
French Onion Soup, makanan yang mungkin akan dianggap sebagai makanan yang cukup mewah tetapi tidak bagi keluargaku. Saat makanan ini keluar, itu adalah saat dimana ibu sedang mengingatkan kami tentang siapa diri kami.
Banyak yang mengatakan jika French Onion Soup ini dahulu hanya dimakan oleh rakyat jelata hingga akhirnya ada berbagai macam modifikasi pada resep dan cara pembuatannya hingga membuatnya menjadi makanan yang mahal. Melihat dari sejarah ini, ibu ingin mengingatkan kami tentang kerendahan hati yang seharusnya tetap kami miliki sebanyak apapun yang kami miliki dan sebesar apapun kekuasaan yang berada di tangan kami.
Ayah sudah menyantap hidangan ini, diikuti oleh ibu dan William. Sedangkan aku dan Arthur masih diam menatap hidangan di depan kami. Sekali lagi kuamati ayah yang dengan tenangnya menyantap hidangan ini, saat dimana hidangan ini ditujukan untukku. Ayah menatap balik kedua mataku dan menyuruhku untuk menyantap hidangan ini sebelum ibu mengeluarkan satu dua kalimat. Aku langsung mengambil sendok dari atas meja dan menyantap hidangan ini bersamaan dengan Arthur yang juga mulai menyantapnya.
"Ibu sudah mendengar semua yang terjadi."
Ternyata ibu menunggu hingga suapan pertama masuk ke dalam perutku. Aku dan kedua kakakku langsung meletakan sendok yang kami pegang. William bahkan membenarkan posisi duduknya lebih tegap. Kami bertiga selalu berhenti makan setiap kali ayah ataupun ibu sedang memberikan nasehat ataupun memarahi salah satu dari kami. Sesuatu yang sebenarnya tidak aku harapkan terjadi di meja makan karena selalu berakhir dengan perutku yang sakit.
"Maafkan, Zeta. Tidak seharusnya Zeta mengancam Ken."
"Bukan ancaman yang Ibu permasalahan, jika kamu mengancam hal lainnya seperti mengancam tidak akan menemui Ken kembali selama sisa hidupmu, ibu tidak akan mempermasalahkan hal itu. Tetapi, kamu, Zeta sayang, kenapa mengancam akan menyakiti seseorang? Seseorang yang bahkan kamu kenal dan menyayangimu?"
"Maafkan Zeta. Zeta terbawa emosi," balasku sembari menundukkan kepala.
"Maka kendalikan emosi itu. Ibu tidak ingin ancaman seperti itu keluar lagi dari mulutmu, Sayang. Ibu tidak pernah mengajarimu hal seperti itu. Zeta harus meminta maaf kepada Tante Anastasia."
"Zeta berjanji tidak akan melakukannya lagi," ucapku sembari menjulurkan jadi kelingkingku ke arah ibu.
Ibu menghembuskan nafas lalu tersenyum lembut ke arahku dan langsung mengaitkan jari kelingking milik beliau. Ibu juga mengusap lembut rambutku sebelum akhirnya memelukku.
"Ibu juga tidak suka saat Zeta tidak menceritakan apapun yang terjadi pada Zeta. Bagaimana bisa Ibu tahu mengenai bullying yang Zeta dapatkan selama satu minggu ini dari orang lain? Apa Zeta tahu betapa sakitnya hati Ibu begitu tahu apa yang terjadi kepadamu?" ucap ibu dengan pelukan yang semakin erat.
"Zeta tidak ingin membuat Ibu khawatir."
"Tetapi menutupinya hanya membuat Ibu lebih khawatir."
Ibu melepaskan pelukannya dan menatap kedua mataku seolah memintaku untuk tidak lagi merahasiakan apapun darinya. Aku hanya mengangguk dan sekali lagi memeluk ibu. Pelukan yang mungkin akan bisa aku dapatkan selama satu minggu terakhir ini jika saja aku menceritakan apa yang sebenarnya terjadi kepadaku.
"Tetapi, bagaimana bisa Ken melakukan hal itu. Bagaimana bisa dia meletakan pisau, pistol, dan bunga kematian ke mejamu?"
"..."
"Itu sama saja dengan dia menginginkan kematian Zeta. Ibu tidak bisa mentolerir hal ini."
