
"Hubunganmu dengan Kak Alvin sangat sehat."
Sehat?
Sudah satu minggu berlalu sejak kejadian di ruang musik dan aku masih belum memberikan jawaban apapun kepada Alvin. Alvin juga tidak memaksaku dan terus menunggu tanpa berusaha untuk menghubungiku. Sesuatu yang mungkin tidak diharapkan oleh perempuan lainnya tetapi aku mengharapkan hal itu darinya. Berada di Keluarga Allison membuatku selalu menginginkan sebuah ruang untuk diriku sendiri, ruang untukku berpikir dan tentunya menikmati hidupku sendiri.
William juga berhenti memberitahukan semua berita tentang Alvin kepadaku dan dia juga berhenti memberikan informasi tentangku kepada Alvin. Hal yang sangat aku sukai darinya karena dia selalu menghargai dan menghormati setiap keputusan yang telah aku ambil. Yang pasti selama satu minggu ini duniaku tidak lagi dipenuhi dengan 'Alvin'. Kembali ke ucapan Caroline. Aku tidak tahu 'hubungan yang sehat' itu hubungan yang seperti apa. Aku hanya menjalani hubungan yang aku miliki dengan orang lain seperti apa yang aku dan mereka inginkan.
"Tidak memaksakan kehendak, tidak posesif, memberi ruang," lanjut Caroline seolah tahu apa yang sedang aku pikirkan.
"Dan kamu harus bisa mencoba memberi ketiga hal itu kepada Nichole," timpal Stephanie.
"Hei!!! Lihat dirimu, apakah kamu memberikan ketiga hal itu kepada Thomas?"
"Setidaknya aku tidak posesif dan memberinya ruang. Sangat berbeda denganmu yang tidak memberikan Nichole salah satu dari ketiganya," jawab Stephanie diikuti dengan juluran lidah.
"Daripada hubungan yang sehat, ini lebih seperti kami sedang mencoba memahami diri kami kembali," ucapku sebelum pertengkaran diantara dua saudari itu dimulai.
"Apa maksudmu?"
"Aku juga tidak tahu," jawabku asal, tidak ingin melanjutkan percakapan kami.
Aku melanjutkan langkah kakiku menyusuri jalanan London. Sudah lama aku tidak merasa sebebas ini untuk bisa berjalan tanpa adanya gangguan dan keposesifan kedua kakakku. Aku bahkan sudah lupa kapan terakhir kali aku bisa memberikan diriku 'me time' dan memberikan kedua sahabatku 'quality time' tanpa adanya gangguan dari kedua kakakku. Walaupun aku bisa menikmati waktuku, hal ini membuatku menjadi lebih waspada karena sudah pasti akan lebih banyak pengawal yang mengawasi kami bertiga. Bukan hanya pengawal yang biasa mengawasiku tetapi juga pengawal Keluarga Chester yang setiap harinya mengawasi sahabat kembarku.
Langkah kakiku terhenti di sebuah kerumunan. Sepertinya orang-orang berkumpul di tempat ini karena ada pertunjukkan jalanan. Aku bisa mendengar bunyi alunan musik di sepanjang jalan. Kulangkahkan kakiku mendekati sumber suara dan mendapati banyak musisi beserta alat musiknya seperti gitar, violin, dan cello. Ah... orkesta jalanan.
"Kenapa kamu berjalan dengan sangat cepat?" tanya Stephanie dengan nafas tersengal-sengal.
"Apa itu? Orkesta jalanan?" lanjut Stephanie.
"Kalian berdua, bisakah lebih pelan dalam berjalan?!" keluh Caroline dengan nafas yang lebih tidak beraturan daripada Stephanie.
"Oh? Bukankah itu orkesta jalanan?"
Kulihat Stephanie dan Caroline bergantian begitu pertanyaan itu keluar dari mulut Caroline. Mereka berdua benar-benar memiliki ikatan batin yang kuat. Jika salah satu diantara keduanya hilang, apakah bisa ditemukan hanya dengan menggunakan telepati?
"Oh????!" teriak Caroline sembari menunjuk ke arah para pemain orkesta.
