
“Mereka benar-benar memamerkan kebahagiaan yang mereka rasakan.”
Kebahagiaan?
Benarkah menunjukkan kemesraan di depan umum bisa disebut sebagai kebahagiaan?
Bagiku kemesraan yang mereka tunjukan terkesan dibuat-buat atau hanya aku yang berpikir seperti itu karena jauh di dalam lubuk hatiku aku cemburu. Bagiku setiap orang yang merasakan kebahagiaan secara tidak langsung akan menunjukkannya pada dunia. Kebahagiaan bagi seseorang adalah bom bagi yang lainnya. Kebahagiaan yang mereka rasakan secara tidak langsung menjadi kesedihan bagi yang lainnya dan kesedihan seseorang juga bisa menjadi kebahagiaan bagi yang lainnya. Saat seseorang sedih, secara langsung mereka akan menunjukkan perasaannya entah dengan menangis ataupun murung. Kesedihan yang diungkapkan secara langsung dan kebahagiaan yang diungkapkan secara tidak langsung sama halnya dengan pedang bermata dua. Tidak ada yang tahu dengan pasti sisi mana yang akan membunuh orang lain dan sekarang kebahagiaan yang aku lihat di depan mataku sama halnya dengan sebuah kesedihan yang sengaja ditunjukkan agar orang lain melihatnya.
Dulu aku beranggapan terlahir sebagai bagian dari keluarga Allison sudah cukup menjadikanku sebagai seorang wanita yang memiliki tata krama, anggun, dan cerdas. Semua hal itu menjadikanku yakin akan mendapatkan semua yang aku inginkan tetapi aku salah. Aku tidak akan pernah bisa mendapatkan hati orang lain dengan keangkuhan yang aku miliki. Keangkuhan yang sudah aku miliki sejak lahir membuatku secara perlahan menjadi sosok yang bergantung pada orang lain karena aku yakin mereka tidak akan pernah menolakku. Aku bisa melihat dengan jelas perbedaan yang aku miliki dengan perempuan itu. Dia memiliki kemandirian yang belum pernah aku miliki, kemandirian untuk berdiri sendiri tanpa bantuan orang lain.
“Apa dia bercerita padamu?” tanya Stephanie setelah menyelesaikan tugas yang dia salin dariku.
“Ya,” jawabku.
“Kamu baik-baik saja?”
“Maksudmu?”
“Semua orang tahu betapa kamu menyukai Ken. Bahkan mereka yang dulunya tidak satu sekolah saat SD hingga SMP dengan kita juga tahu. Kamu tidak bisa menyembunyikan rahasia apapun.”
Aku terdiam sejenak sebelum akhirnya mengambil buku PR dari tangan Stephanie. Kutaruh buku PR di atas meja dan menutup novel yang sedari tadi aku baca. Kulangkahkan kakiku meninggalkan ruang kelas menuju kamar mandi. Beberapa orang menatap ke arahku begitu melihatku keluar ruang kelas. Aku rasa sebagian dari mereka berpikir bahwa aku sakit hati dan cemburu melihat Ken bermesraan dengan perempuan lainnya. Tetapi saat ini aku benar-benar mengantuk dan ingin membasuh wajahku untuk menyadarkan kembali diriku yang sekarang sedang melayang entah kemana.
“Kamu mau kemana? Sebentar lagi guru masuk!!!” teriak Stephanie begitu melihatku berjalan keluar kelas.
“Kamar mandi,” jawabku singkat.
Sebuah alunan piano mengalun dengan lembut sudah cukup menyadarkanku dari rasa kantuk. Permainan piano yang aku dengar sekarang bahkan lebih bagus dari permainan guru musik. Tanpa kusadari langkah kakiku sudah mengikuti dimana alunan nada itu berasal, berusaha mencari siapa pemilik nada ini. Seseorang sedang memainkan piano di ruang musik. Melihat jam pelajaran saat ini, pasti kakak kelas yang sedang memainkannya.
