
Setelah kejadian tadi pagi, ibu masih mengurung dirinya di dalam kamar. Beberapa pelayan mencoba membawakan makanan ke dalam kamar tetapi ibu tidak memberikan satupun izin kepada pelayan untuk masuk. Kedua kakakku juga sudah berusaha membujuk ibu untuk mengisi perutnya dan juga memintaku untuk mencoba membujuk ibu. Aku hanya mengatakan jika ibu membutuhkan istirahat setelah perjalanan pulang dari Wales yang berakhir dengan kedua kakakku mempercayai alasan itu.
Kenapa alasan klasik selalu diterima?
Ayah juga belum pulang hingga saat ini. Melihat berita-berita yang muncul di televisi, koran, majalah, dan internet, proses akuisisi sudah terjadi. Diantara berita akuisisi itu, muncul berita tentang kebenaran identitas Natasha dan juga kematiannya yang bertepatan dengan akuisisi Perusahaan Tindall. Beberapa majalah kelas bawah sudah membuat gosip murahan yang mengatakan jika Keluarga Allison yang membunuh Natasha dan hingga saat ini masih belum ada berita konfirmasi apapun dari pihak Keluarga Tindall. Aku tahu semua hal ini tentunya dari Caroline yang setiap menit mengirimkan berbagai macam link berita kepadaku.
William sudah menyusul ayah ke perusahaan 30 menit yang lalu, meninggalkanku berdua hanya dengan Arthur di ruang makan. Aku memutuskan untuk ikut bersama dengan Arthur ke sekolah, walaupun saat ini statusku sudah menjadi siswa home schooling. Aku ingin melihat dan membuktikan jika berita kematian Natasha bisa merubah semua cara pandang siswa di sekolah. Aku ingin tahu apakah semua kebenaran yang sudah terungkap ke publik membuat mereka yang sudah menyiksanya menyesal atau mereka terpaksa menyesal karena Keluarga Allison sudah berada disisi Natasha.
"Sesuatu terjadi bukan?" tanya Arthur membuatku berhenti memainkan sendok.
"Apa maksud Kakak?"
"Ibu dan kamu, sesuatu telah terjadi bukan?"
"Kak, jika orang yang Kakak percayai selama hidup Kakak ternyata adalah seorang yang membuat luka dalam hidup Kakak dan seorang pembohong. Apa yang akan Kakak lakukan?"
"Tergantung seberapa besar luka dan kebohongan yang orang itu buat. Jika aku masih bisa menerima luka dan kebohongan itu, aku akan memaafkannya dan memberikan kesempatan kedua. Aku rasa semua orang pernah memberikan luka kepada orang lain dan aku juga merasa semua orang pernah berbohong dalam hidupnya walaupun hanya satu kali. Siapa orang itu?"
Orang yang sangat kakak percayai. Orang yang membesarkan kakak. Orang yang memberikan semua keinginan kakak. Orang yang ibu cintai. Dan orang yang merupakan seorang ayah untuk kita.
Aku sangat ingin mengeluarkan kelima kalimat itu dari mulutku. Aku sangat ingin membagi rahasia yang baru ibu bagikan kepadaku. Aku sangat ingin membagi luka yang sekarang aku rasakan tetapi aku tidak ingin melihatnya menderita dengan rasa sakit yang sama denganku. Aku tidak ingin melihat dia menahan emosi dalam dirinya untuk kesekian kalinya. Aku tidak ingin dia menyakiti dirinya sendiri.
"Kak, ayo berangkat. Sudah telat 1 jam," ucapku sembari berjalan meninggalkan ruang makan.
"Aku tahu saat ini kamu sedang mengalihkan pembicaraan."
"Kalau sudah tahu, bisakah selesaikan makannya dengan cepat?"