Aku dan Stephanie langsung menoleh ke arah yang ditunjuk Caroline dan mendapati guru seni kami berdiri bersama dengan musisi lainnya memainkan violin. Beliau bahkan sempat memberikan senyum kepada kami begitu mata kami bertemu. Sepertinya ini alasan mengapa Bu Jasmine tidak pernah bisa meluangkan hari liburnya setiap kali ada kegiatan ekstrakurikuler di sekolah.
Permainan violin Bu Jasmine bukan hanya sekadar 'baik'. Cara beliau memainkan violin seperti seseorang yang memang sudah lama bermain violin. Aku tahu jika beliau adalah guru seni dan bisa memainkan beberapa alat musik tetapi aku tidak tahu jika beliau sangat menguasai permainan violin. Dan sepertinya para musisi yang sedang memainkan orkes jalanan ini bukan sembarang musisi jalanan.
Aku merasa seperti mereka hanya sedang menghabiskan hari libur mereka dengan menghibur orang lain tanpa ada maksud lainnya.
Permainan orkesta berakhir tepat 5 menit setelah kami tiba di kerumunan ini, membuat beberapa orang mencoba untuk maju ke depan untuk memberikan uang. Aku juga mengambil selembar uang dari dalam dompetku, selembar uang yang membuat Stephanie langsung memukulku karena jumlahnya yang cukup banyak. Dia langsung mengambil alih dompet milikku dan hanya mengeluarkan beberapa koin. Ternyata sudah ada tulisan batas maksimal kami yang menikmati permainan ini bisa memberikan uang. Seperti yang aku pikirkan sebelumnya, para musisi ini hanya ingin bersenang-senang dan menghabiskan waktu luang mereka.
Bu Jasmine mendekati kami dan meminta kami untuk menunggunya karena ada beberapa hal yang ingin beliau bicarakan. Pembicaraan yang aku harap tidak ada kaitannya dengan sekolah. Entah ini hanya perasaanku saja tetapi aku merasa Stephanie sangat senang bertemu dengan Bu Jasmine diluar sekolah melihat bagaimana senyum miliknya terus menghiasi wajahnya, lebih tepatnya senyum bisnis miliknya.
"Wahh, aku jadi ingin tahu masa lalu Bu Jasmine. Dia bukan hanya guru seni biasa," ucap Caroline begitu Bu Jasmine pergi meninggalkan kami menghampiri teman-teman musisinya untuk mengambil kotak violin miliknya.
"Adakah guru yang biasa saja di sekolah kita?" tanyaku yang dijawab gelengan oleh Stephanie.
"Adakah yang ingin meminum kopi?" tanya Bu Jasmine begitu selesai memasukkan violin ke dalam kotaknya.
__ADS_1
"Zeta dan Caroline lebih menyukai coklat panas. Saya tidak masalah dengan kopi," jawab Stephanie sambil sekali lagi menunjukkan senyum bisnis miliknya.
"Ikut Ibu."
Kami bertiga berjalan mengikuti beliau menuju jalanan yang semakin sepi. Beberapa kali aku bisa mendengar percakapan Bu Jasmine dengan Stephanie dimana Stephanie sedang mencoba membujuk Bu Jasmine agar bisa tampil di acara ulang tahun kakeknya. Sepertinya Stephanie sudah tahu siapa sebenarnya Bu Jasmine dan dia tidak membagi informasi itu kepadaku maupun Caroline yang sekarang hanya mengikuti mereka dalam diam sembari beberapa kali mendengarkan obrolan mereka. Aku bahkan beberapa kali sempat memberikan tatapan penasaran apakah Caroline tahu semua itu yang selalu dibalas dengan gelengan oleh Caroline.
Bu Jasmine membawa kami ke café yang cukup terpencil dari jalanan utama tetapi aku bisa merasakan betapa berkelasnya café ini. Aroma kopi langsung tercium begitu kami berada di depan café. Aku rasa hanya mereka yang memang sering berkeliling London yang bisa menemukan tempat ini. Interior yang disuguhkan café ini mengingatkanku dengan ruang VIP, karena sangat klasik walaupun tetap saja ruang VIP lebih klasik dibandingkan café ini. Tentu saja, Bu Jasmine tidak akan membawa kami ke sembarang café mengingat betapa berseninya beliau.
"Bisakah kalian meninggalkan Ibu berdua dengan Zeta?" tanya Bu Jasmine sembari meletakkan cup-cup berisikan minuman pesanan kami.