Saat aku sedang asik mendengarkan alunan nada, sepasang mata tiba-tiba menatapku. Mata dari pemilik nada yang sedang aku dengarkan. Entah apa yang merasukiku, untuk kali pertama dalam hidupku aku menatap orang asing dalam waktu yang lama. Mata biru miliknya membuatku ingin terus menatapnya seolah ada sebuah kisah yang ingin dia sampaikan. Baru kali ini aku menemukan seseorang yang menatap mataku dalam waktu yang lama tetapi tidak memberikan senyum padaku. Atau mungkin karena aku juga tidak tersenyum kepadanya?
Matanya yang terus menatap keluar ruangan, membuat siswa-siswa lainnya ikut menatap ke arah yang dia tuju dan langsung membuatku melarikan diri. Sungguh sangat memalukan. Aku harap itu bukan kelas dimana William atau Arthur berada, jika iya maka dia pasti tahu aku menyelinap di jam pelajaran.
Kuatur nafasku sebelum masuk ke dalam kelas. Guru matematika sudah masuk dan langsung menyuruhku untuk duduk begitu aku masuk. Sepertinya aku masuk tepat setelah guru juga masuk ke dalam kelas, jika tidak mana mungkin guru galak dan perfeksionis sepertinya akan menyuruhku langsung duduk. Bisa dibilang guru matematika adalah satu-satunya guru di sekolah ini yang tidak memandang dari keluarga mana kami dilahirkan. Beliau menganggap semua muridnya adalah manusia-manusia bodoh yang masih membutuhkan ilmu darinya untuk menghadapi kejamnya dunia luar. Sejujurnya aku sangat setuju dengannya.
Nada-nada piano yang aku dengar sebelumnya benar-benar menetap di dalam otak dan pikiranku. Aku seakan terus mendengar nada-nada itu dan membuatku tidak fokus pada apa yang sedang aku lakukan. Aku bahkan tidak mencatat penjelasan guru di buku dan hanya berpura-pura fokus. Baru kali ini ada sebuah alunan nada yang bisa langsung aku tangkap ke dalam otakku. Selama ini, semua alunan nada tidak ada yang mau menetap di otakku dalam waktu yang singkat, butuh waktu satu hari untukku mendengarkan sebuah lagu hingga nada-nada itu menetap di otakku.
“Apa kamu tahu kakak kelas yang pandai memainkan piano?” tanyaku pada Stephanie dan Caroline begitu guru matematika keluar kelas.
Berbeda dengan Ken yang merupakan teman masa kecilku bahkan sejak di dalam kandungan, Stephanie Caroline Elizabeth dan Caroline Stephanie Elizabeth adalah sahabatku sejak kami di taman kanak-kanak. Mereka berdua adalah saudara kembar. Orang tua mereka terlalu malas untuk memikirkan nama sehingga mereka memiliki 3 kata yang sama dalam nama mereka dan orang tua mereka hanya membaliknya. Aku rasa hanya mereka yang menggunakan nama belakang milik ibunya. Kebanyakan anak-anak disini menggunakan nama belakang ayahnya tetapi mereka berdua menggunakan nama ibu mereka. Aku pernah menanyakan alasannya dan merekapun tidak tahu dengan pasti. Seperti sudah tertuang diperjanjian pranikah kedua orang tua mereka.
Mereka berdua masuk kedalam top 2 siswi tercantik di sekolah dan aku tidak bisa menentangnya karena mereka berdua benar-benar cantik. Aku sendiri tidak tahu berapa peringkatku karena kedua kakakku mengancam siapapun yang memasukkanku ke dalam ranking akan berakhir di penjara. Aku tidak tahu hal itu hingga Stephanie dan Caroline memberitahukannya padaku. Mereka mengatakan jika kedua kakakku benar-benar kakak yang sayang kepadaku. Ingin rasanya aku mengatakan betapa menyebalkannya kedua kakakku saat di rumah kepada mereka.
“Kak Alvin?” jawab Caroline sembari meletakkan kaca ke atas meja dan fokus menatapku.