Kali ini aku benar-benar meninggalkan ruang makan dan berjalan menuju halaman depan. Aku menatap ke atas langit, sangat mendung. Aku tidak mendengar jika ramalan cuaca hari ini akan turun hujan. Aku menurunkan kepalaku dan bertatapan dengan Paman Stephan. Aku memberikan sebuah senyum sendu ke arah paman yang langsung dibalas dengan sebuah anggukan.
"Nona, ini bunga yang Nona inginkan."
Seorang pelayan memberikan dua buket bunga kepadaku. Aku langsung menerima kedua buket bunga itu dan mengucapkan terima kasih. Pelayan itu langsung pergi begitu aku berterima kasih. Aku menatap kedua buket bunga yang berada di tanganku. Satu buket berisikan bunga hyacinth dan satu buket berisikan bunga marigold. Satu bunga yang memiliki arti permohonan maaf dan satu bunga yang memiliki arti cinta yang menyedihkan.
Paman Stephan memarkirkan mobil tepat di depanku lalu membuka pintu mobil dan menyuruhku masuk ke dalam. Aku langsung merasakan kehangatan begitu masuk ke dalam mobil, sepertinya paman tahu jika aku kedinginan. Mungkinkah, senyuman sendu yang aku berikan diartikan oleh paman jika aku sedang kedinginan?
"Ada apa dengan bunga-bunga itu?" tanya Arthur begitu masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
"Bisakah kita pergi ke rumah Ken dulu?"
"Hah?!" balas Arthur penuh amarah memastikan apa yang baru saja didengarnya.
"Aku belum meminta maaf kepada Tante Anastasia."
"Haruskah sekarang? Zeta, bahkan aku rasa Tante Anastasia yang akan menyesal karena semua perlakuan yang Ken berikan kepadamu."
"Aku ingin mengakhiri semua hubungan yang aku miliki dengan Ken. Aku tidak ingin rasa bersalah akan menghantuiku di masa depan. Aku mohon."
Arthur membuka pintu mobil dan berpindah duduk ke kursi depan. Dia juga sempat membanting pintu mobil hingga membuatku sedikit terkejut. Walaupun dia menunjukkan sikap yang kasar, dia tetap akan mengikuti keinginanku. Dia meminta paman untuk pergi ke rumah Ken dahulu sebelum ke sekolah.
"Terima kasih,” ucapku yang berakhir dengan sebuah keheningan.
...-----...
"Bunga Hyacinth? Apa Zeta melakukan kesalahan hingga memberikan bunga ini kepada Tante?"
"Zeta mengatakan hal buruk di belakang Tante."
Tante Anastasia meletakan buket bunga di pangkuannya ke atas meja. Beliau mendekatkan tubuhnya ke arahku, membuat Arthur harus sedikit menggeser tubuhnya agar tidak menghalanginya. Beliau memegang dengan sangat erat kedua tanganku, seolah ini akan menjadi kali terakhir aku akan bertemu dengannya.
"Maafkan Tante, seharusnya Tante yang memberikan bunga ini kepadamu," ucapnya sembari memberikan tatapan penuh kesedihan yang tidak bisa aku artikan.
Arthur berdeham kecil begitu tahu aku tidak nyaman dengan tatapan yang tante berikan. Hal itu membuat tante melepaskan pegangan tangannya dan berhenti menatapku. Beliau menawari kami minuman dan camilan yang langsung kami tolak dengan alasan sudah terlambat untuk pergi ke sekolah. Aku melihat raut kekecewaan di wajahnya begitu mendengar penolakan dari kami.
"Lain kali Kak Arthur dan Zeta pasti akan menerima tawaran Tante," ucapku mencoba mengurangi kekecewaan yang tante rasakan.
"Baiklah, Tante akan menunggu kalian."
Sekali lagi, tatapan penuh kesedihan yang tidak bisa aku artikan. Arthur meraih tanganku dan membuatku berjalan meninggalkan ruang tamu, meninggalkan Tante Anastasia yang masih memberikan tatapan yang sama. Aku masih terus melihat ke arah tante karena beliau belum melangkahkan kakinya pergi hingga akhirnya tubuhku menghantam punggung Arthur, membuatku mengaduh pelan karena hidungku benar-benar menghantam punggungnya dengan sangat keras. Aku mengintip dari balik punggung Arthur dan mendapati Ken yang sedang berdiri di depan pintu mobil milik kami.