"Kenapa? Saya yang ingin berbicara dengan Ibu bukannya Zeta," balas Stephanie dengan nada merengek yang membuatnya langsung ditarik paksa oleh Caroline meninggalkanku berdua dengan Bu Jasmine.
Bu Jasmine meminum kopinya dan langsung menghembuskan nafas dengan berat setiap kali kopi masuk ke dalam tubuhnya. Sudah ketiga kalinya beliau menyuruhku untuk meminum cokelat panas yang aku pesan dan aku masih diam tidak mengikuti perintahnya. Aku juga tidak bisa membuka percakapan apapun dengan beliau karena memang tidak ada topik yang bisa aku buka. Sekali lagi beliau menyuruhku meminum cokelat panas milikku. Aku rasa percakapan akan dimulai begitu aku meminumm cokelat panas yang aku pesan.
Tepat setelah aku meminum dan meletakkan cup berisikan cokelat panas kembali keatas meja, Bu Jasmine mengeluarkan dua buah kertas berisikan alamat dan kartu nama. Aku mengambil keduanya begitu beliau memberikan tanda aku boleh mengambil kedua kertas itu.
"Tempat itu adalah tempat terbaik untuk berlatih piano."
"Apa Ayah Zeta..."
"Ibu tidak peduli dengan status kalian semua. Ibu hanya tidak sengaja membaca tugas konseling milikmu dan mendapati impianmu menjadi seorang pianis."
"Ah..."
"Ibu selalu menyukai permainan piano milikmu dan setiap kali kamu selesai memainkannya, Ibu merasa kehangatan yang Ibu rasakan hilang begitu saja. Saat awal Ibu mendengar permainanmu, Ibu sudah sangat ingin memintamu untuk menjadi pianis tetapi tentu saja Ibu tidak berani melihat dari keluarga mana kamu berasal."
"Ibu tadi mengatakan tidak peduli dengan status kami."
Bu Jasmine memanggil kembali kedua sahabatku untuk bergabung dengan kami. Aku memasukkan kedua kertas itu ke dalam tasku. Sebenarnya ayah sudah memberikan guru piano kepadaku dan aku juga sudah mulai berlatih piano dengan guru itu. Aku tidak tahu apakah aku harus mengunjungi alamat yang Bu Jasmine berikan atau tidak karena aku sudah merasa cukup nyaman dengan guru yang ayah berikan kepadaku. Aku akan memikirkan hal ini nanti.
Tidak butuh waktu lama bagiku untuk tahu siapa sebenarnya Bu Jasmine begitu Stephanie kembali bergabung. Beliau adalah salah satu musisi yang berkesempatan menampilkan permainannya di hadapan keluarga kerajaan dan juga banyak perlombaan bergengsi dunia yang beliau menangkan. Bahkan tidak sedikit yang ingin mengundangnya untuk mengisi acara-acara bergengsi lainnya. Beliau memutuskan berhenti menjadi pemain profesional dan lebih memilih menjadi guru karena cedera di tangannya. Walaupun begitu, beliau masih bisa memainkan violin dengan sangat baik. Itu yang dikatakan oleh Stephanie karena baik aku maupun Caroline belum pernah melihat permainan Bu Jasmine sebelum beliau menjadi seorang guru.
"Ibu selalu merasa kamu tidak memiliki emosi apapun, Zeta," kata Bu Jasmine mencoba mengalihkan topik.
"Dia memang tidak memiliki emosi apapun. Apa Ibu tahu bagaimana dia tetap diam saja saat Ken mempermalukan dia di depan umum?"
Sepertinya sekarang topik pembicaraan akan beralih kepadaku. Caroline sudah berapi-api untuk membicarakan semua hal tentangku. Stephanie hanya mengangguk-angguk dan Bu Jasmine mulai menikmati kembali kopi miliknya. Sedangkan aku mencoba untuk tidak masuk ke dalam percakapan mereka atau akan lebih banyak topik tentangku yang dibahas.
"Permainan piano Ken berubah. Ibu rasa Zeta berpengaruh dalam hal itu. Zeta, bolehkah Ibu bertanya?"
"Silakan.”
Stephanie dan Caroline langsung memasang wajah penasaran mereka dan memperbaiki posisi duduk mereka agar lebih dekat kepadaku.
