada di depanku.


"Ikut denganku, aku tahu dimana dia berada," ucapku.


Tepat sebelum aku akan melangkahkan kakiku, Arthur sudah menghadang tubuhku. Dia memberi isyarat agar aku tidak melakukan apapun dan tetap diam di tempatku berdiri. Sekarang dia bahkan menggelengkan kepalanya seolah aku akan mendapatkan masalah jika aku mencari Ken saat ini. Kuikuti arah pandang Arthur yang sekarang sedang menatap ayah dan ayah tentunya sedang menatap ke arahku. Ah... ayah sudah sangat membenci Ken, beliau hadir di acara ini hanya karena Tante Lily adalah teman masa kecilnya.


"Kalian bisa ikut."


"Sungguh???!" pekik Caroline yang langsung disambut sikutan dari Stephanie.


Kulangkahkan kakiku masuk ke dalam rumah Keluarga Parker. Rumah yang dahulu terasa familiar tetapi sekarang terasa sangat asing. Beberapa tamu yang berada di dalam rumah menatap sekilas ke arah kami berlima yang sekarang berjalan menuju lantai 2. Kamar Tante Lily cukup tidak terlihat dari luar karena letaknya yang berada di ujung lantai dua. Kamar yang mungkin juga dibutuhkan setiap pasangan untuk mendapatkan ruang yang cukup, dan tante mendapatkan kamar itu karena beliau ingin mengekspresikan dirinya dan terbebas dari gelar 'istri' ataupun 'ibu'. Tante hanya ingin selama beberapa hari dalam satu tahun hidup sebagai dirinya, bukan sebagai seorang istri maupun ibu.

__ADS_1


Kumasukkan kata sandi, tanggal kematian tante.


"Tunggu disini," ucapku.


"Tidak," balas Arthur.


"Arthur, kumohon. Kamu bahkan sudah tahu password kamar ini. Kumohon?"


Hanya hembusan nafas yang Arthur berikan. Aku memberikan tas kecil yang aku bawa kepada Stephanie yang menatapku sambil tersenyum, berbeda dengan Caroline yang menatapku seperti baru saja mendapatkan umpan besar untuk bahan gosip miliknya.


"Jika kamu membuat sesuatu tentang hal ini. Aku tidak akan tinggal diam," bisikku ke Caroline sebelum akhirnya masuk ke dalam ruangan.


Tidak butuh waktu lama bagiku untuk bisa menemukan Ken. Begitu masuk ke dalam kamar, aku sudah bisa melihat punggungnya. Kulangkahkan kakiku mendekat ke arahnya. Dia langsung melihat ke arahku dan tersenyum, senyuman lega dan bahagia. Dia meletakkan tangannya ke samping tempatnya duduk, menyuruhku untuk duduk di sampingnya dan ikut membaca jurnal milik Tante.


"Aku menunggumu dan akhirnya aku membaca jurnal-jurnal ini dahulu. Haruskah kita bermain piano sekarang?"


"..."


"Oiya, kenapa kamu baru datang? Apa kamu lupa atau ditahan oleh Kak Will?"


"..."


"Ken," panggilku pelan.


"Ya?" jawabnya yang masih sibuk mencari jurnal-jurnal untuk diberikan kepadaku.


"Banyak orang yang mencarimu diluar."


"Dan kamu tahu aku tidak akan pernah keluar dari kamar ini."


"Natasha juga mencarimu."


"..."


"Aku sengaja datang telat," ucapku akhirnya ingin menyudahi semua ini.


Ken menghentikan tangannya yang sibuk mencari jurnal dan mengubah fokusnya kepadaku.

__ADS_1


"Sekarang bukan aku yang harus melakukan hal ini," lanjutku.


"Apa maksudmu?" tanyanya dengan wajah takut.


"Gelang peninggalan tante sekarang berada di tangan Natasha, dia yang seharusnya berada disini. Dia perempuan pilihanmu. Dan kamu sendiri yang memilihnya."


"..."


"Aku rasa kamu tahu, saat dimana kamu memutuskan seseorang sebagai orang yang kamu cintai, saat itu juga kamu harus mulai membagi hidupmu kepadanya. Dan hidupmu juga mencakup rasa sakit akan kehilangan ibumu."


"Aku tidak ingin mendengarkan apapun lagi. Ahh... aku menemukan jurnal yang harus kamu baca."


Kuambil jurnal yang Ken sodorkan kepadaku. Dia kembali sibuk membaca jurnal yang dia tinggalkan dan membuatku terdiam mengamati cover jurnal yang sekarang berada di pangkuanku. Aku tidak memiliki satupun keinginan untuk membuka jurnal ini dan aku juga tidak memiliki satu keberanian untuk kembali membaca jurnal ini.


"Seluruh anggota keluargaku membencimu dan aku juga ingin membencimu. Jika saja kamu bukan anggota Keluarga Parker, aku rasa ayahku sudah membunuhmu. Saat ini, bukankah aneh bagimu untuk terus memintaku berada di sisimu setelah semua perlakuan dan nada bicara yang kamu berikan kepadaku?"


"..."


"Kamu berkata tidak pernah mencintaiku dan tidak akan ada kesempatan di masa depan untukku, kamu bahkan mengumumkan hal itu di depan umum. Kamu membuatku menyerah dengan semua hal yang kamu katakan dan lakukan. Aku melepaskanmu seperti yang kamu mau. Kumohon lepaskan aku juga dari hal-hal yang tidak seharusnya aku lakukan. Natasha menunggu di luar, aku akan membiarkan dia masuk."


Ken langsung menahan tanganku begitu aku berdiri dari tempatku duduk. Dia menatapku dengan tatapan yang tidak pernah aku lihat. Aku tidak bisa mengartikan arti tatapan itu karena ini adalah kali pertama aku melihatnya, tatapan bertanya-tanya atau tatapan tidak percaya, aku tidak tahu.


"Aku....aku...."


"Ken, satu-satunya hubungan yang kita miliki sekarang hanyalah karena tante dan hal itu adalah sebuah ketidaksengajaan. Setelah hari ini, kamu pasti akan kembali menunjukkan kemesraanmu dengan Natasha di depan umum. Hari ini, hatimu hanya belum terbiasa tetapi setelah ini kamu akan mulai terbiasa. Seseorang yang kamu cintai, tidak mungkin kamu menolaknya untuk masuk lebih dalam ke hidupmu bukan?"


"....”


"Aku tahu kamu tidak pernah mencintaiku dan aku selalu mencintaimu selama ini. Aku ingin terbebas dari perasaan bodoh ini. Aku bersyukur kamu sudah menemukan seseorang yang kamu cintai."


"Maafkan aku," ucap Ken setelah keheningan mengisi ruangan ini selama 3 menit.


Detik ini juga aku yakin dengan perasaanku. Perasaan cinta yang aku rasakan hanyalah proyeksi dari rasa bersalah dan kasihan yang aku rasakan untuknya. Aku membodohi diriku sendiri dengan mengatakan jika aku selalu mencintainya disaat aku sendiri tahu dengan pasti setiap kali jantungku berdebar untuknya hanya saat dimana dia menunjukkan sisi dirinya yang lemah, sisi saat dirinya mudah diserang oleh orang lain.


Seharusnya akulah yang meminta maaf kepadanya...


"Maafkan aku, Ken," ucapku sembari berjalan keluar meninggalkannya seorang diri.

__ADS_1


...-----...


__ADS_2