Beberapa pengawal sepertinya sudah mencoba menghentikan Ken tetapi melihat banyak pengawal yang berada di rumah ini, membuat pengawal kami menerima apa yang Ken lakukan karena tidak ingin ada perselisihan yang tidak penting terjadi.
"Biarkan aku ikut dengan kalian ke sekolah."
Arthur mengeraskan rahangnya. Dia juga mengeratkan pegangan tangannya, membuatku hampir mengaduh untuk kedua kalinya. Setelah hanya diam menatap tajam Ken, Arthur menarik tubuhku dengan paksa, ini adalah kali kedua dimana kedua kakakku menggunakan kekuatannya kepadaku. Arthur mendorong dengan keras tubuh Ken menjauhi pintu mobil, dia lalu membuka pintu mobil dan mendorongku masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
Setelah memastikan aku sudah duduk dengan nyaman di dalam mobil, Arthur langsung membanting pintu mobil dan berjalan mendekati Ken. Beberapa pengawal, baik pengawal kami maupun pengawal Ken, langsung mendekat ke tempat dimana Arthur dan Ken berada.
Aku mencoba mengintip dari kaca mobil. Aku tidak bisa melihat apapun karena beberapa pengawal menutupi kaca mobil, membuatku tidak bisa melihat situasi yang saat ini sedang terjadi. Aku mendengar beberapa suara pukulan, membuatku ingin keluar dari dalam mobil. Tepat saat aku akan membuka pintu, Paman Stephan masuk ke dalam mobil dan langsung mengunci otomatis pintu mobil.
"Tidak akan ada perkelahian yang parah, Nona. Tuan Muda juga baru keluar dari rumah sakit, kondisinya belum memungkinkan," ucap paman begitu melihat wajah pucat pasiku.
Suara ketukan kaca terdengar. Paman langsung membuka pintu dan Arthur langsung duduk di kursi depan. Tepat saat Arthur memberi paman perintah untuk melajukan mobil, aku melihat sekilas ke belakang dan mobil Ken mengikuti mobil kami. Aku langsung menoleh ke depan, mencoba meminta penjelasan dari Arthur yang sedang membersihkan noda darah di bibirnya. Dia terkena pukulan milik Ken, bukan hal yang aneh mengingat kondisi Arthur saat ini.
"Aku memintanya untuk berada 1 meter darimu,” ucapnya setelah 3 menit aku terus menatapnya.
"Dengan perkelahian?"
"Apakah dia akan mendengarkan jika kita berbicara dengan baik?"
"Kakak belum pernah mencobanya dan langsung memukulnya."
"Zeta, tidak ada seorangpun diluar keluarga inti kita yang tahu apa yang sebenarnya terjadi kepada Natasha tetapi saat ini Ken sudah tahu."
"..."
Arthur kembali membersihkan noda darah di bibirnya dan aku mulai mengalihkan perhatianku ke jalan raya. Rintik hujan mulai jatuh ke jalanan, membentuk suatu pola lingkaran tidak beraturan, pola yang akan bernilai tinggi saat berada di tangan seniman yang tepat. Sama halnya dengan rintik hujan yang tidak lebat, paman juga melajukan mobil dengan kecepatan yang sangat pelan dan membuatku perlahan ingin menidurkan diri. Tetapi daripada menidurkan diri, aku lebih memilih menikmati setiap tetes hujan yang jatuh di kaca mobil.
Semua orang tidak mungkin akan langsung percaya dengan berita kematian Natasha terlebih berita itu muncul bersamaan dengan akuisisi Perusahaan Tindall. Hal yang aneh saat dimana seharusnya kebenaran akan membawa kehidupan yang lebih baik untuk Natasha tetapi justru dia diberitakan meninggal dunia bersama dengan orang yang dicintainya dalam sebuah kecelakaan lalu lintas.