"Dan kamu Arthur!!! Bagaimana bisa menyembunyikan semua ini dari Ibu?!"
"Ah... Arthur juga tidak ingin Ibu khawatir," balas Arthur gugup akan mendapat omelan dari ibu.
"Kalian berdua ini!!!"
"Sayang, apakah tidak ada makanan lain?"
"Oh!" balas ibu sembari menepuk kedua tangannya.
Pertanyaan ayah membuat ibu kembali tersadar akan tugasnya. Beliau langsung berjalan menuju dapur, meninggalkanku seorang diri bersama ketiga laki-laki yang sangat mencintaiku. Sebelum meninggalkan ruang makan, ibu sempat mengatakan mungkin membutuhkan 30 menit hingga semua hidangan selesai. Sepertinya waktu itu cukup untuk membahas semua yang ayah inginkan. Atau, bisa jadi semua ini sudah menjadi rencana ayah dari awal dimana ayah baru memberitahu ibu semua yang terjadi kepadaku hari ini sehingga membuat ibu yang seharusnya memasak bersama koki justru masih mendengarkan cerita ayah. Entahlah, aku hanya menebak semua itu.
Arthur dan William terus memberikan tatapan menyuruh kepadaku untuk membuka percakapan. Aku tidak tahu harus membuka percakapan bagaimana karena ayah juga masih menikmati hidangan di hadapannya. Aku kira justru ayah yang akan membuka percakapan ini. Bukankah akan aneh jika tiba-tiba aku membahas bullying yang aku dapatkan?
__ADS_1
"Ayah," panggilku akhirnya tidak tahan dengan tatapan yang diberikan kedua kakakku.
Ayah meletakan peralatan makan yang berada di tangannya. Beliau menatapku seakan memintaku untuk meneruskan apa yang akan aku katakan kepadanya. Aku hanya menelan ludah, merasa terintimidasi dengan tatapan beliau. Aku tidak bisa membayangkan betapa mengintimidasi tatapan beliau saat menemui pebisnis lainnya.
"Zeta tidak tahu apa yang akan terjadi besok karena Kak William menyuruh Zeta melihatnya besok. Tetapi, Zeta tidak ingin Ayah melakukan hal yang merugikan orang lain."
"Dan hal merugikan apa yang Zeta maksudkan?"
"Sepertinya mencabut beasiswa mereka yang mem-bully Zeta ataupun menyakiti orang-orang yang membully Zeta, termasuk Ken. Zeta tidak ingin hal itu terjadi."
"Kenapa?"
"Karena Zeta tidak ingin ditakuti oleh lebih banyak orang."
"Jika yang menyakiti Ken adalah ayahnya, itu tidak menjadi masalah bukan?"
Aku terdiam, tidak bisa menjawab pertanyaan ayah. Aku sudah tahu sejak awal, apapun yang Ken lakukan semuanya akan tetap salah baik di mata ayahku ataupun ayahnya. Sejak saat dimana dia memutuskan untuk melakukan semua hal yang dia inginkan, sejak saat itu pula tidak ada yang akan bisa menolongnya.
"Zeta, kenapa kamu mau menerima semua hal ini? Kamu bisa dengan mudah menyangkal semua tuduhan Ken kepadamu, tapi kenapa kamu hanya diam dan menerimanya?" tanya William.
"Untuk menolongnya dan melindunginya," jawabku tanpa berpikir panjang.
Arthur menginjak kakiku, membuatku menatapnya kebingungan. Aku langsung mengalihkan pandanganku ke arah ayah dan William secara bergantian. William sudah menatapku dengan penuh curiga. Sedangkan ayah hanya mengernyitkan keningnya.
"Menolong dan melindunginya dari apa?"
Sekali lagi, Arthur menginjak kaki kananku. Aku tidak tahu jika ayah dan William belum mengetahui tentang Natasha. Tidak mungkin jika mereka berdua tahu, mereka akan menanyakan alasanku menolong dan melindungi Ken. Sudah pasti ayah bisa membaca dan mengetahui semua tindakanku.
Tunggu, jika ayah dan William belum tahu, lalu apa yang mereka tahu tentang bullying yang aku alami?
"Jika saat ini Zeta berada di tengah negosiasi, musuh Zeta akan langsung mencari tahu apa yang Zeta sembunyikan," ucap ayah sembari meminum air.