"Apa perasaan yang kamu miliki untuk Ken adalah cinta?"
"..."
"Kamu tidak tahu?"
"..."
"Lalu, apakah perasaanmu untuk Alvin adalah cinta?"
__ADS_1
"..."
"Kalau begitu selamat datang di dunia yang baru, Zeta,” ucap beliau sembari menepuk punggung tanganku yang sedari tadi berada di atas meja.
"Wahhh, Ibu bisa membaca pikiran Zeta. Kami kira hanya kami yang bisa membacanya," ucap Caroline dengan nada terheran-heran.
"Kalian ingin memesan kue?" sekali lagi Bu Jasmine mencoba mengalihkan topik pembicaraan.
"Biar Zeta saja," ucapku begitu melihat Bu Jasmine berdiri dari tempatnya duduk.
"Tidak, kita duduk saja."
Bu Jasmine memegang kedua pundakku dan menekannya, membuatku mau tidak mau kembali duduk. Aku tidak tahu apa yang terjadi hingga beliau tiba-tiba membatalkan keinginannya. Aku hanya bisa saling bertatapan dengan Caroline penuh kebingungan. Berbeda denganku, Stephanie sama sekali tidak memasang wajah bingung dan justru seperti tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tentu saja Stephanie tahu karena dia duduk di sebelah Bu Jasmine dan tahu apa yang dilihat beliau.
"Sudah lama tidak bertemu denganmu, Natasha."
"Baru satu minggu yang lalu kita bertemu."
Nama dan suara yang sangat aku kenal. Tepat saat aku akan menolehkan wajahku, tangan Bu Jasmine lagi-lagi sudah memegang daguku dan memaksa wajahku agar tetap menghadapnya. Beliau lalu menggelengkan kepalanya.
"Hingga kapan aku harus terus berpura-pura?"
"Hingga Tuan Muda menyadari perasaan miliknya."
"Dia sudah menyadarinya. Dia sudah menyadari jika dia tidak bisa hidup tanpa Zeta."
"Tetapi Tuan Muda belum mengakuinya, Anda tahu bukan menyadari dan mengakui adalah dua hal yang berbeda. Tuan Parker ingin hingga Tuan Muda Ken mengakui sendiri perasannya."
"Bukankah ini akan sangat menyakitkan baginya saat tahu jika aku hanya dijadikan bahan untuknya menyadari perasaan yang dimilikinya."
"Dan akan lebih menyakitkan bagi Tuan Muda saat tahu perempuan yang dicintainya ternyata sebelumnya diutus oleh Keluarga Nakamoto untuk merayunya."
Hening. Tidak ada suara yang muncul selama 3 menit.
"Tuan Parker sudah mengatur semua kebutuhanmu dan keluargamu di Amerika. Periksa tabunganmu dan pergi dari hidup Tuan Muda perlahan-lahan."
"Lalu, bagaimana jaminan untuk keamananku karena telah mengkhianati Keluarga Nakamoto?"
"Sepertinya kamu tidak menyadari jika dari awal kamu sudah diikuti oleh pengawal yang melindungimu."
"..."
"Sebelum saya pergi, saya ingin memastikan kembali satu hal, apakah perasaan Anda masih sama seperti sebelumnya?"
"Seperti yang sudah aku katakan sebelumnya, aku sudah memiliki orang yang kucintai dan aku juga akan pergi bersama dengannya ke Amerika setelah menyelesaikan semua ini."
"Baik. Ini uang tambahan dari Tuan Parker karena kerja Anda yang bagus. Saya permisi."
Krit....
Suara hembusan nafas yang berat terdengar dari seberang tempatku duduk. Kali ini, aku melangkahkan kakiku menuju tempat duduk yang hanya berjarak 10 cm dari tempatku duduk dan tidak ada satu orangpun yang menahanku karena mereka tahu apa yang akan aku lakukan serta tanyakan kepada perempuan di hadapanku sekarang adalah sesuatu yang sudah sepantasnya aku tanyakan. Aku kembali duduk di kursi dan mendapati wajah Natasha yang cukup terkejut melihat kehadiranku. Aku tidak tahu wajah seperti apa yang aku tunjukkan kepadanya hingga membuatnya ketakutan. Padahal, aku hanya menatapnya dengan tatapan kosong.
...-----...
__ADS_1