__ADS_1
“Kenapa kamu menatapku seperti itu?” tanyaku merasa risih dengan tatapannya.
“Kenapa kamu bertanya? Ini kali pertama kamu menanyakan tentang orang lain selain Ken.”
Suara rautan pensil tiba-tiba berhenti. Stephanie ikut menatap tajam ke arahku. Dia bahkan sampai menggeser kursi tempatnya duduk agar lebih dekat denganku. Aku melupakan hal penting lainnya, betapa penggosipnya mereka. Mereka juga memiliki julukan ratu gosip. Semua gosip yang ada di sekolah ini, tidak ada yang tidak mereka tahu dan karena itu aku sering menanyakan tentang Ken pada mereka. Mereka selalu memberikan jawaban yang memuaskan. Tetapi, begitu rasa ingin tahu memenuhi keduanya, mereka akan berubah 180 derajat hanya untuk memuaskan rasa ingin tahu mereka.
“Apa kamu lapar?” tanyaku mencoba mengalihkan perhatian mereka.
“Cepat ceritakan.”
“…”
Mau tidak mau aku harus menceritakan apa yang aku alami. Jika tidak, mereka akan terus menerka-nerka dan besok pagi aku akan mendengar gossip yang tidak-tidak tentangku yang mereka buat hanya untuk balas dendam kepadaku karena sudah membuat mereka penasaran.
“Zeta!!! Kenapa kamu ada di ruang musik selama jam pelajaran matematika?!!!” teriak seseorang yang sangat aku kenal membuat seisi kelas terkejut dan langsung melihatku penuh tanda tanya.
Terkadang aku bersyukur memiliki kakak yang sangat peduli padaku tetapi aku sangat membenci betapa pedulinya mereka sampai membuatku malu seperti saat ini. Aku membenci Arthur yang selalu meneriaki dan memarahiku di depan umum saat aku melenceng sedikit saja atau membuat kesalahan. Tetapi, aku lebih membenci William yang menceritakan semua hal tentangku pada Arthur. Sejujurnya aku membenci mereka berdua yang selalu mengawasiku dan bertukar informasi tentangku satu sama lain.
Haruskah aku mengeluh?
Atau haruskah aku bersyukur?
Aku sendiri tidak tahu jawabannya.
“Jadi?”
Kuhembuskan nafasku dengan keras. Aku tidak paham dimana mereka bertiga meletakkan telinga mereka. Hanya William yang memasang wajah percaya dan tidak ingin tahu lebih lanjut, sisanya menatapku dengan wajah tidak percaya. Mereka semua mengatakan jika aku sangat mudah dibaca tetapi sekarang mereka meragukan apa yang aku katakan. Sungguh menyebalkan.
“Aku ingin mencuci wajahku dan tiba-tiba alunan piano terdengar. Aku mengikuti alunan itu dan membuatku tidak sadar tetap mendengarkannya hingga kakak kelas lainnya memergokiku,” ucapku untuk kesekian lainnya memperjelas.
Aku kembali menggigit hamburger di tanganku, mencoba tidak mempedulikan mereka bertiga. Tepat saat aku akan menggigit untuk ketiga kalinya, William mengambil hamburger dari tanganku dan membuangnya ke tempat sampah. Aku hanya bisa tertawa pahit melihat sikapnya saat ini. Arthur menyodorkan hamburger miliknya ke arahku, belum sempat aku menggigitnya lagi-lagi William mengambilnya.
“Itu milikku. Jangan berani-berani membuangnya.”
William memberikan hamburger itu kembali ke Arthur dan membuatku menatapnya dengan tatapan memelas. William tetap memasang wajah datar khas miliknya. Dia selalu menjalani hidup sehat dan itu berdampak buruk bagi kesenangan lidahku. Dia selalu mengawasi semua yang aku makan, aku tidak pernah memakan junk food lebih dari dua suapan. Tiap aku akan melakukan suapan ketiga pasti William mencegahku dengan membuang makanan yang sedang aku makan baik ke tempat sampah atau ke dalam perut Arthur.