"Zeta ingin membalas budi atas semua hal yang sudah Ken lakukan selama ini," balas Arthur mencoba memperbaiki suasana.
"Benarkah?" tanya William menyelidik.
"Sudah cukup. Ayah akan menemui Ibu. Selesaikan makanan kalian sebelum makanan utama datang."
"Kamu tidak mengira ayah akan percaya dengan ucapanmu bukan?" tanya William kepada Arthur begitu ayah menghilang dari ruang makan.
"Dan aku juga tidak mengira kamu mempercayai apa yang aku ucapkan," balas Arthur membuat William menghela nafas.
Arthur kembali menikmatinya sup di hadapannya dan tidak lupa menyuruhku untuk cepat menghabiskan sup sebelum ibu dan ayah kembali dari dapur.
...-----...
"Kamu gila?" tanya Arthur begitu masuk ke kamarku.
"Aku tidak tahu jika ayah dan Kak Will belum mengetahui apapun tentang Natasha."
__ADS_1
Arthur langsung berbaring di tempat tidurku dan menatap langit-langit kamar untuk waktu yang cukup lama. Membuatku menunggunya untuk membuka kembali kedua mulutnya. Saat aku hendak berjalan menuju tempat tidur, Arthur tiba-tiba bangun dan langsung duduk menatapku yang sedang berdiri.
"Aku memanipulasi rekaman CCTV, aku menghilangkan saat dimana Felix datang."
"Kakak gila," ucapku tidak percaya.
"Aku tahu."
"Kenapa?"
"Kamu ingin melindunginya dan aku ingin mengabulkan setiap impianmu."
"Tidak dengan melakukan hal segila itu, Kak."
Tok.. tok..
"Zeta? Apa kamu sudah tidur?"
Aku melihat Arthur yang sekarang menyuruhku menjawab jujur pertanyaan William. Tetapi jika aku menjawab jujur dan William masuk ke kamarku, William akan semakin curiga kepadaku dan Arthur. Jika aku tidak jujur, tidak akan ada masalah tetapi aku akan merasa bersalah karena sudah membohongi William. Saat ini aku hanya diam tidak menuruti perintah Arthur.
Tok...tok..
"Zeta?” panggil William sekali lagi dengan suara ketukan pintu yang lebih keras dari sebelumnya.
Sekali lagi, Arthur menyuruhku untuk menjawab panggilan William. Kali ini, aku menggeleng dan meminta Arthur untuk diam saja. Tanpa basa-basi, Arthur langsung berjalan menuju pintu dan membukanya, membuatku langsung melihat wajah William yang nampak terkejut melihat Arthur berada di dalam kamarku.
"Apa yang sedang kamu lakukan disini?"
"Bermain," balas Arthur sembari menunjukkan Nintendo milikku yang sudah berada ke tangannya.
William mendorong pelan tubuh Arthur yang menghalangi jalan dan langsung masuk ke dalam kamarku. Kali ini, berbeda dengan Arthur yang berbaring di tempat tidurku, William justru mengambil kursi lain dan duduk berhadapan denganku. Dia mengeluarkan sesuatu dari dalam saku bajunya.
"Maafkan aku karena tidak bisa melindungimu. Aku akan mengabulkan 3 keinginanmu jika kamu menulisnya di kertas ini," ucapnya sembari meletakan 3 lembar kertas bertuliskan 'kartu harapan' ke atas meja belajarku.
"Bagaimana denganku?" tanya Arthur yang juga ikut berjalan mendekat ke arah meja belajarku hanya untuk melihat kartu harapan itu.
"Kamu akan selamanya menjadi adik kecilku dan aku akan melindungimu selamanya," ucap William mengabaikan pertanyaan Arthur.
"Kenapa? Padahal Zeta tidak bisa membalasnya."
"Tidak ada alasan," balas William sembari menjentikkan jari telunjuknya ke dahiku.
"Apapun yang terjadi di masa depan. Aku akan melindungimu," lanjut William sembari menarik tubuh Arthur keluar dari kamarku bersama dengannya.
"Aku juga akan selalu melindungimu," ucap Arthur tanpa bersuara mengikuti tarikan William meninggalkan kamarku.
Aku sudah tidak peduli apa yang akan terjadi. Apapun yang akan terjadi besok. Terjadilah...
...-----...
__ADS_1