Tidak ada bukti fisik dari kecelakaan itu kecuali mobil yang sepenuhnya terbakar dan pernyataan dari pihak polisi. Bahkan, orang awampun akan bertanya-tanya dan mereka tidak akan menganggap Keluarga Tindall berada dibalik semua itu melainkan Keluarga Allison yang mendalangi semua hal itu. Akan banyak asumsi dimana Keluarga Allison secara sengaja membunuh Natasha karena dialah ahli waris sah semua kekayaan Keluarga Tindall dan dengan diakuisisinya Perusahaan Tindak oleh Grup Allison pasti kebenaran tentang asal usul Natasha menjadi sebuah penghalang di masa depan bagi Grup Allison. Asumsi-asumsi itu hanya akan menjadi buah bibir tanpa ada satupun media yang berani untuk memberitakan asumsi itu.
Sebenarnya mereka tidak sepenuhnya salah jika mengatakan Grup Allison berada dibalik kematian Natasha karena hal itu adalah sebuah kebenaran. Hal yang salah adalah mereka yang meyakini alasan Grup Allison melakukan pembunuhan terhadap Natasha dan mempercayai kematiannya. Saat dimana aku berjanji untuk membunuhnya, saat itu yang aku maksud bukanlah membunuh dirinya tetapi membunuh identitasnya dan menggantinya dengan identitas yang baru. Ayah mengatur semuanya, membuat Natasha dan Felix hilang dari dunia ini dan mengganti mereka dengan identitas yang baru.
Ayah juga yang membuat kecelakaan itu dan membuat semua media terfokus pada akuisisi perusahaan karena ayah ingin membuat kematian palsu Natasha sebagai anak panah untuk memenjarakan anggota Keluarga Tindall. Ayah akan mengeluarkan semua bukti kejahatan semua paman dan bibi Natasha yang mencoba menyingkirkan Natasha beberapa hari setelah berita akuisisi. Ayah ingin membuat seluruh Keluarga Tindall benar-benar hilang dari dunia ini tanpa jejak. Aku hanya meminta ayah hingga saat dimana ayah membunuh identitas Natasha, apa yang ayah lakukan selanjutnya adalah ambisi milik ayah. Ambisi yang diatas namakan diriku.
Carlista sendiri sekarang berada di rumah Tante Emily. Sejak saat Natasha dirawat di rumah sakit, bibi yang merawat Carlista. Bahkan aku merasa bibi sudah membangun sebuah hubungan ibu dan anak dengan Carlista. Berita kematian Natasha seperti angin segar untuk bibi tetapi juga sebagai racun untuk Carlista. Sudah berulang kali bibi menelponku untuk memastikan apakah berita yang sekarang beredar sebuah kebenaran atau hanya sebuah kebohongan. Arthur yang memberikan jawaban kepada bibi bahwa semua yang terjadi adalah kebenaran. Sepertinya sebentar lagi, bibi akan mengangkat Carlista menjadi anaknya. Setidaknya harapan Natasha agar Carlista hidup dengan merasakan kehangatan sebuah keluarga akan segera terwujud.
Dan, hingga saat ini hanya ayah yang tahu dimana keberadaan Natasha. Bahkan para pegawai yang mengatur semua kecelakaan juga tidak tahu dimana keberadaan Natasha saat ini. Saat Arthur menanyakan tentang hal itu, semua kompak menjawab jika ayahlah yang bertanggung jawab untuk semua identitas, tempat tinggal, dan kebutuhan baru Natasha. Selain ayah, tidak ada yang tahu.
Setelah apa yang ibu ceritakan kepadaku, aku berpikir apakah ayah menyembunyikan keberadaan Natasha karena takut akan ada hal buruk di masa depan dan akan mudah menyingkirkan Natasha saat hal itu terjadi?
...-----...
__ADS_1