“Kalian benar-benar kakak yang protektif,” ucap Caroline asal membuat Stephanie langsung menyikutnya.
“Ah…. maksudku,” lanjut Caroline gelagapan.
“Kenapa kamu menatap Alvin seperti itu?” potong William tidak peduli dengan kalimat Caroline.
“Seperti itu? Apa maksudnya?” tanyaku tidak mengerti sama sekali maksud pertanyaannya.
__ADS_1
“Kamu menatapnya dengan tatapan yang sama saat menatap Ken.”
Aku terdiam dan ketiga orang lainnya tersedak begitu mendengar ucapan William. Aku tidak tahu jika aku menatapnya dengan tatapan yang sama seperti saat aku menatap Ken. Aku menatapnya karena matanya sangat indah dan membuatku ingin menyelami cerita seperti apa yang telah dilaluinya.
Aku hanya merasa matanya menghipnotis seluruh tubuhku, membuatku tidak bisa melepaskan satu detik untuk tidak menatapnya. Seperti seorang anak kecil yang mendapatkan mainan impiannya, dia akan terus bersama mainan itu sepanjang hari dan tidak melewatkan satu detikpun. Aku sama seperti anak kecil saat menatap mata laki-laki yang bahkan aku tidak tahu nama lengkapnya. Dia seperti sesuatu yang telah lama aku impikan, seperti saat aku menginginkan sebuah boneka yang sangat lucu.
“Kamu semudah itu jatuh cinta?” tanya Arthur kaget.
Kulempar bungkus hamburger ke arahnya, dengan mudah dia langsung menangkisnya.
“Aku tidak mencintainya, menyukainyapun tidak. Aku hanya menyukai permainan piano miliknya,” jawabku kesal.
“Dia sahabat baikku dari Jepang. Aku hanya tidak ingin kamu memalukan dirimu saat bertemu dengannya,” ucap William sambil menarik kerah Arthur dan berjalan meninggalkanku.
“Jadi?” tanya Stephanie begitu memastikan tidak ada satu orangpun di dekat kami duduk begitu William dan Arthur pergi.
“Dia hanya tidak ingin malu karena memiliki adik sepertiku,” jawabku kembali dengan kesal.
“Bukan itu. Apa kamu menatap Kak Alvin dengan tatapan yang sama saat menatap Ken?” tanya Stephanie kembali memperjelas.
“Bagaimana aku tahu? Aku sendiri tidak tahu bagaimana aku menatap Ken,” jawabku ketus.
“Aku akan memberitahu kalian satu hal,” ucap Caroline dengan nada sok misterius.
“…”
“Kak Alvin sangat digilai oleh perempuan. Dia mengalahkan Ken untuk kategori digilai perempuan.”
“Hah?” balasku tidak bersemangat.
“Dengarkan aku dulu. Beda antara Kak Alvin dan Ken adalah Kak Alvin tidak tertarik dengan perempuan.”
“Maksudmu dia gay?!” tanya Stephanie dengan keras membuat satu dua anak melihat ke arah kami.
“Tidak, dia tidak gay. Dia hanya tertarik pada piano, bahkan gosip yang beredar mengatakan jika dia akan menikah dengan piano di masa depan.”
“Bukannya jika tidak tertarik perempuan maka tertarik laki-laki?” tanya Stephanie masih bingung.
“Bukan seperti itu. Kenapa kamu sangat bodoh?” jawab Caroline sembari memukul lembut kening Stephanie.
Gosip macam apa yang baru saja aku dengar?
Baru kali ini aku mendengar gosip yang tidak masuk akal dari Caroline. Kulihat jam yang sudah menunjukkan waktu istirahat berakhir. Kutarik lengan Caroline dan Stephanie yang masih mengoceh membahas tentang Alvin. Sekarang bahkan mereka berdebat kenapa Caroline tidak menceritakan gosip apapun tentang Alvin pada Stephanie. Lama-lama pendengaranku bisa hilang jika terus bersama mereka.
__ADS_1
...------...